Back To Top

Makalah Minat Siswa Terhadap Pelajaran Bahasa Arab

Minat Siswa Terhadap Pelajaran Bahasa Arab
a.       Definisi Minat
Dalam bukunya yang berjudul “Belajar Dan Faktor- Faktor Yang Mempengaruhinya” Drs. Slameto berpendapat bahwa pengertian minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktifitas, tanpa ada yang menyuruh.[1]
Minat pada dasarnya adalah “penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar dirinya, semakin kuat dan semakin dekat hubungan tersebut akan semakin besar minat”. Seseorang yang mempunyai minat terhadap suatu hal atau aktifitas akan merasa terikat dan menyukainya. Semakin besar minat ditandai dengan semakin dekat hubungan antara seseorang dengan suatu hal atau aktifitas tersebut.
Dengan demikian bila individu mempunyai minat terhadap sesuatu aktifitas maka dengan perasaan senang ia akan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Sedangkan Hilgard memberi rumusan minat adalah sebagai berikut : “ Interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy some activity or content”.12
Bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Dengan demikian adanya minat menimbulkan perhatian terhadap sesuatu obyek. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa timbulnya minat karena suatu obyek yang memberikan perasaan senang pada seseorang. Jadi bila individu mempunyai minat terhadap suatu aktifitas maka dengan perasaan senang ia akan berpartisipasi dalam aktifitas tersebut.
Adapun yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kecenderungan psikis dari subyek terhadap obyek yang menjadi sasaran karena merasa tertarik dan merasa senang terhadap obyek tersebut yaitu mata pelajaran bahasa Arab.
b.      Klasifikasi Minat
Menurut Abdurranman Shaleh, kadang-kadang minat itu timbul dengan sendirinya, dan kadang-kadang diusahakan.[2] Namun hasil dari minat spontan (yang timbul dengan sendirinya) dapat berlangsung lama dan lebih baik dari pada minat yang diusahakan
Minat yang timbul dengan sendirinya (spontan) disebabkan oleh :
1)      Dorongan kodrat (basic drives)
Dorongan kodrat  dibidang biologi misalnya ingin makan, ingin minum dan sebagainya. Dorongan kodrat dibidang psikis misalnya ingin tahu, ingin kenal, dan lain-lain.
2)      Pengalaman yang diperoleh anak (Acquired drives)
Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman yang diperoleh peserta didik tentang suatu mata pelajaran misalnya seorang anak tertarik mata pelajaran bahasa Arab karena sang Ibu berprofesi sebagai ustadzah yang mahir bahasa Arab. 10
Minat memiliki hubungan yang erat dengan motivasi, minat bisa timbul karena motivasi. Oleh karena itu minat juga bisa diartikan dengan kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti, sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebsutuhan sendiri.
Sebagai tenaga pengajar yang baik kita harus menyadari bahwa tidak semua mata pelajaran dapat menarik perhatian murid, sebagaimana juga tidak setiap murid menaruh perhatian yang sama terhadap bahan pelajaran yang sama. Karena itu mutlak diperlukan guru yang kreatif mengembangkan strategi pengajaran dan mampu memberikan gairah pada murid dengan memberikan motivasi yang membangkitkan rasa senang dan dalam mengikuti pelajaran, sehingga membangkitkan minat dan perhatian murid terhadap bahan pelajaran yang diajarkannya.[3]Adapun usaha yang dapat membangkitkan minat adalah sebagai berikut :
1)      Usaha-usaha untuk membangkitkan minat spontan, yaitu :
a.       mengajar dengan persiapan yang baik
b.      Menggunakan alat peraga sebagai media
c.       Mengadakan selingan sehat
d.      mengurangi sejauh mungkin pengaruh-pengaruh yang dapat mengganggu konsentrasi anak.
2)      Usaha-usaha untuk membangkitkan minat yang disengaja
a.       Dengan memberikan pengertian tentang pentingnya  bahan pelajaran yang diajarkan bagi siswa
b.      Berusaha menghubungkan antara apa yang sudah diketahui murid dengan materi yang akan disajikan
c.       Merangsang siswa agar melakukan kompetensi yang sehat dalam belajar
d.      Berusaha menghindarkan hukuman, dan dapat memberikan hadiah secara bijaksana.[4]

c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi minat
Minat bukanlah sesuatu yang timbul begitu saja, melainkan sesuatu yang dipelajari. Hal ini sesuai dengan pendapat Bernard yang mengatakan bahwa timbulnya minat tidak secara spontan atau tiba-tiba, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman dan kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja.[5]
1.      Partisipasi
Keikutsertaan peserta didik dalam suatu pelajaran tertentu lambat laun akan menyebabkan timbulnya minat pada peserta didik tersebut. Misalnya saja seorang peserta didik yang pernah bertanya pada gurunya tentang suatu hal dalam suatu mata pelajaran lalu kemudian mendapat jawaban yang memuaskan, meskipun pada awalnya ia tidak mempunyai minat terhadap mata pelajaran tersebut, lambat laun akibat partisipasi yang dilakukannya tadi akan menumbuhkan minat dalam hatinya karena ia merasakan kepuasan.
2.      Kebiasaan
Kebiasaan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan continue. Minat bisa timbul karena kebiasaan. Kebiasaan disini tentunya berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Bila setiap hari bertemu dan bertatap muka dengan guru dan mata pelajaran tertentu, maka lambat laun bisa tumbuh minat dihati peserta didik terhadap mata pelajaran itu.
3.      Pengalaman
Minat juga bisa timbul karena pengalaman masa lalu, misalnya saja seorang siswa yang sekarang duduk di kelas 2, ketika ia masih duduk di kelas satu dulu ia mampu memperoleh nilai yang memuaskan pada mata pelajaran bahasa Arab, maka ketika sekarang duduk di kelas 2 ia akan berusaha memperoleh nilai yang lebih baik, oleh karena itu ia akan berusaha meningkatkan intensitas belajarnya.
Di samping ketiga faktor diatas, minat juga bisa timbul karena kebutuhan terutama yang ada hubungan atau kaitannya dengan dirinya. Jadi minat tidak dibawa sejak lahir melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan mempengaruhi minat-minat baru. Minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya, hal ini dapat kita lihat dalam proses belajar mengajar. Bila siswa dapat menjawab pertanyaan dari guru atau memecahkan permasalahan masalah yang diajukan, maka ia akan merasa puas dengan demikian akan timbul keinginan untuk mengetahui sesuatu yang baru.
Dorongan ini timbul berkat adanya dorongan ingin tahu pada siswa. Pada mereka yang belum atau tidak dapat menjawab pelajaran itu  atau tidak dapat menyelesaikan masalah yang dihadapkan padanya, akan timbul padanya dorongan untuk bertanya dan meminta jawaban/penjelasan. Walaupun minat terhadap sesuatu hal tidak dapat merupakan hal yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum bahwa minat akan membantu seseorang mempelajarinya, sehingga dapat dikatakan timbulnya minat sangat erat hubungannya dengan kegiatan siswa.
Timbulnya minat belajar pada siswa memerlukan adanya kondisi tertentu yang merupakan persyaratan penting bagi timbulnya minat belajar, hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa persyaratan penting bagi timbulnya minat belajar itu meliputi :
1.      Pelajaran akan menjadi menarik bagi murid jika terlihat adanya hubungan pelajaran dan kehidupan nyata, usaha ini tentu saja akan berhasil jika pelajaran dapat dikaitkan lagi dengan tematik kehidupan murid pada saat itu.
2.      Pengajaran yang menarik harus mempertimbangkan minat pribadi murid.
3.      Pelajaran akan lebih menarik bagi murid jika mereka diberikan kesempatan mengambil sendiri, giat secara mandiri akan memungkinkan mereka dapat meresap bahan-bahan pelajaran tersebut.
4.      Minat si murid akan bertambah jika ia dapat melihat dan mengalami, bahwa dengan bantuan yang dipelajari itu ia dapat mencapai tujuan-tujuan tertentu artinya si murid dapat menerapkan apa yang dipelajarinya.[6]
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa indikator yang menandakan ada tidaknya minat terhadap mata pelajaran bahasa Arab adalah sebagai berikut :
1)      Tertarik untuk mempelajari bahasa Arab
2)      Perhatian yang tinggi dalam mempelajari bahasa Arab
3)      Perasaan senang mempelajari bahasa Arab
4)      Berpartisipasi aktif dalam mempelajari bahasa Arab
5)      Motivasi yang tinggi dalam mempelajari bahasa Arab
d.      Pengukuran Minat
Telah dikemukakan bahwa minat sangat besar andilnya dalam menyukseskan suatu aktivitas, dalam hal ini terhadap mata pelajaran bahasa Arab. Oleh karena itu sangat penting mengukur tinggi rendahnya minat. Dalam hal ini pengukuran minat tidak didasarkan pada perbedaan jenis kelamin melainkan didasarkan pada tinggi rendahnya minat peserta didik terhadap mata pelajaran bahasa Arab.
Menurut Wayan Nurkancana ada beberapa alasan mengapa sekolah atau guru perlu mengadakan pengukuran terhadap minat anak-anak, antara lain sebagai berikut :
a.       Untuk meningkatkan minat anak-anak
b.      Memelihara minat yang timbul
c.       Mencegah timbulnya minat terhadap hal-hal yang tidak baik
d.      Sebagai persiapan untuk memberikan bimbingan kepada anak-anak tentang lanjutan study atau pekerjaan yang cocok baginya.
Adapun cara untuk mengukur tinggi rendahnya minat seperti yang dikemukakan oleh Wayan Nurkancana yaitu dengan  metode observasi, interviu, kuesioner dan inventori.[7]
Masing-masing cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga tidak ada salah satu cara yang paling sempurna. Penulis dalam hal ini mencoba memadukan cara diatas untuk mengukur minat siswa kelas akselerasi di SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta, yaitu dengan memberikan kuisioner atau angket yang disebarkan kepada seluruh siswa kelas akselerasi lalu penulis mengadakan observasi bagaimana minat siswa kelas akselerasi melalui pengajaran didalam kelas, dan yang terahir untuk memadukan hasil yang penulis peroleh dari angket dan observasi penulis juga mengadakan wawancara dengan guru bahasa Arab, Kepala Sekolah, WAKA kurikulum dan dengan siswa kelas akselerasi itu sendiri.
e.       Mata Pelajaran Bahasa Arab
Dalam Jami`Ul Durusul Arabiyah Syekh Mushtafa Alghulayaini menyebutkan bahasa Arab adalah perkataan-perkataan yang diucapkan oleh orang-orang Arab untuk menyampaikan maksud dan tujuan mereka, perkataan itu sampai kepada kita melalui nukilan dan dijaga oleh Al-Qur'an, Hadits serta perkataan yang dapat dipercaya.(Mushtafa Al-ghalayaini,1987:7).
Kenyataan lain, bahwa Bahasa arab dalam fase perkembangannya telah dijadikan bahasa resmi dunia internasional, dan ini sangat menggembirakan bagi kita semua. Maka tidak  berlebihan jika pengajaran bahasa Arab perlu mendapat penekanan dan perhatian seksama, mulai dari tingkat SD sampai pada lembaga pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta, umum maupun agama, untuk digalakkan maupun diajarkan. Hal ini tentu disesuaikan dengan taraf dan perkembangan anak didik
Di lembaga-lembaga pendidikan umum sekarang ini dari Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas bahasa Arab telah menjadi komponen pilihan pokok pengajaran bahasa asing, disamping bahasa Inggris.
Pertumbuhan dan perkembangan Bahasa Arab bisa dilihat dari kemantapan dan keberhasilan Bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun non formal.
Pemantapan disini berkaitan erat dengan status Bahasa Arab dalam kurikulum. Kedudukan Bahasa Arab di pondok-pondok pesantren jelas sangat kuat, dengan status sebagai mata pelajaran pokok dengan jumlah mata pelajaran yang memadai.
Di dalam kurikulum madrasah, status Bahasa Arab cukup mantap, yaitu sebagai mata pelajaran wajib dengan jumlah jam pelajaran yang sejajar dengan jumlah jam pelajaran wajib yang lainnya.
Setelah dikemukakan definisi tentang bahasa Arab serta perkembangannya yang ada pada lembaga pendidikan formal maupun non-formal sampai saat ini, maka pembicaraan lebih lanjut akan mengarah kepada bahasa arab sebagai obyek mata pelajaran di SLTP Muhammadiyah 2 Yogyakarta.
Bagi siswa SLTP Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang  nota bene beragama Islam, bahasa Arab mempunyai hubungan yang erat terutama dengan masalah keagamaan misalnya, pelaksanaan ibadah-ibadah praktis dan Al-Qur`an serta Hadits yang menggunakan bahasa Arab. Untuk itu jika dilihat di atas, ternyata kedudukan Bahasa Arab sangat penting bagi siswa SLTP Muhammadiyah 2 khususnya dan umat Islam umumnya. Namun waktu yang tersedia sangat minim sekali, apalagi di kelas akselerasi yang mempunyai kurikulum dipercepat.




[1] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta: Bina Aksara, 1988),hlm 182.
[2] Drs. Abdurrahman Shaleh, Didaktik Pendidikan Agama, (Jakarta; BULAN BINTANG,1976), hlm.65.
10 Ibid, hlm 66
[3] Drs. M.Basyiruddin Usman, M,Pd. Metodologi Pembelajaran Agama Islam,(Jakarta; Ciputat Pers,2002)Hal.08
[4] Ibid, hal.9
[5] Sardiman AM, “Interaksi dan Motifasi Belajar Mengajar”(Jakarta: CV RAJAWALI, 1990)Hal.76
[6] Sardiman AM, “Interaksi dan Motifasi Belajar Mengajar”(Jakarta: CV RAJAWALI, 1990)Hal.94
[7] Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional,1986), hlm. 232

 
loading...