Home » , » Munajat Cinta Rabiah al Adawiyah dalam Dimensi Sufi

Munajat Cinta Rabiah al Adawiyah dalam Dimensi Sufi

Cinta Rabiah al Adawiyah | Mahabbah Cinta Rabiah al Adawiyah |Munajat cinta rabiah al adawiyah |nasehat cinta rabiah al adawiyah |rabiah al adawiyah dan pemikirannya|

KONSEP MAHABBAH RABI'AH AL-ADAWIYAH

A.    Mahabbah
1.      Pengertian Mahabbah
Mahabbah sering diterjemahkan dengan istilah "cinta" dalam Mu'jam Muqoyyis Al-Lughoh. Kata mahabbah memiliki tiga pengertian dasar; pertama, berarti "kesenantiasaan dan ketetapan"; kedua, berarti "cinta terhadap sesuatu" (al-abbat min al-syai'); dan ketiga berarti, "sifat berkecukupan" (walk al-qitr). Pengertian dasar semantic di atas memberi arti bahwa mahabbah merupakan suatu wujud ketetapan hati yang tidak akan mau berpisah (al-luzm) dengan sesuatu yang dicintai, dan sesuatu yang dicintai itu sudah cukup bagi (seseorang) sehingga ia tidak akan mungkin mencintai yang lainnya.[1]
Abu Najr Al-Saroj Al-Siy, dalam karyanya Al-Luma' mengkategorikan cinta (mahabbah) kepada tiga tingkatan:
a.       Cinta orang awam, yaitu mereka yang selalu mengingat Allah dengan zikir. Suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dan berdialog dengan-Nya. Ia senantiasa memuji Allah.
b.      Cinta para Muttahaqqiqin, yaitu mereka yang sudah kenal Tuhan, pada kebesaran-Nya, pada kekuasaan-Nya, pada ilmu-Nya dan lain sebagainya. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dengan Tuhan, sehingga ia dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Cinta ini membuat seseorang sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifat sendiri, sedangkan hatinya penuh dengan perasaan cinta dan rindu dendam pada-Nya.
c.       Cinta bagi mereka yang sudah kenal betul pada Tuhan, yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi "diri yang dicintai", akhirnya diri yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai.[2] 
Cinta yang kedua atau yang ketiga inilah yang dimiliki dan kemudian dikembangkan Rabi'ah Al-Adawiyah, sehingga ia benar-benar merasakan cinta yang sebenarnya, cinta sejati yaitu cinta Ilahi.
Al-Junaid berkata "cinta adalah kecenderungan hati", berarti bahwa hati cenderung kepada Tuhan dan apa yang berhubungan dengan Tuhan, tanpa dipaksa.[3]
Di antara ungkapan-ungkapan para sufi tentang definisi cinta yang disampaikan oleh Al-Qusyairi mendefinisikan cinta sebagai kecenderungan hati yang telah diracuni cinta, penegasan esensi sang kekasih (Allah) dan akhirnya terjalinnya hati Sang Pencipta itu dengan kehendak ilahi. Cinta menurut Abu Abdullah Al-Quraisy adalah “memberikan semua yang engkau miliki kepada-Nya (Allah) yang sangat engkau cintai, sehingga tidak ada lagi sisa dalam dirimu”; Sybli mengatakan, “disebut cinta,  sebab ia menghapuskan semua dari dalam hati kecuali sang kekasih”, dan lagi, “cinta adalah api yang akan melalap semua kecuali kehendak ilahi.[4]
Begitu juga Abu Thalib berbicara tentang pengaruh cinta dan kepada Sang pencintanya, ia mengatakan bahwa cinta akan mampu membimbing pada pengetahuan tentang misteri-misteri kesucian ilahiah, dan bagi yang mencintai Allah selamanya serta hanya memandang kepada-Nya saja, ia lebih dekat kepada-Nya dari yang lainnya. Bagi mereka ini akan menatap wajah ilahi tanpa ada penghalangnya sama sekali, di mana tatapannya itu mempergunakan mata kepastian.[5]
Secara global, agama berputar dalam empat pedoman, yaitu cinta, benci, dan dari keduanya memberikan konsekuensi berbuat atau meninggalkannya. Maka bila seseorang merasa benci, suka, berbuat atau tidak berbuat karena Allah berarti imannya telah sempurna. Sebaliknya, seirama dengan berkurangnya nilai keempat aspek tersebut, berkurang pula keimanan dan agamanya.[6]
Cinta atau mahabbah adalah sesuatu yang kita alami dengan penuh getaran jiwa, dia tidak bisa mengerti hanya dengan intelektual. Cinta berkaitan dengan perasaan yang paling halus. Perasaan cinta adalah perasaan Tuhan, bukan perasaan indrawi atau perasaan vitalis nafsiyah.[7]
Leo F. Baccoglia dalam bukunya Love menjelaskan bahwa cinta adalah semuanya dan sekaligus, keadaan gembira luar biasa, keadaan senang, fantasi, keadaan rasional atau tidak rasional.[8] Cinta selalu hadir pada setiap orang dan merupakan proses "membangun" di atasnya apa yang sudah ada landasannya. Cinta merupakan sebuah tindakan yang mengandung kepercayaan dan siapa saja yang sedikit memiliki kepercayaan, maka ia akan mempunyai sedikit cinta.
Cinta tidak bisa oleh akal pikiran, tetapi hanya bisa dipahami oleh cinta itu sendiri. Itulah sebabnya, cinta manusia bisa melangit serta mulia dalam ridha Ilahi, tetapi tidak jarang karena alasan cinta pula, amnesia bisa terjerumus dalam nista dan kesengsaraan yang menggigil. Sebab itu, manusia harus menyadari makna dari syari'at dan lebih khusus lagi aturan cinta. Bagaimana caranya menempatkan rasanya cinta, upaya meraihnya, dan mengukurnya dengan bahasa cinta yang disuarakan oleh kalbu yang sejati.[9]
Tugas manusia adalah mengatur cinta (ordo amoris) agar dia menempatkan cinta pada haknya, pada ilahi, bukan pada yang lain, maka disinilah manusia akan berpegang setiap detik, bahkan kalau ada ukuran waktu lebih kecil dari detik, dia akan berpegang menurut ukuran waktu tersebut, karena benci dan cinta bagaikan tanpa dinding.[10] Cinta Ilahi berarti menerima ke-Ilahian yang ingin menempatkan jiwa manusia pada kedudukan atau maqamat yang penuh rahmat.  
Menurut Al-Ghazali, siapa yang mencintai Allah, bukan karena adanya keterkaitan kepada Allah, maka hal itu karena kebodohan dan kekurangannya dalam mengenal Allah.[11] Cinta kepada Allah bisa berkembang menjadi cinta kepada Rasul-Nya, ulama-ulama-Nya, karena kekasihnya kekasih adalah kekasih. Bisa juga berkembang menjadi cinta anak dengan orang tuanya, cinta dengan orang muslim, dan lain sebagainya. Semua itu berpulang kepada cinta utama lalu tidak melampauinya kepada yang lain.
Rabi'ah Al-Adawiyah misalnya ketika ditanya apakah beliau mencintai Rasululloh ? dia menjawab; "siapa orang yang tidak mencintai Rasululloh, akan tetapi cintaku kepada Allah sudah tidak menyisakan satu ruang pun untuk mencintai selain dia, bahkan untuk membenci iblis sekalipun".[12]  
Rabi'ah Al-Adawiyah membagi doktrin mahabbah atau ajaran untuk mencintai Tuhan secara mutlak dalam dua babak. Cinta tingkat pertama untuk membukakan dimensi baru dalam ibadah kepada Allah, yaitu ibadah yang semata-mata karena cinta kepada Tuhan, bukan karena mengharapkan pahala-Nya atau menghindari siksa-Nya, atau bukan karena raja’ atau khauf. Cinta tingkat kedua adalah rindu bertemu dengan wajah Tuhan, sebagai kekasih-Nya. Dengan cinta tahap kedua ini diharapkan Tuhan membukakan hijab atau tabir-Nya hingga betul-betul dapat melihat wajah-Nya, bukan melihat dengan mata akan tetapi melihat dengan mata hatinya atau kasyf.[13]
Ajaran ini betul-betul mengarah kepada sikap yang ekstrim, emosional dan rohaniah. Oleh Abu Yazid al-Bustami (Abad ke-9) ajaran ini dikembangkan menjadi paham ittihad (kesamaan dan kesatuan manusia dengan Tuhan) ajaran yang sudah mulai cenderung kepada paham pantheisme dengan ucapan “laisa fi jubbati illa Allah” yang artinya “yang ada di dalam jubbahku ini tidak lain adalah Allah”.[14]
Rabi'ah Al-Adawiyah mencintai Allah karena dua macam, menurut ajaran tasawuf, yaitu cinta karena rindu dan cinta karena Allah yang layak dicintai.
Menurut Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum Al-Din berkata. "mungkin yang dimaksud cinta rindu adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunianya kepadanya dengan seketika. Dan cinta kepada-Nya karena dia layak dicintai ialah karena keindahan dan keagungannya, yang tersingkap kepadanya. Dan inilah diantara keduanya, cinta paling luhur dan paling luhur serta merupakan kelezatan melihat keindahan Tuhan, seperti disabdakan Rasululloh SAW yang meriwayatkan firman Allah, "bagi hamba-hamba-Ku yang shaleh aku menyiapkan apa yang tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terbesit oleh kalbu manusia.[15]
Rabi’ah dalam kaitannya dengan konsep cinta Allah kepada hamba-Nya, ia mengakatan: “dikisahkan pada suatu hari Rabi’ah berdoa kepada Allah, “Ya Allah, akankah Engkau bakar nanti ini yang selalu mencintai-Mu?” tiba-tiba terdengar suara yang menyahut “tidak, Aku tidak akan melakukan yang itu, janganlah Engkau berbuat sangka kepada-Ku!”, dimana jawaban itu dimaksudkan untuk menghibur hati Rabi’ah karena perasaan kurangnya iman atau rendahnya konsep pengertian tentang cinta Allah kepada orang-orang yang suci. Tetapi pandangan atau pengertian Rabi’ah ini sesuai dengan pandangan para sufi sebelumnya, yaitu suatu kewajiban seorang hamba Allah untuk selalu mencintai-Nya, tetapi sebaliknya, Allah tidak memiliki kewajiban untuk membalas cinta itu.[16]      
Rabi'ah Al-Adawiyah begitu mendalam pengertiannya tentang cinta Ilahi, dan secara khusus dia cenderung pada cintanya tersebut. Misalnya dalam suatu syair:
Aku cinta Kau dua mode cinta
Cinta rindu, dan cinta karena Kau layak dicintai
Adapun cinta rindu, karena hanya Kau kukenang selalu bukan selain-Mu
Adapun cinta karena Kau layak dicintai, karena kau singkapkan tirai
sampai Kau nyata bagiku
Bagiku, tentang ini itu, tidak ada puji
Namun bagi-Mu sendiri sekalian puji.[17]

Rabi'ah Al-Adawiyah telah mengajarkan kepada manusia bahwa hidup adalah cinta, cinta terhadap semua manusia, cinta kepada seluruh alam karena dia ciptaan Allah, cinta terhadap qodho dan qodar karena keduanya adalah masalah yang mulia dari kekasih. Rabi'ah Al-Adawiyah juga mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah, sebab utamanya adalah cinta. Oleh sebab itu, harus ada hubungan hamba dengan Tuhannya, yaitu dalam bentuk rindu, mesra, dan ridha.[18] 
Cinta dapat menjadi dasar bagi kemanusiaan. Cinta juga mewarnai seluruh hubungan kemanusiaan dalam hidupnya, maka cinta Ilahi merupakan sumber hakiki yang membentangkan seluruh alam.
Rabi’ah Al-Adawiyah mencintai Allah bukan karena cinta yang mengharapkan pamrih. Tapi cinta yang benar-benar tulus yang didalamnya hanya ada keikhlasan, kerinduan dan keakraban untuk mencari ridha Allah SWT.
Cinta kepada Allah memang suatu ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 165 :
وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا ِللهِ .
Artinya :
Adapun orang yang beriman sangat mencintai Allah (Al-Baqoroh: 165)[19]

Jadi mukmin yang sejati tentu cinta pada Allah dan apabila cinta itu belum tumbuh maka belum bisa disebut mukmin. Cinta seorang mukmin merupakan cinta kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.      
2.      Tanda-tanda Mahabbah
Sebagaimana tersebut di atas bahwa untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, apalagi jika dikaitkan dengan hubb al-Ilahi, yang mempunyai makna luas, tidak hanya cinta terhadap sesamanya, tetapi cinta kepada Tuhan, Allah SWT. Untuk mengetahui adanya cinta maka dapat dilihat dari tanda-tandanya, R. A Nicholson menyebutkan bahwa cinta Ilahi itu di luar batas rincian, hanya tanda-tandanya saja yang dirasakan.[20] 
Di antara tanda-tanda cinta adalah selalu menyebut seruan yang dicintainya, kemudian mentaatinya, melaksanakan segala perintahnya, di samping itu, juga melaksanakan segala ikatan dirinya dari perbuatan maksiat dan dosa lalu bergerak menuju Tuhan yang Maha Esa, agar demikian mencapai derajat yang paling tinggi.[21]
Dalam al-Qur’an disebutkan tanda-tanda orang-orang yang cinta kepada Allah:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ  الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيتُه زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَّ عَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ. 
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertakwa.” (Al-Anfal: 2)[22]

Menurut Al-Ghazali bahwa orang-orang yang benar-benar mencintai Allah itu memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
a.       Kasih ia akan mati
b.      Melebihkan barang yang dikasihi oleh Allah dan menjauhkan diri dari hawa nafsu
c.       Senantiasa melazimkan zikir Allah
d.      Jinak dengan bersunyi sendirian, bermunajat akan Allah, berzikir, membaca Al-Qur’an dan membekali dengan sembahyang tahajjud di malam yang sunyi.
e.       Tidak menyesal kehilangan sesuatu yang lain daripada Allah SWT.
f.       Senang dengan berbuat taat kepada Allah SWT
g.      Kasih sayang akan hamba Allah yang muslim dan membenci akan orang-orang kafir yaitu seteru Allah.
h.      Ia dalam kasih Allah serta takut akan Allah.
i.        Menyembunyikan Ia akan kasihnya akan Allah Ta’ala, itu dari pada orang-orang yang bukan ahlinya. 
j.        Senantiasa lunak hatinya kepada Allah dan ridha kepada Allah atas segala cobaan yang telah diterima.[23]

Menurut uraian di atas, yang menjadi ciri dari mahabbah adalah orang yang selalu mengingat Allah, selalu berzikir, taat kepada Allah, menyayangi hamba-hamba yang menjadi kekasih Allah dan ridha terhadap segala sesuatu yang telah diberikan Allah.
Begitu pula tentang tanda-tanda mahabbah Rabi'ah Al-Adawiyah. Karena ibadah Rabi'ah Al-Adawiyah kepada Allah yang didasarkan kepada keimanan dan ketaqwaan yang tinggi sehingga hari-hari tidak pernah sepi dari zikir, doa, tasbih, dan sholat lail.[24] Ibadah Rabi'ah Al-Adawiyah kepada Allah mengharuskan dirinya untuk meninggalkan kesenangan material dunia menuju sikap zuhud karena cintanya yang teramat dekat kepada Allah, ia membebaskan dirinya dari penghambaan dunia, karena menurutnya dunia tidak memiliki arti yang hakiki.[25] Dengan demikian Rabi'ah Al-Adawiyah tengah mencari ridha Allah, suatu tingkat kejiwaan yang luhur, yang menerima segala ketentuan yang diberikan Allah tanpa persangkaan buruk kepadanya. Ridha Rabi'ah Al-Adawiyah kepada Allah adalah, "jika engkau menerima musibah (penderitaan), maka perasaanmu sama dengan ketika engkau menerima nikmat (karunia).[26] 
Seseorang yang sedang ke tingkat mahabbah, maka ketika menjalankan ibadah sama sekali sudah tidak mengharapkan balasan dari Allah. Ibadahnya dilakukan dengan khusyu’, ikhlas, dan ridha.  
3.      Orang-orang yang Dicintai oleh Allah
Salah satu tanda cinta adalah dengan menjalankan segala sesuatu yang disukai oleh orang yang dicintai. Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang menyebutkan tanda-tanda maupun perilaku yang disukai oleh Allah[27];
a.       Hamba yang menjadi kekasih Allah adalah mereka yang berakhlak tinggi, lemah-lembut terhadap sesamanya.
b.      Menjaga kebersihan dan kesucian baik kebersihan badan maupun pikiran, hati dan akhlak.

ِانَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.

Artinya:
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri". (Q.S Al-Baqoroh: (2): 222).[28]

c.       Sabar, taqwa, dan jihad di jalan Allah.

وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ.


Artinya:
"Allah menyukai orang-orang yang sabar". (Q.S Ali Imron (3): 146).[29]

بلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقى فَاِنَّ اللهَ يحُِبُّ الْمُتَّقِيْنَ.

Artinya:
"Sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuatnya) dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (Q.S. Ali Imron (3): 76).[30]

اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِىْ سَبِيْلِهِ صَفًّّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوْصٌ.


Artinya:
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Q.S Ash-Shaff (61): 4).[31]
d.      Berlaku adil
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ.
Artinya:
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil". (Q.S Al-Hujurat: (49): 9).[32]

e.       Berbuat baik

وَأَحْسِنُوْا اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ.

Artinya:
"Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". (Q.S Al-Baqoroh (2):  195).[33]

4.      Dasar Ajaran Cinta Ilahi
Sebagaimana telah disebutkan bahwa faktor utama yang mengantarkan Rabi'ah Al-Adawiyah mencapai tingkat ajaran cinta Ilahi adalah ajaran  Islam yang sudah ditanamkan orang tuanya sejak kecil. Karena itu ada baiknya kita lihat beberapa dasar ajaran cinta kepada Allah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits.[34]
a.       Ajaran cinta kepada Allah yang bersumber dari Al-Qur'an
1.      Surat Al-Baqoroh: 165
"Dan di antara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah, dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah amat besar siksaan-Nya (niscaya ia menyesal). (Q.S Al-Baqoroh (2): 165).[35]
2.      Surat Ali Imran: 31-32
"Katakanlah; jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. Katakanlah; taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir." (Q.S. Ali Imran: 31-32).[36]
 
3.      Surat Al-Maidah: 54

"Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (Q.S. Al-Maidah (5): 54).[37]

4.      Surat Al-Hujurat: 7

Dan ketahuilah olehmu bahwa dikalangan kamu ada Rasululloh, kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapatkan kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan cinta it indah dalam hatimu serta menjadikan kedurhakaan, mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan-jalan yang lurus". (Q.S Al-Hujurat (49): 7).[38]
    
b.      Ajaran Cinta kepada Allah yang Termuat melalui Sabda Nabi SAW, antara lain sebagai berikut:[39]

"Tiga perkara yang apabila terdapat dalam diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari pada yang lain, mencintai seseorang hanya kepada Allah dan benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia suka dilemparkan ke dalam neraka" (HR. At-Tirmidzi).
"Cintailah Allah karena ia yang mencurahkan nikmat-nikmat-Nya kepadamu, dan cintailah aku karena Allah dan cintailah keluargaku karena mencintai-ku". (H.R At-Tirmidzi).

"Tiga hal yang menjadikan manusia diharamkan terhadap neraka dan neraka haram atasnya, yaitu iman kepada Allah, cinta Allah dan bertemu dengan-Nya dalam bara api cinta kepada-Nya dari pada kembali kepada kekufuran". (H.R Ahmad Ibnu Hambal).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, baik dalil aqli maupun dalil naqli Rabi'ah Al-Adawiyah mengenal teori (jalan) cinta kepada Allah. Selain itu pengalaman keagamaan Rabi'ah Al-Adawiyah membawanya ke arah kematangan beragama.
Dalam psikologi agama, kematangan beragama adalah kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku. Jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk menghayati, memahami serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari,[40] dari hasil memahami dan menghayati dan meyakini suatu agama maka Rabi'ah Al-Adawiyah mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari hingga mencapai tingkat mahabbah.

B.     Pencapaian Cinta Ilahi
Pada dasarnya tujuan ibadah para sufi adalah untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Guna mencapai kedekatan dengan Tuhan, sufi harus menempuh jalan (thariqah) yang panjang penuh duri, dan berisi stasiun-stasiun (maqamat).[41]
Perbedaan antara hal dan maqam adalah, bahwa maqam diperoleh atas usaha manusia, sedangkan hal didapatkan sebagai anugerah dan rahmat dari Tuhan. Hal bersifat sementara, datang dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalanannya mendekati Tuhan.[42] 
Selain sebagai maqam, mahabbah (cinta Ilahi) sering dipandang sebagai hal, yaitu suatu keadaan spiritual yang tinggi, yang merupakan anugerah Tuhan karena cinta-Nya. Menurut Ibrahim Basyuni, dua macam cinta yang dimiliki Rabi'ah Al-Adawiyah yang satu sebagai maqam dan yang satu lainnya adalah hal.[43]
Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah yang pertama, selalu mengingat Allah yang merupakan jenis maqam, yang di dalamnya ada daya dan upaya dari seorang hamba. Dan yang kedua adalah jenis hal, terbukanya tabir antara hamba dengan Tuhan sebagai kehendak dan anugerah Tuhan. Dalam maqamat, Allah adalah yang mencegah seorang hamba dari kecenderungan terhadap sesuatu yang lain dan memilihnya, memberi tauhid dan memberi petunjuk sebagai pencipta. Sedangkan Allah dalam ahwal adalah yang muncul dengan penampakannya sebagai kekasih, maka tidaklah ada dalam cinta itu kecuali Dia.[44]
a.       Ibadah dan Doa
Menurut bahasa ibadah sama dengan artinya taat atau kepatuhan, dan ta'abud (penghambaan), yang mempunyai arti dengan at-tanasuk (pengabdian).[45] Menurut pandangan Abul A'la al-Maududi ibadah adalah ketundukan seseorang karena ketinggian derajat orang lain dan dirinya dapat dikuasai, sehingga menurunkan dirinya dari kebebasan dan kemerdekaan, ia meninggalkan reaksi menentang dan memperkokoh dirinya dari kekokohan.[46]
Seolah-olah Al-Maududi melihat bahwa ibadah adalah tunduk dan patuh secara totalitas. Tunduk secara sempurna dan patuh secara mutlak. Kemudian makna ini juga disandarkan pada unsur yang baru, yang didalamnya mengandung ibadah hati. Setelah sebelumnya melalui ubudiyah dengan kepala dan lutut (ruku’ dan sujud). Tampaknya unsur ini adalah pengejawantahan dari penghambaan dan peribadatan serta mendatangi tanda-tanda pengabdian kepadanya.[47] Dengan demikian seorang yang hendak mencapai keridhaan Allah harus melaksanakan ibadah. Ibadah merupakan sarana paling utama untuk menuju Allah.
Berdoa merupakan ibadah yang paling agung sekaligus intisari ibadah. Hal ini tercermin dari sabda Rasululloh yang mulia, "barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan membencinya, tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa". Karenanya berdoa amat dianjurkan baik dalam waktu senang ataupun susah, secara diam-diam (sirri) atau terang-terangan, sehingga memperoleh pahala Allah SWT.[48]
Seorang abid ialah orang yang telah mengabdikan dirinya semata-mata kepada Allah, Rabi'ah Al-Adawiyah adakah seorang abidah yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Harapannya akan ridha Allah membuatnya tidak pernah berhenti dari beribadah kepada Allah. Hal itu sesuai dengan janjinya ketika masih sebagai budak, yaitu bila ia terbebas dari perbudakan maka tidak akan berhenti mengabdikan diri kepada Allah.[49] Suatu saat ia pernah mengucapkan doa; "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala perkara yang menyibukkanku untuk menyembah-Mu dan dari segala penghalang yang merenggangkan hubunganku dengan-Mu.[50] Rabi'ah Al-Adawiyah telah menepati janjinya kepada Allah, ia selalu dalam keadaan beribadah kepada Allah SWT sampai menemui ajalnya, ia bahkan selalu melakukan shalat tahajjud sepanjang malam, hingga tiba waktu fajar.[51]
Rabi'ah Al-Adawiyah sangat tekun beribadah, dan ibadahnya ia lakukan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rabi'ah Al-Adawiyah ketika ia ditanya tentang apa yang mendorongnya tekun beribadah kepada Allah. Rabi'ah Al-Adawiyah menjawab;" karena Allah saja, apakah tidak wajar Allah menyuruh kita beribadah kepada-Nya, mengingat nikmat-nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita ? [52]
Tentang doa, menurut Al-Qusyairi, adalah jawaban bagi setiap kebutuhan. Doa adalah tempat beristirahat bagi mereka yang miskin, tempat berteduh bagi mereka yang gundah, kelegaan bagi yang terbakar api hasrat.[53]
Ada yang mengartikan doa sebagai percakapan khusus dengan Tuhan, menyampaikan segala hasrat dan harapannya, Rabi'ah Al-Adawiyah pun menggunakan doa-doa. Kezuhudannya membuat dalam doanya tidak mau menerima hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan, ia juga tidak meminta sesuatu yang menurutnya bertentangan dengan kehendak Tuhan.[54]
Terkabulnya doa menurut Rabi'ah Al-Adawiyah tergantung kepada kehendak Tuhan yang bisa mengabulkan, meskipun doa itu diulang berkali-kali. Hal ini sebagaimana yang ia sampaikan ketika menghadapi Shaleh Al-Man yang menyatakan bahwa doa bisa terkabul bila dilakukan berulang-ulang hingga terkabulkan.[55]
Dari keterangan di atas dapat digambarkan, bahwa Rabi'ah Al-Adawiyah adalah seorang yang rajin beribadah kepada Allah. seperti selalu menjalankan ibadah-ibadah yang diwajibkan seperti shalat, puasa, serta ibadah-ibadah yang disunnahkan seperti membaca Al-Qur'an, zikir, sholat sunnah serta shodaqoh kepada berbagai makhluk.    
b.      Maqamat
Adapun maqamat yang pernah ia lalui antara lain: taubat, zuhud, sabar, syukur, wara', dan ridha. Urutan ini bukanlah urutan yang pasti, karena memang tidak ada petunjuk tentang urutan maqamat yang dirumuskan atau dilalui oleh Rabi'ah Al-Adawiyah.[56]
1).    Taubat
Taubat secara lughot artinya: kembali atau menyesal. Yang dimaksudkan dalam istilah syari'at adalah kembali kepada kesucian setelah melakukan dosa.[57] Taubat merupakan suatu kesadaran yang muncul dari hati untuk tidak mengulangi suatu perbuatan-perbuatan dosa yang ia lakukan, yang diikuti dengan perbuatan yang baik sesuai dengan tuntunan agama.
Pendapat Ibnu Qoyyim: taubat yang murni mengandung tiga  unsur:
(a).  Taubat yang meliputi atas keseluruhan jenis dosa, tidak ada satu dosa pun melainkan bertobat karenanya.
(b). Membulatkan tekad dan bersungguh-sungguh dalam bertaubat, sehingga tidak ada keragu-raguan dan menunda-nunda kesempatan untuk bertaubat.
(c).  Mensucikan jiwa dari segala kotoran dan hal-hal yang dapat mengurangi rasa keikhlasan, dan menginginkan karunia Allah.[58]
  Taubat yang murni merupakan taubat yang memakai niat yang bersungguh-sungguh, yang diaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatan yang keji lagi dan merubahnya ke perbuatan yang baik demi Allah SWT.
Menurut  Al-Ghazali, Taubat tersusun atas tiga perkara: Pertama ilmu, kedua hal, ketiga fi'il, yakni perbuatan. Yang dimaksudkan dengan ilmu adalah kesadaran akan kemudaratan dosa bagi diri seseorang, bahwa dosa itu akan menghalangi dirinya dari Tuhan yang dicintainya. Kesadaran tersebut melahirkan rasa pilu dalam hatinya, karena takut luput kekasihnya itu. Hal itu lalu mendorongnya memperbaiki semua kesalahan dan kekurangannya di masa lalu, dengan tekad yang bulat untuk tidak melakukannya lagi di masa yang akan datang.[59] Dengan demikian taubat adalah ketergantungan jiwa manusia yang melahirkan kesadaran akan segala kekurangannya dan kebulatan tekad yang disertai amal perbuatan untuk memperbaikinya.
Sebagaimana sufi-sufi lainnya, taubat adalah salah satu tahap yang harus dilalui untuk membersihkan dosa-dosa karena dengan dosa itulah manusia akan terhalang untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Maka sehubungan dengan perbuatan dosa tersebut, Rabi'ah Al-Adawiyah terlihat dengan nafsu keduniaan. Hal itu sangat bertentangan hati nuraninya dan terjadi diluar kemampuannya. Dengan demikian apa yang didambakan oleh Rabi'ah Al-Adawiyah sebelum mendapat kemerdekaan dari Tuhannya ternyata tidak diperolehnya.[60]
Pertentangan antara kenyataan dengan keinginan hati nurani menyebabkan timbulnya kegoncangan dalam diri Rabi'ah Al-Adawiyah. Baginya, untuk terhindar dari kegoncangan tersebut ia merasa perlu bertaubat, tetapi ia senantiasa dibayangi keraguan antara diterima atau tidak atas dosa taubat yang dilakukannya tersebut. Karena itu, dia memilih jalan taubat yang setinggi-tingginya, taubat tanpa mengenal waktu. Ia melakukan taubat secara kontinyu, tidak hanya sekali tetapi selama hayat dikandung badan.[61] 
Kini Rabi'ah Al-Adawiyah melakukan taubat yang tiada putus-putusnya dan berbakti sepenuhnya kepada Allah SWT, namun kegoncangan dalam jiwanya tetap berkecamuk, seperti yang digambarkan dalam syair sebagai berikut :
"Tuhanku, malam telah berlalu, dan siang telah menampakkan diri. Aku gelisah, apakah amalku Engkau terima hingga aku merasa gembira ataukah Engkau tolak hingga aku merasa sedih. Demi Maha Kuasa-Mu inilah yang kau lakukan selama aku Engkau beri hajat. Sekiranya Engkau mengusir aku dari depan pintu-Mu aku tidak akan pergi, karena cintaku pada-Mu telah memenuhi hatiku.[62]
Rabi'ah Al-Adawiyah senantiasa menyerahkan segala urusannya kepada Allah, dan hal itu menjadi kebiasaannya. Bagi Rabi'ah Al-Adawiyah, taubat adalah karunia Allah, dan anugerah rabbaniyah yang dikhususkan untuk hamba-hamba-Nya yang dia kehendaki. Berkatalah seseorang kepada Rabi'ah Al-Adawiyah: “Sesungguhnya aku telah berbuat dosa dan maksiat, andai kata aku bertobat, apakah tobatku akan diterima?” Rabi’ah menjawab, “tidak, akan tetapi kalau Dia akan menerima tobatmu, maka engkau akan bertobat”.[63]   
2).    Zuhud.
Kezuhudan (zuhud) bermakna berpalingnya hati dari kesenangan duniawi dan tidak menginginkannya.[64] Adapun inti dari zuhud adalah kesadaran jiwa akan remeh dan hinanya dunia, dan bahwa jika seandainya cukup berharga di sisi Allah, walaupun hanya sebanding dengan berat sayap seekor nyamuk, niscaya Allah menolak memberi seteguk air pun darinya untuk seorang kafir.[65]
Zuhud di dunia merupakan suatu kenikmatan, karena zuhud ialah meninggalkan segala bentuk kecintaan terhadap dunia yang bersifat sementara dan mencintai sesuatu yang lebih baik dari dunia yaitu akhirat. Orang yang sudah merasakan nikmatnya zuhud maka orang tersebut akan merasakan tenang, tentram dalam kehidupannya.
Dalam istilah ada beberapa pengertian yang dikemukakan oleh ahli tasawuf antara lain:
a.       Benci kepada dunia dan berpaling dari padanya.
b.      Membuang kesenangan dunia untuk mencapai kesenangan akhirat.
c.       Hati tidak memperdulikan kekosongan tangan.
d.      Membelanjakan apa yang dimiliki dan tidak menghargakan apa yang didapat.
e.       Tidak menyesal atas apa yang tidak ada edan tidak bergembira dengan apa yang ada.[66]
Maksud zuhud di atas ialah menghindari perbudakan harta benda, tidak rakus terhadap kemewahan duniawi, menerima nikmat Allah dengan perasaan qonaah, cenderung dan mengutamakan pahala di akhirat.
Sebagaimana Rabi'ah Al-Adawiyah yang melaksanakan zuhud, maka sebagaimana tindak lanjut dari apa yang dilakukannya, Rabi'ah Al-Adawiyah tidak mau hati dan pikirannya dikotori oleh gemerlapnya dunia. Karena ia merasa bahwa dunia merupakan sesuatu yang semu, yang didalamnya hanya mendatangkan kegelisahan, kesusahan dan kesedihan.
Sejarah telah mencatat liku-liku perjalanan hidup Rabi'ah Al-Adawiyah. Di sana tertulis dengan jelas bahwa kezuhudannya atas pilihan dan keinginannya sendiri. Ia telah mencapai maqam kezuhudan sebagaimana yang telah dicapai ahli zuhud di masa Rasululloh dan Khulafaur-Rasyidin.[67] Zuhud yang dilakukan oleh Rasul bukan hanya beribadah saja tetapi juga dengan berusaha untuk mencari kecukupan hidup di dunia. Kekayaan bukan dijadikan tujuan tetapi kekayaan di jalan untuk mencapai keridhaan Allah SWT, yaitu ketika ada orang yang meminta bantuan maka ia tidak segan-segan untuk mengulurkan tangan.
Tidak diragukan lagi, bahwa Rabi'ah Al-Adawiyah termasuk barisan zahidah yang mengikuti sunnah Rasul. Kezuhudannya terbukti dalam kehidupannya yang teramat sederhana, tangannya tidak bisa menggenggam harta, dirinya bersih dari pengaruh nafsu, dan matanya terpelihara dari memandang kemewahan duniawi.[68] Malik bin Dinar juga pernah meriwayatkan tentang kezuhudan Rabi'ah Al-Adawiyah. Suatu hari ia datang ke rumah Rabi'ah Al-Adawiyah, saat itu Rabi'ah Al-Adawiyah sedang minum air dari bejana yang pecah, tikar yang terbentang sudah kumal, sementara yang dijadikan bantal tidurnya adalah sebuah batu.[69] Meskipun dalam keadaan seperti itu, Rabi'ah Al-Adawiyah tidak pernah mengeluh bahkan ketika mau diberi bantuan, maka Rabi'ah Al-Adawiyah akan menolaknya. Karena Rabi'ah Al-Adawiyah yakin bahwa Allah tidak hanya memberi rizki kepada orang kaya tetapi kepada orang miskin juga.
Sejak Rabi'ah Al-Adawiyah melangkahkan kaki ke arah kesufian, sejak itu pula ia menghindarkan diri dari hidup keduniaan. Dengan demikian Rabi'ah Al-Adawiyah telah mengusir dunia dari hati, pikiran, dari lidahnya walaupun hanya sejenak. Karena semua itu dimaksudkan agar dirinya hanya diperuntukkan untuk mengingat Allah.[70]
Farid Ad-Din Al-Attar (513-586 H) meriwayatkan bahwa Rabi'ah Al-Adawiyah suatu ketika berpuasa dan sedang bermunajat, kemudian matahari tenggelam, sedang di sisinya tidak ada sesuap makanan apapun, lalu dia bergumam: "sampai kapan kamu menyiksa dirimu, wahai Rabi'ah, dan engkau menanggung derita yang tiada akhir" ?[71]
Al-Hujwiri (w. 465 H) meriwayatkan: "telah datang seorang amir Basrah kepada Rabi'ah Al-Adawiyah untuk menjenguknya dengan membawa harta yang banyak dan ia memberikan kepadanya untuk membantu kebutuhan hidupnya, maka menangislah Rabi'ah Al-Adawiyah lalu mengangkat kepalanya ke langit dan berkata, "Dia mengetahui bahwa saya malu kepada-Nya untuk meminta dunia, sedang Dialah pemiliknya, maka bagaimana aku akan menerima harta itu dari orang yang bukan pemiliknya ? maka malulah amir Basrah untuk mengulangi perbuatannya itu.[72] sesungguhnya dunia tidak diangankan oleh Rabi'ah Al-Adawiyah dan juga tidak dalam pikirannya sehingga ia malu untuk memintanya kepada Allah, karena sesungguhnya dunia itu tidak ada apa-apanya, maka bagaimana mungkin dia akan meminta kepada seorang hamba-Nya ? begitu pula bagaimana dia bisa menerima pemberian harta dari seorang hamba. Contoh-contoh di atas, dapat menunjukkan bahwa Rabi'ah Al-Adawiyah sama sekali tidak berhajat pada kesenangan dunia.
Zuhud adalah permulaan dari tasawuf, termasuk salah satu dari pintu-pintunya, tetapi zuhud bukanlah tujuan dari pada tasawuf dan bukan pula tujuan akhirnya, zuhud hanyalah suatu sarana dan jalan untuk mencapai tingkat kerohanian yang lebih tinggi.[73]  
3).    Sabar
Sahl berkata: "Kesabaran adalah pengharapan akan laporan dari Tuhan, kesabaran merupakan kebaktian yang paling mulia dan paling tinggi". Yang lain berkata; "Kesabaran berarti bersikap sabar terhadap kesabaran".[74] Atau dengan kata lain sabar merupakan sikap menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak dikehendaki oleh Allah dengan tenang ketika mendapatkan cobaan dan menampakkan sikap cukup terhadap sesuatu yang telah diberikan Allah kepada-Nya serta yang ada dalam hatinya keikhlasan yang benar-benar tulus.
Sabar merupakan amalan atau sifat yang harus dimiliki seorang sufi. Menurut Al-Qusyairi, sabar ada dua macam;
(a).  Sabar terhadap apa yang telah diperoleh si hamba dengan upaya (melalui amal-amalnya). Sabar ini ada dua yaitu:
-          Sabar dalam menjalankan perintah Allah.
-          Sabar dalam menjauhi larangan-Nya.
(b). Sabar terhadap apa yang telah diperolehnya tanpa upaya, yaitu sabar dalam menjalankan ketentuan Allah yang menimbulkan suka baginya.[75]
Sikap sabar sangat dianjurkan, dalam Al-Qur'an Allah berfirman:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَ تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ.

Artinya:
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. (Q.S. Al-Ahqof (46): 35).[76]

Kehidupan Rabi'ah Al-Adawiyah yang sederhana telah mengajarkan perihal sabar. Berbagai hikayat yang dikaitkan dengan biografinya menunjukkan kebiasaannya dalam kesabaran.
Sekalipun hidupnya sangat menderita, Rabi'ah Al-Adawiyah tetaplah Rabi'ah Al-Adawiyah. Pendiriannya tak berubah sedikit pun. Betapapun pahit kehidupan yang dijalani, tetaplah dijalani dengan taat dan sabar. Shalat malam tetap dijalankannya secara rutin dan lisannya tak pernah berhenti berzikir, istighfar merupakan senandung yang selalu didendangkannya.[77] 
Pada masa mudanya terlihat kesabarannya dalam menghadapi penderitaan keras sebagai budak,  ia mendapatkan cobaan-cobaan dan kesengsaraan hidup dalam jiwanya. Ia kehilangan kenikmatan hidup, miskin, dan tidak senang dalam hidupnya, penderitaan jiwa raga, ia putuskan untuk memikulnya. Semua telah diterimanya sebagai sebagian dari kehendak Tuhan terhadapnya dan sebagai latihan bagi wataknya.[78] Rabi'ah Al-Adawiyah merupakan seorang yang sangat sabar ketika menerima cobaan dari Allah, dan kesabarannya itu telah teruji ketika Rabi'ah Al-Adawiyah masih kecil sampai akhir hayatnya yaitu menjadi seorang yatim piatu, menjadi seorang budak, menjadi seorang yang miskin.
Dengan demikian sebagaimana dikatakan Al-Qusyairi, orang yang beriman harus menerima dengan sabar segala apa yang telah ditentukan oleh Tuhan kepadanya. Dan Rabi'ah Al-Adawiyah telah mengajarkan pelajaran ini, baik dengan ajaran maupun contoh.[79]
4).    Syukur
Syukur adalah amalan yang paling melengkapi bagi sabar yang sama menunjukkan anugerah dari Tuhan. Hakikat syukur adalah pengakuan anugerah dari sang pemberi dengan sikap penuh kepasrahan.[80] Al-Palim Bani menjelaskan bahwa rasa syukur terhadap nikmat Allah itu harus dilahirkan dalam bentuk amal, baik yang dilakukan dengan  hati atau diucapkan dengan lidah maupun yang dilakukan dengan anggota,[81] syukur yang dihadirkan dalam hati maksudnya mencita-citakan dalam hati akan berbuat kebajikan bagi segala makhluk dan dihadirkan dalam bentuk zikrullah, mensyukuri dengan ucapan yaitu mengucapkan zikir dengan mengucap Al-Hamdulillah, sedangkan mengamalkan dalam bentuk anggota badan yaitu mengamalkan segala nikmat Allah untuk berbuat taat kepada-Nya.[82] Di samping puasa, zikir pun sering diucapkan demi membuktikan rasa syukur kepada Allah SWT.
Rabi'ah Al-Adawiyah telah mengajarkan sekaligus mempraktekkan amalan syukur ini. Banyak waktunya dihabiskan untuk memuji Tuhannya atas segala kebaikannya. Do'anya selalu diulang-ulang senantiasa penuh penyampaian terima kasih. Suatu saat ia berkata: "Engkau telah memberikan hidup dan memperlengkapinya untukku, dan kepunyaan-Mu adalah cahaya kemuliaan", selanjutnya ia berkata: "berapa karunia yang telah Kau limpahkan kepadaku, anugerah-anugerah, kelonggaran, dan pertolongan.[83] Syukur Rabi'ah Al-Adawiyah kepada Allah karena rasa syukurnya terhadap kesengsaraan sama dengan rasa syukurnya terhadap kenikmatan. Menurut Rabi'ah Al-Adawiyah antara kenikmatan dan kesengsaraan itu sama rasanya sebab itu semua sama-sama anugerah dari Allah SWT.
5).    Wara'
Wara' mengandung arti menjauhkan hal-hal yang tidak baik dan dalam pengertian sufi adalah meninggalkan yang subhat (meragukan),[84] dalam skripsi ini tepatnya bab II tentang biografi Rabi'ah Al-Adawiyah, menunjukkan bahwa ia menjalankan amalan wara' ini. Sikap wara'-nya ini terlihat ketika ia masih kecil, yaitu ketika ia menegur ayahnya karena menyediakan makanan yang masih meragukan kehalalannya kepada Rabi'ah Al-Adawiyah.
Demikian ke-wara'-an Rabi'ah Al-Adawiyah, ia selalu berhati-hati dan selalu meninggalkan hal-hal yang membuat hatinya ragu. Pada suatu haru pelayan wanita Rabi'ah Al-Adawiyah hendak memasak sup bawang karena telah beberapa lamanya mereka tidak memasaknya, karena kehabisan bawang, kemudian si pelayan berkata kepada Rabi'ah Al-Adawiyah: "aku hendak meminta bawang kepada tetangga sebelah", akan tetapi Rabi'ah Al-Adawiyah mencegah; "telah empat puluh tahun aku berjanji kepada Allah tidak akan meminta sesuatu apapun kecuali kepada-Nya, lupakanlah bawang itu. setelah Rabi'ah Al-Adawiyah berkata demikian datanglah seekor burung menjatuhkan bawang yang telah terlepas dari paruhnya. Melihat semua ini Rabi'ah Al-Adawiyah berkata: "aku takut jika semua ini hanya tipu muslihat", Rabi'ah Al-Adawiyah ragu dan tidak mau menyentuh sub bawang tersebut akhirnya hanya roti yang dimakannya.[85]
Setiap sufi menyadari bahwa setiap makanan, minuman, pakaian dan sebagainya yang subhat akan mendekati haram. Sedangkan barang yang haram akan berpengaruh bagi yang memakannya, orang yang demikian akan keras hati yang akhirnya akan menyebabkan sulitnya mendapat ilham dan hidayah dari Allah SWT.      
6).    Ridha
Ridha adalah ketenangan kalbu di bawah alur hukum. Menurut ali Al-Junaid, ridha adalah keabsahan ilmu yang bersambung sampai ke kalbu, apabila kalbu telah berkait langsung dengan hakikat ilmu, maka akan diteruskan kepada ridha dan mahabbah, seperti khauf dan raja' pula, keduanya merupakan perilaku yang tidak bisa dipisahkan dalam diri hamba baik di dunia maupun di akhirat, karena di surga pun, seorang hamba tetap membutuhkan ridha dan mahabbah.[86]    
Seseorang yang sudah di maqom ridha ini tidak membedakan lagi antara apa yang disebut musibah  dan apa yang disebut dengan nikmat, semuanya diterima dengan gembira, karena semuanya adalah takdir Allah. Menurut Al-Ghazali sikap batin seperti mungkin saja dimiliki oleh orang yang segenap pikiran dan perasaannya telah dikuasai kecintaan kepada Allah, karena dalam kehidupan manusia di dunia sangat banyak contoh yang menunjukkan bahwa orang yang mencintai sesuatu selalu rela memikul segala pengorbanan untuknya.[87] 
Pada suatu hari Rabi'ah Al-Adawiyah mendengar seorang hamba sahaya lelaki berdoa: "Ya Allah, limpahkan ridha-Mu kepadaku", Rabi'ah Al-Adawiyah berkata padanya: "jika engkau telah ridha dengan ketentuan Allah, maka pasti Allah akan ridha padamu. Laki-laki itu bertanya pada Rabi'ah Al-Adawiyah: "bagaimana caranya aku ridha pada Allah SWT? Rabi'ah Al-Adawiyah menjawab, "jika engkau menerima musibah yang menimpamu dengan perasan yang sama seperti engkau menerima nikmat, karena baik musibah maupun karunia datangnya hanya dari Allah. Pernah hama belalang hinggap pada tanaman Rabi'ah Al-Adawiyah dan melalap habis semua tanamannya, ia hanya menerimanya dengan tersenyum, lalu mengangkat muka ke langit sambil berdoa, "Oh Tuhanku! Rizki datang dari-Mu, hama belalang tidak akan mengurangi atau merampas rizkiku sama sekali, semua adalah ketentuan dari-Mu juga".[88] Ridha menurut versi Rabi'ah Al-Adawiyah adalah ketika ia menerima musibah dengan lapang dada seperti ketika ia menerima nikmat dengan perasaan bahagia.
Suatu hari ketika Rabi'ah Al-Adawiyah sedang shalat, balok yang di langit-langit gubuknya jatuh menimpanya. Sehingga kepalanya benjol dan meneteskan darah, sekalipun darah mengalir keras, ia tetap melanjutkan shalatnya, ia sama sekali tidak mengeluh kesakitan. Selesai shalat, ada orang bertanya, "tidakkah engkau merasa sakit wahai Rabi'ah Al-Adawiyah ? Rabi'ah Al-Adawiyah menjawab, "Allah telah menjadikan diriku ridha menerima setiap kehendak-Nya, semua yang terjadi atas kehendak-Nya.[89]
Suatu hari kelaparan menimpa Rabi'ah Al-Adawiyah, maka mereka tetap sabar menanggung rasa lapar dan kesusahan hidup dengan penuh keridhaan dan ketenangan. Karena mereka berkeyakinan bahwa yang demikian itu adalah cobaan dari Allah. Kemudian mereka merasakannya dengan nikmat dan senang, karena mereka tahu kalau cobaan dan ujian itu adalah sarana pembersih hati dari segala tindak kejahatan. Sebaliknya, mereka akan memperoleh suatu hikmah dan kekuatan yang lebih memantapkan lagi pengakuan serta penerimaan terhadap ketentuan Allah.[90]
Maqom ridha sangat erat dengan kehidupan Rabi'ah Al-Adawiyah, ridha ini merupakan rahasia hidupnya. Rabi'ah Al-Adawiyah selalu ridha selamanya, tidak pernah terlihat dia benci lalu marah-marah, tidak pula memperlihatkan sikap penuh derita yang menunjukkan keragu-raguan. Rabi'ah Al-Adawiyah adalah seorang wanita yang selalu ridha terhadap Tuhan dan penciptaan-Nya, selalu gembira dengan pemberian yang diterimanya dan tak pernah keluh kesah terhadap apa yang berlalu bagi dirinya.[91] 
Peristiwa-peristiwa di atas menunjukkan bahwa Rabi'ah Al-Adawiyah telah mencapai maqam ridha.   
c.       Ahwal
Menurut Harun Nasution, hal merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, takut, dan lain sebagainya. Hal yang biasanya disebut sebagai hal adalah takut (al-khauf), raja', ikhlas, gembira hati dan lain sebagainya.[92]

1.      Khauf  (takut) dan raja' (harap)
Menurut Ahmad Ibn Al-Sayyid Hamdawain berkata: "orang yang takut itu dibuat takut oleh hal-hal yang menyebabkan (yang lain) merasa takut", Abu Abdillah Ibn Al-Jalla berkata: "orang yang takut adalah yang ditentramkan dari hal-hal yang menyebabkan rasa takut.[93]
Pengetahuan tentang raja' dapat ditengok dalam sifat-sifat yang qodim yang melahirkan segala hal yang buruk, rahasia, manfaat, dan bahaya. Siapa saja yang mengenal sifat-sifatnya, ia akan terdorong untuk takut dan berharap (raja'). Inilah yang dimaksud raja'  bagi dzat-Nya. Karena kebajikan atau apapun keburukan tidak akan menimpa, kecuali karena keutamaan (fadhal) Allah SWT. Dengan raja' ini orang yang dilahirkan oleh khauf akan terdorong menjadi patuh.[94]
Dalam perkembangan ajaran mistik Islam khauf dan raja' merupakan ajaran tertua dalam kehidupan para zahid dan sufi. Yang pertama-tama menekankan ajaran khauf dan raja' adalah zahid pemula Hasan Basri. Khauf yang dimaksud adalah takut kepada Allah dan adzab-Nya, sedangkan raja' adalah mengharapkan ridha Allah dan surga-Nya. Kedua ajaran tersebut selalu berdampingan, karena mempunyai orientasi yang sama, yaitu kehidupan yang akan datang. Takut dan harap merupakan komponen iman, sebagaimana Tuhan ajarkan bahwa orang yang beriman akan berdoa dengan rasa takut dan harap. Firman Allah :
"Mereka menyeru kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap" (Q.S. As-Sajdah (32): 16).

Bagi Rabi'ah Al-Adawiyah, takut hanyalah kepada Allah yang menciptakan neraka, bukan kepada neraka-Nya. Takutnya Rabi'ah Al-Adawiyah kepada sang pencipta pernah diisyaratkan dalam doanya:
"Tuhanku, akan Engkau bakarkan hati orang yang sangat mencintai-Mu, lidahnya selalu menyebut nama-Mu, hatinya takut pada-Mu, dan umurnya dihabiskan dengan hiasan taat, dibingkai dengan ibadah dan berdoa kepada-Mu ?"[95]

Hal  ini telah dibuktikan oleh Rabi'ah Al-Adawiyah sendiri bahwa pengabdiannya kepada Tuhan bukan karena takut neraka dan ingin surga-Nya, akan tetapi semata-mata karena cinta kepada-Nya, bahkan ia pernah "menantang" Tuhan, jika sekiranya ibadahnya karena takut neraka-Nya, maka ia minta dibakar di dalamnya, dan sebaliknya apabila karena menginginkan surga-Nya, maka ia minta dijauhkan dari padanya.[96]
Gejolak hati Rabi'ah Al-Adawiyah untuk mendapatkan ridha Allah mendorong dia untuk terus berusaha meningkatkan kecintaannya kepada Allah. Sehingga ia rela terhadap segala penderitaan yang menimpa dirinya. Karena baik dan buruk, maupun musibah dan karunia, semuanya berasal dari Allah SWT.[97]
Dari pernyataan di atas dapat dikemukakan bahwa Rabi'ah Al-Adawiyah bukan takut kepada neraka, tetapi yang ditakutkan adalah kehilangan keridhaan dari Allah, di samping itu Rabi'ah Al-Adawiyah juga punya pengharapan keridhaan Allah. Tuhannyalah (ridha, kasih sayang, cinta maupun wajahnya) yang menjadi cita-cita, harapan, dan tujuannya.
Rabi'ah Al-Adawiyah memang telah meningkatkan ibadah dari maqam khauf dan raja' kepada cinta (mahabbah) Allah. Tetapi tidak meninggalkan keduanya, dengan catatan hanya ditujukan atas Tuhan semata.[98] Sehingga dari keduanya tersebut yaitu takut dan harapan yang menyebabkan Rabi'ah Al-Adawiyah selalu teringat hari kiamat. 
2.      Rindu
Seorang yang sedang dilanda cinta tentu akan selalu mengharapkan pertemuan dan akan selalu menunggu pertemuan itu. itulah yang disebut dengan rindu. Cinta kepada Allah yang melanda Rabi'ah Al-Adawiyah terbuktikan dengan keadaannya yang selalu dilanda kerinduan yang tinggi. Hal itu tercermin dalam syair;
O kegembiraan, tujuan dan harapanku
Engkau semangat hatiku
Engkau telah memberikan kebahagiaan padaku
Kerinduan kepada-Mu, merupakan bekalku
Kalau bukan karena mencari-Mu
Tak ku jelajahi negeri yang luas ini
Betapa banyaknya limpahan nikmat karunia-Mu
Cinta pada-Mu tujuan hidupku.[99]

Dan di antara tanda-tanda orang-orang yang dicinta, adalah keinginan untuk dekat kepada-Nya dengan orang yang dicintainya, karena ia selalu rindu pada-Nya, ingin selalu bermunajat pada-Nya, jika berjauhan ia merasa tersiksa.[100]
Kalau cinta telah mencapai tingkat kerinduan, maka lama kelamaan perasaan itu akan berkembang menjadi cinta yang membara. Sehingga bila mendengar nama Allah SWT, bergetar seluruh jiwa raganya dan berkobar rasa rindu dalam hatinya.[101]
Cinta mempunyai dua mempunyai dua gejala, kadang ia muncul dalam bentuk kerinduan, kadang ia tampak dalam bentuk keakraban, kedua gejala-gejala tersebut sama-sama mengungkapkan cinta. Kerinduan akan terjadi tatkala sang pencinta jauh dari kekasihnya, dan keakraban terjadi ketika ia berada dekat dengan kekasihnya.[102] 
Mengenai "cinta Ilahi", Rabi'ah Al-Adawiyah mengenalkan dua jenis cinta sebagaimana ia dendangkan dalam satu puisinya:
Aku cinta Kau dengan dua jenis cinta
Cinta karena rindu dan cinta karena Kau layak dicinta
Adapun cinta rindu karena hanya Kau ku kenang selalu,
Bukan selain-Mu. Adapun cinta karena kau layak dicinta,
Karena Kau singkapkan tirai sampai Kau nyata bagiku
Bagiku, tidak puji untuk ini dan itu, tetapi sekalian puji hanya
Bagi-Mu selalu.[103]

Rabi'ah Al-Adawiyah dengan isi puisinya di atas memperluas arti dan ruang lingkup cinta Ilahi, ia cinta bukan karena mengharap, tapi ia cinta karena ketulusan. Rindunya kepada Allah telah membewa perasaan berkembang menjadi cinta yang membara. Hatinya ingin selalu melihat Allah dan kobaran cintanya selalu membakar kecemasan hati yang terpendam. Bila kerinduan dan keinginannya menggelora semakin membesar, maka cinta pun akan meningkat pada derajat fana, bahkan ia fana dihadapan Allah, fana karena cinta Ilahi.[104]
3.      Sedih
Sedih merupakan keadaan seseorang yang tanpa di sengaja muncul dari dalam batin yang merindukan pertemuan dengan yang dicintanya, bahkan kadang-kadang yang mengalami kesedihan itu sendiri tidak mengetahui apa penyebab kesedihan itu sendiri. Kesedihan tersebut adalah anugerah dari Allah SWT. Rabi'ah Al-Adawiyah pernah mengalami hal itu pada suatu ketika ia tiba-tiba menangis tersedu-sedu lalu Abdah menegurnya:
"apa yang sedang engkau sedihkan Rabi'ah ? tak tahu lah aku, namun akan merasa sedih sekali. Kesedihan yang dialami Rabi'ah Al-Adawiyah seperti ia selalu menangis sehingga ada orang yang bertanya, mengapa engkau menangis apakah engkau menderita karena-Nya? Rabi'ah Al-Adawiyah menjawab: "O nasib penderitaan dan nasib yang aku derita tidak seorang pun dokter yang mampu mengobatinya. Mereka tidak akan mampu menolongku menghilangkan derita in kecuali jika harapanku telah terwujud di alam yang lain yaitu ketika aku melihat wajah-Nya Yang Maha Mulia.[105] 
4.      Cemburu dan Ikhlas
Cemburu adalah emosi yang meresahkan yang timbul apabila seseorang merasa bahwa orang yang dicintainya mengarahkan perhatian atau cintanya kepada orang lain, bukan pada dirinya.[106]
Al-Junaid berkata: "keikhlasan adalah sesuatu yang dengan jalan itu Tuhan apapun tindakannya.[107]
Telah digambarkan suatu kepercayaan yang kukuh yang begitu dominan dalam jiwa Rabi'ah Al-Adawiyah. Ia sadar bahwa Allah amat mencintai dirinya, begitulah ia merasakannya kecintaan ini yang senantiasa Rabi'ah Al-Adawiyah pelihara dan hargai, tak se-dzarroh pun gerak-gerik perilakunya yang bisa membuat kekasihnya cemburu dan cemberut. Karena itu ia tidak mau memadu cinta dengan yang
selain-Nya.
Tentang perasaan Rabi'ah Al-Adawiyah akan kecemburuan Allah kepada-Nya ia tuturkan di hadapan jamaah yang datang menjenguknya tatkala ia sakit, [108]
Keikhlasan dalam beribadah menjadikan dirinya selalu ingat kepada Allah setiap waktu. Ia begitu hanyut merasakan kenikmatan itu, tenang dalam zikir, dan riang mendekatkan diri kepada-Nya. Di hatinya tumbuh kerinduan untuk bertemu dengan-Nya.[109]
Ikhlas memiliki kekuatan yang amat perkasa. Ia mampu mengusir setiap bentuk riya dalam hati.[110] Jika diteliti lebih mendalam sejauh manakah keikhlasan yang telah dicapai Rabi'ah Al-Adawiyah, kita kana mendapati bahwa ia selamanya dalam lindungan Allah. Ia telah mencapai derajat yang amat tinggi, sangat dekat kepada Allah dan mendapatkan pancaran cahaya kerinduan-Nya. Derajat ini belum pernah dicapai oleh orang alim atau orang shalih manapun kecuali Rabi'ah Al-Adawiyah.

C.    Syair-syair Rabi'ah Al-Adawiyah

˜  Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi, karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan bila aku menyembah-Mu
Karena mengharap surga, campakkan aku darinya.
Tetapi, jika aku menyembah-Mu
Demi Engkau semata, jangan Engkau enggan 
Memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku.[111]

˜  Tuhanku, aku tenggelam dalam cinta-Mu
Hingga tak ada sesuatu pun menggangguku dalam jumpa-Mu
Tuhanku, bintang gemintang berkelap-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup
Tuhanku, demikian malam pun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malam ku Kau terima
Hingga aku berhak merengguk bahagia
Ataukah itu Kau tolak hingga aku dihimpit duka
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang selalu ku lakukan 
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusiaan-Mu
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu.[112]

˜  Zuhud pada dunia memberi ketenangan
Sedang terlalu mendamba dunia
Menimbulkan keprihatinan atau kesedihan, karena itu...
Persiapkan dirimu, dahulukan tempat kembali
Hendaklah engkau mengurus dirimu
Dan jangan harap orang lain mengurusmu
Mereka akan membagi-bagi warisanmu
Berpuasalah sebanyak-banyaknya
Jadikan kematian sebagai hari besarmu
Mengenai diriku
Meski Allah telah melimpahkan kekayaan
Sebanyak yang telah dilimpahkan-Nya padaku
Atau berlipat ganda dari itu
Aku sama sekali tidak akan bahagia, meninggalkan
Zikir kepada Allah, walau hanya sekejap.[113]   


˜  Aku mencintaimu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu
Adalah keadaan-Mu menyingkapkan tabir hingga engkau kulihat
Baik untuk ini maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mulah pujian untuk kesemuanya.[114]

˜  Tuhanku,
Selagi Engkau tidak murka padaku
Aku tak akan memperdulikan segala coba dan derita
Walau bagaimanapun
Pertolongan-Mu pasti lebih luas untukku
Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu
Yang menerangi tujuh lapis langit
Dan yang menyinari kegelapan
Aku berlindung dari kemurkaan dan kebencian-Mu
Engkaulah yang berhak memurkaiku
Dan tiada daya dan upaya selain kekuatan
Kecuali atas pertolongan-Mu.[115]
˜  Tuhan, kini malamku telah pergi
Berganti siang, semakin mengembang
Engkau terimakah ibadahku, munajatku semalam?
Jika Engkau menerimanya, aku sangat bahagia
Jika Engkau menolaknya aku akan bersabar
Aku akan terus bersungguh-sungguh
Menghadapkan diri kepada-Mu 
Selagi Engkau masih memberi hidup buatku
Aku, akan mendatangi-Mu
Dan selalu berusaha agar aku
Sampai di depan pintu-Mu
Sekiranya Engkau mengusir dan menghalauku
Aku tetap tidak akan meninggalkan-Mu
Karena aku sangat mencintai-Mu, Ya Allah ![116]

˜  Ketenangan ku ada dalam tapaku, kekasihku selamanya bersamaku
Aku tak pernah cinta pada selain-Nya, dan cinta kepada manusia
Itulah ujianku, dimanapun berada, aku melihat keindahannya,
Itulah mihrab dan kiblatku. Jika aku mati karena cinta,
Dia akan meridhoiku .
Mustikah aku menanggung derita karena manusia ?
Alangkah naif dan menyedihkannya ! Wahai penawar hati
Yang mengabulkan segala pinta dan cinta,
Perbaikilah  hubunganku dengan-Mu supaya jiwaku terobati
Ku tinggalkan segalanya semata mengharap keridhoan-Mu.
Mungkinkah harap, pinta, dan cinta ini akan terwujud.[117]


[1]  Iskandar, Cinta Versi Rabi'ah Al-Adawiyah, (www. Geogle.com), hlm. 2.
[2]  Ibid, hlm.3.
[3]  Al-Kalabadzi, Ajaran Kaum Sufi, (Bandung: Mizan, 1993), cet III, hlm. 137.
[4] Margaret Smith, Rabi’ah Pergulatan Spiritual Perempuan, (Surabaya : Risalah Gusti, 1997), hlm. 107.
[5] Ibid, hlm. 108.
[6]  Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Etika Kesucian, (Surabaya: Risalah Gusti, 1990), hlm. 65.
[7]  Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 58.
[8]  Leo F. Baccoglia, Love, alih bahasa Anton Adiwiyanto, (Jakarta: Mutiara, 1992), cet III, hlm. 79.
[9]  Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 59.
[10]  Ibid, hlm. 60.
[11]  Said Hawwa, alih bahasa Ainur Rafiq, dkk, Mensucikan Jiwa, (Jakarta: Rabbani Press, 2003), cet VI, hlm. 335.
[12]  Simuh, Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam, (Jakarta: Raja Grafika Persada, 1997), cet II, hlm. 84.
[13] Muzairi, “Al-Hallaj Dalam Perspektif Islam”, (Yogyakarta : Basis, 2001), hlm. 47.
[14] Ibid.
[15]  Abu Al-Wafa Al-Ghanimi Al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, (Bandung: Pustaka, 1985), hlm. 87.
[16] Margareth Smith, Rabi’ah Pergulatan Spiritual Perempuan, (Surabaya: Risalah Gusti, 1997), hlm. 114.    
[17]  Ibid.
[18] Abd Halim Rafie, Cinta Ilahi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2000), cet II, hlm. 52.
[19] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Depag, 1985), hlm. 41.
[20] Sururin, Rabi'ah Al-Adawiyah Hubb Illahi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2002), cet II, hlm. 131.
[21] Ibid.
[22] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Depag, 1985), hlm. 260.
[23] Chatib Quzwain, Mengenal Allah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hlm. 104.
[24] Iskandar, Cinta Versi Rabi'ah Al-Adawiyah, (www.Geogle.com), hlm. 3.     
[25] Ibid, hlm. 4.
[26]  Ibid.
[27] Sururin, Rabi'ah Al-Adawiyah Hubb Illahi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2002), cet II, hlm. 133.
[28] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Depag, 1985), hlm. 54.
[29] Ibid, hlm. 100.
[30] Ibid, hlm. 131.
[31] Ibid, hlm. 928.
[32] Ibid, hlm. 846.
[33] Ibid, hlm. 47.
[34]  Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah (Yogyakarta: Bentang, 1997) cet I, hlm. 41.   
[35] Departemen Agama, Al-Qur'an dan Terjemehannya, (Jakarta: Depag, 1987), hlm. 41
[36] Ibid, hlm. 80.
[37] Ibid, hlm. 169.
[38] Ibid, hlm. 846.
[39] Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997), cet I, hlm. 44.    
[40]  Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo, 2002), cet VI, hlm. 117.
[41]  Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran (ed) Syaiful Muzani, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 36.
[42]  Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), cet IX, hlm. 63.
[43]  Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997), cet I, hlm. 67.
[44]  Ibid, hlm. 67-68.
[45]  Yusuf Qardhawi, Konsep Ibadah dalam Islam, (Surabaya: Central Media, 1991),       hlm. 29.
[46]  Ibid, hlm. 31.
[47]  Ibid, hlm. 32.
[48]  Fawzi Sanaqrati, Tadarrub Menggapai Pertolongan Allah, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1994), hlm. 41.
[49]  Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997) cet I, hlm. 71.
[50] Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984),, hlm. 64.
[51]  Muh Atiyah Khamis, Penyair Wanita Sufi Rabi'ah Al-Adawiyah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), cet VI, hlm. 31.
[52]  Ibid, hlm. 69.
[53] Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997), cet I, hlm. 77.
[54] Ibid.
[55]  Ibid, hlm. 78.
[56] Ibid, hlm. 70.
[57]  Hamzah Ya'qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin, (Jakarta: Atisa, 1992),, cet IV, hlm. 239.
[58] Ahmad Faried, Mensucikan Jiwa, (Surabaya: Risalah Gusti, 1997), cet IV, hlm. 165.
[59]  M. Chatib Quzwain, Mengenal Allah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), Cet I, hlm. 79.
[60]  Abd. Halim Rafie, Cinta Ilahi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2000), cet II, hlm. 56.
[61]  Ibid.
[62] Ibid, hlm. 58.
[63]  Abdul Halim Rafi’ie, Cinta Ilahi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2000), hlm. 59. 
[64]  Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi, 'Awarif Al-Ma'arif, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), hlm. 163.
[65]  Allamah Sayyid Abdullah Haddad, Thariqah Menuju Kebahagiaan, (Bandung: Mizan, 1998), cet X, hlm. 258.   
[66] Hamzah Ya'qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin, (Jakarta: Atisa, 1992), cet IV. hlm. 287.
[67]  Ibnu Mahalli Abdullah Umar, Cinta Suci Perawan Suci, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002), hlm. 171.
[68]  Abdul Mun'im Qandil, (ed) Muhiddin M Dahlan, Cinta Mistik Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Mujadalah, 2003), cet II, hlm. 168.
[69]  Ibid, hlm. 170.
[70] Abd. Halim Rofi'ie, Cinta Ilahi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2000), cet II, hlm. 63.
[71]  Ibid, hlm. 69.
[72]  Ibid, hlm. 69.
[73]  Ibid, hlm. 64.
[74]  Al-Kalabadzi, Ajaran Kaum Sufi (Bandung: Mizan, 1993), cet III, hlm. 116.
[75]  Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997), cet I, hlm. 85.
[76] Departemen Agama, Al-Qur'an dan Terjemehannya, (Jakarta: Depag, 1987), hlm. 828. 
[77] Abdul Mun'im Qandil, (ed) Muhiddin M Dahlan, Cinta Mistik Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Mujadalah, 2003), cet II, hlm. 168.  
[78]  Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997) cet I, hlm. 86.
[79]  Ibid, hlm. 86-87.
[80]  Ibid, hlm. 87.
[81]  M. Chatib Quzwain, Mengenal Allah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hlm. 93.
[82]   Abdul Mun'im Qandil, (ed) Muhiddin M Dahlan, Cinta Mistik Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Mujadalah, 2003), cet II, hlm. 218.
[83]  Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997) cet I, hlm. 86.
[84]  Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), cet IX, hlm. 67.
[85]  Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997) cet I, hlm. 90.
[86]  Imam Al-Ghazali, Raudhah Taman  Jiwa kaum Sufi, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), cet II, hlm. 147.
[87] M. Chatib Quzwain, Mengenal Allah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hlm. 105.
[88] Muh Atiyah Khamis, Penyair Wanita Sufi Rabi'ah Al-Adawiyah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), cet VI, hlm. 61-62.
[89]  Abdul Mun'im Qandil, (ed) Muhiddin M Dahlan, Cinta Mistik Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Mujadalah, 2003), cet II, hlm. 219-220.
[90]  Ibid, hlm. 223.
[91]  Abd. Halim Rafi'ie, Cinta Illahi (Jakarta: Raja Grafindo, 2000)cet II, hlm. 72.
[92]  Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Raja Grafindo, 1997), cet II, hlm. 205.  
[93] Al-Kalabadzi, Ajaran Kaun Sufi, (Bandung: Mizan, 1993), hlm. 121.
[94] Imam Al-Ghazali, Raudhah Taman  Jiwa kaum Sufi, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), cet II, hlm. 131.
[95] Ibid, hlm. 94.
[96] Amin Syukur, Zuhud di Abad Modern, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), hlm. 71.  
[98] Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997), cet I, hlm. 90.
[99] Ibid.
[100] Muh Atiyah Khamis, Penyair Wanita Sufi Rabi'ah Al-Adawiyah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), cet VI, hlm. 68.
[101]  Ibid.
[102] Muh. Muhdi Al-Shifly, Muatan Cinta Ilahi, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), cet. III, hlm. 31.
[103] Iskandar, Cinta Versi Rabi'ah Al-Adawiyah, (www. geogle. Com), hlm. 6.
[104]  Ibid.
[105] Asfari dan Sukatno CR (ed), Ahmad Norma, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang, 1997), cet I, hlm. 90.
[106] Muhammad Utsman Najati, Ilmu al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, (Jakarta: Pustaka, 2000), hlm. 100.
[107] Al-Kalabadzi, Ajaran Kaun Sufi, (Bandung: Mizan, 1993), hlm. 123.
[108] Abdul Mun'im Qandil, (ed) Muhiddin M Dahlan, Cinta Mistik Rabi'ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Mujadalah, 2003), cet II, hlm. 282-283.
[109] Ibid, hlm. 238.
[110]  Ibid, hlm. 239.
[111]  Asfari dan Sukatno (ed) Ahmad Norman, Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah (Yogyakarta: Bentang, 1997), hlm. 113.
[112]  Ibid, hlm.  111.
[113]  Ibid, hlm. 151.
[114]  Ibid, hlm. 53.
[115] Abdul Mun'im Qandil (ed) Muhiddin M Dahlan, Cinta Mistik Rabi'ah Al-Adawiyah (Yogyakarta: Mujadalah, 2003), hlm. 53.  
[116] Ibid, hlm. 95.         
[117]  Ibid, hlm. 330

Advertisement

loading...
Previous
« Prev Post

0 Komentar:

Post a Comment