Home » , , » Makalah Gerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia

Makalah Gerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia

Gerakan Ikhwanul muslimin | 

IKHWANUL MUSLIMIN DAN USRAH

 A. Pendiri Ikhwanul Muslimin 
Imam syahid Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin lahir pada tanggal 17 oktober 1906 bertepatan dengan tahun 1323 H di desa Mahmudiyah sebuah kawasan dekat Iskandariyah Mesir.[1] Di wilayah Buhairah dengan ibu kotanya Damanhur.[2]
Imam syahid tumbuh dibawah asuhan  kedua orang tua yang mulia dan memiliki kesungguhan dalam menanamkan akhlak yang mulia serta sifat yang terpuji kepada putra-putrinya. Ayahnya bernama Syaikh Ahmad Abdurrahman lebih terkenal dengan panggilan As-Sa’ati, karena pekerjaannya sebagai tukang reparasi jam,[3] juga dikenal sebagai seorang ulama hadits terkemuka di Mesir.[4] Diantara buku karangan Syaikh Ahmad sendiri terdapat Bada-i ‘ul Musnad, fi Jam’i wa Tartibi Musnadisy Syafi’i was Sunan (segi–segi keindahann musnad, tentang himpunan dan pengurutan musnad Imam Syafi’i dan kitab-kitab sunan). Ia juga menyunting satu bab dari musnad Ibn Hanball berjudul al Fat-hur Rabbanni fi Tartibi Musnadil Imami Ahmad asy Syaibani (Pembukaan Ketuhanan, Pengurutan Musnad Imam Ahmad asy Syaibani). Ditulisnya pula sebuah komentar tentang musnad tersebut, berjudul Bulughul Amani, Asrarul Fat-hir Rabbani (Pencapaian Idaman, Rahasia Pembukaan Ketuhanan).[5]
Imam Hasan al-Banna  dididik oleh orang tua yang ‘alim. Bimbingan dan arahan orang tuanya telah memberikan pengaruh yang besar sekali pada diri beliau, sehingga menghasilkaan  buah dan manfaat yang sangat baik serta melimpah. Sejak kecil ia sudah ditempa ilmu agama dan sudah mulai menghafalkan   Al Qur’an, karena ayahnya berkeinginan putra-putranya menjadi hafidz-hafidz. Dirumah, ayahnya tak berhenti mengawasinya dalam pelajaran agama, diserahkannya  sebuah perpustakaan berisi buku-buku agama, hukum, hadits, Ilmu Bahasa. Bahkan dibiarkannya sang putra mempergunakan buku dan koleksi pribadinya.[6]
Hasan al-Banna ketika menginjak usia 8 tahun disekolahkan di Madrasah  Diniah ar Rasyad. Pada waktu itu, madrasah tersebut merupakan madrasah unggulan dibidang materi maupun penerapan metodologi pembelajarannya, selain mempelajari bidang studi yang ada disekolah-sekolah pada umumnya. Di sana juga diajarkan tentang hadits-hadits Nabi, imla’ (dikte), insya’(mengarang), qawa’id (tata bahasa), tathbiq (praktek bahasa), adab (tata krama) yang dituangkan dalam mahfudzat (hafalan) yang ditulis dalam bentuk puisi atau prosa yang indah, serta hafalan Al Qur’an disertai pemahaman secara menyeluruh terhadap kandungan isi Al Qur’an. Di madrasah inilah Hasan al-Banna sangat berkesan dengan salah satu ustadznya, yaitu  Syaikh Muhammad Zahran. Beliau adalah seorang yang brillian, berilmu, bertakwa dan berwibawa. Ustadz Muhammad Zahran menguasai teknik mengajar dan mendidik yang efektif dan membawa hasil, meskipun ia tidak pernah belajar ilmu-ilmu pendidikan dan tidak pernah mendapatkan kaidah-kaidah Ilmu Psikologi. Beliau lebih banyak bersandar pada kebersamaan hati nurani antara dirinya dengan murid-muridnya.[7]
Hasan al-Banna ketika belum menyelesaikan sekolahnya di Madrasah Diniyah, ustadz Zahran telah pindah dari sekolahan tersebut, karena suatu urusan. Kepengurusan di madrasah tersebut diserahkan kepada ustadz lain yang sudah barang tentu tidak sebanding dengan kualitas keilmuan Syaikh Muhammad Zahran. Namun secara mengejutkan, ayah Hasan al-Banna mengambil inisiatif untuk memindahkannya ke Madrasah I’dadiyah (sekolah hafalan Al Qur’an). Hal ini lebih disebabkan karena Al-Banna belum mampu memenuhi keinginan ayahnya untuk menghafal Al Qur’an secara keseluruhan. Jenis madrasah ini sederajat dengan Madrasah Ibtida’iyah, hanya saja tanpa pelajaran bahasa asing, Namun ada beberapa pelajaran tambahan tentang undang-undang pertanahan dan perpajakan, serta sedikit tentang agrikultura, disamping mendalami secara luas bahasa nasional (bahasa arab) dan ilmu agama. Belum sepekan berselang, ia telah menjadi murid madrasah tersebut. Pada saat itu umurnya menginjak 12 tahun. Untuk memenuhi keinginan ayahnya, beliau meluangkan waktu menghafal Al Qur’an setelah sholat shubuh menjelang  berangkat ke sekolah, sedangkan siang harinya selepas pulang dari madrasah, beliau menggunakan waktunya untuk beraktifitas dan pada malam harinya beliau pergunakann untuk mengulang pelajaran di madrasah.[8]
Tanda-tanda kesedihan dan keprihatinan sangat jelas terlihat pada raut mukanya, disebabkan oleh sesuatu yang senantiasa bergejolak dalam hatinya tentang umat Islam dan kondisinya. Maka terkadang karena rasa kecintaan yannng begitu dalam pada agamanya (ghirohnya), dia terdorong untuk mengubah kemungkaran dengan tangannya sendiri.[9] Atas dorongan tersebut, beliau mulai aktif  mengikuti diskusi ilmiah mengenai persolan negeri dan ikut bergabung dalam barisan demonstrasi pelajar dan mahasiswa serta aksi mogok massal sambil meneriakkan   yel-yel  keadilan yang dimobilisasi oleh gerakan Nasionalisme Mesir yang tergabung dalam partai Wafa’ al Mishry (berdiri pada 13 november 1918), dipimpin langsung oleh Sa’ad Zaghlul.[10]
Di madrasah ini pula beliau mengikuti orgnisasi yang pertama yang bernama Jam’iyatul Akhlak al Adabiyah (perhimpunan akhlak mulia) yang memiliki misi menjaga etika dan akhlak para pelajar dalam menggulirkan proses pemilihan dewan kepengurusannya. Tata tertib perhimpunan ini telah menetapkan sanksi-sanksi material yang bersifat simbolis bagi siapa saja yang menyalahi aturan organisasi, juga menetapkan pelipatgandaan sanksi bila yang melakukan pelanggarran adalah ketua atau  salah seorang anggota Dewan Kepengurusan  Perhimpunan. Setelah Dewan Kepengurusan Perhimpunan terbentuk, maka terpilihlah Hasan al-Banna sebagai ketuanya. Perkumpulan itu telah memberi pengaruh  yang sangat dalam pada diri Al-Banna dan semua anggotanya, mengajar kepada mereka keberanian moral dan membuat mereka mampu melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.[11] Nampaknya kegiatan internal di atas belum dapat memuaskan keinginan para siswa dalam melakukan gerakan perbaikan. Maka berkumpulah antara lain ustadz Muhammad Ali Badir, Labib Afandi Nawwas, Al Akh Abdul Muta’al Sankal Afandi, ustadz Abdurrahman as Sa’ati dan ustadz Said Badir, memutuskan untuk membuat sebuah asosiasi keislaman dengan nama Jam’iyah Man al Muharramat (asosiassi anti haram). Aktifitas asosiasi ini adalah memberi teguran dengan tulisan kepada pelaku-pelaku dosa. Dengan tanpa pandang bulu, tua maupun muda yang diketahui telah melakukan tindakan dosa sudah pasti akan dikirimi kertas teguran oleh asosiasi yang berisi larangan atas tindakan dosa tersebut. Asosiasi tersebut melaksanakan tugasnya selama lebih dari enam bulan.[12]
Dengan adanya kebijakan kegiatan pemerintah tentang penghapusan sistem Madrasah I’dadiyah daan diganti dengan sistem Madrasah Ibtida’iyah oleh Dewan   Teritorial kota Buhairah, tidak ada alternatif lain bagi al-Banna kecuali harus memilih: mendaftarkan diri ke Al Ma’had ad Diny di Iskandaria agar kelak menjadi “azhari” (gelar bagi alumnus Al Azhar) atau ke Madrasah al Muallimin al Awwaliyah di Damanhur untuk menyingkat waktu,  sebab setelah tiga tahun menempuh pelajaran di sini akan menjadi seorang guru. Akhirnya pilihan kedua inilah yang beliau pilih. Pada saat itu umur beliau baru tiga belas setengah tahun dan beliau masih menyisakan  seperempat hafalan Al Qur’annya. Hal inilah yang menjadi kendala pada saat penerimaan siswa baru, dimana umur empat belas tahun  dan hafal Al Qur’an menjadi syarat mutlak diterimanya seseorang menjadi pelajar di madrasah ini. Akan tetapi berkat kemurahan, ketulusan, kebesaran hati Ustadz Basyir ad Dasuqi Musa (kepala sekolah pada saat itu), serta kecerdasan Al-Banna akhirnya beliau  dapat lulus dengan catatan beliau harus meyempurnakan hafalan Al Qur’annya hingga 30 juz.[13]
Pribadi Hasan al-Banna adalah pribadi yang senantiassa cenderung pada kebaikan. Di luar sekolahnya beliau aktif mengikuti kajian kelompok, Tarekat Al Hasyafiyah yang dipimpin oleh syaikh Al Hasyafi (didirikan oleh Syaikh Hasanain al Hasyafiyah) serta pengajian yang diadakan oleh syaikh zahran di semua masjid kecil antara maghrib hingga menjelang sholat isya’, hal ini tidak lain disebabkan oleh keterikatannya terhadap bentuk halaqoh (perkumpulan kecil) dengan aktifitas dzikir secara teratur, nasyid (senandung islami), dan semangat ruhiyahnya yang menggelora dan sangat berkesan  di hati beliau. Keakraban beliau dengan tarekat ini menjadikannya senantiasa  secara tekun mengamalkan wirid  al wazhifah al zuruqiyah pada pagi dan sore hari. Wazhifah (wirid) ini tidak lebih dari ayat-ayat Al Qur’an  al Karim dan hadits-hadits nabi mengenai doa-doa pagi dan petang yang ditulis dalam kitab-kitab sunnah (buku hadits). Hingga pada suatu saat, beliau bersama rekan-rekannya yang sepaham mendirikan asosiasi yang bervisi ishlah (perbaikan) yakni “Jam’iyyah al Hasyajiyah al Khairiyah”, yang dipimpin oleh Ahmad Affandi Asy-Syukri, sedangkan beliau menjabat sebagai sekretarisnya. Sekali lagi asosiasi ini juga bergerak dalam gesekan moral untuk berakhlak mulia serta membendung arus gerakan missionaris. Tarekat inilah yang pada akhirnya sangat mempengaruhi pada keistiqomahan beliau dalam beramal ibadah serta membentuk kepribadian beliau menjadi hamba Allah yang saleh.[14]
Hari-hari Al-Banna  di Damanhur, merupakan hari-hari yang tenggelam dalam nuansa tasawuf dan ibadah. Usia Hasan al-Banna saat itu mencapai empat belas tahun kurang beberapa bulan dan sudah bersinggungan dengan Revolusi Mesir, yaitu tahun 1920-1923. beliau juga merasakan kedekatan  dengan fikrah hashafiyah. Syaikh Sayyid Hasanain al Hashafi, syaikh pertama tarekat tersebut dimakamkan dikota tersebut. Tidak disangsikan lagi bahwasanya tasawuf dan tarekat menjadi salah satu faktor penting dalam penyebaran Islam dan merupakan metode yang baik dalam pembinaan suluk (perilaku) dalam jiwa mutarobbi (orang yang dibimbing). Satu hal yang menjadi keprihatinan beliau di tengah-tengah ramainya penyebaran ilmu tasawuf, yakni pemberian kekuasaan terhadap dzauq (cita rasa nafsu) dan wajd (intuisi), seta pencampuradukan tasawuf dengan ilmu filsafat, manthiq (logika) dan warisan cara berfikir umat terdahulu. Hal itu menyebabkan terbukanya celah bagi masuknya perilaku zindiq, atheis, atau orang yang rusak pendapat maupun aqidahnya dengan atas nama tasawuf dan zuhud. Fenomena tersebut memotifasi dirinya untuk melakukan kajian ilmiah dan amaliah (teoritis dan aplikatif), terhadap para syaikh tarekat, lalu kemudian beliau menulis buku mengenai pemecahan masalah tersebut, namun sangat disayangkan proyek besar ini belum sempurna dan terhenti disebabkan keterbatasan umur beliau.[15]
Hasan al-Banna melanjutkan studinya ke Universitas Darul Ulum di Kairo dan ketika itu umur beliau menginjak 17 tahun. Setelah melakukan berbagai macam tes termasuk juga tes medis di Al Azhar, Kairo, akhirnya beliau lulus dan diterima di Kuliyatul Adab (Fakultas Sastra) jurusan Bahasa Arab. Pada masa itu Darul Ulum boleh dikatakan miniatur Al Azhar, dimana universitas ini dilengkapi dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti : agama, politik, psikologi, filsafat, sosial, bahasa dan Ilmu Pemgetahuan Alam dengan cara lebih modern.[16] Sebelum memasuki tahun pertamanya di Darul Ulum beliau ditunjuk oleh Dewan Pimpinan wilayah Buhairah untuk menjadi staff pengajar di Madrasah Awwaliyah (setingkat dengan SD/MI), akan tetapi beliau akhirnya memutuskan untuk lebih mengutamakan melanjutkan belajar. Selama kuliah di Darul Ulum beliau menekuni betul perkuliahan ini, beliau merupakan mahasiswa yang paling berprestasi, dan pada saat ujian akhir beliau telah hafal 18.000 bait syair dan kata-kata hikmah. Beliau menamatkan kuliah dengan yudisium terbaik (coumlaude) pertama tingkat universitas Darul Ulum dengan gelar License (lc), tepatnya pada tahun 1927.
Akhirnya, setelah lulus dari Darul Ulum, Hasan al Banna ditempatkan di Ismailia (tempat berdirinya Ikhwanul Muslimin ) untuk mengajar di sebuah sekolah dasar. Sedangkan sahabat beliau, Ahmad Affandi as Sukri mengemban tugasnya di Mahmudia.[17]
Itulah perjalanan pendidikan dan pengalaman Hasan al-Banna dalam mendalami dan mengamalkan ilmu agama. Hasan al-Banna menggambarkan sosok pribadi yang teguh dalam memegang prinsip dan ber amar ma’ruf nahi munkar.
Dari perjalanan pendidikan yang beliau lalui tersebut, Hasan al-Banna memiliki teman-teman dan sahabat-sahabat yang merupakan anak-anak muda yang agamis. Beliau berkenalan dengan mereka di pengajian-pengajian Ikhwan Hashafiyah. Madrasah Diniyah al Rasyad, Madrasah Muallimin Damanhur, Madrasah Darul Ulum Kairo, dan sebaginya. Sejak kecil Al-Banna telah membentuk berbagai organisasi bersama kawan-kawannya, terkadang melalui pengarahan dari sedagian gurunya hingga lulus dari Darul Ulum. Diantara organisasi tersebut adalah: organisasi akhlak dan budi pekerti sewaktu beliau masih sekolah di Madrasah I’dadiyah, organisasi anti kemungkaran, organisasi sosial Hashafiyah yang didirikan bersama Ahmad Sukri. Hasan al-Banna sebagai sekretarisnya. Ia bergerak dalam dua bidang, pertama: menyebarkan seruan kepada akhlak mulia dan mencegah kemunkaran, kedua membendung gerakan kristenisasi di Mahmudiah.
Kemudian sebagai reaksi terhadap fenomena kebebasan dan kebodohan masyarakat di Kairo, beliau membentuk Asosiasi Mahasiswa Al-Azhar dan Darul Ulum untuk berlatih memberikan nasehat dan wejangan di warung-warung kopi, masjid-masjid, dan forum-forum umum.
Pada bulan Dzul-Qa’dah tahun 1347 H bertepatan dengan bulan Maret 1928, Hasan al-Banna bersama dengan enam saudara seperjuangannya yaitu: Hafidz Abdul Hamid (tukang kayu), Ahmad Al Khushari (tukang cukur), Fuad Ibrahim (penarik pajak), Abdurrahman Hasbullah (sopir), Ismail Izz (tukang kebun), Zaki Al Maghribi (tukang gerobak), mendirikan Ikhwan Al-Muslimun di kota Ismailiyyah (260 km dari Kairo) dengan menjadikan Qur’an dan Hadits sebagai ideologi umat Islam.[18] Makna secara bahasa dari kata “Al-Ikhwan Al-Muslimin” atau “Al-Ikhwanul Muslimun” adalah saudara-saudara yang sama-sama muslim. Inilah nama sebenarnya dari jamaah yang didirikan oleh Hasan al-Banna. Struktur kalimatnya berbentuk na’at (Al-Muslimun) dan man’ut (Al-Ikhwan), yang artinya sebagaimana di atas. Dalam perkembangannya, khususnya di Indonesia ia popular dengan sebutan “Ikhwanul Muslimin”, dengan struktur mudhaf (Ikhwan) dan mudhaf Ilaih (Muslimin), yang maknanya secara bahasa adalah “saudara-saudaranya kaum muslimin”.[19]
 Hasan al-Banna dan sahabat-sahabatnya memilih Ismailia sebagai tempat berdirinya Ikhwanul Muslimin, sebab lulus dari Darul Ulum, Hasan al Banna ditempatkan di Ismailia (tempat berdirinya Ikhwanul Muslimin ) untuk mengajar di sebuah sekolah dasar.[20]
Perjalanan pendidikan dan pengalaman Hasan al-Banna dalam berorganisasi telah memberikan pengaruh dan pembentukan intelektual, manajemen dan keorganisasian, selain memberinya pengalaman praktis dalam memenej dan membentuk jama’ah di berbagai tingkatan, serta pengalaman langsung dalam berinteraksi dengan orang lain dan mengetahui kemampuan mereka. Semua itu telah memberikan kontribusi yang besar dalam membentuk dan mengorganisasi Jama’ah Ikhwanul Muslimin, dengan bentuk struktur yang sempurna dan dengan metode yang tepat untuk membina seluruh anggota.[21]


B.      Sejarah Berdirinya Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin adalah sebuah gerakan revivalis Islam yang tentunya berdiri karena suatu kondisi yang menjadi sebab akan berdirinya. Beberapa hal yang telah menjadi penyebab munculnya Ikhwanul Muslimin, diantaranya adalah: Latar belakang sosial ekonomi, latar belakang kultural (Westernisasi), dan juga latar belakang Politik.
1.          Latar belakang Sosial Ekonomi
Kondisi sosial Mesir yang menjadi penyebab lahirnya Ikhwanul Muslimin adalah munculnya sistem kelas dan tidak adanya keadilan sosial. Sistem kelas yang muncul pada waktu itu adalah golongan tuan tanah yang menguasai sebagian basar tanah pertanian yang hasilnya hanya untuk menambah kekayaan mereka dan golongan mayoritas rakyat kecil yang terdiri dari kaum tani, buruh pertanian, pekerja kasar yang hanya menguasai sebagian kecil lahan menjadi semakin mengalami berbagai kesengsaraan hidup, penyakit, tidak memperoleh pendidikan, dan hanya dieksploitasi. [22]
Kondisi sosial tersebut berpengaruh langsung terhadap tujuan, pemikiran, dan gerakan jama’ah Ikhwan. Karena itu salah satu tujuannya adalah mewujudkan keadilan sosial bagi setiap warga negara, memberantas kebodohan, penyakit dan kemiskinan, dan seterusnya.
Adapun kondisi sosial yang ikut melatarbelakangi berdirinya Ikhwan adalah gerakan kristenisasi yang membonceng imperialis, perempuan-perempuan yang tidak berkerudung dan berbaur dengan laki-laki, munculnya dekadensi moral dan degradasi sosial dengan semakin menjamurnya tempat-tempat prostitusi terbuka, dance hall, perang, bahkan berontak terhadap tradisi-tradisi yang berasal dari agama, maraknya propaganda agar seluruh penampilan masyarakat Mesir seperti Eropa, propaganda permisifisme.[23]  
Kondisi itu juga ikut mempengaruhi aktivitas dan tujuan Ikhwanul Muslimin. Secara intelektual, mereka memperhatikan problematika perempuan, maka didirikanlah Divisi Akhwat Muslimah, untuk memberikan perhatian terhadap problem mereka di samping untuk memenuhi tuntutan-tuntutan pendidikan mereka. Mereka berusaha melawan kristenisasi dengan berbagai cara, mendirikan Divisi Sosial dan Pelayanan untuk menyantuni kaum fakir miskin, mendirikan kamp-kamp pengungsian, memberikan perhtian terhadap pendidikan moral, dan seterusnya.[24]
Secara khusus kondisi moral Mesir waktu itu sangat mempengaruhi terhadap aktivitas Ikhwanul Muslimin pada pembinaan para anggotanya. Dimana dalam pembinaan tersebut menjadikan Usrah sebagai pilar utamanya.
Latar belakang kondisi sosial yang terjadi di Mesir dibarengi dengan kondisi perkonomian Mesir yang cukup mengkhawatirkan bagi bangsa Mesir pada waktu itu. Di mana kondisi perekonomian pada waktu itu adalah tetap berlangsungnya monopoli Perusahaan Asing, keterikatan ekonomi Mesir dengan ekonomi Inggris, ketergantungan perekonomian Mesir kepada pertanian yang hanya mengandalkan kapas, penjajahan ekonomi, keterbelakangan ekonomi bagi para pekerja.[25]
Kondisi ekonomi Mesir pada waktu itulah yang memberikan pengaruh langsung bagi pertumbuhan, perkembangan, dan aktivitas Ikhwan. Dengan kondisi seperti itu memberikan pengaruh yang sangat kuat dalam diri Hasan al-Banna dan dakwahnya, sehingga gerakan Ikhwan masuk juga pada sektor ekonomi dan berpartisipasi dalam kebangkitan ekonomi Mesir. Selain itu Ikhwan membahas juga masalah kemerdekaan dan kebangkitan ekonomi untuk menghadpi kondisi tersebut. Tujuan mereka adalah mendirikan sistem ekonomi yang independen.
2.      Latar belakang Kultural
Latar belakang kultural di Mesir tidak terlepas dari kekuatan-kekuatan kultural, yang mencakup: arus reformasi keagamaan, arus westernisasi liberal, arus regional, arus Nasionalisme Arab dan arus westernisasi Komunis. Berikut akan dijelaskan satu persatu.
a.        Arus reformasi keagamaan
Arus reformasi keagamaan mulai bangkit sejak permulaan aabad ke 19 yang lalu. Gerbong kebangkitan Islam modern dimotori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab yang mempunyai gerakan yang erat dengan fundamentalisme Islam seperti tokoh-tokoh fuqaha’ salaf sebelumnya yaitu Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Taimiyah, dan Ibn Qayyim. Wahhab berjuang memurnikan ajaran Tauhid dari segala noda yang berbau syirik.[26]
 Setelah masa wahabi jatuh, muncullah sosok Jamaluddin Al- Afghani yang merefleksikannya pada dunia Islam modern dibarengi dengan perlawanan terhadap pengaruh-pengaruh asing yang mulai merebak waktu itu. Kemudian selanjutnya adalah masa Muhammad Abduh yang memindahkan gerakan kembali kepada Islam melalui sebuah aktivitas politik dengan memulai pada perubahan individu. Sebelum munculnya Ikhwan, arus gerakan ini telah mengkristal pada murid-murid Abduh yang tetap aktif di tengah masyarakat Mesir. Akan tetapi bersamaan itu pula pengaruh westernisasi melalui imperialisme Inggris mulai merebak. Saat reformasi keagamaan mulai melemah itulah Hasan al-Banna muncul dengan mempelajari aktifitas politik Jamaluddin, dan melihat perhatiaan Muhammad Abduh pada pembinaan. Akhirnya Jamaah Ikhwan membawa besar pengaruh arus reformasi keagaamaaan tersebut.[27]
b.      Arus westernisasi Liberal 
 Gelombang westernisasi yang terjadi di Mesir mencakup westernisasi pemikiran, budaya dan sosial diistilahkan oleh Hasan al-Banna sebagai “hegemoni Patriotisme”.[28] Hasan al-Banna mengemukakan bahwa bangsa-bangsa Eropa bekerja keras untuk memasarkan paham materialismenya dengan penyakit-penyakitnya kepada seluruh negeri Muslim yang mereka kuasai dengan keinginan kuat untuk melecuti bangsa-bangsa Muslim hingga tak berdaya. Misi-misi mereka diantaranya adalah mengubah dasar-dasar sistem pemerintahan, peradilan, dan pendidikan dengan sistem Barat materialistik sekuler.[29] 
Pengaruh Barat yang masuk ke dalamnya, peradaban materialisme, di negeri-negeri Islam yang salah satunya adalah di Mesir banyak memberikan pengaruh pada pembinaan Islam, idiologinya, sehingga menyebabkan terjadinya distorsi tentang Islam. Para pembenci Islam tersebut telah mengelabui kaum Muslimin dan mempesentasikan Islam secara tidak utuh, hanya terbats pada keimanan, ibadah ritual, dan moral di samping sejumlah perayaan ritual, kepercayaan-kepercayaan khurafat serta fenomena-fenomena yang sebenrnya kering dari makna agama. Distosi tentang Islam ini ditmbah dengan faktor kebodohan kaum Muslim tentang hakikat ajaran agama mereka sehingga banyak yang tidak mempermsalahkan terhadap penyempitan makna agama ini. Maka cukup kesulitan untuk memahamkan mereka bahwa Islam adalah sistem hidup yang komprehensif yang mencakup setiap bidang kehidupan.[30]
Melihat fenomena tersebut, tidak mengherankan jika Ikhwan mengusung purifikasi agama dalam setiap gerak dan aktivitas pembinaannya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap materi-materi yang disampaikan dalam pembinaan. Pengokohan aqidah seorang Muslim merupakan materi pokok dalam sistem pembinaannya. Hal inipun tidak terlepas dari tujuannya yang ingin membentuk individu Muslim dalam pemikiran aqidah, akhlak dan sentimen atau citarasanya, perbuatan dan tingkah lakunya.[31]
c.       Arus regionalisme (propaganda menuju Mesirisme)
Arus regionalisme ini penuh dengan propaganda arus westernisasi pada dataran pemikiran. Jamaah Ikhwan menentang arus ini dengan menegaskan afiliasi Arab dan Islam bagi Mesir, dan menjadikan konsepsi nasionalisme Mesir sebagai prinsip yang khas.[32]
d.      Arus Nasionalisme Arab
Pemikiran nasionalisme Arab ini mulai tampak jelas di Mesir dari tahun 1933 yang dalam banyak hal berbaur dengan pemikiran Islam. Arus pemikiran ini mendapatkan gema yang menonjol pada Jamaah Ikhwan. Mereka menyatakan bahwa kesatuan Arab merupakan sesuatu yang harus ada, wajib dibela dan diusahakan untuk mewujudkannya.[33]
e.       Arus Westernisasi Komunis
Pada intinya kaum komunis yang ada di Mesir mulai merebak dan menjadi musuh dari Ikwan. Al-Banna menyeru kelompok-kelompok komunis  agar memahami Islam yang mengandung dasar-dasar reformasi yang jauh lebih tinggi dari maadzab Komunis.[34]
Gelombang westernisasi yang terjadi di Mesir mencakup westernisasi pemikiran, budaya dan sosial diistilahkan oleh Hasan al-Banna sebagai “hegemoni Patriotisme”. Hasan al-Banna mengemukakan bahwa bangsa-bangsa Eropa bekerja keras untuk memasarkan paham materialismenya dengan penyakit-penyakitnya kepada seluruh negeri Muslim yang mereka kuasai dengan keinginan kuat untuk melecuti bangsa-bangsa Muslim hingga tak berdaya. Misi-misi mereka diantaranya adalah mengubah dasar-dasar sistem pemerintahan, peradilan, dan pendidikan dengan sistem Barat materialistik sekuler.[35] 
Pengaruh Barat yang masuk ke dalamnya, peradaban materialisme, di negeri-negeri Islam yang salah satunya adalah di Mesir banyak memberikan pengaruh pada pembinaan Islam, idiologinya, sehingga menyebabkan terjadinya distorsi tentang Islam. Para pembenci Islam tersebut telah mengelabui kaum Muslimin dan mmpesentasikan Islam secara tidak utuh, hanya terbats pad keimanan, ibadah ritual, dan moral disamping sejumlah perayaan ritual, keprcyaan-kepercayaan khurafat serta fenomena-fenomena yang sebenrnya kering dari makna agama. Distosi tentang Islam ini ditmbah dengan faktor kebodohan kaum Muslim tentang hakikat ajaran agama mereka sehingga banyak yang tidak mempermsalahkan terhadap penyempitan makna agama ini. Maka cukup kesulitan untuk memahamkan mereka bahwa Islam adalah sistem hidup yang komprehensif yang mencakup setiap bidang kehidupan.[36]
Melihat fenomena tersebut, tidak mengherankan jika Ikhwan mengusung purifikasi agama dalam setiap gerak dan aktivitas pembinaannya. Hal ini sangat brpengaruh terhadap materi-materi yang disampaikan dalam pembinaan. Pengokohan aqidah seorang Muslim merupakan materi pokok dalam sistem pembinaannya. Hal inipun tidak terlepas dari tujuannya yang ingin membentuk individu Muslim dalam pemikiran aqidah, akhlak dan sentimen atau citarasanya, perbuatan dan tingkah lakunya.[37]
3.Latar belakang Politik
Masalah politik yang menonjol pada waktu itu adalah pembebasan dari imperilisme, pemerintahan Islam dan kebebasan. Ikhwan benar-benar ingin independen dalm segala hal tanpa campur tangan Barat dan hanya ingin mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Kondisi politik Mesir pada waktu itu benar-benar sangt berpengaruh dalam perkembangan, tujuan, dan pemikiran Ikhwan.[38]
Adapun tujuan Ikhwan yang sangat terpengaruh oleh masalah politik di Mesir pada waktu itu adalah:[39]
a.        Membebaskan negeri Muslim dari kekuasaan Asing. Yang demikian merupakan hak alamiah bagi setiap orang yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun.
b.       Mendirikan sebuah negara Islam di negeri yang merdeka ini yang melaksanakan hukum-hukum Islam, yang menerapka sistem sosialnya, yang memproklamirkan prinsip-prinsipnya yang kokoh, yang menyampaikan dakwah Islam kepada umat manusia.
Dari tujuan politik Ikhwan tersebut tergambar bahwa Ikhwan benar-banar menginginkan sebuah negara yang bisa menerapkan Islam dalam berbagai aspek kehidupannya. Namun Ikhwan menyadari bahwa semua itu tidak akan terwujud tanpa adanya pembinaan yang matang serta membutuhkan waktu yang sangat lama.

C.    Aktivitas Ikhwan
Segala aktivitas Ikhwan tidak terlepas dari perubahan sosial yang hendak mereka raih. Perubahan sosial yang dimaksud di sini adalah: Perubahan menyeluruh yang terjadi di masyarakat sebagai jalinan hubungan dengan tatanan sosial, dari satu kondisi peradaban yang lain, disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor sarana produksi, faktor tantangan dan respon, faktor geografis alamiah, faktor kejiwaan dan wawasan, dan seterusnya.
 Dalam hal ini Ikhwan berpendapat bahwa suatu bangsa dalam keadaan kuat dan bangkit, apabila memenuhi syarat-syarat kejiwaan pada individu-individunya. Yaitu keyakinan bersama kepada tujuan dan idelisme, kehendak bersama untuk bangkit, konsep tertentu untuk mencapai tujuan, serta perencanaan dalam rangka merealisasikan konsep tersebut meski memerlukan pengorbanan. Sebaliknya, suatu bangsa akan berada dalam kondisi lemah sosial apabila melupakan tujuan dan idealismenya, lemah kemauannya, lebih tenggelam pada kemewahan, dan tersesat dari cara pandangnya yang benar.[40]   
Berangkat dari hal tersebut di atas, Ikhwan mengagendakan aktivitsnya untuk menuju pada sebuah perubahan yang besar, yaitu; aktivitas bidang sosial ekonomi, bidang politik, dan bidang pembinaan (tarbiyah).
1.      Aktivitas Bidang Sosial Budaya
Berangkat dari kondisi sosial ekonomi Mesir, Ikhwan banyak melakukan aktivitas sosial dan budaya diantaranya adalah, pertama, Ikhwan mendirikan sekolah-sekolah khusus untuk perempuan seperti  Madrasah Ummahatul Mukminin di Ismailia dan Dar At-Tarbiyah Al-Islamiyah Li Al-Fatat di Kairo, membentuk Divisi Akhawat Muslimah di Ismailia dan Kairo untuk membentuk pribadi-pribadi perempuan yang terdidik. Selain itu Ikhwan juga mendirikan Yayasan-yayasan Sosial, sekolah-sekolah, kajian-kajian keilmuan, ceramah-ceramah, penerbitan jurnal, membentuk usrah-usrah yang khusus akhawat dan penyiapan training-training untuk kaderisasi para naqibah (pemimpin)nya.[41]
Aktivitas khusus yang didirikan Ikhwan untuk perempuan ini karena Ikhwan menganggap bahwa perempuan merupakan unsur utama dalam pembentukan generasi. Lebih daripada itu pada saat itu banyak muslimah yang menanggalkan jilbabnya, adanya pencampurbauran antara laki-laki dan perempuan, pendidikan yang mendeskreditkan kaum perempuan.
Kedua, pada bidang sosial, Ikhwan mendirikan berbagai forum, klub rihlah, yang kelak menjadi kelompok kepanduan, klub-klub olahraga,  dan panti-panti asuhan di hampir setiap cabang.[42]
Diantara kelompok yang didirikan Ikhwan adalah kelompok olahraga. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian Ikhwan pada masalah fisik dan Ikhwan memahami benar bahwa seorang mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Di mana pelaksanaan ibadah, baik itu shalat, puasa, haji, mencari nafkah untuk keluarga dan zakat tidak akan terlaksana dengan baik jikalau tidak didukung dengan fisik yang prima. Oleh karena itu Al-Ikhwan membentuk klub-klub olahraga untuk menjaga stamina tubuh tetap prima dan produktif (menjuarai berbagai bidang olah raga).[43]
2.      Aktifitas bidang Ekonomi
Di bidang ekonomi, pertama, Ikhwan berusaha mendidik anggota jama’ah untuk berpegang teguh kepada sejumlah moralitas dan etika ekonomi, yaitu:
a.       Hendaklah menekuni satu pekerjaan ekonomi, sekalipun ia orang kaya. Hendaklah ia mendahulukan pekerjaan yang tidak terikat, sekalipun kecil hasilnya.
b.      Hendaklah anggota Ikhwan membantu perkembangan ekonomi Islam dengan mendorong pemakaian produksi dalam negeri, jangan sampai uangnya jatuh ke tangan orang non Muslim. Jangan berpakaian dan makan kecuali dari hasil produksi dalam negeri.
c.       Hendaklah ia menabung sebagai incomnya sekalipun sedikit, dan jangan larut dalam pengkonsumsian barang-barang mewah.
d.      Sejak tahun 1945, mereka menyerukan untuk pemboikotan komoditas dan perusahaan-perusahaan Inggris sama sekali .
Kedua, membangun beberapa proyek ekonomi, diantaranya adalah:[44]
a.       Persahaan Al-Mu’amalat Al-Islamiyah (mengolah tembaga, lalu membuat ubin dan semen.
b.      Perusahaan Al-‘Arabiyah li Al-Manajim wa Al-Mahajir (untuk memproduksi semen, ubin, peralatan masak gas, dst).
c.       Perusahaan Al-I’lanat Al-‘Arabiyah.
d.      Perusahaan Al-Ikhwan Al-Muslimun untuk pintal dan tenun.
e.       Perusahaan Perdagangan dan Konstruksi (untuk memproduksi bahan-bahan bangunan dan mendidik para pekerja untuk menggeluti profesi pemipaan, pelistrikan, dan pertukangan).
f.       Perusahaan At-Taukilat At-Tijariyah di Suez.
g.      Perusahaan Dagang di Mahallah (memproduksi kain tenun, perabot rumah tangga, peralatan kantor, peralatan sekolah, dan peralatan listrik).
Ketiga, selain aktivitas-aktivitas di atas, Ikhwan juga memiliki aktivitas ekonomi melalui pendidikan dengan membentuk sebuah sekolah untuk penyuluhan keorganisasian bagi para buruh, diantaranya adalah:
a.       Memahamkan para pekerja atas hak-hak mereka dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat untuk memperolahnya.
b.      Koordinasi aktivitas keorganisasian
c.       Ajakan kepada para buruh untuk bergabung bersama organisasi-organisasi mereka
d.      Pemberantasan buta huruf
e.       Pengembangan wawasan umum (baik sosial, politik, nasional, kesehatan, dsb) kepada para buruh.
f.       Kajian ide-ide perindustrian dan metode-metode produksi modern hingga buruh Muslim memilki kualitas tehnik industri yang tidak lebih rendah dari pekerja setingkatnya di kalangan bangsa-bangsa lain.
3.      Aktivitas di bidang Politik
Aktivitas Ikhwan di bidang politik bertitik tolak pada pemikiran Ustadz Hasan al-Banna yang menegaskan tentang hakekat eksistensi Muslim yang politikus dari titik tolak Islam. Beliau menyampaikan:[45]
Seorang Muslim tidak sempurna keislamanya kecuali jika ia seorang politikus, berwawasan luas dalam memandang persoalan umatnya, dan penuh perhatian kepadanya. Bisa juga saya katakan bahwa batasan itu sebenarnya bukan batasan yang ditetapkan Islam, namun semua organisasi Islam hendaknya meletakkannya di poin-poin awal prinsip pemikirannya, agar memberi perhatian penuh kepada umatnya dalam urusan politik. Jika tidak, ia sendiri membutuhkan pemahaman tentang makna Islam secara benar.

   Hasan al Banna juga menyampaikan bahwa agama dan sistem kehidupan yang utuh sekaligus memuat di dalamnya aspek politik. Ia berkata: [46]
Negara merupakan representasi dari fikrah, tegak dalam rangka memeliharnya, bertanggungjawab mewujudkan cita-citanya dalam masyarakat Negara merupakan representasi dari fikrah, tegak dalam rangka khusus, dan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia… Negara Islam adalah negara merdeka yang tegak di atas syariat Islam, bekerja dalam rangka menerapkan sistem sosialnya, memproklamasikan prinsip-prinsipnya yang lurus, dan menyampaikan dakwahnya yang bijak ke segenap umat manusia.

Pada fase ini yang dilakukan Ikhwan adalah: penanaman kebencian terhadap kekuasaan orang-orang asing, menanamkan mentalitas harga diri di kalangan kaum buruh, perlawanan terhadap kristenisasi, kritik politik Ataturk yang memisahkan negara dari agama, dan statemen Al-Banna bahwa dakwah merupakan kewajiban pemerintah dan parlemen dan bahwa pemerintah harus memiliki kepedulian terhadap pengajaran agama, pelarangan pornografi dan tempat-tempat hiburan.[47]
Dalam hal ini Ikhwan juga lebih mengarahkan sifat gerakannya secara universal. Hasan al-Banna mengingatkan akan urgensi universalitas gerakan, setelah universalitas fikrah, dimana universalitas fikrah memiliki peranan terbatas perencanaan batas-batas visi dan gagasan, sedangkan universalitas gerakan lebih mengarah pada teknik operasional suatu ide. Sebagaimana yang terdapat dalam Risalah Muktamar kelima, Hasan al-Banna mendeklarasikan bahwasannya pergerakan al-Ikhwan mencakup semua makna reformasi dan semua bidang positif yang dibutuhkan oleh umat, direpresentasikannya semua unsur dari pemikiran gerakan lainnya dan merangkul semua golongan atau kelompok yang berbeda-beda. Sehingga semua reformis yang tulus dan mempunyai ghirah (semangat) ke sana menemukan obsesinya, yaitu cita-cita reformasi yang memahami dan mengerti tujuan bertemunya Al-Ikhwan.[48] 
Di bidang politik, Ikhwan juga menuntut kebaikan dari dalam terhadap hukum pemerintahan untuk meluruskan persepsi yang terkait dengan hubungan umat Islam terhadap bangsa-bangsa lain di luar negeri, men-tarbiyah bangsa agar memiliki izzah (kemuliaan) dan menjaga identitasnya.[49]
Adapun tahapan-tahapan kerja politik yang dilakukan Ikhwan, meliputi,[50] pertama, Ta’rif (pengenalan), agar masyarakat mengenal baik dengan fikrah dan muatannya. Sebagian dari aksi dalam tahapan ini adalah:
-         Menjelaskan pemikiran secara benar kepada orang.
-         Mengenalkan secara detail hakikat Jama’ah.
-         Revitalisasi peran ulama dalam politik.
-         Meletakkan politik sebagai pengendali aktivitas dalam tahapan ini.
          
Kedua, tahapan Takwin (Pembentukan), yakni dengan memilih unsur-unsur yang efektif dan membangun lembaga-lembaga. Aksi yang harus dilakukan dalam tahapan ini, antara lain:
-         Membentuk panitia konstitusi.
-         Membentuk tim perumus undang-undang.
-         Mempersiapkan program perbaikan yang integral.
-         Menganlisis secar sistematis realitas yang ada.
Ketiga, tahapan Tanfidz (pelaksanaan), yaitu perjuangan dakwah meletakkan program-program yang dapat diaplikasikan. Beberapa aksi dalam tahapan ini, antara lain:
-         Berusaha untuk masuk dalam majelis parlemen.
-         Mobilisasi massa.
-         Meningkatkan tuntutan.
Secara praktis kegiatan politik Ikhwan mencakup:
-         Kegiatan Jurnalistik intensif
-         Menasihati pemimpin.
-         Menjalin hubungan dengan orang-orang di lembaga konstitusi dan memberi masukan kepadanya.
-         Mempersiapkan program-program perbaikan kemudian mengajukannya ke bagian penanggungjawaban, dst.
4.      Aktivitas bidang Pembinaan (Tarbiyah)
Dari pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa inti dari semua aktivitas Ikhwan ada pada pembinaan (tarbiyah) individu. Hal ini juga salah satu dari ciri khas jama’ah Ikhwanul Muslimin. Ikhwan sendiri memiliki pemikiran bahwa suatu hal yang sulit dilakukan ketika mengharapkan perubahan yang besar tanpa dimulai dari yang kecil.
Al-Banna memandang bahwa proses penyadaran secara umum tidaklah cukup untuk memperbaiki umat dan mengubah nasibnya dan tidak ada jalan lain meliankan melalui proses mobilisasi, pembinaan dan pembangunan untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, yaitu dengan jalan mengikuti manhaj (metode) Rasulullah SAW yang berusaha secara keras membina generasi Rabbani dan eksponen Qur’ani pertama melalui interaksi terus-menerus, pergaulan intensif dan pemantauan positif. Maka Darul Arqam di Makkah pada saat itu menjadi lembaga pendidikan utama yang paling terkenal dan menghasilkan generasi Islam pertama yang paling baik dengan julukan,”Ruhban al-Laili wa Fursan an-Nahar.” (rahib di malam hari dan prajurut kavaleri di siang hari).[51] Deskripsi paling agung adalah sebagaimana yang disinyalir dalam Al Quran yang berbunyi:

مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ قلى وَالَّذِيْنَ مَعَه أَشِدَّآءُ عَلَى اْلكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُوْنَ فَضْلاً مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًاصلى سِمَاهُمْ فِى وُجُوْدِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُوْدِقلى ذلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرـةِصلى وَمَثَلُهُمْ فِى اْلإِنْجِيْلِج كَزَرْعٍ اَحْرَجَ شَطْاَه فَأَزَرَه فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلى سُوْقِه يُعْجِبُ الزُّرَاعِ لِيَغِيْظَ بِهِمُ اْلكُفَّارَقلى وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيْمًا

Artinya: “Muhammad itu adalah utusan  Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan bersujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu besarlah ia dan tegak lurus di atas batangnya. Tanaman yang mengeluarkan hati para penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath:29)[52]

Aktivitas pembinaan (tarbiyah) itu sendiri bagi Ikhwan merupakan suatu proses yang membutuhkan konsep yang sistematis. Ikhwan mengelompokkan konsep tarbiyah dalam tiga hal, yaitu: input tarbiyah, proses tarbiyah, dan output tarbiyah. Bagi Ikhwan ketiga hal tersebut merupakan bangun Tarbiyah, dimana ketiga-tiganya saling berkaitan erat antara satu dengan yang lainnya serta tidak bisa dipisah-pisahkan. Input yang baik tanpa proses yang baik maka tidak akan bisa menghasilkan output seperti yang diharapkan.
Input, bagi Ikhwan adalah sasaran dakwah yang akan diproses dalam sistem pembinaan Ikhwan. Ikhwan mengadakan penyaringan dan memberikan klasifikasi terhadap orang-orang yang dipandang Ikhwan siap untuk berproses dan akan dipersiapkan untuk memikul tugas dakwah. Diantaranya adalah, aktivis (individu yang dinamis), pemikir (individu yang memberdayakan daya pikir dan nalarnya), pemberani (individu siap melawan dan berkorban), produktif (individu yang mampu mewujudkan penyelesaian dan keberhasilan).[53]
Setelah menyaring dan mengklasifikasikan input tarbiyah, maka yang selanjutnya adalah memproses input tersebut menuju output yang diharapkan. Dua hal yang sangat urgen dalam proses tarbiyah adalah murabi dan sarana tarbiyah. Murabi adalah sebagai seorang pembimbing yang telah memiliki kualifikasi sebagai murabi yang tentunya adalah menurut Ikhwan. Kualifikasi yang dimaksaud misalnya adalah, intelek (berwawasan ilmu syariat, humanisme, dan gerakan), siap pakai (dengan kesiapan ruhani, intelektualitas, dan juga materi), terampil (dalam living skill dan dalam mempergunakan segala perangkat yang diperlukan dengan baik), serta diharapkan ia adalah seorang spesialis dalam hal-hal tertentu yang ingin berkhidmat di dalamnya.[54] 
Adapun sarana tarbiyah yang akan digunakan dalam proses tarbiyah Ikhwan, meliputi:
1.      Usrah (inkubasi bina hubungan ukhuwah).
2.      Katibah (forum tarbiyah ruhiyah).
3.      Rihlah (inkubasi bina hubungan sosial).
4.      Daurah (markas pelatihan)
5.      Mukhayam (forum tarbiyah jasadiyah).
6.      Muktamar (forum tarbiyah operasional dan pemikiran)
Dalam hal ini usrah menempati posisi sebagai pilar utama atau sebagai batu bata pertama.
Output yang diharapkan dari sistem tarbiyah Ikhwan adalah lahirnya personal-personal yang menjadi representator bagi sejumlah nilai yang mereka hidup dengan dan untuknya. Sepuluh konsep sebagai pembentukan diri dari proses tarbiyah adalah:[55]
1.      Hendaknya ia berbadan kuat
2.      Hendaknya ia berakhlak yang kukuh
3.      Hendaknya ia berwawasan luas
4.      Hendaknya ia mampu mencari penghidupan
5.      Hendaknya ia lurus akidahnya
6.      Hendaknya ia benar ibadahnya
7.      Hendaknya ia memperjuangkan diri sendiri
8.      Hendaknya ia perhatian kepada waktunya
9.      Hendaknya ia pandai mengatur urusannya
10.  Hendaknya ia bermanfaat bagi orang lain
Bangun tarbiyah diatas merupakan representasi dari perhatian Ikhwan terhadap pembentukan kepribadian integral bagi para anggotanya. Untuk itu Ikhwan memusatkan pembinaannya pda tiga hal, yaitu pembinaan intelektual, pembangkitan ruhani, dan membangun keterikatan persaudaraan.
Pembinaan intelektual merupakan wujud perhatian Ikhwan pada pendidikan nalar dan pencerahan akal. Sebab Ikhwan menyadari Allah menciptakan akal agar manusia berfikir secara ilmiah dan meninggalkan akal mitos, nafsu dan perasaan pada posisi yang hanya membutuhkan realitas obyektif.[56] Hal ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍقلى إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لاَيُغْنِىْ مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

ِArtinya: “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (An-Najm: 28)[57]

Penalaran akal ilmiah adalah yang menolak taklid buta baik pada nenek moyang maupun orang tua. Diantara pembentukan individu muslim, sebagaimana yang dikemukakan Al-Banna dalam Risalah Ta’lim adalah menjadi manusia yang terdidik akalnya, lurus akidahnya, benar ibadahnya, kokoh kepribadiannya, kuat fisiknya dan mulia akhlaknya. Sedangkan dalam Risalah Dakwatuna fi Thaur al-Jadid, Al-Banna berbicara tentang individu muslim yang dicita-citakan, lalu mnyebutkan bahwa Islam menghendaki ia memiliki pemahaman yang benar sehingga dapat membedakan yang benar dari yang salah. Memiliki cita rasa yang dapat merasakan perbedaan antara yang baik dengan yang buruk dan tekad yang kuat di hadapan kebenaran.[58]
            Al-Banna juga berbicara tentang metafisik dan akal materiil sensual, ia mengatakan bahwa persepsi yang meyakini hal-hal ghaib (metafisik) mempunyai wilayah (domain) yang tersendiri dan persepsi inderawi (sensual), juga memilih domain tersendiri. Keduanya diwakili oleh seorang Muslim secara seimbang.
Pembangkitan ruhani dalam pembinaan Ikhwan menitikberatkan pada pembaruan Iman kepada Allah Ta’ala, keyakinan pada hari akhir, memperkokoh nilai Rabbaniyah dalam hati yang tawakkal dan kepasrahan bulat kepada-Nya, ikhlas kepada-Nya, cinta kepada-Nya dan kepada para kekasih-Nya, menguatkan harpan pada rahmat dan pertolongan-Nya, takut pada siksa-Nya dst. Ikhwan berusaha untuk melatih hal itu secara teus menerus melalui program-program pembinaannya. [59]
Kesemua hal diatas tidak mungkin terwujud kecuali dalam suasana yang kondusif di mana terdapat pembimbing yang mengarah kepada Allah serta adanya lingkungan yang sehat dan mendukung untuk menciptakan kebaikan, seperti adanya Muslim yang shalih, teman sejalan, pembawa wewangi hidayah yang menuntun dengan tutur katanya kepada Allah, yang keadaannya mengajak mengingat hari akhir, perilaku yang menarik untuk berbuat baik. Inilah apa yang dicita-citakan Al-Banna, baik perkataan maupun perbuatan, teori maupun praktek. Ia memproklamirkan bahwa Ikhwan disamping dakwah salafi, paham sunni, organisasi politik, ia juga realitas sufi.             
Sementara itu membangun keterikatan persaudaraan juga termasuk dalam proses pembentukan kepribadian pada jama’ah Ikhwan. Persaudaraan yang dibangun Ikhwan adalah persaudaraan semata-mata karena Allah. Ikhwan memusatkan pada makna persaudaraan dan mengikatnya dengan aspek rabbaniyah di mana persaudaraan itu dilandasi cinta karena Allah dan untuk Allah. Sebab ikatan yang pa;ing kokoh adalah ikatan akidah dan iman. Dalam hal inilah konsep usrah banyak berperan dalam membangun rasa persaudaraan.[60]   
Pengaruh konsep tesebut ternyata sangat kuat dalam mempengaruhi pembinaan kepribadian anggota Ikhwanul Muslimin. Tepat sekali ketika Al-Banna menempatkan usrah sebagai batu bata pertama dalam pembentukan kepribadian anggotanya. Sebenarnya ide awal Al-Banna tersebut banyak dipengaruhi kondisi umat Islam yang banyak mengalami penyerangan dari orang Barat di berbagai sisi kehidupannya yang membangkitkan keprihatinan Al-Banna.
Dalam hal ini Hasan al-Banna memberikan perhatian serius sejak berdirinya Ikhwan, bahkan nama yang dipilih untuk kelompok ini mengandung pengertian ini dengan jelas. Yaitu kandungan dua makna besar; Islam dan persaudaraan (al-Ikhwan al-Muslimun) yang berarti saudara sesama pemeluk agama Islam. Ia memusatkan pada makna persaudaraan dan mengikatnya dalam aspek rabbaniyah, dimana persaudaran ini dilandasi cinta karena Allah dan untuk Allah. Sebab ikatan yang paling kokoh adalah ikatan akidah dan Iman, cinta karena Allah dan benci karena Allah.
            Persaudaraan dalam Risalah at-Ta’lim dijadikan sebagai salah satu rukun baiat. Dalam penjelasannya, Hasan al-Banna menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan persaudaraan adalah ikatan hati dan jiwa dengan akidah. Sebab akidah merupakan ikatan terkuat dan paling mahal. Persaudaraan adalah saudara Iman sedangkan perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan pertama adalah kekuatan persatuan dan tidak ada arti persaudaraan tanpa cinta. Cinta yang paling kecil adalah keselamatan dada (yakni dari dengki, benci dan iri) sedangkan cinta paling tinggi mendahulukan saudara seagama.
Rasulullah pun mencontohkan betapa setiap Muslim itu adalah saudara. Ibarat sebuah keluarga yang hidup untuk saling menyayangi dan mencintai. Kehidupan Rasulullah adalah teladan bagi setiap muslim. Ketika pertama kali Rasulullah hijrah ke Madinah, hal pertama yang beliau lakukan adalah mempersaudarakan dan mengikatkan kaum Muhajirin dan Anshar dalam ikatan kekeluargaan. Pada kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِى حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَيُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتّى يُحِبُّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ. (رواه البخارى ومسلم)

Artinya: “Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik, pembantu Rasulullah, Dari Nabi yang bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintainya untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Islam)[61]

            Hasan al-Banna, mengaitkan juga antara ilmu dan amal, idealisme dengan gerakan, teori dan praktek. Untuk itu ia meletakkan aturan usrah, yaitu satu aturan unik. Yang diambil dari pengalaman sufistiknya, dari bacaan ilmiah dan dari pengalaman empirik. Tujuan sistem usrah ini adalah mengangkat tingkat persaudaraan di kalangan Al-Ikhwan dari kata-kata dan teori ke perbuatan dan amal konkret.

D.    Usrah di Indonesia
      Usrah merupakan tonggak dari pembinaan yang dilakukan Jamaah Ikhwanul Muslimin. Di Indonesia sendiri istilah usrah diidentikkan dengan gerakan pengajian di kampus-kampus umum seperti ITB, UI, dan kampus-kampus lainnya yang terdiri dari kelompok kecil sekitar 10-15 orang.[62] Sejak kapan usrah masuk di Idonesia dan siapa yang membawanya?
      Gerakan usrah di Indonesia banyak lahir dari aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia) dan sebagian HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). PII merupakan kumpulan anak-anak muda Islam yang memilki jalur geneologis dengan Masyumi (wadah politik kelompok pemurnian pasca keluarnya NU, Perti dan SI dari Masyumi) dan juga HMI. Hanya saja kalau anggota HMI masih ada yang dari NU, sedangkan PII adalah lebih banyak mengkhususkan diri sebagai anak didik Masyumi secara ideologis, bisa dari Muhammadiyah atau Persis. Oleh karena itu, kedekatan emosional kelompok usrah ini adalah dengan kelompok pemurnian,, khususnya yang dari Persis, dan khususnya lagi dari DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) yang menjadi pewaris Masyumi.[63]
1        Gerakan Usrah Dekade 80-an
HMI dan PII adalah dua organisasi kaum muda yang mempunyai catatan sejarah tersendiri bagi pergerakan Islam di Indonesia. Pada era 80-an, pemerintah Orde Baru memaksakan idiologi berupa Pancasila sebagai azas tunggal, melalui UU No. 5 tahun 1985. Keputusan tersebut mendapat reaksi yang bermacam-macam dari kaum Muslim, sebagian menerima tanpa banyak persoalan, sebagiam menerima tetapi menunggu UU formal yang dibuat oleh pemerintah, sebagian lagi bersikap apatis, dan sebagian lagi menolak sama sekali kebijakan tersebut. Sikap terakhir inilah yang diwakili oleh PII dan HMI MPO. Karena penolakan tersebut, akhoirnysa PII dibubarkan dan dianggap terlarang. Namun PII masih terus melakukan gerakan bawah tanah membuat training dan pembinaan bagi pemuda-pemuda Islam.[64]
Seiring dengan hal tersebut, muncullah sebuah trend gerakan keagamaan yang muncul di kampus-kampus umum, yaitu yang disebit sebagai gerakan usrah. Beberapa hal yang menjadi penyebab  munculnya gerakan dakwah kampus yang biasa disebut usrah itu adalah yang pertama, adanya kebijakan Orde Baru yang menerapka NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) dan BKK ( Badan Koordinasi Kampus). Dengan program ini pemerintah berusaha membatasi ruang gerak aktivis Mahasiswa dengan mengontrol sepenuhnya aktivitas Mahasiswa tersebut melalui birokrasi kampus. Kondisi itulah yang mendorong Mahasiswa untuk melakukan aktivitas agar tidak terkekang daya intelektualitas dan daya kreatifitasnya melalui kegiatan diskusi dan bentuk-bentuk kajian yang berpusat di mushalla-mushalla atau Masjid-Masjid. Dari sini nampaklah bahwa pijakan pertama lembaga dakwah kampus merupakan munculnya kelompok anak muda yang memiliki semangat tinggi dalam mempelajari dan mengamalkan Islam sebagai respon dari tekanan politik yang dilakukan pemerintah Orde Baru.[65]
Kedua, adanya persentuhan dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin yang bermula dari Masjid salman ITB. Usrah yang pertama kali dikenal di ITB adalah dibawa oleh seorang aktivis HMI yang bernama Imaduddin yang mengalami persentuhan dengan kelompok ABIM di Malaysia. Kelompok ABIM menggunakan usrah sebagai sistem kaderisasinya. Mereka juga banyak menterjemahkan buku-buku karangan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, dan lain sebagainya. Imaduddinlah yang membawa buku-buku terjemahan itu ke Indonesia dan melalui Masjid Salman, ia mengembangkan sistem usrah tersebut sebagai sistem kaderisasinya.
Dari uraian itulah nampak bahwa usrah masuk ke Indonesia salah satunya karena seorang aktivis muda yang mengalami persentuhan dengan ide-ide dari Ikhwanul Muslimin.
Ketiga dari sebab munculnya usrah di Indonesia adalah kembalinya sarjana-sarjana dari Timur Tengah. Kembalinya sarjana-sarjana dari Timur Tengah ini bersamaan dengan dibwanya sistem dan manhaj yang dipakai Ikhwanul Muslimn, lebih di sebabkan karena persentuhan langsung mereka dengan pemikiran Ikhwan di Mesir. Mereka banyak menteerjemahkan buku yang dikarang oleh tokoh-tokoh Ikhwan, bahkan mereka sampai mendirikan percetakan yang khusus menerbitkan buku-buku Ikhwan.
Selain identik dengan Gerakan Dakwah Kampus, usrah di Indonesia juga diidentikkan dengan gerakan radikal dan fundamentalisme. Hal ini terjadi pada era 80-an. Karenanya kebanyakan masyarakat memandang usrah ini dalam stereotype yang cenderung negatif. Apalagi ketika terjadi kasus yang melibatkan kelompok usrah ini muncul sebagai kasus-kasus terorisme, seperti kasus pembajakan pesawat Garuda di Woyla, Thailand, yang dilakukan kelompok usrahnya Imron.[66]
Kasus usrah juga terjadi di Jawa Tengah ketika terjadi penangkapan terhadap aktivis usrah dan dijatuhi hukuman 6 tahun penjara karena aktif mengikuti kegiatan usrah. Sedangkan kasus yang lain adalah karena terperangkapnya kelompok usrah pada idiologi Darul Islam yang menginginkan adanya Negara Islam..
            Sebagaimanaa pemaparan di atas diketahui bahwa usrah mulai di kenal di Indonesia adalah pada tahun 80-an. Apa saja bentuk-bentuk usrah pada perkembangan selanjutnya?
            Ada beberapa bentuk lembaga, ormas, maupun orpol yang kelahirannya banyak dimotori oleh para aktivis gerakan dakwah kampus yang menggunakan usrah sebagai sistem kaderisasinya.
    Bentuk lembaga-lembaga yang didirikan aktivis gerakan usrah diantaranya adalah lembaga pendidikan dan pengkajian. Lembaga pendidikan itu diantaranya adaalah lembaga Bimbingan Belajar Nurul Fikri yang memberikan bimbingan bagi pelajar yang akan mengikuti UMPTN. Dalam bimbingan balajar itu mereka juga memperbanyak materi-materi keagamaan dan sangat menekankan pada nilai-nilai keagamaan, seperti memisahkan antara peserta laki-laki dan perempuan. Selain mendirikan bimbingan belajar mereka juga mendirikan Lembaga Pendidikan Islam (Ma’had) Al Hikmah yang memgarahkan sasaran pada Mahasiswa dari perguruan tinggi umum. Sejalur dengan pendidikan mereka mendirikan lembaga pengkajian SIDIK (Studi dan Informasi Dunia Islam Kontemporer) yang mefokuskan kegiatan pada seminar, diskusi, pelatihan, penerbitan, dan lain-lain.[67]
Para aktivis gerakan usrah (tarbiyah) ini terus bergerak mengembangkan gerakannya dalam bentuk-bentuk lain . Selain dalam bentuk lembaga pendidikan dan pengkajian, mereka juga mendirikan lembaga Dakwah, diantaranya adalah Lembaga Dakwah Khairu Ummah. Lembaga ini menyediakan penceramah-pemceramah di Masjid-masjid dan di kampus-kampus, bahkaan sampai mengisi acara-acara keagamaan di televisi.
Pada bidang penerbitan, para aktivis ini banyak mendirikan penerbitan buku, diantaranyaGema Insani Press, Penerbit Al Ishlahy Press, Pustaka Al-Kautsar, Penerbit Sabili dan lain-lain. Kebanyakan dari penerbit itu menerbitkan buku-buku Ihkwanul Muslimin yang ada di Mesir.
Selain tampil di tengah-tengah publik dengan mendirikan berbagai lembaga, mereka juga banyak menguasai lembaga-lembaga formal kemahasiswaan. Para aktivis yang lahir di sana kebanyakan adalah mereka yang saleh, pinter, prestasinya bagus, Indeks Prestasinya tinggi, serta aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi. Oleh karena itu merekapun banyak mendapatkan simpati dari berbagi kalangan baik dari luar maupun dari dalam kampus.
Pertumbuhan aktivis kampus semakin lama semakin besar dan persoalan yang dihadapinyapun semakin kompleks. Dengan melihat fenomena krisis nasional yang melanda Indonesia dan didorong oleh tanggung jawab moral terhadap penderitaan rakyat, akhirnya mereka mendirikan KAMMI. Melalui KAMMI mereka menuntut reformasi di segala bidang seperti kolusi, korupsi dan nepotisme. KAMMI banyak melakukan aksi-aksi menuntut perubahan yang mendasar di Indonesia. Dalam setiap aksinya KAMMI tercatat mampu mengkonsolidasi massa dengan jumlah yang banyak. Hal ini bisa dimaklumi karena KAMMI lahir dari Lembaga Dakwah Kampus yang telah memilki jaringan yang kuat, sehingga merekapun tidak kesulitan dalam memobilisasi massa.[68]
Sebuah transformasi dari aktivis gerakan usrah ini semakin lama semakin membutuhkan wadah yang mampu menampung aspirasi dakwah. Dengan adanya gelombang reformasi dan dengan adanya sistem multipartai, para aktivis yang selalu bergelut dengan dunia kampus ini mencoba melakukan politik praktis dengan mendirikan Partai Keadilan.[69]
Dari berbagai bentuk transformasi yang dilakukan gerakan usrah ini nampaklah bahwa misi utama mereka tetap pada perubahan tingkah laku atau pembinaan diri tiap individu. Tidak mengherankan jika dalam setiap bentuk dari transformasinya, mereka tidak lupa mananamkan nilai-nilai Islam dan berusaha untuk  mengaplikasikan dalam kehidupan. Ikatan atau jaringan yang kuat sebagai wujud dari pembinaan dengan metode usrah, mengakibatkan mereka memiliki ikatan yang kuat, sehingga dalam bentuk apapun mereka bertransformasi, tidak kesulitan dalam mencari massa. Hal ini terbukti dengan mudahnya KAMMI memobilisasi massa sampai mencapai 20.000 massa. Begitu juga ketika mereka berjuang melalui partai, merekapun memiliki massa yang tidak sedikit. Bisa dipahami bahwa sitem kaderiasasi yang mereka miliki sistem usrah yang sangat mengutamakan persaudaraan yang kuat antara anggota jamaah. Hal ini juga yang mungkin menyebabkan dalam beberapa dasawarsa ini mereka tampil dengan ciri-ciri yang ekslusif yang berbeda dengan model-model gerakan yang lain.
2.      Usrah diantara Pergerakan Islam Indonesia Pasca Orde Baru
Pergerakan Usrah dan transformasinya selalu berkembang seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. Pada masa Orde Baru, kalangan Islam cukup mendapat tekanan-tekanan dari pemerintah. Hal ini yang menyebabkan sifat gerakan Islam cenderung radikal.
Pada awal abad ke-20, dalam peningkatan semangat nasionalisme dan deprivasi ekonomi yang kian parah di kalangan pribumi, radikalisme muslim diambil alih oleh kelompok-kelompok Sarekat Islam (SI) lokal. Seperti diperlihatkan sejarawan Sartono Kartodirdjo dan Kuntowijoyo dalam beberapa kajiannya, radikalisme SI lokal menunjukkan amalgamasi “ideologi” revivalisme Islam, Mahdisisme atau Ratu Adil, dan antikolonialisme.[70]
Eskatologisme gerakan radikal Muslim kelihataan makin surut pada masa-masa selanjutnya, untuk digantikan ideologi politik Islam. Hal inilah yang bisa dilihat dalam gerakan Darul Islam di beberapa daerah, seperti di Jawa Barat (Kartosuwiryo) dan Aceh (Daud Beureuh) pada masa pascakemerdekaan. Pada masa Soeharto 1980-an juga dikenal dengan adanya kelompok-kelompok Muslim garis keras, seperti kelompok Imron, Salman Hafidz, dan Warsidi, yang biasa disebut secara keseluruhan oleh aparatur keamanan sebagai “Komando Jihad”. [71]  
Fenomena gerakan Islam radikal di Idonesia mulai marak sejak jatuhnya Orde Baru yang ditandai dengan lengsernya penguasanya pada Mei 1998. Sejak saat itu mulai bermunculan gerakan-gerakan yang mengatasnamakan menegakkan Sunnah Rasulullah seiring dengan berubahnya peta Politik di Indonesia yang memberlakukan sistem multi partai. Seiring dengan hal itu juga menumbuhkan ormas-ormas Islam yang berhaluan radikal, militan, dan bahkan fundamentaalis. Kelompok-kelompok tersebut semakin menunjukkan momentumnya untuk melakukan gerakan memperjuangkan Islam secara radikal. Diantara ormas-ormas Islam itu adalah Forum Komunikasi Ahlussunnah Waljamaah (FKASW). Ikhwanul Muslimin, HAMAS, Hizbut Tahrir dan Majelis Mujahidin dan ormas lain yang terus menunjukkan eksistensinya adalah Front Pembela Islam  (FPI), Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), dan Persatuaan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI).[72] 
Gerakan radikal Islam saat ini diwarnai dengan aktivitas yang terkadang sangat literal dan radikal, bahkan dengan semangat jihadnya melakukan aktivitas yang tanpa kompromi. FPI misalnya sering menggunakaan metode kekerasan daalam merealisasikan gerakan antimaksiat di Jakarta. Laskar Jihad menurunkan pasukannya untuk membantu umat Islam di Ambon secara fisik.[73]
Gerakan radikal Islam yang ada saat ini ada kemiripan dengan gerakan radikal yang terjadi pada masa dekade-80. Namun di sisi lain gerakan usrah pada dekade 80-an juga identik dengan gerakan dakwah kampus yang dimotori oleh mahasiswa kampus umum. Pada akhirnya gerakan usrah sebagai gerakan dakwah kampus tersebut bertransformasi menjadi Partai Keadilan. Namun ketika pemilu 1999, ternyata tidak mendapat suara yang cukup signifikan, sehingga harus berganti nama menjadi PK Sejahtera.[74]
Itulah gambaran usrah di Indonesia, yang mana usrah di Indonesia diidentikkan sebagai gerakan radikal dan fundamentalis dan juga diidentikkan sebagai Gerakan Dakwah Kampus yang saat ini telah berkembang menjadi sebuah partai.  


Refferensi

[1] Al-Imam Hasan Al-Banna, Majmu’atur ar-Rasail, (Iskandaria: Daru ad-Dakwah, t.t),p.5
[2] Muhammad Sayyid al Wakil, Pergerakan Islam Terbesar abad ke 14: Studi Analisis Terhadap Manhaj Gerakan Ikhwanul Muslimin, penterj. Fachruddin (Bandung: Asy Syamil Press & Grafika, 2001), p. 19.
[3] Ishak Musa Al Husaini, Ikhwanul Muslimin, (Jakarta: Grafiti Press, 1983), p. 35.
[4] Farid Nu’man, Al-Ikhwan Al Muslimun: Anugerah Allah Yang Terdzalimi, (Depok: Pustaka Nauka, 2003), p. 75
[5] Ishak Mussa Al-Husaini, op.cit., p. 36.
[6] Ibid, p. 36.
[7] Hasan al-Banna,  Memoar Hasan al-Banna: Untuk Dakwah dan Para Da’inya, penterj. Hamim Murtadho & Salafuddin  (Solo: Era Intermedia, 2000), p. 27.
[8] Ibid, p. 29.
[9] Fathi Yakan, Revolusi Hasan al-Banna: Gerakan Ikhwanul Muslimin dari Sayyid Quthub sampai Rasyid Al-Ghannusyi, penterj. Fauzan Jamal & Alimin  (Jakarta Selatan: Harakah, 2002), p. 3.
[10] Ali Abdul Halim Mahmud, Ikhwanul Muslimin, Konsep Gerakan Terpadu I, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), p. 34.
[11] Muhammad Sayyid al-Wakil, op. cit., p. 26.
[12] Hasan al-Banna, op.cit, p. 337.
[13] Ibid, p. 34.
[14] Ibid, p. 35.
[15] Ibid, p. 45.
[16] Ishak Musa Al-Husaini, Op. Cit. p. 36
[17] Hasan al-Banna, op. cit, p. 104.
[18] Seno Joko Suyono & Zuhaid el-Qudsy, op cit. 70.
[19] Hasan al-Banna, op. cit., p. 125.
[20] Hasan al-Banna, op. cit, p. 104.
[21] Utsman Abdul Muiz Ruslan, Tarbiyah Siyasiyah Pendidikan Politik Ikhwanul Muslimin: Studi Analisis Evaluatif terhadap Proses Pendidikan Politik “IKHWAN” untuk Para Anggotanya Khususnya dan Seluruh Masyarakat Mesir Umumnya, dari Tahun 1928 hingga 1954, penterj. Salafuddin Abu Sayyid et al.  (Solo: Era Intermedia, 2000), p. 182
            [22] Ibid, p. 151

[23] Ibid, p. 153
[24] Ibid, p. 153
[25] Ibid, p. 155
[26] Hassan Hanafi, Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam, penterj. Kamran As’ad Irsyady, dan Muflika Wijayanti (Yogyakarta: Islamika, 2003), p. 121
[27] Utsman Abdul Mu’iz Ruslan, op. cit.,p. 158
            [28] Yusuf Al-Qaradhawi.  70 Tahun Al-Ikhwanul Al-Muslimun: Kilas Balik Dakwah Tarbiyah & Jihad, penterj. Mustofa Maufur & Abdurahman Husain.  (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), p. 22
            [29] Ibid, p. 22

[30] Ibid, p. 23
[31] Ibid, p. 82
[32] Ruslan Abdul Mu’iz, op. cit., 161
[33] Ibid, p. 161
[34] Ibid, p. 164
            [35] Yusuf Al-Qaradhawi.  70 Tahun Al-Ikhwanul Al-Muslimun: Kilas Balik Dakwah Tarbiyah & Jihad, penterj. Mustofa Maufur & Abdurahman Husain.  (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), p. 22

[36] Ibid, p. 23
[37] Ibid, p. 82
[38] Ruslan Abdul Mu’iz, op. cit., p. 82 
[39] Yusuf Al-Qaradhawi, op.cit., p. 85
[40] Ruslan Abdul Mu’iz, op. cit., p. 246
[41] Ibid, p. 260
[42] Utsman Abdul Muiz Ruslan, op. cit, p. 188.
[43] Hasan al-Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin I, penterj. Anis Matta et al. (Solo: Era Intermedia,2001), p. 274.
[44] Ibid, p. 278
[45] Abdul Hamid Al-Ghazali, Meretas Jalan Kebangkitan Islam: Peta Pemikiran Hasan al_Banna, penterj. Wahid Ahmadi dan Jasiman (Solo: Era Intermedia, 2001), p. 188
[46] Ibid, p. 189
[47] Ibid.
[48] Hasan al-Banna, Risalah Pergerakan Ikhhwanul Muslimin, Risalah Muktamar kelima, penterj. Anis Matta et al. (Solo: Intermedia, 1997), p. 261.
[49] Ibid, p. 273
[50] Ibid, p. 206
[51] Ibid,
[52] Dep. Ag. RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: PT Tanjung Mas, 1995), p. 843
[53] Abdul Hamid Al- Ghazali, op. cit., p. 173
[54] Ibid, p. 174
[55] Ibid, p. 176
[56] Yusuf Al-Qardhawi, 70 Tahun Al-Ikhwan Al-Muslimun, op. cit., p.164 
[57] Dep. Ag. RI. Op.cit., p
[58] Yusuf Qardhawi, op. cit. p. 164
[59] Ibid, p. 169
[60] Ibid, p. 176
            [61] Al-Imam Yahya bin Syarafudin An-Nawawi, Syarah Hadits Arba’in (41 Hadits tentang Kaidah-kaidah Agung Agama Islam serta Penjelasannya. Penterj. Hawim Murtadho & Salafuddin (Solo: Al-Qowam, 2001), p. 117

[62] Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia (Jakarta: Teraju, 2002), p.43
[63] Nur khalik Ridwan, Santri Baru: Pemetaan, Wacana Ideoligi dan Kritik (Jogjakarta: Gerigi, 2004), p. &^
[64] Ali Said Damanik, op. cit., p. 54
[65] Ibid, p. 63
[66] Ibid, p. 88
[67] Ali Said Damanik, op. cit., pp. 155-170
[68] Ibid, p. 191
[69] Ibid, p. 192
[70] Khamami Zada, Islam Radikal, Pergulatan Ormas-ormas Islam Garis Keras di Indonesia ( Bandung: Teraju, 2002), p. 90
[71] Ibid.
[72] Khamami Zada, Islam Radikal: Pergulatan Ormas-ormas Islam Garis Keras di Indonesia (Bandung: Teraju, 2002), p. 77
[73] Ibid, p. 77
[74] Aay Muhammad Furkon, Partai Keadilan Sejahteraa: Ideologi dan Praksis Politik Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer (Bandung: Teraju,2004), p.162  
Advertisement

loading...
Previous
« Prev Post

0 Komentar:

Post a Comment