Biografi Ali Syari'ati | Makalah Pemikiran Ali Syari'ati |

BIOGAFI ALI SYARI’ATI

A.    Keluarga Dan Pendidikan Ali Syari’ati
Sebagaimana halnya banyak tokoh besar di bidang ilmu dan agama, yang walaupun hidup di pedesaan, menyepi di gurun (Kavir) yang jauh dari hingar-bingar kehidupan kota, Syari’ati sangat bangga dengan kultur kehidupannya yang hidup bersama ulama terkemuka pada masa itu.[1] Dari kehidupan sang kakek yang suci ini.

Syari’ati belajar banyak hal, terutama sifat mempertahankan jati diri sebagai manusia sejati, ketika segala macam kefasikan dan dekadensi merajalela. Ekspresi rasa bangga itu dapat dilihat dari ungkapannya:
“Filosof Akhun, kakek ayahku, acap kali aku dengar kisahnya. Dalam hikayat ini terdapat sumber alamiah yang amat banyak bagi kesadaran yang tumbuh dalam jiwaku semenjak delapan puluh lima tahun, dan sebelum kelahiranku di dunia ini, aku sudah merasakan dalam perwujudan dirinya. Dan inilah aku, orang yang kini memperoleh banyak hal dari apa yang dimiliki dan direalisasikannya.” [2]

Demikian juga dengan paman ayahnya, seorang murid pemikir dan sastrawan Naisaburi terkemuka. Syari’ati sangat bangga terhadapnya. Sesudah mempelajari fiqih sastra. Paman ayahnya itu kemudian dia mengikuti jejak kakeknya. Selain dari paman ayahnya Syari’ati juga memiliki pancaran keilmuan dan nilai kemanusiaan, peninggalan para leluhurnya. Menurut Syari’ati ruh para leluhurnya itu bahkan terlihat dalam dirinya, ruh yang bersinar cemerlang yang menyinari gerak jalannya.[3] Dari sejak kecil Syari’ati sebenarnya sudah hidup ditengah suasana religius yang diawasi oleh para leluhurnya, yakni tradisi Islam Syi’ah Revolusioner.[4] Bagi keluarga Syari’ati Islam sebagai agama merupakan doktrin sosial dan filsafat yang relevan sepanjang masa tanpa mengenal letak geografis. Islam bagi mereka bukanlah satu keyakinan masa lalu yang hanya bersifat pemuasan individu melainkan juga sangat concern terhadap semua persoalan hidup manusia.
Pandangan keluarganya tentang Islam itu sangat berpengaruh pada kepribadian Syari’ati  ketika memahami Islam sebagai agama. Islam sebagai agama bagi Syari’ati merupakan pengajaran Tauhid dan keselamatan untuk membawa manusia dari kerendahan bumi menuju ketinggian surga. Dari perbudakan menuju pengabdian Tuhan, dan dari penindasan agama menjadi ke arah keadilan Islam.[5] Kemudian yang tidak kalah pentingnya peran ayahnya yang menjadi substansi memancarnya kepribadian sang ayah Taqi muhammad Syari’ati. Syari’ati sempat mengatakan, bahwa ayahnya adalah guru yang sesungguhnya, termasuk dalam hal spiritual.
Semangat pencarian dalam kebebasan diri ayahnya, cukup banyak diwarisi kepada Syari’ati muda, bahkan dirinya sempat menyatakan ayahnya sebagai real (Rausyan Fikr), berikut ungkapannya :
“Ayahku telah membentuk dimensi pertama dari jiwaku. Dialah yang pertama mengajarkan kepadaku seni berfikir dan seni manusia. segera setelah ibuku menyapihku dan memberiku kelezatan, keilmuan, kebersihan rohani, dan kebebasan hati. Kemudian ayahku lah yang telah memperkenalkan kepada bukunya dan menjadi sahabatku yang akrab dan abadi sejak tahun pertama masa sekolahku.” [6]


1.      Dari Masyhad Ke Mazinan
Ali Syari’ati adalah seorang tokoh intelektual Iran yang sangat berpengaruh di antara orang-orang Iran yang tidak puas dan anti rezim Syah pada tahun 1960-an sampai dengan 1970-an. Ia lahir pada tanggal 24 november 1933 M/1312 H di Mazinan Iran Timur.[7] Ali Syari’ati adalah seorang tokoh yang membantu perjuangan Imam Khomaeni dalam menjatuhkan rezim Syah Iran yang lalim untuk menegakkan kebenaran dan keadilan menurut ajaran Islam. Doktor sastra lulusan Universitas Sorbone Prancis ini berjuang tak kenal lelah dan takut. Selama hidupnya, ia mengabdikan dirinya untuk membangun masyarakat Islam Iran dari belenggu kedzaliman. Pikiran-pikirannya dapat dilihat dalam ceramahnya yang telah membuat para pemuda Iran dan mahasiswa Iran tergugah semangatnya.[8]  Ali Syari’ati adalah putera sulung dari pasangan Sayid Taqi Syari’ati dan putri Zahrah. Ali Syari’ati adalah sebuah nama yang dilekatkan untuk bayi laki-laki itu, tumbuh dan dibesarkan di sebuah desa dekat Masyhad Timur laut Khurasan, negeri Iran. Orang tuannya adalah seorang ulama yang sangat disegani ditengah-tengah masyarakat sebagai tokoh spiritual yang senantiasa menjalankan ritual dan ritus keagamaan secara taat. Taqi Syari’ati adalah seorang guru dan mujahid besar pendidik Markaz Nasyr al-Haqa’aiq al-Islamiyah (Pusat Penyebaran Kebenaran-kebenaran Islam) di Masyhad. Syari’ati banyak menyerap pancaran pribadi ayahnya yang dianggap sebagai pembaharu dan pengabdi ilmu. Kebanggan dan kekagumannya terhadap ayahnya telah mengantarkan kepada pemikiran Syari’ati, bahwa ayahnya telah membentuk kejeniusan Syari’ati muda. Dalam beberapa kesempatan dia sering mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang tokoh yang telah mengajarkan bagaimana menjadi seorang pribadi Syari’ati yang sejati, seperti ungkapannya sebagai berikut:
“Akan halnya ayahku, dia adalah seorang yang menentang tradisi dan tidak mau kembali ke desa. Setelah menyelesaikan pendidikannya, dia lebih memilih tinggal di kota (Masyhad) dan bergelut dengan ilmu, cinta dan usahanya yang tak kenal lelah untuk mempertahankan dirinya, dari kehidupan kota yang kacau balau…. Aku adalah buah dari keputusannya untuk tinggal.”[9]  

Pada tahun 1941 Syari’ati masuk sekolah pertama Ibnu Yamin, di mana di sekolah itulah ayahnya menjadi seorang guru. Pada saat itu Syari’ati dikenal memiliki dua sifat yang membedakan dengan temannya yang lain. Disisi lain Syari’ati dikenal sebagai seorang pendiam dan tidak mau diatur, sisi lainnya dia adalah seorang yang rajin. Yang menjadi keunikan Syari’ati adalah tidak pernah mau membaca buku yang diwajibkan di sekolahnya, melainkan lebih suka membaca buku-buku yang ada di perpustakaan ayahnya. Kemudian pada tahun pertama di sekolah menengah atas Fewdrosi, Syari’ati telah banyak menyenangi filsafat dan mistisme, yang telah menjadi ciri khas paradigma berfikirnya. Di satu pihak Syari'ati dikenal sebagai seorang yang pendiam, suka menyendiri, dan di lain pihak dia juga dikenal sebagai seorang yang ramah dan suka menolong orang lain. Hal ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Syari’ati, dia sangat merasakan telah tumbuh jauh meninggalkan zaman, seolah ia telah seratus langkah lebih jauh dibanding teman-temannya se-kelasnya, dan sembilan puluh sembilan langkah telah mendahului guru-gurunya. 
Kesendirian dan kesan menjauh Syari’ati didasarkan atas keseriusannya dan perilaku filosofi yang tumbuh dalam jiwanya semenjak dia menjadi dewasa. Dalam perjalanan perenungannya tentang kehidupannya, Syari’ati sempat mengalami perenungan tentang makna-makna “Teologis”. Hingga pada suatu saat Syari’ati sampai pada krisis kepribadiannya yang cukup serius antara tahun 1946/1950. Ketika di Barat anak muda seusianya telah bebas dari beban pikiran dan hidup hura-hura, di Iran pada masa itu. Yang ada dalam pikiran Syari’ati seharusnya pemuda seusianya itu sedang bergelut dengan pelajaran yang menguras otak, misalnya mempelajari sastra. Syari’ati adalah bagian tipe anak muda semacam itu, pada saat itu dia telah membaca karya-karya seperti, Mawarce Maeterlink, Arthur Schofen, Franz Kafka, dan Sadeq-e-hidayat. Dengan membaca karya mereka inilah pikiran Syari’ati mulai terjebak dan masuk perangkap dalam perenungannya, dan pencarian akan eksistensi Tuhan, Monotheisme (Tauhid) yang dari sejak kecil telah menggoncangkan jiwanya sampai akarnya. Sehingga Syari’ati pada suatu saat sampai pada titik kulminasi dan jalan buntu filosofis, yang akibatnya, terpintas dalam pikiran Syari’ati jalan yang harus dilakukannya adalah dengan bunuh diri atau gila. Karena krisis pemikirannya tidak kunjung reda, pada suatu malam di sebuah tempat yang bernama Estakhr-e- Kooshangi, sebuah tempat yang sangat romantis, di Masyhad, Syari’ati mau melakukan bunuh diri. Namun belum sampai pada niatnya itu Syari’ati telah berhasil menemukan obat penawarnya itu dari masnawinya Maulawi Jalaludin Rumi, beliau adalah seorang tokoh spiritual Filsafat Timur.
Pada awal tahun 1953, ketika Syari’ati menyelesaikan studinya di pendidikan (Kolese) guru Masyhad, Syari’ati secara aktif terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi mendukung perdana menteri yang pemerintahannya waktu itu dikudeta oleh Syah Muhammad Reza.[10] Akibat dari aksinya itu Syari’ati ditahan oleh pemerintah selama Tujuh belas hari. Atas tuduhan agitasi politik dan aksi-aksi pemberontakan. Setelah menyelesaikan pendidikannya dalam bidang sastra pada bulan Juni 1954, dia kemudian meneruskan studinya dengan masuk fakultas sastra, di Masyhad, yang baru diresmikan pada tahun 1956. Karena kepintarannya Syari’ati mendapat beasiswa dari kampusnya untuk melanjutkan kuliahnya di Paris, dan kuliahnya di Masyhad pun diselesaikan dalam waktu yang singkat yaitu hanya dengan tiga tahun memperoleh gelar B.A,[11] dalam bidang Sastra.[12] Pada usianya yang menginjak umur 25 tahun tepatnya pada tanggal 15 juli 1958, Syari’ati mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang putri dari haji Ali Akbar, yang bernama Pouran-e Syari’ati Razavi.[13] Kebahagiaan bersama sang istri semakin bertambah, dengan keberhasilannya memperoleh gelar sarjana muda, lima bulan setelah pernikahannya. Sebagai tesisnya, ia menerjemahkan Dar Naqd wa Adab (Kritik Sastra), karya seorang penulis Mesir yang bernama Dr. Mandhur.[14]

2.      Masa Syari’ati di Paris
Ketika Syari’ati menginjakkan kakinya di Paris, masalah yang dihadapi pertamanya adalah kondisi sosio kultural dan sepinya nilai moral dan religiusitas penduduk sekitarnya. Apa yang dilihat Syari’ati adalah kultur masyarakat modern yang jauh berbeda dengan kultur masyarakat, tradisional Iran. Namun demikian Syari’ati adalah seorang pemikir yang tidak mudah terbawa arus oleh situasi dan kondisi seperti itu khususnya perkembangan zaman yang dianggapnya semakin maju. Dia telah membentengi dirinya dengan nilai-nilai religius dan akal yang Islami, maka tidak mudah bagi seorang Syari’ati terjebak dalam gaya hidup bebas semacam itu,  Syari’ati mengakui ketika demokrasi menjadi suatu hal yang tidak dapat terelakkan. Dalam studinya di Paris Syari’ati mengambil jurusan bidang study Filologi, namun demikian dalam kenyataannya dia lebih memilih banyak meluangkan waktunya dalam mempelajari sosiologi khususnya karya-karya Sosiologi Prancis. Syari’ati kemudian mengarahkan perhatiannya untuk mengkolaborasikan sebuah metode sosiologi tersendiri yang dapat diterapkan dalam realitas masyarakat, yang memiliki berbagai kultur, yang didasarkan dalam kerangka Islam.[15] Selama di Paris, Syari’ati banyak berkenalan dengan para pemikir sekuler (barat), yang mempengaruhi pola pikir Syari’ati pada waktu itu. Dari varian pemikir yang diserapnya, dia memiliki prospektif yang sangat kritis terhadap masyarakat Barat sendiri, dan juga mengetahui metodologi yang tepat untuk mengemukakan dan mempertahankan teori mereka.  Dengan pendidikannya juga Syari’ati membuatnya dapat melihat karya-karya ilmiah dan interpretasi non Syi’ah tentang syi’ah.[16] Kesempatan selama empat tahun ini tidak disia-siakan oleh Syari’ati, pertemuannya dengan tokoh-tokoh dunia, seperti para Fisiolog, Sosiolog, Islamolog, Cendekiawan serta para penulis terkemuka, seperti Henry Bergson, Albert Camus, Jean Paul Sarte, A.H.D Chandell, Franz Fanon, Gorge Gurwitsch, Jean Berck, Jacques Schwartz, dan Louis Masignon. Selama di Paris Syari’ati juga banyak mempelajari karya-karya Ilmuwan Eropa dan Barat, Syari’ati juga sibuk menerjemahkan buku diantaranya : Be Koja Tkiye Kunim ? (Apa yang menjadi dukungan kita) (1961), Guerrilla warfre karya Guevara, What is Poetry? Karya Sartre, dan The Wretched of the earth karya Franz Fanon. Selain aktif dalam menerjemahkan buku, aktifitas dalam gerakan politik pun ia jalani, bersama Musthapa Chamran dan Ibrahim Yazdi dengan mendirikan gerakan Kebebasan Iran (Nehzat-e Azadi-e Iran, Kharij Az Keshvar). Namun aktivitas diluar negeri itu tidak berlanjut, karena Syari’ati harus kembali ke negeri asalnya Iran. Setelah berhasil mendapat gelar doktoralnya (1963), dan ia pun kembali ke Iran pada tahun (1964).
3.      Kembali ke Masyhad (Iran)
Syari'ati berfikir bahwa ia adalah seorang putera terbaik Iran, yang telah siap untuk meneruskan perjuangannya dan mengabdi terhadap negerinya, rakyatnya serta agama Islam yang dicintainya. Ia pulang bersama anak isterinya dengan harapan dapat mencurahkan segala kemampuan dan pemikirannya kepada bangsa dan negaranya. Namun yang terjadi ternyata di luar perkiraan Syari’ati. Begitu sampai di Bazargan  perbatasan Iran dan Turki ia ditahan di depan isteri dan anaknya dan langsung dipenjarakan. Ia dituduh melakukan aktivitas oposisi politik selama di Eropa. Selama dipenjara ia tidak diperbolehkan bertemu keluarganya, bahkan dengan ayahnya sekalipun. Beberapa saat kemudian ia dipindahkan ke penjara Qezel Qal’Eh dekat Teheran, sebelum akhirnya dibebaskan.[17]
Syari’ati merasa selama di tanah airnya sendiri, seakan menjadi penjara dengan segala bentuk keterasingan, penderitaan dan tekanan yang dialaminya. tetapi hal ini justru lebih memantapkan perjuangannya. Setelah keluar penjara mengajar di sekolah menengah atas. Dan pada tahun 1965, bekerja di sebuah Pusat Penelitian Pendidikan di Teheran, dan pada tahun 1967, Syari’ati mengajar di Universitas Masyhad. Inilah awal kontaknya dengan mahasiswa-mahasiswa Iran, Universitas Masyhad yang semenjak teduh, serempak jadi semarak dengan kehadirannya, kelas Syari’ati tak lama kemudian menjadi kelas yang favorit. Gaya orator  Syari’ati yang memukau dan memikat audiensi, memperkuat isi kuliahnya yang membangkitkan orang untuk berfikir. Sejak Juni 1971, Syari’ati meninggalkan pekerjaan mengajarnya, karena kecemburuan, dan pandangan picik dihadapinya dari pihak Universitas. Ia dipindahkan ke Teheran. Ia pun bekerja disana untuk menjadikan Hoesyeniyah Ersyad menjadi sebuah “Universitas Islam” radikal yang modernis. Berbagai peristiwa politik di Iran telah memainkan peranan penting dalam membentuk dan mengarahkan orientasi serta aktivitas Hosaeniyeh Eryad yang semakin militan dan akibatnya semakin terkenal dikalangan kaum muda. Namun sejarah mengatakan tepat pada tanggal 19 November 1972, Hosseiniyeh Ersyad ditutup dan Syari’ati pun dipenjarakan kembali selama kurang lebih 500 hari karena berbagai aktivitas politiknya yang mengecam rezim Syah.[18] Namun karena desakan organisasi-organisasi Internasional serta kalangan Intelektual Paris dan al Jazair, pada 20 Maret 1975, Syari’ati pun dibebaskan oleh rezim Syah Iran. Akan tetapi Syari’ati masih tetap menjalani penjara rumah dalam arti dia tidak boleh menemui para mahasiswa dan menuangkan ide dan gagasannya. Dengan kondisi yang sangat tertekan, sebagaimana ajaran Islam seperti yang tertuang dalam al-Qur'an dan Sunnah, Syari’ati pun akhirnya hijrah ke Inggris (Mei 1977), akan tetapi, setelah sebulan meninggalkan tanah kelahirannya, tepatnya pada tanggal 19 Juni 1977, Syari’ati meninggal Dunia dengan misterius, di negeri pengasingan di rumah kerabatnya.
Sesuai harapan dan keinginannya yang sering diucapkan ketika dia masih hidup, Ali Syari’ati kemudian dimakamkan di Damaskus, Syiria, dekat  makam Sayyidah Zenab, saudari Husein tokoh yang menyaksikan tragedi Karbala dengan berani menyiarkan kesaksian pandangan matanya tentang gugurnya Syuhada  bersama Husein, Syahidusy Syuhada, Penghulu para Syuhada.[19]    

B.     Kondisi Sosial Ekonomi, Politik Dan Budaya Iran.
Sebelum Syari’ati lahir, kondisi politik Iran sebenarnya sudah sangat otoriter dan represif. Pada tahun 1928, pemerintahan Syah Iran mengeluarkan  aturan busana, membatasi dikenakannya pakaian  keagamaan serta mewajibkan dikenakannya pakaian barat untuk kaum pria. Di tahun 1934, pemerintah Syah pun mengontrol sumbangan keagamaan. Hal ini  kemudian berlanjut dengan dilarangnya pemakaian cadar  bagi kaum hawa, pada1935.[20]
Tidak hanya itu, setiap aktivitas keagamaan dan politik juga semakin terlarang. Situasi dan kondisi seperti ini terus berlangsung hingga tahun 1941, ketika Reza Syah dipaksa turun dari tahtanya. Klimaks dari krisis kepemimpinan  setelah runtuhnya  kekuasaan Raja Syah ini berlangsung pada tahun 1951 semakin memuncak di mana dirinya sebagai kepala negara yang tidak lagi memerintah sesuai  konstitusi. Pada tahun itu juga seorang tokoh yang bernama Mosaddeq ditunjuk sebagai perdana menteri, dengan segera ia mengambil alih kekuasaan Inggris dalam bidang perminyakan. Dengan munculnya  nasionalis Mosddeq di Iran, baru kemudian kondisi sosial politik negara tersebut menjadi kondusif, bagi munculnya kelompok agamawan dan gerakan politik.[21] Partai Tudeh yang berbau komunis guna menghimpun kaum intelektual yang cenderung Marxis pun lahir, sedangkan kaum agamawan cenderung reaksioner. Pada tahun yang sama keilmuan segar pun lahir dengan munculnya tokoh yakni Muhammad Taqi Syari’ati  yang memulai dakwahnya guna menyebarkan semangat Islam yang progresif, yang sebelumnya dilarang. Pada tahun 1944, lahir pula lah Pusat Dakwah Islam.[22] (Kanaun-e Nashr Haqayeq-e Islami) di Masyhad. Sasaran utamanya membendung dan menolak pengaruh atheisme yang dipropagandakan oleh komunis, serta merangkul kembali intelektual muslim yang jatuh kepelukan kaum Kasravi akibat ketidaksukaan mereka terhadap obskurantisme ulama, dan karena menerima dogma ulama begitu saja.
Sayangnya, kondisi ini tidak berlangsung panjang. Pada tahun1953, pemerintah Nasionalis Mosaddeq menjadi hancur akibat dikudeta oleh M. Reza Pahlevi yang didalangi Amerika serikat. Semenjak peristiwa itu pergerakan yang dilakukan mahasiswa semakin terjepit.
Hal ini pun dirasakan oleh berbagai kalangan, diantaranya gerakan anti imperialisme dan anti nasionalis kaum muda. Dan segala bentuk perlawanan mereka dibungkam oleh kekuasaan Syah. Perpolitikan Iran semenjak itu berimbas pada aktivitas politik Syari’ati, dan itu sangat dirasakan sekali sebagai suatu pukulan berat bagi Syari’ati. Karena merasa gagal  melakukan perlawanan terhadap otoritarisme rezim Syah. Dan dampak semua itu sangat dirasakan oleh semua masyarakat muda Iran sampai 1970, mereka menganggap Pahlevi sangat Desposif dan represif. Demikian halnya dengan ketergantungan  pemerintahan Syah terhadap negara barat, bahkan ketika menjalankan program modernisasi sosial ekonomi ala Barat yang ambisius, revolusi putih (1963-1977) pemerintahan Syah sempat meminta perlindungan dari militer dan polisi barat yang dilatih oleh Israel. Revolusi yang dilakukan Syah pada Januari 1963 itu meliputi : 6 faktor utama diantaranya :
1. Land Form,[23] 2. Nasionalisasi hutan dan padang rumput, 3. penjualan umum pabrik-pabrik milik negara untuk membiayai Landform, 4. Pembagian antara pemilik pabrik dan pekerja Industri, 5. Reformasi Undang-Undang kepemilikan dan memberikan hak-hak kepada kaum wanita, 6. pembentukan suatu badan dalam pemberantasan buta huruf.[24] Selain faktor ekonomi dan politik pada masa pemerintahan Syah, pengaruh westernisasi pun sangat dirasakan masyarakat Iran. Pemerintahan Syah berupaya untuk menetapkan pola kebudayaan  dan ras hidup yang sama baiknya yang dimiliki oleh pemerintahan Barat, Amerika Serikat dan negara Eropa Barat. Pemerintah Syah memang membuat langkah yang akan ditempuh untuk melahirkan kembali unsur kebudayaan asli, dan untuk membangkitkan Nasionalisme rakyat Iran. Namun langkah yang dibuatnya itu tidak disukai oleh rakyat Iran, terutama para pemimpin agama. Karena apa yang dilakukan  Syah tidak lebih dari keinginannya untuk memisahkan antara Iran dengan Islam.[25]  
Jika sebelum masa pemerintah Syah di berbagai bidang sangat kuat terutama pendukungnya mencapai 98 % menganut Islam. Namun sejak pengaruh kebudayaan barat mulai masuk ke Iran di bawah kekuasaan Reza Syah (1925-1941), pengaruh tersebut bertambah besar ketika Pahlevi menggantikan ayahnya. (1941-1978). Pembebasan yang pernah dilakukan dimasa pemerintah ayahnya Syah, dibidang hukum, dan sumbangan keagamaan, kemudian di tahun 1960-an pemerintah Syah menyertai pula pembaruan dibidang pertahanan, yakni membatasi kekayaan, penghasilan, dan kekuasaan para ulama. Inilah imbas dari kekuasaan yang berpusat di tangan Syah dan kelompok yang berkiblat ke Barat. Fenomena seperti ini kemudian membuat para ulama bersekutu dengan pedagang tradisional (bazaari) yang akhirnya melibatkan diri dalam isyu Sosial Ekonomi, politik dan birokrasi negara.[26]

C.    Tokoh-Tokoh yang Mempengaruhi Pemikiran Ali Syari’ati
Sejauh pengamatan penyusun sebenarnya tidak terlalu banyak literatur, yang mengkaji secara khusus mengenai siapa saja tokoh yang mempengaruhi pemikiran Syari'ati, oleh sebab itu pembahasan dalam poin ini hanya sebagian garis besarnya saja yang penyusun temukan. Yang paling utama dalam mendominasi pemikiran Syari’ati itu tidak mutlak sebagai seorang mahasiswa dengan program studinya yang konvensional. Melainkan karena kegemaran dalam belajar dan berfikir serta kreativitas serta tanggung jawabnya yang berlandaskan pada keyakinan keislaman yang kuat yang mengakar dalam hatinya. Pusat Dakwah Islam di Masyhad, yang selama 30 tahun menjadi pusat kegiatan intelektualnya itu, telah banyak memberikan jasa kepadanya terutama dalam pembentukan jati dirinya sebagai intelektual yang mumpuni.[27]
Syari’ati memang seorang yang pandai dan rajin, lebih-lebih karena faktor pendidikan yang cukup tinggi. Namun peran ayahnya lah yang menjadikan tumbuhnya ruh-ruh idealisme dalam pemikiran Syari’ati, seperti yang diakuinya, sebagai mana yang dikutip dari judul buku (Kavir) bagian muqadimah, suatu sketsa biografi, dalam Syari’ati," Tentang Sosiologi Islam," Ia berkata bahwa :
“Ayahkulah yang telah mengajarkannya seni berfikir dan seni menjadi manusia, yang memperkenalkan buku-bukunya pada masa lampau sebagai kenangan yang manis, indah namun jauh.”[28]

Minat dan keinginannya yang kuat menjadikan Syari’ati seorang yang berbakat semenjak dia masih remaja. Ini terbukti dengan kemampuannya dalam menerjemahkan buku-buku Abu Dzar  ke dalam bahasa Persia. Abu Dzar adalah seorang tokoh yang dikaguminya dan diidolakannya dari kecil, sampai dia berhasil menjadi seorang tokoh intelektual Islam yang handal. Kekagumannya terhadap tokoh ini merupakan barometer dan tolak ukur mengenai bagaimana menjadi seorang tokoh yang ideal dan menjadi seorang pemimpin.[29] Tahap kemampuannya dalam metodologi diperolehnya ketika dia belajar di Paris di mana pada waktu itu dia melakukan eksperimen dengan mempelajari para pemikir Eropa secara langsung, yang mempunyai beragam disipliner ilmu.[30] Tokoh yang mempunyai pengaruh cukup besar pada pola pikir Syari’ati adalah Franz Fanon, seorang tokoh sosial yang berasal dari Martinique, Aljazair. Pengaruhnya ini dibuktikan Syari’ati dengan menerjemahkan sebuah buku yang berjudul, “Yang Terkutuk di Bumi Dan Tahun Kelima Aljazair,” maupun ungkapannya yang sangat berani dalam menentang Eropa, seperti berikut :
”Kawan-kawan mari kita tinggal Eropa, mari kita hentikan sikap meniru-niru Eropa, mari kita tinggalkan Eropa yang sok-sok berbicara tentang kemanusiaan, tetapi mereka kerjanya membinasakan manusia.”

 Tokoh pembela revolusi pun ikut serta mempengaruhi pemikiran Syari’ati, salah satunya bernama Umar Uzgan, seorang penulis buku yang berjudul Perjuangan utama (Afdhal el Jihad). Demikian juga tokoh Islam yang lainnya, seperti Jamaludin al-Afgani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Iqbal. Mereka adalah tokoh-tokoh yang mempengaruhi pemikiran Syari’ati dalam hal gagasan mereka dalam mengupayakan pembebasan dari kekuasaan Imperialisme dari zamannya masing-masing.


D.    Karya-Karya dan Pemikiran Ali Syari’ati
Syari’ati dikenal sebagai seorang pemikir yang produktif menulis. Tulisan-tulisannya kebanyakan dalam bentuk artikel dan juga naskah yang disampaikan ketika di Husainiyah Irsyad. Keaktifan menulisnya dimulai ketika dia masih muda, dan kebanyakan tulisan-tulisannya berawal dengan terjemahan bahasa Persia, antara lain : Abu Dzar al ghifari, karya Abdul Hamid Judah al Sahar, karya Louis Masignon berjudul Salman al Farisi, disamping itu Syari’ati juga menulis beberapa diktat kuliahnya yang filosofis, seperti : al-Khilafah wa al-wilayah, fi al-Qur’an wa as-Sunah, al-wahyu wa an-Nubuwat, al-iqtisad wa al-Islami dan at-Tafsir al-Jadid, Ali ar-Risalah mau’ud al-Umam Faidal Iqtida.
Syari’ati telah berhasil, menghadirkan ide-ide yang filosofis di dalam pembahasan Ilmiahnya, dan sosiologi yang sangat rumit, yang dipadukan dengan gagasan Tauhid. Ia berpendapat: “Bahwa berfikir benar akan membawa manusia  kepada pengetahuan yang benar, sedangkan pengetahuan yang benar akan mengantar kepada Iman,” dalam kategori praktis maupun teoritis. Untuk mendapatkan tentang Islam dan filsafat dengan mengungkapkan kenyataan dalam masyarakat, Syari’ati berhasil membahasnya dalam “Sosiolog Syirk”.  Ia membahas berbagai kelompok dan strata masyarakat, terutama golongan Intelektualnya, aneka ideologisnya, aliran pemikirannya, dan peradaban serta kebudayaan yang menurutnya tidak berlandaskan kepada Tauhid.  Syari’ati menghimbau bahwa manusia yang tidak mempunyai tauhid maka akan melahirkan masyarakat  yang mengalami aliansi, seperti ilmu tanpa hati nurani akan menjadi neoskolatisme, dan mereka yang sombong dan pura-pura akan menggeser kedudukan intelektualitasnya yang sejati. Tulisan Syari’ati yang lain pun terdapat dalam tema yang landasan pemikirannya sama seperti di atas, yang berjudul al Ilmu wa al Madaris al Jadidah , (Ilmu pengetahuan dan Ilmu Modern), al hadarah wa al Tajdid (Peradaban dan Modernisasi) al Insan al gharib an Nafsih (Manusia yang tidak Mengenal dirinya sendiri), wa al Musakffah wa mas uliyyluh fi al-Mujtama (Tanggung jawab Kaum Cendikiawan di Masyarakat) dan al-wujudiyyah wa Firgu al-Fikr (Exsistensialisme dan Kekosongan Pikiran).[31]
Kemudian pada periode antara (1964-1967), Syari'ati berusaha menuangkan perasaan dan kontemplasinya dalam sebuah karya yang berjudul Kavir (Gurun). Buku ini adalah autobiografi Syari’ati yang menuturkan perjuangan mentalnya untuk berzakat dengan diri  sejatinya dalam membina hubungannya dengan Tuhan. Kavir ini merupakan penilaian psikologis, filosofis dan personal yang jujur dan berani dengan dirinya sendiri. Ia lebih dari sekedar refleksi perjalanan hidup secara obyektif, ia merupakan dokumen penting yang memusatkan keyakinan bahwa dirinya adalah juru selamat abad 20, zaman imperialisme dan kolonialisme. Kavir adalah sumber kekuatan mistis spiritual Syari’ati yang mengabsahkan misi revolusionernya sekaligus keyakinannya akan mencapai kemenangan. Pada tahun1969, ia menerbitkan karya monumentalnya yaitu,” Islamology” (Eslamshenasi), berisi gagasan Syari’ati yang secara garis besar menyatakan penentangan terhadap intelektual terbaratkan. Eslamshenasi ini memiliki tiga maksud dan tujuan yaitu, mengemukakan Islam modern, egaliter dan demokrasi sebagai bentuk ideal dan asli Islam.
Menurut Syari’ati, dua buah karya yang disebutkan terakhir di atas (Kavir dan Eslamshenasi) merupakan karya yang paling monumental. Bahkan ia pernah menuturkan seandainya saya diminta untuk memilih dari sekian banyak karya favorit nya, ia akan memilih Kavir untuk dirinya dan Eslamshenasi untuk masyarakat.[32]
Sementara itu sejauh pengamatan penyusun karya-karya Syari’ati yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bahkan sudah dicetak ulang, serta menjadi bahan rujukan oleh penyusun antara lain sebagai berikut :
1.      Tentang Sosiologi Islam, terjemah,  Saefullah Mahyudin (Yogyakarta, Ananda,1982)
2.      Islam Agama Protes, terjemah, Satrio Pinandito (Bandung Pustaka Hidayah 1996)
3.      Islam Mazhab Pemikiran Dan Aksi, terjemah, Nasrullah dan Afif Muhammad (Bandung Mizan 1995)
4.      Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat terjemah, Afif Muhammad (Bandung Pustaka Hidayah 1996)
5.      Ideologi Kaum Intelektual, suatu wawasan Islam, terjemah Syafi’i Basri dan Haedar Baqir ( Bandung Mizan 1992)
6.      Ummah dan Imamah, Tinjauan sosiologi Islam, terjemah, Afif Muhammad (Bandung Pustaka Hidayah1995)
7.      Agama versus Agama terjemah, Afif Muhammad (Bandung Pustaka Hidayah 1994)
8.      Haji (Bandung Pustaka Hidayah 1995)
9.      Tugas Cendikiawan Muslim terjemah, Amin Rais (Jakarta Rajawali 1994)
10.  Membangun Masa Depan Islam terjemah Rahmani Astuti (Bandung Mizan 1984)
11.  Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Barat, terjemah Husin Anis al Habsyi (Bandung Mizan 1989)
12.  Panji Syuhada, Tafsir Baru Islam Sebuah Pandangan sosiologis, terjemah, Tim Sholahudin (Yogyakarta Shpolahudin Press 1986)
13.   Sekali Lagi Abu Dzar, terjemah Afif Muhammad, (Bandar Lampung Yapi 1987).
14.  Tipologi, Sebuah Pendekatan Untuk Memahami Islam terjemah, Rahmani Astuti (Jakarta, GrafikaTama 1993)
15.  Peranan Cendikiawan Muslim, Mencari Masa Depan Kemanusiaan, Sebuah Wawasan Sosiologi, terjemah, Tim Jama’ah Sholahudin, (Yogyakarta Sholahudin Press 1985)
16.  Rasulullah Sejak Hijrah Hingga Wafat, Tinjauan Kritis Sejarah Nabi Periode Madinah terjemah Nasrullah (Bandung Pustaka Hidayah 1996)
17.  Do’a Sejak Ali Zenal Hingga Alexis Carrel terjemah, Anis Al Habsyi (Bandung Pustaka Hidayah 1995)
18.  Fatimah Citra Muslimah Sejati, terjemah Tim Sholahudin (Yogyakarta Sholahudin Press)
19.  Abu Dzar suara Parau Penentang Penindasan,terjemah Afif Muhammad (Bandung Munthohari Paperback)
20.  Pemimpin Mustad’afin, Sejarah Panjang Perjuangan Melawan Penindasan Dan Kedzaliman
Dari berbagai judul buku dan dari sekian banyak karangan-karangan dan terjemahan Syari’ati khususnya terjemahan dalam bahasa Indonesia, terdapat terjemahan yang sama ataupun secara utuh dengan judul yang berbeda antara buku yang satu dengan buku yang lainnya, bahkan hampir terdapat kesamaan, atau terdapat pengulangan kata, ini dikarenakan kebanyakan karya Syari’ati yang diterjemahkan di Indonesia ini umumnya dari kumpulan ceramah-ceramah, artikel-artikel, sehingga terdapat persamaan isi antara lain adalah terdapat dalam buku Islam Mazhab Pemikiran Dan Aksi dengan judul buku Makna do’a, didalamnya ada beberapa poin yang sama, diantaranya  apendik puisinya, falsafah do’a, dan sejarah tokohnya yaitu Imam Ali Zaenal Al Abidin, selain itu terdapat pengulangan bahasa antara buku yang satu dengan yang lainnya. Kemudian judul buku Marxisme dan Sesat Pikir Barat Lainnya, di dalam buku ini, perbedaannya hanya terletak pada penambahan bagian pembahasan., maka tidak menutup kemungkinan terdapat pengulangan kata bahkan terdapat tumpang tindih pembahasan isinya.
Bagi Syari’ati, Islam sejati adalah Islam yang bersifat revolusioner, sebuah ideologi revolusioner yang dapat membangkitkan ide-ide yang mampu mentransformasikan sistem lingkungan, dan relasi sosial. Karena itu diperlukan bagi orang yang mampu memahami dan bukan hanya Islam secara baik, tetapi juga dunia kontemporer.[33]
Di dalam Husein pewaris Adam, Syari’ati menjelaskan dengan analisa historis dan simbolis tentang Islam sebagai ideologi manusia yang tidak hanya terbatas oleh ruang waktu tertentu saja. Ia menggambarkan bahwa ideologi itu ibarat sebuah sungai yang mengalir yang tidak hentinya sepanjang zaman, yang hulunya di gunung, melalui bebatuan, yang muaranya di laut. Pada saat itulah para Nabi dan pengikutnya hadir untuk memperderas arus sungai tersebut. Ia menambahkan bahwa sejarah manusia selalu penuh tantangan antara kebaikan dan keburukan, antara yang hak dengan yang batil, yang disimbolkan dengan sejarah Habil dan Qabil. Qabil mewakili kelompok penguasa, yang hidup dalam kemewahan, (dimanifestasikan dengan harta), serba kuasa dengan tipu muslihat (kependetaan atau Mala), sedangkan Habil melalui kelompok yang dikuasai, dan sebagai kaum tertindas, Habil berbeda dengan Qabil dia tidak memiliki status keningratan.[34]
Sebagai refleksi pemikiran kritisnya, Ia juga menerjemahkan judul buku Khoda Parast-e Sosialist: Abu Ddhar-e hifari (Abu Dzar: Sosialis Penyembah Tuhan) karya Hamed Judat al Sahar, ke dalam bahasa Persia, dan Niyayesh (La Priere), sebuah buku berbahasa Perancis yang berisi tentang Do’a karya Alexis Carrel (1960), keduanya merupakan kenangan-kenangan masa Pra Universitasnya. Syari’ati membuktikan keluasan pikirannya dimasa itu, terjemahan tentang Abu Dzar dan makna Do’a yang kecil tetapi bernasib itu, telah menariknya kepada sumber-sumber Islam yang murni lagi suci serta merupakan tafsir sosialnya yang pertama tentang kehidupan Rasul maupun tokoh Islam lainnya.[35] Ide dan gagasan dalam makna do’a adalah merupakan karya terfavoritnya. Kegairahannya dalam mengupas tentang do’a ini bermula ketika ia berada di Eropa, di mana sempat akrab dengan karya-karya Carrel (1873-1944). Alexis adalah seorang Ilmuwan dan Filosof Perancis yang pernah mendapat penghargaan dua nobel sekaligus,  namun dedikasinya itu bukan diperuntukkan dalam keahliannya sebagai filosof, sastrawan, sejarah dan humaniora (Ilmu yang mempelajari tentang manusia). Penghargaan ini dia dapatkan sebagai seorang sains, keberhasilannya dalam menemukan metode fisioterapi. Nobel keduanya Ia peroleh karena keberhasilannya menyimpan jantung burung pipit selama kurang lebih 35 tahun tapi masih tetap hidup. Penemuan buku karya Carrel inilah yang telah menyibukkan Syari’ati waktu di Paris, sebenarnya Ia telah mengenal karya Carrel itu sewaktu masih di Iran melalui dua buku  yang berjudul : Man The Unknown (1935) dan Reflexions sur la Conduite de la Vie (1952) dari terjemahan bahasa Persianya. Buku tentang do’a itu pemberian temannya Kazhim Akhmad Zadeh.
Syari’ati menuturkan bahwa selama setahun lebih, Carrel disibukan dengan mempelajari dan meneliti pengaruh do’a tersebut, dan hasil risetnya itu dikumpulkannya dalam sebuah monografi yang berjudul: (La Priere) Renungan-renungan Tentang Kunjungan ke My Lourdes My Meditation Upon The Pilmirage to Loudres.[36]
Selain menemukan karya Carrel, Syari’ati juga menemukan do’a yang tidak kalah menarik terhadap pola pikirnya, yaitu kumpulan do’a-do’a Imam Sajjad, yang bernama (Ash Shhifah as Sajjdiyah), menurut Syari’ati kumpulan do’a Imam Sajjad adalah kitab Jihad (perjuangan) dalam kesendirian, berbicara dalam diam, menyerang dalam kegagalan, menangis dalam ketercekikan, mengajar dengan bibir terbungkam dan tangan kosong yang dilucuti. Do’a seperti kata Carrel sebagaimana yang diungkapkan Syari’ati, adalah merupakan  manifestasi cinta dan kefakiran.  Sama halnya dengan konteks Islam juga menambahkan dengan kalimat “Kesadaran” pada kedua unsur di atas. Dalam mazhab pemikiran Imam Sajjad, do’a memiliki dimensi keempat yang merupakan peran sosial khusus ”dan Peristirahatan” para pecinta kebenaran, pencari keadilan yang tanggung jawab dan para pejuang yang sadar diri. Inilah orang yang tidak diberi kemungkinan untuk menegakkan Iman, membela kebenaran dan berjuang melawan kekuasaan palsu, orang-orang yang kehilangan segala sarana guna mewujudkan tanggung jawab ideologis dan sosial mereka. Hal serupa juga berlaku atas para Nabi. Sesungguhnya, ada falsafah yang dalam dibalik ciri-ciri dan kekhasan ini. Sekalipun para Imam Syi’ah memiliki jalan, mazhab dan tujuan yang sama, masing-masing dari mereka harus menentukan bentuk dan metode tertentu guna memenuhi misi mereka yang sama, mereka harus konsisten dalam memimpin masa dan melakukan perjuangan (jihad). Karena itu wajar saja kalau Imam Sajjad yang digelari Zayn- Al-Abidin (hiasan para ahli ibadah) mengalami perasaan yang paling halus dan suasana spiritual paling lembut dalam ibadah dan do’a-do’anya dibawah kepedihan dengan merefleksikan karakteristik spiritual dalam kata-kata dan perbuatannya.[37]
Ketertarikan Syari’ati dalam do’a menurutnya karena dia melihat keutamaan  komposisi didalamnya antara lain:
Komposisi Pertama:  Ia terhimpun dalam bahasa yang lugas dan elok. Teks do’a Islami merupakan karya kesusasteraan yang paling indah yang pernah ada. Ia adalah model bacaan terbaik bagi para mahasiswa sastra berkenaan dengan kefasihan, kelugasan, dan keindahannya.
Komposisi yang kedua: terdapat komponen-komponen musikalnya, dan secara Islami tergabung dalam diksi-diksi. Maka ketika kita melantunkannya dengan serasi maka akan menjadi sebuah lagu yang indah, karena setiap diksinya terdapat huruf yang bernada musikal. Secara keseluruhan do’a itu laksana sebuah orkestra musik simponis. Huruf-hurufnya dan masing-masing artinya seakan menari bersama mengikuti melodi secara lincah dan khidmat. Ucapan yang berbentuk do’a itu akan sangat berkesan pada jiwa manusia. Impresi yang menyongsong  kecintaan, kekuatan serta pengaruh do’anya.
Komposisi ketiga adalah: saripati ideologisnya, seperti yang terdapat dalam Ash-Shafifah as-Sajjadiyah, Syari’ati mengungkapkan dengan kekagumannya, bahwa kumpulan do’a itu mengandung tema teologis, manusia, etika, dan masyarakat. Bahkan dalam do’a-do’a Islam terdapat aspek latar belakang sosial politiknya.[38]
Menurut Syari’ati dengan mengacu pada landasan dasar pentingnya do’a dalam hidup manusia, bahwa problematika manusia adalah merupakan problematika hidup yang paling penting dari segala masalah. Peradaban dewasa ini telah mendasarkan pondasi agamanya pada humanisme martabat manusia, dan pemujaan manusia yang menjadi alasan pokok mengapa Humanisme memajukan kultus pada manusia, hanya karena agama terdahulu merendahkan martabat manusia, meremehkan posisinya di atas dunia ini, dan mengorbankan dirinya dihadapan para dewa atau Tuhannya. Agama terdahulu memaksa manusia untuk memandang kemauan sendiri sepenuhnya dengan tak berdaya, jika dihadapkan pada kemauan Ilahi, dengan manusia kepadanya harus dengan merendahkan diri dan menyerah dengan metoda shalat dan berdo’a. Pendegradasian seperti ini diakibatkan oleh keyakinan lama yang mau tidak mau tidak mau membangkitkan humanisme di Zaman renaisance. Waktu itu Humanisme di pandang sebagai suatu faham modern, tujuan utamanya adalah mengagungkan manusia itu sendiri serta eksistensialitasnya di alam ini sebagai suatu elemen penting dimasa Renaisance yang diabaikan oleh agama-agama di zaman pertengahan. Akar humanisme berasal dari Athena, namun sebagai suatu faham universal, ia telah menjadi pondasi peradaban Modern Barat. Pada hakekatnya Humanisme merupakan reaksi keras terhadap filsafat skolastik dan agama Kristen zaman pertengahan.[39] Syari’ati mengambil contoh tradisi masyarakat Roma, sebuah masyarakat yang mengabaikan akan pentingnya do’a. Roma adalah bangsa yang sangat agung namun karena mereka lalai dan mengabaikan nilai ibadah (baca: do’a kepada Allah), maka mereka adalah masyarakat yang berada dalam ambang kehancuran dan kemunduran, secepat mereka meninggalkan ibadah (do’a), secepat itu pula kehinaan dan kelemahan menimpa mereka.[40]
Syari’ati sendiri berkata bahwa dia sangat merasakan sentuhan betapa dahsyatnya sebuah do’a yang supranatural dalam kehidupan spiritual. Bahkan dalam bukunya yang berjudul Al Fulat (Persia: Kavir) bagian peribadatan Syari’ati mengemukakan sebuah do’a berikut uraiannya:
Jika suatu kali kita mendapatkan sesuatu  diluar jangkauan kita, diluar jangkauan pengolahan manusiawi, kita dapat  segera menyatukan semua kekuatan rohani kita yang terletak dalam relung bathin yang paling dalam. Setelah itu kita akan mengubah keberadaan kita menjadi sebuah kehendak dan harapan yang integral. Dan ketika semua itu kita kerahkan , dengan segenap kejujuran dan percaya akan harapan, sekonyong-konyong harapan kita akan terwujud.”
“Iman menjadikan manusia menjadi tegar. Jika suatu ketika menghadapi jalan buntu yang tak terpecahkan oleh akal dan kiat, maka kita harus terus menguras kekuatan, cinta, keyakinan dan keikhlasan yang sebanding dengan keganasan masalah  yang kita hadapi, maka pasti segala macam jalan buntu akan dapat dibobol. Manakala cinta telah angkat suara untuk memerintah, maka kemustahilan akan menurut dengan patuh.”

Manakala qalbu hanya berisi cinta murni, maka cinta itu pastilah tulus, suci dan sejati.  Kehidupan dan wujud merupakan suatu simbol bagi berbagai kemukzijatan Allah. Sebagian orang memandang bahwa do'a hanya dipandang pada kisaran intelektualitas (kecerdasan berfikir). Dengan meminjam ungkapan Carrel, Syari'ati menuturkan bahwa do'a dan munajat merupakan cerminan cinta dan pantulan hasrat spiritual manusia. Apa itu cinta? Apa itu kebutuhan dan hasrat?. Kita harus menyadari bahwa nilai manusia tidak hanya diukur berdasarkan kelezatan dan kenikmatan yang diperoleh. Derajat kesempurnaan manusia sebanding dan berhubungan secara simetris dengan jenis kebutuhannya. Kadar  martabat manusia  tergantung pada apa yang diminatinya, ketika minat dan hajat itu adalah sesuatu yang sempurna, luhur, suci, maka nilai do'a pun demikian. Dari sini kita memahami sebuah pepatah, "Orang yang paling kaya adalah orang yang banyak kebutuhan dan hajatnya, tandas Syari'ati. Jiwa besar adalah jiwa yang mampu menerawang  jalan makhluk kepada kesempurnaan  dan pesona, dan bentangan jalan yang jauh; kepada puncak kemutlakan  menuju hamparan akan wujud Allah serta merasakan ketersimaan, ketakutan, dan ekstase (keadaan diluar kesadaran). Jiwa semacam itulah yang tidak mudah gentar, tahan banting, tenang, tidak bergetar sedikitpun, karena dia berada dihadapan wujud Allah yang  Maha agung. Semuanya itu tidak akan terlihat dan dipahami hakekatnya kecuali dengan qalbu yang basyirah (cemerlang). Qalbu seperti inilah yang mampu menyelami ke dalam wujud dan terbang ke titik terjauh dari tirai-tirai gaib-Nya. Sebagaimana halal dalam sebuah permohonan Nabi dengan do'anya. Nabi berharap, "Tuhan, limpahkanlah kepadaku keterpesonaan, sesungguhnya keterpesonaan itu adalah ledakan makrifat." Adapun kegusaran dan was-was adalah  cermin kebodohan. Ketakutan adalah pertanda kesadaran diri akan keagungan. Seorang yang pengecut adalah mereka yang membuat minta dan sesat. Roh-roh yang kerdil dan sempit, penglihatannya hanya sebatas hidungnya saja. Mereka cukup merasakan hanya dengan mengenakan cincin akik, jenggot yang panjang, pernah berziarah ke makam salah seorang wali, dan memberi makan orang miskin dan membaca lembaran-lembaran (Mafatih al Jinan).[41] Mereka tak sedikitpun merasakan kerinduan dan dahaga akan Sang Maha Ghaib yang tak dikenal (majhul)  dan tak bisa merasa ragu. Seperti halnya sebuah kutipan dalam khotbahnya Imam Ali berikut ini: "Sebaliknya manusia penasaran yang dadanya dipenuhi visi dan kecerdasan, sehingga lebih mengenal jalan-jalan langit ketimbang jalan-jalan bumi." [42]
Selain do'a adalah manifestasi roh, ia tidak mengurung pada realisme, vulgar, keterkungkungan dalam objek empiris atau pelecehan eksistensial. Namun menurut Dyari'ati bahwa di dalam do'a sesungguhnya terdapat kebutuhan-kebutuhan immaterial dan tidak dapat di genggam melalui materi. Do'a merupakan proses transendensi, meskipun do'a dapat menjangkau kesendirian dan keterasingan alam, yang merupakan roh Barat, do'a juga percaya akan hal itu. Dalam artian muatan kebutuhan, guncangan, dan kerinduan tidak hanya mengarah pada satu jiwa. Tetapi do'a seharusnya diperuntukkan  dirinya bagi jiwa dan roh yang sarat akan rindu dan cinta. Carrel mengungkapkan dengan begitu indah dengan bahasanya yang lugas, bahwa do'a adalah komposisi kekuatan-kekuatan yang merindukan keterpisahan dari kondisinya yang sekarang untuk melambung ke ketinggian dan kesempurnaan. Dan sesungguhnya  do'a ialah tinggal landasannya  jiwa manusia dalam citra alam Agung melalui perjalanan spiritual.[43]          
Syari’ati juga menjelaskan bahwa do’a adalah merupakan simbol kebutuhan dan cinta. Dalam situasi  seperti apa pun seorang yang berdo’a akan mencapai kesucian, ketenangan dari hidup penuh cemar dan dualisme kehinaan dan kelemahan yang tak urung menajamkan cermin jiwa yang tidak memantulkan kecuali impresi Yang Maha Besar dan Transendent dalam guratan-guratan cita-cita dan rindu, kebutuhan, kecenderungan manusiawi yang sublim (mulia), namun telah terburamkan oleh pasir material. Hari demi hari jiwa manusia akan menyembul keluar dari bunderan-bunderan kusut untuk bergabung dengan keabadian dan kekekalan serta keluar dari lingkup inderawi dan empiris. Manusia memiliki jiwa tersebut, seketika terikat, melalui kekuatan kehendak yang superior, dengan cinta yang murni dalam mercusuar Wujud yang melambungkannya kepada ketinggian koordinat yang tak terhingga. Hingga jiwa manusia berada pada momentum” pengalaman mendaki.[44]
Membaca tulisan Syari’ati kita akan dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa  pemikirannya  terbentuk dari dua aspek yaitu, doktrin Islam Syi’ah ortodok yang diinterpetasikannya kembali dan metode berfikir Barat yang dia dapatkan ketika kuliah di Paris Prancis, dan berkenalan dengan para pemikir Barat terutama para pakar sosiologi. Karena pemahamannya sangat kental serta mengandung unsur sosiologi terhadap Islam dan dimasukannya tema-tema atau konsep asing. Maka tulisannya pun menjadi sasaran kritik para ulama konservatif.[45]

E.     Filsafat Gerakan Islam Revolusioner
Adapun titik tolak pemikiran Syari’ati terletak pada pandangannya tentang dunia tauhid.  Tauhid bagi Syari’ati tidak hanya terbatas pada ke Esaan Allah semata, sebagaimana yang telah diyakini oleh semua agama monotheisme, tetapi harus menjadikannya cara pandang hidup semua agama dalam segala aspek kehidupannya.[46] Pandangan Syari’ati terhadap konteks ini mengandung misi pembebasan dan kemanusiaan. Semua yang ada di alam semesta ini menurut Syari’ati pada hakikatnya menyatu, baik antara alam dengan meta alam, manusia dengan alam, manusia dengan manusia, maupun antara manusia dengan Allah. Dalam hal ini pandangan Tauhid Syari’ati menafsirkan dan memandang bahwa Tauhid merupakan satu kesatuan imperium.[47] Bahkan dalam pemikiran Syari’ati tidak menerima adanya disharmoni legal, sosial, politik, rasial, rasional, teritorial, genetika atau secara ekonom sekalipun menolak pandangan pantheisme, politeisme, trnitarianisme, atau pandangan hidup yang bersifat universal dan absolut.[48] 
Walaupun jika dilihat antara kesesuaian antara materi dan ruh, bertentangan dengan celaan al-Qur'an terhadap kehidupan duniawi (6.32.47.36.57.20). Menurut Hamed Enayat, pandangan dunia Tauhid Syari’ati sangat mempecundangi partisan-partisan  materialisme dialektik yang menunujukkan bahwa Islam mengajarkan tentang keselamatan manusia  baik dibidang material maupun spiritual, dan itu hanya sebagai hasil dari dialektika, yakni pergumulan batin yang terus berlanjut hingga tercapainya kemenangan prinsip tauhid, menyatukan kembali bagian terpisah yang bertentangan  bagi keberadaan manusia  di dalam satu sketsa alam dan memulihkan keesaan mutlak sebagai kondisi kehidupan yang sempurna.[49] Sedangkan manusia dalam pandangan tauhid Syari’ati, merupakan suatu kehidupan yang memiliki kehendak, kesadaran diri, daya tanggap, cit-cita, dan tujuan.[50]
Dengan segala potensi yang telah dianugerahkan Allah, selama tidak menyalahi apa yang ditegaskan-Nya, manusia bebas untuk melakukan apa saja. Ketika segala bentuk kesulitan, penindasan, atau kejahatan, yang dialami manusia dalam menjalani hidupnya. Maka sebagai hamba Allah yang bebas dan mulia, manusia harus merebut kembali hak-hak alamiahnya. Intinya, pandangan Syari’ati telah memberikan manusia dengan kebebasan dan kemuliaan yang hakiki. Dengan mengarahkan diri kepada Allah sebagai norma teragung dari segalanya yang telah membuat manusia terhadap semua kekuatan dusta dan mematahkan segenap belenggu dan kerakusan nista.[51] Di samping mencakup misi pembebasan pandangan Dunia Tauhid, Syari’ati juga sarat dengan nilai-nilai Pluralitas, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Muhammad, Syari’ati berkata :
“Nabi Muhammad diutus untuk mengukuhkan pandangan Universal Tauhid, bahkan mengantarkannya ke dalam sejarah manusia, kepada semua ras, bangsa, kelompok, keluarga, dan kelas sosial, serta mengikis habis pertentangan kemerdekaan. Sebelum kaum intelek, cendikiawan, terdidik dan filosuf menyadarinya. Karena itulah kelompok yang mengelilingi  Muhammad di Makkah, berasal dari golongan masyarakat  yang lemah, hina, dan rendah, Rasulullah dihina  oleh musuh-musuhnya karena Beliau dikelilingi oleh ampas manusia. Tetapi bukankah ini aspek paling mengagungkan dari gerakan ini, sementara kita menyaksikan betapa banyak agama Budha adalah kaum terhormat dan kaum aristokrasi Cina dan India, kini nilai-nilai-sudah berubah.”[52] 

Menyimak argumen Syari’ati di atas maka jelas sudah bahwa Tauhid adalah sesuatu yang jauh melebihi dari sekedar tentang ke Esaan Tuhan semata, tetapi juga merupakan sebuah pandangan dunia yang dipenuhi dengan nilai kebebasan, egalitarian, pluralisme dan sebagainya. Untuk lebih lanjut mengenal, jenis, asal-usul, konsep atau sifat dalam Islam umatnya harus lebih jauh mengenal kitab sucinya yakni al-Qur'an dan maknanya. Al-Qur'an Al- Karim dimulai dengan surat al Fatikhah dengan bismillah dan mengakhiri seluruh isi al-Qur'an dengan kata an-Nas. Kemudian menguraikan pengertian alhamdulillah dengan pengertian pengakuan terhadap Allah SWT, yang wajib disembah, tempat meminta pertolongan serta perlindungan. Demikian jelas sudah bahwa al-Qur'an menurut Syari’ati  membentangkan jalannya dari satu ujung menuju pada manusia dan ujung yang satunya kepada Allah.[53] Begitu juga dengan surat terakhir al Qur'an, disana Allah menjelaskan tentang hubungan khususnya dengan manusia, Rabb manusia, artinya bahwa Tuhanlah pemilik manusia, Malik manusia, artinya Tuhanlah yang menjadi penguasa dan hakim bagi manusia. Dengan begitu, menurut Syari’ati al-Qur'an menafikan tiga bentuk kekuasaan secara keliru diberlakukan atas manusia, kekuasaan ekonom, politik dan spiritual.[54] Berpijak pada kalimat an-Nas, tanpa memperhatikan ras, suku, jasad, maupun kelas, disana al-Qur'an tidak menggunakan kata Insan.[55]

F.     Tradisi Islam Syi’ah Revolusioner
Semua budaya menurut Syari’ati memiliki 2 sifat umum, yang pertama: semua budaya menganggap mereka memiliki zaman keemasan (Golden age), dimasa lalu keadilan ketenangan tumbuh subur. Namun karena kerusakan, kedzaliman manusia sendiri, zaman keemasan tersebut pun berakhir. Kedua, mereka percaya dengan revolusi besar yang membebaskan masa depan kembalinya zaman keemasan sebelumnya yang diwarnai keadilan, persamaan dan persaudaraan.[56] Berangkat dari komitmen dan kepercayaan besar terhadap tradisi Islam revolusioner, menurut Syari’ati dalam kondisi keterpurukan, akibat ketidakadilan penindasan, dan segala bentuk penyelewengan kekuasaan, masyarakat Iran seharusnya bangga terhadap tradisi tersebut, dengan menjadikannya sistem nilai yang melingkupi tatanan sosial masyarakat yang akan dibangun. Di mana Islam seharusnya benar-benar menjadi gerakan Intelektual yang progresif, serta kekuatan sosial yang militan dan mazhab revolusioner.
Dalam kalangan Syi'ah otoritas dan kekuasaan merupakan milik Nabi Muhammad dan keturunannya. Otoritas yang memiliki dimensi spiritual sekaligus pertalian darah (decent line), dimanifestasikan dengan figur imam yang hanya keturunan Nabi. Setelah Rasul wafat menurut pengikut Syi’ah, Ali bin Abi Thalib lah, Imam pertama sesudah nabi sebagai penggantinya, karena pengikut Syi’ah menolak ketiga khalifah sebelumnya.[57]
Tidak hanya sampai disitu, dalam aqidah Islam Syi’ah, posisi Imamah bahkan termasuk bagian dari aqidah tauhid, yaitu termasuk dalam salah satu rukun iman, barang siapa yang tidak mempercayainya diancam akan masuk neraka jahanam dan dinyatakan kafir.[58]
Layaknya seorang guru yang meninggalkan kelasnya, kata Jalaludin Rumi menurut kaum Syi’ah, Nabi tidak akan menyerahkan pengganti dirinya kepada muridnya, tetapi menunjuk orang yang menurutnya memenuhi kualifikasi guru ruhani sekaligus pemimpin umat. Sementara itu menurut faham Syi’ah, pilihan nabi itu jatuh kepada  Ali bin Abi Thalib.
Kemudian karya yang lahir tentang peranan Husein dalam rentangan sejarah umat Islam memang banyak. Namun untuk benar-benar mengetahui apa yang dilakukan Husein menurut Syari’ati, perlu pemahaman kembali tentang makna sejati syahadahnya. Makna dari pengorbanan Husein ini sangat jarang disentuh. Padahal dibalik sinaran kebesaran kepribadian Husein, tersembunyi sesuatu yang lebih besar lagi. Karena sulitnya mengungkap makna syahadah Husein tersebut, maka semua itu menurut Syari’ati harus mencarinya dalam sela-sela sejarah, dari beberapa kaum yang tertindas, kepayahan, sebuah sejarah yang paling bertekuk lutut dihadapan istana Sultan yang megah, di medan pertempuran, serta di ambang pintu dewa-dewa kekerasan.[59] Untuk dapat memahami makna syahadah dengan benar, dari mana diangkat mazhab ideologi serta nilai-nilainya, bagi Syari’ati hal itu harus diungkap terlebih dahulu. Syahadah dalam Islam berbeda pengertian dengan martyr di negeri Barat atau martyrdom yang berasal dari kata mortal, berarti maut atau mati, yaitu seseorang mati karena membela keyakinan  melawan musuhnya dan salah satu jalan yang harus ditempuhnya dengan mati. Dalam kultur Islam kata "syuhada" menurut Syari’ati  bermakna bangkit dan beraksi. Kadang juga dipakai untuk menamakan seseorang yang telah menetapkan kematian sebagai pilihan, tetapi berbeda dalam istilah mortyir dalam bahasa Barat. Demikian juga dengan martyr yang bermakna maut, syahadah itu tidak sama dengannya. Sebab pada hakikatnya syahadah memiliki arti sebagai kehidupan, bakti, membutuhkan atau menegaskan.[60]
Masalah kesedihan atau berkorban demi agama atau mati Syahid, erat hubungannya dengan konsep jihad (berjuang untuk menegakkan ajaran Allah). Adapun dasar konsep itu keyakinan, bahwa dirinya ini merupakan penjara bagi kaum mukmin (beriman). Manusia berasal dari Allah dan kembali kepadanya. Kehidupan di akhirat nanti merupakan kehidupan yang lebih mulia. Karenanya umat Islam tidak perlu takut untuk mati Syahid.[61] Mati dalam menegakkan kalimatillah adalah suatu kebaikan yang tidak ada lagi kebaikan di atasnya. Begitu juga sebaliknya hidup mewah dengan menempatkan Syari’at merupakan puncak dari kehinaan. Prinsip hidup inilah yang menurut Syari’ati yang dimiliki oleh Husein, sebagaimana ungkapan dalam sebuah khotbahnya, Husein mengatakan,” Aku tidak melihat kematian selain kebahagiaan, dan aku tidak melihat kehidupan bersama orang-orang zhalim selain kehinaan.”
Kondisi  masyarakat di masa Husein memang sangat menyedihkan, kekuasaan berada di tangan penindasan. Demikian juga halnya dengan nilai moral masyarakat, semuanya tumbuh dengan keangkuhan penguasa dan anteknya. Peristiwa Husein dan Karbala sangat berpengaruh pada diri Syari’ati. Dia bahkan sempat berkata, "Husein ahli waris Adam, telah memberi kehidupan kepada umat manusia. Jika pewaris Rasul yang memberi perjalanan umat manusia dengan hidup di dunia ini, kini Husein telah datang memberi pelajaran kepada umat manusia beragama sejati.
Figur Imam Husein bagi Syari’ati adalah contoh muslim sejati yang tidak pernah gentar menentang segala bentuk penindasan, kendati pun sendirian paling tidak perlawanan tersebut dapat mempermalukan musuh, kepada seluruh umat Islam, Syari’ati menyerukan seperti ini :
“Lihatlah Husein, Ia melepaskan hidupnya meninggalkan khotbahnya dan bangkit untuk mati, karena tidak mempunyai senjata bagi perjuangan demi mengutuk dan mempermalukan musuhnya. Dipikulnya itu untuk menyingkap kedok yang menyelubungi wajah-wajah buruk dan rezim penguasa. Kalau dengan jalan ini tidak dapat mengalahkan musuhnya, maka paling tidak ia dapat menyuntiknya dengan darah segar maupun kepercayaan terhadap jihad ke dalam tubuh-tubuh mati demi generasi kedua revolusi yang dibangkitkan oleh Rasulullah.”[62] 






[1] Ali Syari’ati, Tentang Sosiologi Islam, terjemah Saefullah Mahyudin, cet I (Yogyakarta: CV Ananda, 1982), hlm. 5
[2] .Ali Syari’ati, Humanisme….. hlm. 12
[3] ibid., hlm. 23
[4] Perkataan Syi’ah acap kali diartikan pengikut, firgah, terutama pengikut dan pecinta Ali Bin Abi Thalib, serta ahlul bait rasulullah. Dalam kamus Tajuh Arus perakataan Syi’ah diartikan suatu golongan yang mempunyai keyakinan  faham syi’ah, dalam bantu membantu  antara satu sama lain. Begitu juga dalam kamus besar Lisanul arab. Dalam Azhari diterangkan bahwa arti Syi’ah itu adalah satu aliran yang mencintai keturunan Nabi Muhammad dan mentaati pimpinan yang diangkat dari pada keluarga dan keturunannya. Prinsip agama atau Ushuluddin, dalam Syi’ah ada lima pengertian :  kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa,  kenabian, kehidupan akhirat, Imamah, yakni percaya akan imam sebagai pengganti  nabi, atau adil (Keadilan Ilahi). Dalam tiga prinsip dasar Nubuwat, tauhid dan ma’qaid Suni dan Syi’ah mereka bersepakat, hanya pada dua prinsip dasar mereka berbeda. Dalam masalah Imamah, tekanan pada fungsi bathin Imamahlah yang membedakan pandangan syi’ah dan sunni, dalam masalah keadilan maka masalah yang ditetapkan pada sifat ini sebagai suatu kualitas  intrinsik dari sifat Ilahi hanya ada dalam islam Syi’ah. Lihat Alamah M.H Thabibi, Islam Syi’ah Dan Asal-Usul Perkembangannya, terjemah, Djohan Efendi, (Jakarta: Pustaka Utama Graiti, 1989) cet I hlm. 10.  Bagi Syari’ati, Islam sejati bersifat revolusioner dan Syi’ah sejati adalah  jenis khusus Islam revolusioner. Di Iran, Syi’ah merah, Ali’ sepupu dan mantu nabi, telah kembali menjadi Syi’ah hitam” kaum Safawi. Pengelompokan Syi’ah ke dalam dua  kategori yang dimaksud Syari’ati adalah pesan utama syi’ah telah dicemarkan  dimata rakyat oleh dinasti Safawi, (orang yang berkuasa di Iran pada periode 1501-1722) yakni merubah Syi’ah menjadi agama Negara dan memanfaatkanya untuk memabukkan rakyat., Lihat Ali Syari’ati dalam  Robert De Lee, Mencari Islam Otentik: Dari nalar Kritis Arkound, terjemah Akhmad Baequni, (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 140.
[5] Syari’ati, Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Barat Lainnya, terjemah, Husein Anis al Habsyi, (Bandung: Mizan, 1990), hlm. 77. Islam bagi Syari’ati  tidak hanya  agama ibadah (ritual) dalam arti yang sempit, atau  yang paling  jauh sebagai agama hukum (Din Fiqhi). Dalam artian terbatas melainkan juga sebagai agama pemikir (Dinul Albab). agama keadilan (dinul adalah) dan dengan sendirinya menjadi agama kesejahteraan, oleh karena itu Islam adalah agama yang secara kewahyuan  berkaitan dengan pemikiran manusia  agar adil, kesejahteraan dapat diwujudkan. Lihat Abdurrahman Wahid, ”Pengantar Dalam Hasan Hanafi, (Ideologi dan Pembangunan, terjemah, Sunhaji Sholeh ( Jakarta: P3M, 1999), hlm. vii.
[6] Lihat Kiki Perdiyansyah , Tugas Rausyan Fikr Untuk Aksi Perubahan Sosial,” Dalam Sosialisme Religius, Suatu Jalan ke Empat ( Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2000), hlm., 208.
[7] Ali syari’ati, Tipologi, Sebuah Pendekatan Untuk Memahami Islam, terjemah, Irwan Nurdaya Djafar, (Bandar Lampung: Grafika Tama Jaya, 1993), hlm.  96.
[8] Ali Syari’ati, Makna Do’a, terjemah Muza Al Khazem, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hlm. 11.
[9] Ali Syari’ati, Sosialisme Islam, terjemah Eko Supriyadi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2003), hlm. 29.
[10] Ervand Abrahamaen ,” Radikal Islam,……hlm. 106
[11] Terdapat dua versi mengenai gelar sarjana  mudanya Syari'ati. Ada yang mengatakan  memperoleh dalam bidang sastra Persia. Ali Rahmena (ed), Para Perintis. Op.cit, hlm. 25. Ada juga yang mengatakan diperolehnya dalam bahasa Arab dan Prancis, lihat A. Kadin Hadi (peny) Garis Besar Riwayat Hidup Dr. Ali Syaria'ti, "dalam Syari'ati,"Islam Agam Protes, terjemah, Satrio Pinandito, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993), cet I hlm. 7. lihat juga," Riwayat  Hidup Syari'ati Dr. Ali Syari'ati dalam, "Syari'ati, "Membangun Masa Depan," op.cit. hlm. 19
[12] Ibid., hlm. 217.
[13] Pouran –e Kazavi  adalah mahasiswi satu fakultas dengan Syari'ati bidang  (Sastra) selama kuliah di Masyhad.  
[14] Ali Syari’ati, Sosialisme Islam, op.cit, hlm. 34.
[15] Abdul Aziz Sahedina, ”Ali Syari’ati”, Ideologi Of The Iranian Revolution, dalam Jhon L. Esposito, voices of resirgnt, Islam (New York: Oxford University Press, 1983), hlm. 194.
[16] . Ali Rahnema, op.cit,  hlm. 220.
[17] Ali Syari’ati, Sosialisme Islam, op.cit hlm. 38-39.
[18] Ali Syari’ati, Makna Do’a, terjemah Muza al Khazem (Jakarta: Pustaka Azahra, 2002),  hlm. .13
[19] .Ali Syari'ati, Sosialisme Islam, op.cit. hlm. 41.
[20] Jhon L. Esposito, dan Jhon O voll, Demokrasi di Negara-Negara Muslim, Problem Dan Prospek terjemah, Rahmani Astuti, ( Bandung: Mizan, 1999), hlm. 69.
[21] Majalah Tempo, 10 Februari 1979, hlm. II
[22] Paling tidak ada enam belas Nasionalis Modernis Islam muda yang memiliki hubungan erat dengan Pusat Dakwah Islam Taqi dan bergabung dengan gerakan sosialis pengubah faham, diantaranya yaitu: Kazem Semi, Medi Momken, Kazem Ahmad Zadeh, dan Ibrahim Hati. Adapun gerakan penyembah Tuhan adalah gerakan yang memadukan Islam dengan sosialisme Ilmiyah berpendapat bahwa sistem sosio ekonomi Islam adalah suatu sistem  sosialisme ilmiyah  yang didasarkan pada tauhid (Monotheisme) untuk mencapai tujuan tersebut menerbitkan sebuah koran yang mengkritik Feodalisme dan Kapitalisme dan menggambarkan nabi Muhammad, dan Ali bin Abu Thalib sebagai figurnya.
[23] Riza Sihbudi, Dinamika Revolusi Islam Iran Dari Jatuhnya Syah Hingga Wafatnya Khomaini, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1989), hlm. 23. Land reform adalah membatasi kepemilikan tanah yang di  bebaskan kepada petani dan mengorganisir para petani dalam membantu mereka mengerjakan lahan pertanian dengan efisien.
[24] Persekongkolan menjatuhkan pemerintahan  Mossadeq  yang disusun awal Agustus 1953, ikut dimotivasi oleh saudara kembar Syah Pahlevi yang bernama Asyhraf, seorang wanita yang bersemangat, terkenal tidak gampang mundur, dan agak angkuh. Suatu saat pernah ditanya, yang kurang dicintai rakyat Iran, dan ia menjawab, dicintai?, apakah Raja Cyrus dan Presiden IBM, harus dicintai……
[25].Lihat Reza Sihbudi, Latar Belakang dan Perkembangan Revolusi Islam Iran dalam Revolusi, op cit, hlm. 30.
[26] Jhon L. Esposito dan Jhon o. Voll, Demokrasi op.cit, hlm. 70. di Iran sebagai mana telah ditentukan agama sendiri, penyumbang terbesar untuk kehidupan agama (demikian juga bagi kaum agamawan yang berjihad di jalan Allah) adalah kaum Bazaari. Mereka adalah kaum saudagar yang hidup bertoko di lorong kuno yang eksotis, namun berkaitan dengan nadi perekonomian masyarakat Iran. Dua ahli ekonomi Iran yang di Paris, yaitu Berous Mo ntazami dan  Koshrow Narghi, menyerukan dalam tulisannya untuk Lemonde Diplomatique, sudah sejak tahun 60-an kaum Bazaari terpojok. dan tahun60-an pintu pun ditutup bagi nya dalam urusan politik hingga zaman Mosddeq, pintu itu baru terbuka kembali. ini diperparah dengan hasil minyak Iran, yang oleh Syah diintegrasikan kembali ke dalam perekonomian Internasional. Uang yang mengalir, dan datangnya modal asing, dan timbulnya industri barang impor itu  semua melahirkan gelombang perdagangan yang terlampau besar buat kapasitas organisasi ekonomi Bazaari saudagar tradisional tersisih. Ini dikarenakan Syah Iran semenjak 1977, memotong sumbangan untuk Ayatullah, dari 80 juta yad menjadi 50 juta yad. Lihat Tempo Kaum Bazaari, dalam Tempo 27 Januari 1979, hlm. 12-13.
[27].Ali Syari’ati, Tentang Sosiologi Islam, terjemah, Saefullah Mahyudin, cet ke I (Yogyakarta: Cv Ananda, 1982), hlm. 11-12.
[28] Ibid, hlm. 19.
[29] .Ali Syari’ati , Islam Mazhab Pemikiran Dan Aksi, terjemah, Nasrullah Ms dan Afif Muhammad, cet.  Ke-II (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 2-4.
[30] Ibid. hlm..17.
[31]. AbasThawasuli, Tentang  Syari’ati, Dalam Syari’ati, Humanisme Islam, hlm. 80.
[32]Ali Syari’ati, Sosialisme Islam op.cit, hlm..54-55.
[33] Robert De Lee, Mencari Islam Autentik, dari Nalar Puitis Iqbal ke Nalar Puitis Arkound, terjemah,  Akhmad Baequni cet ke I ( Bandung, Mizan 2000), hlm. 140.
[34] Kiki Ferdiyansyah Wijaya, Dialektika Sosiologis, Peran Intelektual, dan Perubahan Sosial dalam Muhidin M. Dahlan (ed) Sosialisme Religius Suatu Jalan ke Empat, edisi revisi cet. ke I, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002), hlm. 211-212.
[35] Ali Syari’ati, Sosialisme Islam, terjemah, Eko Supriyadi, cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 33.
[36] Ali Syari’ati, Makna Do’a, terjemah Muza al Kazem, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), cet. I, hlm. 26.
[37]Ali Syari’ati, Islam Mazhab Pemikiran Dan Aksi, op. cit, hlm. 117-118.
[38] Ali Syari’ati, Makna Do’a, op.cit, hlm..51
[39] Ali Syari’ati, Tugas Cedikiawan Muslim, terjemah Inggris, Ghulam M. Fayez,terjemah Inonesia, M. Amin Rais, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995 ), hlm. 1.
[40] Ali Syari’ati,  Makna Do’a, op.cit,  hlm. 27.
[41]. Lihat Syari'ati  dalam Makna do'a,. Mafatih al Jinan (kunci surga) adalah kumpulan amalan do'a karya Syekh Imam Abas Qummy (peny).  Hlm. 33
[42] Dikutip dari khotbahnya Imam ali yang lengkapnya sebagai berikut, "Wahai  manusia sekalian, tanyakan apa saja kepadaku sebelum kalian kehilangan aku. Aku lebih mengena jalan-jalan langit ketimbang jalan-jalan bumi. Jalan-jalan langit bermakna transendental (ghaib) dan ketuhanan yang berada di atas perkara-perkara indrawi  dan duniawi .
[43] Ali Syari'ati, Makna Do'a op.cit hlm. 46-47.
[44] Ibid, hlm. 68-69.
[45] Ghulam Abas Thawasuli, SepintasTentang Syari’ati,” dalam, Syari’ati Humanisme hlm. 27, Hamed Enayat, Realitas Politik Sunni dan Syi’ah. Pemikiran Islam Modern Menghadapi Abad ke 20. alih Bahasa, Asef Hikmat, cet. I (Bandung: Pustaka, 1998).
[46] .Ali Syari’ati, Islam Agama, Protes, terjemah Satrio Pinandito, (Bandung:  Pustaka Hidayah, 1996), hlm. 84.
[47] . ibid, hlm. 85-86
[48] Ali Syari’ati, Tentang Sosiologi Islam, op. cit, hlm. 103.
[49] Hamed Enayat, Politik Sunni dan Syi’ah, Pemikiran Politik Islam Moderen Abad ke 20, terjemah Asep Hikmat (Bandung:  Pustaka,  1982), hlm. 243
[50] Ali Syari’ati, Agama Versus Agama, terjemah, Afif Muhammad, (Bandung:  Pustaka Hidayah, tt), hlm..  30
[51] Ali Syari'ati, Tentang Sosiologi Islam, Op.cit. Hlm. 111.
[52] Ali Syri’ati, Pemimpin Mustad’afin, Sejarah Perjuangan Menentang Pemimpin Mustad’afin, terjemah, Ali Rahmani Astuti, cet. I, (Bandung:  Paperback, 2001), hlm. 20.
[53]Ali Syari’ati, Ummah dan Imamah, Suatu Tinjauan Sosiologi, terjemah, Afif Muhammad (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), hlm. 38-39.
[54] Ibid, hlm. 40.
[55] Ali Syari’ati, Islam Mazhab Pemikiran Dan Aksi, terjemah, Nasrullah dan Afif  Muhammad, cet. I, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 18-19.
[56]  Riza Sihbudi , Posisi Syari'ati Dalam Revolusi islam, dalam  M. Deden Ridwan (ed), Melawan Hegemoni Barat, (Bandung: Lentera, 1999), hlm. 109-110.
[57] Ali Syari’ati, Pemimpin Mustad’afin, Sejarah Panjang Perjuangan Perlawanan dan Penindasan, terjemah Rahmani Astuti, (Bandung: Muthahari Paperback, 2001), hlm. 27.
[58] Ali Syari’ati,  Syuhada, op.cit,  hlm.. 90-91.
[59].Hertining  Ichlas, Peristiwa  Karbala  dalam Buletin Jejak
[60] Riza Syihbudi, Dinamika Revolusi Islam, Dari Runtuhnya Syah hingga Wafatnya Ayatullah Khomaeni, (Bandung:  Pustaka Hidayah, 1989), hlm..44.
[61] Lihat Jalaludin Rakhmat.M.s.c, Panji Syahadah Imam Husein as, dalam buletin jejak no. I/IV April/01, (Yogyakarta: Yayasan Rausyan Fikr, 2001)
[62] ibid, hlm.56.
Description
: Makalah Biografi Ali Syari'ati dan Pemikirannya
Rating
: 4.5
Reviewer
: Ujang Kusnadi
ItemReviewed
: Makalah Biografi Ali Syari'ati dan Pemikirannya
loading...