Home » , » Kreativitas Guru PAI dalam Pembelajaran Agama Anak Usia TK

Kreativitas Guru PAI dalam Pembelajaran Agama Anak Usia TK

Kreativitas Guru PAI | Kreativitas Guru Agama dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Islam |

Kreativitas Guru Agama dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Islam 

A.    Latar Belakang Masalah
Proses belajar mengajar adalah suatu bentuk permasalahan yang sangat kompleks, karena di dalamnya melibatkan banyak unsur yang saling berkaitan sehingga keberhasilannya juga ditentukan oleh unsur-unsur tersebut, terutama guru sebagai poros pengendali lajunya proses pembelajaran.
Seorang guru, khususnya guru PAI dituntut untuk dapat memerankan perannya bukan hanya sekedar melakukan proses transformasi ilmu, tetapi juga harus melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, artinya guru juga harus dapat membentuk sikap dan perilaku anak didiknya sebagai cerminan dari sikap dan perilaku sesuai dengan ajaran Islam.
Perkembangan agama pada masa anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga, sekolah dan dalam lingkungan masyarakat. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama, maka sikap, kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama.[1] Oleh karena itu peran guru TK akan sangat berpengaruh ketika anak sudah memasuki pendidikan di Taman Kanak-kanak, maka guru harus jeli dan kreatif dalam melakukan proses pembelajaran agar materi yang disampaikan bisa melekat dalam diri anak, karena pada dasarnya usia TK adalah usia subur untuk melakukan start dalam menanamkan rasa agama pada anak dan penumbuhan kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan agama.
Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas kependidikannya. Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan-kepentingan anak didiknya, yaitu dalam rangka menumbuhkembangkan segenap potensi, baik itu bakat, minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang ke arah maksimal.
Anak adalah dalam arti keseluruhan, baik jasmani maupun pikiran dan perasaannya. Dia bukanlah orang dewasa kecil, artinya bukan hanya kemampuan jasmaninya saja yang kecil tetapi juga kecerdasannya, perasaan dan keadaan jiwanya juga berlainan dengan orang dewasa. Jika pendidik ingin memberikan pendidikan pada anak, maka ia harus memperhatikan pertumbuhan jiwa anak. Maka apa yang cocok untuk orang dewasa belum tentu cocok untuk anak. Sesuai dengan sifat karakteristik dasar anak, mereka menerima konsep keagamaan berdasarkan otoritas. Pengetahuan yang masuk pada usia awal dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan terlebih lagi jika dikemas dalam bentuk yang sesuai dengan jiwa kekanak-kanakannya.
Sebagai guru TK yang melaksanakan fungsi dan tujuan pendidikan, maka ia harus kreatif dan imaginatif dalam melakukan proses  pembelajaran sesuai dengan karakteristik dasar anak. Guru merupakan salah satu komponen yang mempunyai dominasi untuk menciptakan, mengembangkan serta mengatur situasi yang kondusif sebagai sarana belajar siswa sehingga mencapai target yang diharapkan.
Anak usia pra sekolah usia 4 – 6 tahun merupakan fase perkembangan individu.[2] Ia sudah dikaruniai insting religious (naluri) beragama yang dikenal dengan "fitrah". Namun arah dan perkembangan kualitas beragama anak sangat bergantung pada proses pendidikan yang diterimanya.[3] Maka diupayakan kreativitas guru dalam pengembangan pembelajaran PAI agar ketiga aspek tersebut dapat tercapai.
Namun pola pendidikan di Indonesia selama beberapa dekade cenderung sentralistik. Penyeragaman kurikulum telah diakui sebagai faktor utama penyebab utama berlangsungnya proses pendidikan dan pengelolaan pendidikan yang tidak kreatif, tidak mandiri dan tidak membantu menyelesaikan masalah.
Kurikulum sebagai bentuk acuan dalam pengajaran yang bersifat sangat rinci menguraikan apa yang mesti diperbuat oleh seorang guru sebelum, saat dan setelah mengajar, telah berpengaruh pada seorang profil guru yang tidak mempunyai kebebasan sama sekali dalam menentukan dan memilih metode pembelajaran yang relevan. Di sisi lain, karena banyaknya aturan yang dituangkan dalam petunjuk dan teknis yang harus diikuti oleh guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dapat berpengaruh terhadap kreativitas dan inisiatif guru yang lamban dan tidak produktif
Dalam proses pembelajaran, seorang guru tidaklah mudah untuk mencapai hasil yang diinginkan, melainkan banyak kendala yang harus dihadapinya. Seperti halnya dengan guru TK, ia adalah orang pertama di luar keluarga yang ikut membina kepribadian anak.
Kreativitas guru TK dalam proses pembelajaran akan berpengaruh dalam cara ia mendidik anak-anak. Jiwa anak yang sudah mulai tumbuh dalam keluarga, akan bertambah subur jika guru tersebut mempunyai sikap positif terhadap agama dan sebaliknya akan menjadi lemah jika guru tidak percaya terhadap agama atau mempunyai sikap dan kepercayaan yang negatif.
Oleh karena itu, maka guru di TK harus jeli dan menyadari hal tersebut agar dalam pengembangan pembelajaran agama baik di dalam kelas maupun di sekitar lingkungan sekolah hendaknya mendorong anak untuk tertarik dan kagum kepada agama Islam.
B.     Kreativitas Guru PAI
Mutu pendidikan akan terlihat ketika dalam pendidikan itu menghargai dan membiasakan diri berperilaku kreatif.
1.      Kreativitas Guru
a.       Pengertian kreativitas
Kata Kreativitas berasal dari bahasa Inggris creativity, yang berarti kesanggupan mencipta atau daya cipta. Definisi lain mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru, hasil karya, atau ide-ide baru tersebut sebelumnya tidak dikenal oleh pembuatnya ataupun oleh orang lain. Kemampuan ini merupakan kegiatan imajinatif yang hasilnya merupakan pembuatan kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi hal yang baru dan bermanfaat.[4]
Dari segi proses kreativitas, Guilford sebagaimana dikutip oleh Fuad Nashori dan Rahmy Diana Mucharam, memandang bahwa kreativitas merupakan kemampuan berfikir divergent atau berfikir menjajaki bermacam-macam alternatif jawaban terhadap suatu persoalan.[5] Sedangkan Amelia melihat dari sisi produknya, ia menilai bahwa kreativitas sebagai suatu produksi respon.[6]
Dari beberapa pandangan di atas disimpulkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan divergent dalam melahirkan kombinasi-kombinasi yang relatif baru yang diperoleh dari fakta informasi dan pengalaman sebelumnya.
b.      Sifat-sifat kreativitas
Tentang sifat-sifat kreativitas, David Campbell mengemukakan bahwa kreativitas merupakan suatu kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya: Pertama, baru yang diartikan sebagai inovatif, tidak ada sebelumnya, segar, menarik, aneh dan mengejutkan. Kedua, berguna dan bermanfaat (Useful), yang diartikan sebagai lebih enak dan praktis, mempermudah, mengembangkan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil yang baik. Ketiga, dapat dimengerti (Understand-able), berarti sebagai hasil  karya cipta yang dapat dimengerti oleh orang lain.[7]
c.       Ciri-ciri kreativitas
Ciri-ciri kreativitas meliputi ciri-ciri aptitude ialah ciri-ciri yang berhubungan dengan kognisi, dengan proses berpikir. Sedangkan ciri-ciri non aptitude ialah ciri-ciri yang lebih berkaitan dengan sikap atau perasaan. Kedua jenis kreativitas itu diperlukan perilaku kreativitas dapat terwujud.
Ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif (aptitude) terdapat lima sifat yaitu: Pertama, berpikir lancar (fluency of thinking), adalah kemampuan untuk dapat menghasilkan banyak gagasan atau ide. Dalam hal ini yang diperlukan kuantitas bukan kualitas. Kedua, berpikir luwes (fleksibel), yaitu kemampuan untuk memproduksi gagasan, jawaban dari sudut pandang yang berbeda-beda. Ketiga, berpikir original, yaitu mampu melahirkan ungkapan yang baru, membuat kombinasi yang tidak lazim. Keempat, ketrampilan merinci (elaboration), yaitu mengembangkan suatu gagasan atau merinci detail-detail dari suatu gagasan sehingga menjadi menarik. Kelima, ketrampilan menilai (mengevaluasi), yaitu meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda, menentukan patokan nilai tersendiri.[8]
Sedangkan ciri-ciri afektif (non aptitude), diantaranya: Pertama, rasa ingin tahu, yaitu selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak, mengajukan banyak pertanyaan. Kedua, bersifat imajinatif, yaitu mampu membayangkan hal-hal yang belum pernah terjadi. Ketiga, merasa tertantang oleh kemajemukan, yaitu terdorong untuk mengatasi masalah yang sulit, tertantang oleh situasi yang rumit. Keempat, berani mengambil resiko, yakni berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar. Kelima, sifat menghargai, yaitu menghargai bimbingan dan pengarahan dalam hidup, menghargai kemampuan dan bakat-bakat sendiri yang sedang berkembang.[9]
d.      Tahapan kreativitas
Proses kreativitas berjalan sangat misterius, personal dan subyektif. Bagaimana dan kapan proses kreatif berjalan teramat abstrak untuk dijelaskan. Namun demikian tahapan proses kreatif ada beberapa pendapat, dan yang paling populer adalah konsep proses kreatif menurut Wallas (1976) yang dikutip oleh Reni Akbar Hawadi. Wallas mengemukakan ada empat tahapan dalam proses kreatif, yaitu:
1).    Persiapan, adalah tahap pengumpulan informasi atau data sebagai bahan untuk memecahkan masalah.
2).    Inkubasi, adalah tahap dieraminya proses pemecahan masalah dalam alam pra-sadar.
3).    Iluminasi, adalah tahap munculnya inspirasi atau munculnya gagasan-gagasan untuk memecahkan masalah.
4).    Verifikasi, adalah tahap munculnya aktivitas evaluasi terhadap gagasan secara kritis, yang sudah mulai dicocokkan dengan keadaan nyata.[10]
e.       Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas
Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Rogers, sebagaimana dikutip oleh Fuad Nashori dan Ranny Diana Mucharam, faktor internal yang mendukung berkembangnya kreativitas adalah keterbukaan seseorang terhadap pengalaman sekitarnya, kemampuan mengevaluasi hasil yang diciptakan dan kemampuan untuk menggunakan elemen dan konsep yang telah ada. Di samping itu faktor kepribadian juga mendukung tumbuh kembangnya kreativitas seseorang, salah satunya adalah esertivitas.[11] Ciri-cirinya adalah kepercayaan diri, kebebasan berekpresi secara jujur, tegas dan terbuka tanpa mengecilkan dan mengesampingkan arti orang lain dan berani bertanggung jawab.
Sementara faktor eksternal lingkungan yang mendukung berkembangnya kreativitas adalah lingkungan kebudayaan yang mengandung keamanan dan kebebasan psikologis.[12]
f.       Kriteria kreativitas
Penentuan kriteria kreativitas menyangkut tiga dimensi, yaitu dimensi proses, pribadi dan produk kreativitas. Dengan menggunakan dimensi proses kreatif sebagai kriteria kreativitas, maka segala produk yang dihasilkan dari proses itu dianggap sebagai produk yang kreatif, dan orangnya disebut sebagai orang yang kreatif. [13]
Pribadi yang kreatif menurut Guilford meliputi dimensi kognitif (bakat) dan dimensi non kognitif (yaitu: Minat, sikap dan kualitas temperamental). Menurut teori ini, orang-orang kreatif memiliki ciri-ciri kepribadian yang secara signifikan berbeda dengan orang-orang yang kurang kreatif. Karakteristik kepribadian itu menjadi kriteria untuk mengidentifikasi orang-orang kreatif.[14]
Kriteria ketiga adalah produk kreatif, yang menunjuk pada hasil perbuatan, kinerja atau karya seseorang dalam bentuk barang atau gagasan, kriteria ini dipandang yang eksplisit untuk menentukan kreativitas seseorang. Sehingga disebut kriteria puncak (the ultimate criteria) bagi kreativitas.
Proses penilaian terhadap produk kreatif dapat dilakukan melalui dua cara yaitu, analisis obyek dan pertimbangan subyektif.[15]
Adapun dalam penelitian ini proses identifikasi kreativitas dilakukan melalui pertimbangan subyektif peneliti, pengamat yang berwenang dalam hal ini adalah kepala TK dan rekan-rekan seprofesi. Dengan indikator sejauh manakah produk tersebut memiliki kebaruan (novelty) atau original, bermanfaat dan dapat memecahkan masalah. Bobot kreativitas suatu produk akan tampak pada sejauh manakah ia berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Dalam bidang apapun, kreativitas manusia tidak terjadi secara ex-nihilo (datang dari keraguan), melainkan didahului oleh penemuan-penemuan terdahulu.[16] Suatu karya mungkin dianggap kreatif pada waktu itu dan pada suatu tempat, tetapi tidak demikian halnya di masa yang akan datang dan pada tempat yang lain. [17]
Pada dasarnya usia TK adalah usia bermain dan usia yang subur untuk melakukan start dalam menanamkan rasa agama pada anak dan penumbuhan kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan agama. Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI, guru diberi keleluasaan untuk mengembangkannya dan sedikit banyak pasti terdapat suatu masalah tersendiri bagi guru dan diperlukan kreativitas guru untuk dapat memecahkannya. Dalam penelitian ini akan dilihat sejauh manakah kreativitas guru dapat memecahkan masalah ini.
g.      Kreativitas guru
Guru kreatif adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Para pakar menyatakan bahwa betapapun bagusnya sebuah kurikulum (official), hasilnya sangat tergantung pada apa yang dilakukan guru di dalam maupun di luar kelas (actual).[18]Kualitas pembelajaran dipengaruhi pula oleh sikap guru yang kreatif untuk memilih dan melaksanakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran. Karena profesi guru menuntut sifat kreatif dan kemauan mengadakan improvisasi.[19]Oleh karena itu guru harus menumbuhkan mengembangkan sifat kreatifnya.
Kreativitas guru dapat diciptakan dan dikembangkan apabila dipupuk sejak dini, dan seorang guru  menyadari   betul manfaat dari kreativitas tersebut. Manfaat dari pembiasaan hidup kreatif adalah:
a.         Dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia.
b.        Dengan kreativitas membiasakan diri berpikir kreatif.
c.         Bersibuk diri secara kretif tidak hanya bermanfaat tetapi juga memberikan kepuasan terhadap individu.
d.        Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.[20] 
2.      Pengembangan pembelajaran PAI
Pengembangan pembelajaran PAI di TK dilaksanakan melalui empat jalur kegiatan yaitu:
a.       Jalur kegiatan rutin
Pendidikan Agama Islam  pada kegiatan ini berlangsung pada hari-hari belajar biasa yang diintegrasikan dalam kegiatan yang telah diprogram sehingga tidak memerlukan waktu khusus.
b.      Jalur kegiatan khusus
Pendidikan Agama Islam pada kegiatan khusus ini menjurus pada pengenalan berbagai kegiatan ibadah sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah.
Kegiatan yang akan dikenalkan kepada anak memerlukan waktu tersendiri atau waktu khusus yang mungkin waktu pelaksanaannya dikhususkan pada hari-hari atau jam-jam tertentu.
c.       Jalur kegiatan terinteraksi dengan pengembangan lain
Mengintegrasikan kemampuan-kemampuan atau materi Pendidikan Agama Islam dengan materi pengembangan lain yang penyajiannya dilakukan secara bersamaan.
Dalam pelaksanaan kegiatan ini dituntut kearifan dan kreativitas guru sehingga tujuan dari Pendidikan Agama Islam dapat tercapai dengan baik.
d.      Jalur kegiatan situasi keagamaan
Melalui jalur kegiatan situasi keagamaan ini diharapkan akan mendukung pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di TK.[21]
Adapun komponen yang harus dikembangkan adalah sebagai berikut:
a.       Tujuan
Tujuan Pendidikan agama yang diberikan pada taman Kanak-kanak adalah:
1)      Menanamkan perasaan cinta dan taat kepada Allah dalam hati kanak-kanak dengan mengingatkan nikmat-nikmat Allah.
2)      Menanamkan itikad yang benar dalam dada kanak-kanak.
3)      Mendidik kanak-kanak dari kecil supaya mengikuti perintah dan meninggalkan larangan-Nya dengan mengisi hati mereka supaya takut kepada Allah dan menginginkan pahala-Nya.
4)      Mendidik kanak-kanak dari kecil supaya membiasakan akhlak yang mulia dan adat kebiasaan yang baik.
5)      Mengajar kanak-kanak supaya mengetahui macam-macam ibadah.
6)      Memberi petunjuk mereka untuk hidup di dunia dan menuju kehidupan akhirat.
7)      Memberikan contoh dan suri tauladan yang baik.
8)      Membentuk warga negara yang baik dalam masyarakat yang baik, berbudi luhur dan berakhlak mulia serta berpegang teguh dengan ajaran agama.[22]
b.      Materi
Setelah tujuan Pendidikan Agama ditetapkan, yang perlu dilakukan adalah identifikasi materi yang dimaksudkan sebagai bahan yang harus dikuasai siswa. Dalam pemilihan materi juga harus mempertimbangkan perkembangan kejiwaan anak, karena itu materi PAI untuk taman Kanak-kanak meliputi:
1)      Aspek Akidah atau keimanan yang bersifat elementer baik dengan atau tidak dengan pemberian contoh konkrit.
2)      Pokok-pokok ajaran Islam (ilmu fiqh dalam atau pada tahap elementer) seperti sholat, wudhu, dan lain-lain.
3)      Al-Qur'an dan al-Hadits dalam bentuk hafalan surat pendek atau ayat dan do'a-do'a tertentu.
4)      Akhlak yang harus mendapatkan perhatian serius.
5)      Kisah tentang para nabi dan orang-orang yang perlu untuk diketahui guna memberikan pelajaran kepada anak didik untuk ditiru atau dihindari.
6)      Pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan hidup untuk mengajarkan tentang cara hidup bermasyarakat, keluarga maupun dalam kaitan hubungan manusia dengan ciptaan Allah yang lain (tumbuhan dan hewan).
7)      Lagu-lagu dan bentuk permainan keagamaan terutama berkaitan dengan penanaman rasa keimanan dan pembinaan akhlak anak didik.
8)      Pengamalan terhadap hari-hari besar Islam dalam upaya mendidik perasaan keagamaan anak.[23]

c.       Metode
Metode yang tepat untuk diterapkan pada Taman Kanak-kanak  dengan melihat pandangan anak tentang dunia yakni memandangnya dalam iklim psikis bermain-main yang mengasyikkan dan menyenangkan, dalam pengajaran dapat juga digunakan beberapa metode antara lain:
1)      Metode bermain
Bagi anak-anak, bermain merupakan kebutuhan yang sangat penting dan berpengaruh pada aspek fisik dan psikologis, karena itu setiap Taman Kanak-kanak harus menyediakan waktu dan sarana yang memadai untuk bermain.[24]
2)      Metode bercerita
Anak mulai dapat mendengarkan cerita sejak ia dapat memahami apa yang terjadi di sekelilingnya dan mampu mengingat apa yang disampaikan orang kepadanya, hal itu biasanya terjadi pada akhir usia tiga tahun. Pada usia ini anak mampu mendengarkan cerita dengan baik dan cermat yang sesuai untuknya. Ketika anak berada pada Taman Kanak-kanak, ia belum mampu membaca cerita sendiri dengan benar sehingga tugas gurulah untuk menyampaikan cerita.[25]
3)      Metode rekreasi
Anak pada usia TK juga sangat senang melihat hal-hal baru di luar lingkungannya karenanya sangat tepat jika pengajaran disampaikan atau diberikan sambil mengajak mereka berekreasi,[26] misalnya ke kebun binatang, tempat-tempat wisata dan sebagainya.
Telah berfungsinya ranah kognitif oleh anak didik pada usia ini memungkinkan pengajaran diberikan dengan menggunakan penalaran sederhana yakni menjelaskan suatu materi pembelajaran dengan menggunakan logika sederhana akan mudah dipahami anak dari pada menggunakan metode ceramah yang bertele-tele. Munculnya kapasitas kognitif baru yang disebut representasi mental memungkinkan anak mengembangkan deterred imitation (peniruan yang tertunda)[27] yakni kapasitas meniru orang lain yang sebelumnya pernah ia lihat untuk merespon lingkungan perilaku yang ditiru khususnya orang tua dan guru. Kondisi demikian memungkinkan pemberian pendidikan melalui proses keteladanan yang baik yang ditunjukkan kepada anak, proses keteladanan tidak hanya berupa sifat-sifat yang konkrit namun juga harus dijelaskan dalam proses pengajaran sehingga anak mempunyai pengertian tentang ketauladanan  yang dimaksudkan. Ketauladanan juga dapat diberikan melalui cerita-cerita tentang kepahlawanan seseorang.
Adanya deferred imitation juga memungkinkan pemberian pendidikan melalui pembiasaan atau pelatihan-pelatihan seperti sholat, cara bersopan-santun, dan lain-lain. Dalam pembiasaan atau pelatihan masuk dalam program pengajaran pelaksanaannya akan dapat efektif dan efisien.
d.      Media
Dalam pelaksanaan PAI menuntut penggunaan media pendidikan yang bervariasi sehingga dapat dicapai hasil pendidikan yang optimal  dalam hal ini guru memegang peranan penting dalam penggunaannya karena peranan guru tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan tentang media pendidikan saja melainkan dituntut pula memiliki ketrampilan memilih  serta menggunakannya secara tepat dalam proses mengajar yang dikelolanya.
Pada Taman Kanak-kanan media pendidikan yang dapat digunakan untuk pendidikan agama di sekolah antara lain:
1)      Media tulis atau cetak, seperti buku-buku cerita, majalah anak dan sebagainya.
2)      Benda-benda alam seperti manusia, hewan, binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.
3)      Gambar-gambar dan lukisan. Alat ini dapat dibuat dalam ukuran besar dan dapat pula dipakai dalam buku-buku teks atau bacaan lain.
4)      Alat-alat bermain seperti balok, plorotan dan sebagainya.[28]
e.       Evaluasi
Pengertian evaluasi (penilaian), adalah merupakan serangkaian kegiatan untuk menentukan/nilai dengan cara menganalisis, menafsirkan dan membanding-bandingkan data/informasi yang diperoleh dari suatu yang ingin diukur/dinilai. Sedangkan tujuan diadakannya evaluasi untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian kemampuan anak didik.[29]
Sedangkan fungsi penilaian PAI pada Taman Kanak-kanak adalah sebagai berikut:
1)      Memberikan umpan balik kepada guru untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar.
2)      Memberikan informasi kepada orang tua tentang kemajuan ketercapaian pertumbuhan dan perkembangan anaknya agar dapat memperbaiki dan meningkatkan bimbingan dan motivasi.
3)      Sebagai bahan pertimbangan guru untuk menempatkan anak dalam kegiatan yang sesuai dengan minat kemampuan anak didik yang memungkinkan anak dapat mencapai secara optimal.
4)      Sebagai masukan bagi pihak lain yang memerlukan dalam memberikan pembinaan lebih lanjut.[30]






[1] Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hlm. 55.
[2] Syamsu Yusuf LIV, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Rosdakarya, 2001), hlm. 162.
[3] Ibid., hlm. 136.
[4] Fuad Nashori dan Rahmy Diana Mucharam, op.cit., hlm. 33.
[5] Ibid., hlm. 34.
[6] Ibid., hlm. 34.
[7] David Campbell, Mengembangkan Kreativitas, Disadur oleh A.M. Mangun  Hardjana, (Yogyakarta: Pustaka Kaum Muda, Kanisius, 1986), hlm. 30.
[8] Utami Munandar, Mengembangkan ……. op.cit., hlm. 88 – 90.
[9] Ibid., hlm. 91 – 93.
[10] Reni Akbar, dkk., Kreativitas, (Jakarta: Grasindo, 2001), hlm. 23.
[11]  Fuad Nashori & Ranny Diana Mucharam, op.cit., hlm. 57.
[12] Ibid., hlm. 58.
[13] Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Petunjuk Bagi Guru dan Orang Tua, (Jakarta: PT. Gramedia, 1985), hlm. 93.
[14] Ibid., hlm. 13.
[15] Ibid., hlm. 14.
[16] Utami Munandar, Mengembangkan ……. op.cit., hlm. 10.
[17] Ibid., hlm. 11.
[18] Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), hlm.194.
[19] Ibid.,hlm. 115.
[20]  Utami Munandar, Op.,Cit, hlm. 45-46.
[21] Depag RI., Materi Pengembangan Agama Islam, Pedoman Guru TK, (Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1999), hlm. 23.
[22] Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan Agama, cet. III., (Jakarta: PT. Hidha Karya Agung, 1983), hlm. 13.
[23] Andriansito, Kurikulum dan Metode Mengajar Pendidikan Agama Islam di TK Masjid Syuhada Yogyakarta, Skripsi Fakultas Tarbiyah, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1994).
[24] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, terj. (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hlm. 17.
[25]  Abdul Aziz Abdul Majid, Mendidik Dengan Cerita, terj. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm 5.
[26] Jaudah Muhammad Awwad, op.cit., hlm. 16.
[27] Muhibbin Syah,  Psikologi  Pendidikan,  (Bandung:  Remaja  Rosda  Karya, 1995), hlm. 69.
[28] Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hlm. 11.

[29] Departemen Agama RI, Penilaian Pengembangan Agama Islam di Taman Kanak-kanak, (Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1999), hlm. 5.
[30] Ibid., hlm. 5.
Advertisement

loading...
Previous
« Prev Post

0 Komentar:

Post a Comment