Home » » Biografi Imam al Ghazali dan Ibn Taimiyah

Biografi Imam al Ghazali dan Ibn Taimiyah


A.    Biografi al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah
1.      Al-Ghazali
a.       Riwayat Hidup
Nama lengkap al-Gaza>li> adalah Abu> H{ami>d Muh{ammad bin Muh{ammad bin Muh{ammad bin Ah{mad al-Gaza>li> al-T{u>si>. Ia dikenal dengan H{ujjatul Isla>m[1] maupun Zain al-Di>n, lahir di kota Gazalah, sebuah kota kecil dekat T{u>s di Khurasa>n pada tahun 450 H/1058 M.[2]
Al-Gaza>li> berasal dari keluarga yang taat beragama dan sederhana. Ayahnya, Muh}ammad, seorang pemintal dan pedagang kain wol di daerahnya. Sepeninggal ayahnya, al-Gaza>li> dititipkan kepada teman ayahnya, seorang sufi besar, bersama saudaranya sambil belajar ilmu agama. Mengingat faktor biaya yang tidak mencukupi, keduanya dimasukkan ke sebuah madrasah di T{u>s. Pada tempat inilah al-Gaza>li> memulai mempelajari fiqh.[3]
Saat usia 20 tahun, al-Gaza>li> belajar kepada Abu> Nas}r al-Isma>’i>l di Jurja>n, sebuah kota di Persia terletak di antara kota Tabristan dan Ni>sa>bu>r. Sekembali darinya, al-Gaza>li> melanjutkan ke Ni>sa>bu>r, dan bertemu dengan Abu> al-Ma’a>li> al-Juwaini> (lebih dikenal Imam H}aramain, w. 478 H.).[4] Selain itu, al-Gaza>li> belajar tasawuf kepada Abu> Ali> al-Fad{l bin Muh{ammad bin Ali> al-Farmaz|i> dan Yu>suf al-Nassaj, dan belajar hadis kepada beberapa ulama, seperti Abu> Sahal Muh{ammad bin Ah{mad al-H{afs}i> al-Marwazi>, Nas}r bin Ibra>hi>m al-Maqdisi>.[5] Selain belajar, ia sudah mulai mengajar dan menulis, diantaranya ilmu fiqih.
Sepeninggal al-Juwani>, al-Gaza>li> meninggalkan Ni>sa>bu>r menuju Mu’askar, bergabung bersama para ulama dan bertemu Niz{a>m al-Mulk. Berkat kecerdasan yang dimilikinya, al-Gaza>li> diangkat menjadi guru besar pada Madrasah Niz}a>miyah tahun 1090 M di kota Bagda>d.[6] Popularitas dan kebahagiaan al-Gazali akhirnya dapat diperolehnya. Namun demikian, baginya tidaklah memberikan ketenangan jiwanya, dan mengakibatkan kegoncangan dalam hatinya.
Oleh karena itu, al-Gaza>li> meninggalkan Bagda>d dan menjalankan sisi kehidupan sufi dan zuhud dunia,[7] dan menuju ke Damaskus. Bagi al-Gaza>li>, tempat tersebut membuatnya merasa nyaman dengan selalu melakukan riya>d{ah dan muja>hadah, dan memotivasi dirinya untuk membersihkan atau mensucikan hati dan mendidik akhlak, salah satunya dengan melakukan rih}lah.[8]
Adapun rih{lah yang dilakukan al-Gaza>li>, dari Damaskus kemudian Baitul Maqdis di Palestina dengan melakukan uzlah dan zikir, dilanjutkan ke kota Khali>li> sambil berziarah ke makam Nabi Ibra>hi>m as. Selanjutnya pergi ke Mesir, Iskandariyah, Maroko, Mekkah dan Madi>nah. Dua kota terakhir inilah sebagai akhir dari rih{lah-nya, sekaligus menunaikan ibadah haji. Saat menunaikan haji inilah, al-Gaza>li> mendapat ilham di bawah naungan Ka’bah dan dijadikannya sebagai pegangan dalam kehidupan sufi.[9]
Kurang lebih sepuluh tahun lamanya mencari ilmu dan ketenangan batin serta hakekat kebenaran, sang H}ujjatul Isla>m, al-Gaza>li> meninggal dunia. Menurut Ibn Asa>kir, ia kembali ke rahmatulla>h pada hari Senin, 14 Juma>dil A<khir 505 H atau 19 Desember 1111 M di T}u>s.[10] Beliau dimakamkan di Pekuburan T{aberran, berdampingan dengan penyair terkenal, Firdausi>.[11]
b.      Latar Belakang Kehidupan
Proses kehidupan seseorang tak lepas dari berbagai faktor, baik sosial, politik maupun kultural. Secara signifikan faktor-faktor ini sangat mempengaruhi kepribadiannya dalam membentuk performance seseorang. Demikian halnya al-Gaza>li> dalam hidupnya, yang akan dijelaskan dibawah ini dengan berusaha menelusuri aspek yang melatarbelakangi kehidupannya.
Pada aspek politik, eksistensi Bani Abbasiyah yang beribu kota di Bagda>d tetap diakui, hanya saja kekuasaan waktu itu terbagi dalam beberapa wilayah secara otonom, Dinasti Saljuk dan Fatimiyah. Kedua dinasti inilah nantinya membawa kejayaan dunia Islam, disintegrasi politik dan perebutan kekuasaan.
Dinasti Saljuk sebagai bagian dari Bani Abbasiyah telah banyak memberikan kontribusi penting bagi dunia Islam. Masa kejayaan dinasti ini diraih saat kekuasaan Wazi>r Niz}a>m al-Mulk.[12] Kesempatan baik pun diperoleh al-Gaza>li> untuk mengembangkan keilmuan melalui institusi pendidikan di Madrasah Niz}a>miyah.
Perselisihan dan perebutan kekuasaan yang terjadi waktu itu, mengakibatkan ketidakstabilan situasi politik dan keamanan serta memberi peluang kelompok lain berusaha merongrong integritas politik dan agama. Oleh al-Gaza>li> dan Ibnu al-Jauzimencontohkan dalam bidang sosial keagamaan, dengan munculnya gerakan Bat}iniyah, sebagai kelompok umat yang berbajukan Islam dan cenderung menolak Islam,[13] berusaha menanamkan fanatisme golongan,[14] dan paham anarkisme sebagai alat propaganda penguasa dan secara negatif melakukan provokasi terhadap aqidah umat dan menggoyang stabilitas politik.
Selain itu, perbedaan persepsi terhadap ajaran agama sebagai salah satu pemicu terjadinya konflik sosial, sehingga memunculkan pengaruh kultural pada ajaran Islam. Pengaruh kultural waktu itu adalah filsafat. Oleh sekelompok orang, filsafat dijadikan sebagai alat propaganda dalam tiap-tiap ajaran aliran di kalangan intelektual.[15] Tak heran, bila antara penguasa dan ulama terjadi ketergantungan positif dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
c.       Aktivitas Keilmuan dan Karyanya
Rih}lah al-‘ilmiyah merupakan salah satu aktivitas ulama setempat dalam menimba ilmu, dengan menjumpai tokoh-tokoh terkemuka. Demikian juga yang dilakukan al-Gaza>li> dalam mengoptimalkan keilmuannya dan mencari hakekat kebenaran.
Pendidikan al-Gaza>li> dimulai dengan belajar al-Qur'an pada ayahnya sendiri yang bekerja sebagai pemintal wol. Sepeninggal ayahnya, al-Gaza>li> dititipkan kepada Ah}mad bin Muh}ammad al-Razi>kani>, seorang sufi besar, dan bersamanya belajar ilmu fiqih, riwayat hidup para rasul dan kehidupan spiritual mereka, juga belajar syair-syair.[16]
Pada tahun 479 H, al-Gaza>li> melanjutkan studinya ke kota Jurja>n dan bertemu Imam Abu> Nas}r al-Isma>’i>li>, kemudian ke Ni>sa>bur menimba ilmu kepada seorang teolog Asy’ariyah, Abu> al-Ma’a>li> al-Juwaini> (Ima>m al-H}aramain).[17] Menurut Ibn Khalikan, bersamanya ia belajar ijtihad dan menguasai berbagai persoalan dan cabang ilmu.[18] Setelah Imam al-H}aramain meninggal dunia, al-Gaza>li> pergi ke Mu‘askar dan memperoleh kesempatan dari Niza>m al-Mulk untuk mengabdikan ilmunya di Madrasah Niz}a>miyah di Bagda>d.[19]
Aspek Intelektualitas dan peran al-Gaza>li> di lembaga keilmuan dan struktural menjadikanya terkenal di penjuru wilayah. Namun demikian, tidaklah memberi arti bagi ketenangan jiwanya, meski dengan segala aktivitas ilmiah dan kemewahan dunia. Oleh karena itu, dirinya berusaha melawan hawa nafsu, merubah sifat akhlak dan melawan setan kebodohan dan mencari jalan ketenangan jiwa untuk mengharap nu>r musya>hadah dengan segenap kemurnian hatinya.[20] Perasaan ragu inilah membuat al-Gaza>li> termotivasi untuk melakukan rih}lah dari satu tempat ke tempat lain, guna mencari ketenangan jiwa dan hakekat kebenaran.
Rih}lah yang dilakukan al-Gaza>li> dimulai dengan berkhalwat di Masjid Damaskus hingga ke Mekkah dan Madinah. Usaha yang dilakukan dalam rangka mencari sebuah pegangan dan ketenangan jiwa. Akhirnya, al-Gazali mendapatkan ilham saat menunaikan ibadah haji. Proses yang dialaminya ini dijadikan sebagai pegangan dalam "paham Sufi" dan kehidupan spiritualitasnya, serta mengembangkannya di akhir hidupnya.
Adapun karya-karya al-Gaza>li> terbilang banyak jumlahnya, yang meliputi berbagai keilmuan yang telah dikuasainya. Karya al-Gaza>li> yang masih dikenal hingga saat ini, diantaranya Kitab Ih}ya>' Ulu>m al-Di>n dan al-Mustasfa' min Ilm al-Us}u>l.Karya-karya  al-Gaza>li> yang telah ditulisnya, antara lain :
a.       Dalam bidang Akhlak dan Tasawuf : Ih}ya>' Ulu>m al-Di>n (Menghidupkan Ilmu-Imu Agama, Minhaj al-'A<bidi>n (Jalan Orang-orang yang Beribadah), Kaimiya> al-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan), al-Munqi>z} min al-D}ala>l (Penyelamat dari Kesesatan), Akhla>q al-Abra>r wa al-Najah} min al-Asyra>r (Akhlak Orang-orang yang Baik dan Keselamatan dari Kejahatan), Misykah al-Anwa>r (Sumber Cahaya), Asra>r 'Ilm al-Di>n (Rahasia Ilmu Agama), al-Dura>r al-Fa>khirah fi> Kasyf 'Ulu>m al-A<khirah (Mutiara-mutiara yang Megah dalam Menyingkap Ilmu-ilmu Akhirat), dan al-Qurbah ila> Alla>h 'azza> wa Jalla> (Mendekatkan Diri kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung);
b.      Dalam bidang Fiqh : al-Basi>t} (Yang Sederhana), al-Wasi>t} (Yang Pertengahan), al-Waji>z (Yang Ringkas), al-Zari'ah ila> Maka>rim al-Syari>'ah (Jalan Menuju Syari'at yang Mulia), dan al-Tibr al-Masbu>k fi> Nas}I>h}ah al-Muluk (Batang Logam Mulia: Uraian tentang Nasihat kepada Para Raja);
c.       Tentang Us}u>l Fiqh : al-Mankhu>l min Ta'li>qa>t al-Us}u>l (Pilihan yang Tersaring dari Noda-noda Usul Fiqh), Syifa>' al-Gali>l fi> Baya>n al-Sya>bah wa al-Mukhi>l wa al-Masa>lik al-Ta'li>l (Obat Orang yang Dengki: Penjelasan Tentang Hal-hal yang Samar serta Cara-cara Pengilatan), Tahz|I>b al-Us}u>l (Elaborasi Terhadap Ilmu Usul Fiqh), dan al-Mustasfa>' min 'Ilm al-Us}u>l (Pilihan dari Ilmu Usul Fiqh);
d.      Tentang Filsafat : Maqa>s}id al-Fala>sifah (Tujuan Para Filosof), Tah}a>fut al-Fala>sifah (Kekacauan Para Filosof), dan Mi>za>n al-'Ama>l (Timbangan Amal);
e.       Tentang Ilmu Kalam  : al-Iqtis}a>d fi> al-I'tiqa>d (Kesederhanaan dalam Beri'tikad), Filsafat al-Tafri>qah bain al-Isla>m wa al-Zandaqah (Garis Pemisah Antara Islam dan Kezindikan), dan al-Qist}a>s al-Mustaqi>m (Timbangan yang Lurus);
f.       Tentang Ilmu al-Qur'an : Jawa>hir al-Qur'a>n (Mutiara-mutiara al-Qur'an) dan Yaqut al-ta'wi>l fi> Tafsi>r al-Tanzi>l (Permata Takwil dalam menafsirkan al-Qur'an).[21]

d.      Karakter Pemikiran al-Gaza>li>
Secara garis besar ada dua karakter pemikiran al-Gaza>li>. Pertama, bersifat filosofis dan kedua, bersifat mitis. Berdasar dua hal tersebut, orang boleh mempunyai pandangan yang berbeda, apakah filosofis ataukah seorang mistikus. Kalau mengkaji melalui gerbang karyanya Maqa>s}id al-Fala>sifah, Tah}afut al-Fala>sifah, dan Mi‘ya>r al-Ilm orang akan mengambil kesimpulan bahwa al-Gaza>li> adalah seorang filosuf. Tapi, kalau menelusuri pemikirannya melalui Ih}ya>' Ulu>m al-Di>n, al-Munqiz\ min al-D}ala>l, maka akan berkesimpulan bahwa dirinya adalah seorang mistikus tulen.[22]
a.       Pemikiran Filosofis
Karya pertama al-Gazali dalam bidang filsafat adalah Maqa>s}id al-Fala>sifah. Dalam karya tersebut, al-Gaza>li> menjelaskan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh para filosof Yunani, dengan bahasa yang mudah dipahami dan susunannya yang sistematis.[23] Oleh karena itu, karya ini merupakan tulisannya tentang filsafat Yunani secara deskriptif obyektif dan tidak ada tendensi politis dan ideologis apapun.
Sedangkan dalam karya Tah}afut al-Fala>sifah, al-Gaza>li> mengemukakan tiga hal yang menyebabkan kekafiran. Pertama, tentang keyakinan filosof bahwa alam itu qadim. Kedua, mengenai keyakinan mereka bahwa Tuhan itu tidak mengetahui hal yang particular, dan ketiga, mengenai keyakinan bahwa yang  dibangkitkan pada hari nanti adalah jasad an sich.[24] Dengan demikian, karya ini bisa dipandang sebagai sebuah karya yang berpretensi menghancurkan reputasi filosof di mata umat, karena adanya kerancuan pemikiran mereka sehingga bertentangan dengan akidah yang benar.[25]
b.      Pemikiran Mistis
Dalam memahami pemikiran mistis al-Gaza>li>, orang-orang dapat merujuk pada kitab Ih}ya>' Ulu>m al-Di>n. Selain itu, merujuk pada kitab Munqiz\ min al-D}ala>l. Dalam kitab ini al-Gaza>li> menjelaskan bahwa dirinya mempelajari tasawuf dan berhasil mencapai tingkat pengetahuan yang tidak mungkin dapat dicapai  dengan belajar saja, melainkan dengan perasaan (z\auq) dan menyelami kehidupan sufi.[26]
Berkenaan dengan persoalan tauhid, al-Gaza>li> mengklasifikasikan tauhid menjadi empat tingkatan, yang dikupas dalam al-fana> fi> al-tauh}i>d. Maksud keempat tingkatan tauhid tersebut adalah, pertama, tauhid yang berwujud ucapan seseorang bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kedua ketauhidan yang diikuti dengan pembenaran hati atas apa yang diucapkan. Ketiga, melalui jalan kasyf seseorang dapat melihat sesuatu yang beraneka ragam, yang bersumber dari Tuhan yang satu, dan keempat, merupakan tingkatan seseorang yang tidak melihat dalam wujud kecuali melihat Tuhan saja. Hal ini disaksikan oleh para s}ddi>qi>n dan para sufi menyebutnya dengan al-fana' fi> al-tauh}i>d.[27] Persoalan lain yang mempunyai keterkaitan erat dengan pemikiran mistis al-Gaza>li> tentang zuhud dan ma‘rifat.
Menurut al-Gaza>li>, bahwa dalam zuhud terdapat tingkatan, yaitu zuhud yang didorong oleh rasa takut terhadap api neraka dan semacamnya, zuhud yang didorong oleh motif untuk mencari kenikmatan hidup di akhirat, dan zuhud yang didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari memperhatikan hal selain Allah.[28]
Hal-hal yang menjadi perhatian dan perlu digarisbawahi adalah masa al-Gaza>li> dan karya-karya yang telah dihasilkan selama kehidupannya. Pada masa mudanya mencerminkan kuatnya logika yang digunakan, sehingga tidak heran ia dapat menulis kitab filsafat dan kitab fiqih yang berjudul al-Mus}tasfa> fi ‘Ulu>m al-Us}u>l yang cenderung mempunyai pola pikir yang normativ. Berbeda dengan karya-karyanya di akhir usianya yang lebih kental nuansa tasawufnya, seperti Ih}ya>' Ulu>m al-Di>n.
e.       Pengaruh al-Gaza>li> di Dunia Islam dan Luar Dunia Islam
Al-Gaza>li> dikenal sebagai ulama yang memiliki pemikiran dan kapabilitas keilmuannya yang tidak diragukan, sehingga diakui sebagai seorang pemikir yang paling berpengaruh sepanjang zaman. Karya-karya yang telah dihasilkan menjadi sumber pokok bagi penyebaran kebudayaan dan peradaban Islam.
Hal ini dibuktikan dengan pemikiran al-Gaza>li> yang pada setiap pembahasannya dikaji secara mendalam dan dianalisis secara komprehensif berdasarkan al-Qur'an, Hadis Nabi, perkataan para sahabat ataupun para tabi'in. Kesemuanya ini telah menjadi ciri dan bentuk (model) pemikirannya.[29]
Pengaruh pemikiran al-Gaza>li> yang telah menyebar hingga kini dapat diterima oleh umat. Sebab keterpengaruhannya bukan saja terletak pada ketinggian keilmuannya, keberaniannya menentang berbagai aliran sesat, tapi kekharismaan pada diri al-Gaza>li> yang terbentuk atas proses usahanya dalam mencari nur ila>hiyah dan kebenaran haqi>qi>. Hal ini sebagai implikasi dari kewara'-an al-Gaza>li> dalam hal keduniaan, riya>d}ah dan muja>hadah-nya serta perjalanannya dalam mencari keyakinan dan pendekatan dirinya kepada Allah SWT. Semua ini menjadikan pribadi al-Gaza>li> sebagai figur yang sangat berpengaruh, baik di kalangan umat Islam maupun non-Islam.[30] Lebih lanjut, pemikiran al-Gaza>li> juga berpengaruh secara mendalam, baik dalam nalar umat dan pemikiran Islam itu sendiri maupun aspek epistemologi di dunia Islam secara universal.
Ada faktor lain yang mempengaruhi ketenaran dirinya, yaitu resep ikhlas.[31] Yu>suf Qard}a>wi> mengungkapkan bahwa al-Gaza>li> telah mempengaruhi akal dan hatinya secara mendalam. Seringkali terjadi, di saat membaca kitab Ih}ya>' Ulu>m al-Di>n, muncul perasaan hangat dari ikhlas pengarangnya hingga menyentuh seluruh relung tubuh, air mata pun mengalir, hati menjadi khusu'. Menurutnya, hal tersebut sebagai akibat atau imbas dari keikhlasan pengarang kepada Allah.[32] Inilah salah satu keistimewaan al-Gaza>li>.
Pengaruh al-Gaza>li> yang tidak kalah pentingnya adalah dalam pemikiran tasawufnya. Pemikiran tasawufnya telah dianggap final oleh pengikutnya, tanpa ada kajian ulang dan telah kritis. Selain itu, melihat sisi al-Gaza>li> sebagai “produk pemikiran” filosofis dan keagamaan yang final dan taken for granted dan tidak menempatkannya sebagai “produk pemikiran” keagamaan yang mengitarinya dan tantangan zaman yang dihadapinya. Salah satu pengaruh tersebut dibuktikan dengan karyanya, Kitab Ih}ya>’ Ulu>m al-Di>n yang hingga kini tetap menjadi kajian penting dalam bidang tasawuf. Pengaruh tasawuf dan filsafatnya, yang senantiasa mengemukakan hadis-hadis yang mendorong umat Islam dapat menggerakkan jiwanya untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Selain itu, pengaruh al-Gazali juga tersebar luas di wilayah Barat. Menurut Palacios, pengaruh al-Gazali tampak jelas pada para ahli teologi Yahudi yang banyak bersandar padanya dalam banyak pendapat mereka. Palacios menyebutkan bahwa dalam buku-buku mereka terdapat paragraf-paragraf Imam al-Gaza>li>, bahkan menukil beberapa halaman dari kitab al-Gaza>li>, seperti Maqa>s}id al-Fala>sifah, Tah}afut al-Fala>sifah, al-Munqiz min al-D}ala>l, al-Mi>za>n al-‘Amal. Pemikiran ini terjadi setelah penterjemahan kitab tersebut di abad XIII, guna membentuk para filosof. Mereka mulai menyebarkan kitab-kitab di Eropa dan sambutannya cukup luas. Lebih dari itu, tokoh-tokoh barat, seperti Latov, Schmoelder, de Field menaruh perhatian besar terhadap pemikiran al-Gaza>li>, sehingga banyak karyanya yang diterjemahkan. Bahkan kajian tentang al-Gaza>li>, di Eropa Timur tidak kurang banyaknya. Hernandes, seorang orientalis Spanyol mengatakan bahwa terdapat + 40 kajian yang membahas aspek kehidupan dan pemikirannya serta dampak terhadap pemikiran Islam maupun Eropa.[33]
Pengaruh al-Gaza>li> di luar Islam lainnya, ia dikenal sebagai “penyelamat” warisan budaya intelektual muslim, di tengah-tengah akulturasi pemikiran Yunani dan Islam. Menurut Alfred Guillaume, bahwa kaum kristen Barat mengenal Aristoteles melalui Avicenna, al-Farabi, Alghazel, yang sebagian besar bergantung pada info dan sumber Arab dan Eropa memberikan perhatian begitu besar terhadap karya al-Gaza>li> serta menyimpannya sebagai kekayaan kesusastraan dan filosofi yang tinggi nilainya itu. Profesor Gozhi dari Jerman juga menulis sebuah tulisan tentang al-Gaza>li> yang diterbitkan di Berlin tahun 1858. Ia mengutip beberapa halaman dari buku al-Gaza>li>.[34]
Khusus Kitab Ih}ya>' Ulu>m al-Di>n mempunyai nilai dan pengaruh di kalangan ahli psikologi. Sebab dalam kitab tersebut membahas akhlak yang mempunyai motif serta adanya dampak yang ditimbulkan. Oleh para ahli dan peminat psikologi kitab dan kajian ini dijadikan sebagai rujukan.[35]
2.      Ibnu Taimiyah
a.       Riwayat Hidup
Nama lengkap Ibnu Taimiyah adalah Taqi' al-Di>n Abu> al-'Abba>s Ah}mad ibn al-Syaikh Syiha>b al-Di>n 'Abd al-H}ali>m ibn Abu> al-Qa>sim ibn Taimiyah al-H}arra>ni.[36] Beliau lahir pada hari Senin, tanggal 10 Rabi>’ al-Awwal 661 H atau 22 Januari 1263 M, di Harran.[37]
Sebenarnya Taimiyah[38] adalah nama keluarga, namun tidak diketahui apakah berasal dari Arab atau bukan, dan ini dimungkinkan sekali berasal dari suku Kurdi. Ibnu Taimiyah sendiri berasal dari keluarga yang cerdik dan pandai serta terkemuka. Terbukti peran ayahnya, kakek dan pamannya turut membantu proses pembentukan jati dirinya, [39] dan tumbuh di saat umat Islam dalam kondisi kritis dan kehilangan psychological striking force.[40]
Sementara itu, di Damaskus telah berdiri sebuah lembaga pendidikan Hanbali yang terkenal.[41] Lembaga ini menjadi jembatan bagi Ibnu Taimiyah untuk ikut berpartisipasi aktif di dalamnya. Terbukti di usia 21 tahun, ia mendapat tanggungjawab untuk menggantikan kedudukan ayahnya di lembaga tersebut. Setahun kemudian, jabatan guru besar hadis diserahkan kepada dirinya, dan dalam waktu yang singkat namanya terkenal melebihi ahli-ahli hadis lainnya waktu itu.[42]
 Sejak saat itu, Ibnu Taimiyah aktif berceramah, berfatwa dan memberikan nasehat, baik kepada siswa, sahabat maupun ulama sekitarnya. Usaha yang dilakukan dalam rangka menghidupkan kembali semangat Nabi dan para sahabat dengan ide dasar praktek-praktek Islam yang murni, yang belum terkontaminasi oleh ide-ide asing dan bid’ah. Akan tetapi, perjuangan yang dilakukan Ibnu Taimiyah senantiasa membawa rangsangan, kekaguman dan tantangan, sehingga memunculkan golongan yang berusaha mendukung dan menentangnya. Bagi pengikutnya, menganggapnya sebagai seorang ahli yang sangat dipercaya. Berbeda dengan penentangnya yang berusaha mencela dan merendahkan dirinya, menganggap ide-idenya kosong belaka dan mempertanyakan keyakinannya.[43]
Akibat lain yang muncul adalah perselisihan antara Ibnu Taimiyah dengan para “ulama”, dikarenakan pendapatnya seringkali berlawanan dengan keyakinan-keyakinan dan praktek-praktek yang berdasarkan al-Qur’an, Sunnah dan praktek-praktek salaf al-s}a>lih}  saat itu. Selain itu, perselisihan di kalangan pemerintah, yang hanya mementingkan kepuasan dan keinginan pribadinya, dan juga memunculkan terjadinya pergolakan agama dan sosial. Hal ini dapat dicontohkan, pada tahun 698 H/ 1298-1299 M merupakan titik awal terjadinya perselisihan. Munculnya al-Risa>lah al-H}ama>wiyyah,[44] merupakan sebagai salah satu bentuk dari perdebatan dan perselisihan antara Ibnu Taimiyah dan para fuqaha.
Perdebatan terhenti beberapa bulan akibat serangan pasukan Mongol. Kemudian, berlanjut dengan alasan, yaitu adanya kecemburuan dan prasangka negatif atas popularitas Ibnu Taimiyah diperoleh di bidang yudikatif dan pendidikan. Selain itu, sikap Ibnu Taimiyah yang benci terhadap bid’ah dan berusaha memerangi tokoh-tokoh mistik beserta ide-idenya. Adanya tuduhan terhadap Ibnu Taimiyah dan orang yang bermazhab H}anbali sebagai tokoh anthropomorfis (mujassimah) serta sikapnya yang keras yang terkadang membuat hati dan telinga orang lain panas.[45]
Keseluruhan sebab di atas berimplikasi pada kehidupan Ibnu Taimiyah. Beliau dikenal sebagai tokoh terkemuka, tapi banyak dimusuhi oleh para “ulama” dan pejabat pemerintah. Hakekatnya ia menciptakan kekuatan dahsyat yang menghantam dirinya dan menjadikannya sebagai korban permusuhan. Konflik yang tak henti-hentinya menjadikan keberanian seorang Ibnu Taimiyah tetap memerangi kepalsuan dan bid’ah. Kesabaran dan ketabahannya (patience and endurance) yang secara natural telah membekas dalam dirinya, dan berusaha merefleksikannya dalam aspek kehidupan.[46] Maka tak heran bila kehidupan Ibnu Taimiyah dilaluinya dengan perjuangan, pergolakan, kegelisahan dan “penyiksaan”.
Mengingat kontroversialnya dalam memberikan fatwa, dirinya sering di penjara dan terakhir kalinya pada tanggal 13 Juli 1326 hingga wafatnya. Lima tahun sebelum penahanannya, Ibnu Taimiyah aktif mengajar dan memberi ceramah di Madrasah H}anbaliyah maupun di Madrasah Sukkariyah.[47] Selama di tahanan, Ibnu Taimiyah juga aktif mengajar, menulis atau merevisi buku-bukunya dan mampu menyelesaikan karya besarnya, Kitab Tafsir.[48]
Pada tahun 728 H/ 1328 M, Ibnu Taimiyah dilarang menulis dan memberi fatwa, sehingga seluruh berkas-berkasnya diambil dan dikirim ke perpustakaan al-Adiyah al-Kubra>.  Meskipun demikian, aktifitas menulis terus dilakukan dengan batu arang.[49] Siksaan batin yang sangat dirasakan olehnya ketika seisi ruangan diambil semua, dan menyebabkan dirinya sakit dan meninggal dunia.[50]  
Menurut Syaikh Zain al-Di>n ‘Abd al-Rah}ma>n, bahwa Ibnu Taimiyah telah mengkhatamkan al-Qur’an delapan puluh kali. Ketika sampai pada ayat :
إِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنَّتٍ وَنَهَرٍ. فِيْ مَقْعَدٍ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah meninggal dunia pada tanggal 20 Z\ulh}ijjah 728 H atau 26 September 1328 di usia 67 tahun[51] dan dimakamkan di pemakaman al-S}u>fiyyah, [52] bersebelahan dengan saudaranya, Syarafuddi>n Abdulla>h.
b.      Latar Belakang Kehidupan
Latar belakang dan perjalanan hidup Ibnu Taimiyah memiliki ciri dan karakter tersendiri. Hal ini sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat itu, baik politik, sosial, ekonomi maupun pendidikan. Di bawah ini akan dijelaskan aspek-aspek yang menjadi pengaruh pada diri Ibnu Taimiyah. 
Pertama, keadaan politik. Saat Ibnu Taimiyah lahir imperium Mongol telah menguasai Mesir, Syiria, Libanon dan Pelestina. Tiga tahun sebelum lahir, saat memasuki Damaskus dan Aleppo, mereka menguasai dan menjarah kota H}arra>n sehingga masyarakat setempat berusaha mengungsi dan mencari perlindungan ke tempat lain.
Selain itu, Islam dihadapkan pada serangan dari berbagai penjuru. Arah timur dari pasukan Mongol, arah barat dari tentara Salib dan dari internal Islam sendiri, yakni permusuhan politik antar penguasa yang disertai timbulnya persengketaan antar sekte-sekte Islam itu sendiri.[53] Pengaruh internal ini berakibat munculnya bayang-bayang prasangka negatif, fanatisme dan  taqlid.
Kedua, kondisi sosial. Masyarakat dibagi dalam beberapa lapisan, yaitu bangsa Mamluk (keturunan penguasa), ahl al-ima>mah (kaum serbanan) yang bekerja di kantor pemerintah, pedagang dan penguasa serta para buruh, perajin dan kaum miskin.[54]
Ketiga, kondisi intelektual dan pendidikan. Lingkungan pergaulan masyarakat disibukkan dengan menuntut ilmu dengan melakukan rihlah ke berbagai daerah, sehingga dinamika ilmu pengetahuan berkembang pesat. Bukti ini ditunjukkan dengan Mesir dan Syria dikenal sebagai kota yang banyak dikunjungi oleh orang-orang yang datang dari berbagai penjuru untuk menuntut ilmu, dan terkenal sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan lembaga pendidikan.[55] Keempat, kehidupan ekonomi. Kesuksesan pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang makmur tergantung dari sisi kehidupan ekonomi dan pertahanan negara. Usaha yang dilakukan pemerintah dengan menggali segenap sumber-sumber kesejahteraan, mengembangkan pertanian, perdagangan dan industri.[56]
c.       Aktivitas Keilmuan dan Karyanya
Ibnu Taimiyah dibesarkan dalam lingkungan intelektual, yang mayoritas menekuni bidang-bidang keilmuan, dan kondisi revolusi yang panas akibat invasi pasukan Mongol.
Faktor keluarga juga mempengaruhi intelektualitas Ibnu Taimiyah. Ia terlahir dari keluarga yang cerdik-pandai dan terkenal dalam berbagai keilmuan. Tidak heran bila ia mampu menyerap berbagai ilmu tidak hanya al-Qur'an, hadis, dan fiqh, tapi ahli dalam matematika, sejarah, sastra, hukum, mantiq dan filsafat. Cabang studi yang paling penting oleh Ibnu Taimiyah curahkan adalah teologi (Aqa>id).[57]
Selain memperoleh ilmu dari keluarganya, juga menerima dari tokoh-tokoh agama terkemuka, diantaranya Syams al-Di>n Abd al-Rah}ma>n bin Muh}ammad al-Maqdisi>, seorang faqih terkenal dan hakim agung pertama dari maz|hab H}anbali> di Syiria.[58] Selain itu, Muhammad bin Abd al-Qawi> bin Badrun al-Maqdisi> al-Mardawi> (603 – 699 H), al-Manja' bin 'Us|ma>n bin Sa'ad al-Tanawukhi (631 – 695 H) dan mendapat ilmu tentang hadis dari seorang ulama wanita bernama Zainab bint Makki>.[59]
Berbagai ilmu yang telah diserap oleh Ibnu Taimiyah dapat diabadikan oleh murid-muridnya. Ini dilihat dari jumlah murid Ibnu Taimiyah sangat banyak dan tersebar dari Syiria ke Mesir, Kairo ke Alexandria dan sampai ke India. Di antara mereka yaitu Ibn al-Qayyim  al-Jauziyah, Syams al-Di>n Abu> Abdulla>h Muh}ammad al-Z|ahabi>, Ima>d al-Di>n Isma>'i>l bin Umar bin Kas|i>r al-Bas}ari>, Muh}ammad bin Ah}mad bin Abd al-Ha>di> al-Maqdisi>, Syarf al-Di>n bin al-H}usain al-Masyhu>r, Ibn Muflih}, dan al-Mizzi>.[60]  Salah satu muridnya yang terkenal dan menjadi penulis besar adalah Ibn al-Qayyim  al-Jauziyah.
Aktivitas ilmiah yang dilakukan Ibnu Taimiyah adalah menulis, berdakwah dengan menyampaikan lembaran pamflet – himbauan, saran maupun kritikan. Selain itu, menjadi mufti dan tahun 682 H/ 1284 M sebagai direktur Da>r al-H}adi>s| al-Sukkariyah dan pertama kalinya memberikan kuliah umum tafsir di Masjid Raya Damaskus, juga di perguruan tinggi al-Ami>n dan Madrasah al-Sali>niyyah di Mesir.[61]
Sekitar tahun 683 H – abad XIII Masehi – Ibnu Taimiyah diakui sebagai Syaikh al-H}adi>s| di Da>r al-H}adi>s|. Meskipun keilmuannya secara esensial berpijak pada teologi dan hukum, pengetahuannya di bidang hadis dan tafsir oleh Muh}ammad bin Ah}mad H}anbali mempunyai penilaian tersendiri terhadapnya :
"Ibnu Taimiyah mempunyai pengetahuan yang luas mengenai ilm rija>l al-h}adi>s| (mengenai perawi, kecacatan, adil, derajat, segi nilai-nilai hadis, sanad yang 'a>li> maupun na>zil, s}ah}i>h} maupun lemah) yang memperlihatkan matan-matannya yang jarang didapat oleh orang lain. Segala hadis yang termuat dalam kutub al-Sittah al-Musnad, tidak terlepas dari penilaian itu semua, sehingga dikatakan bahwa "setiap hadis yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah bukanlah hadis"… Dalam bidang tafsir, serahkan padanya dalam menjelaskan ayat sebagai dalil. Begitu menakjubkan, memiliki daya ingatan yang begitu mengherankan".[62]

Menurut Abu> Zahrah[63] dalam bukunya menjelaskan bahwa sejak kecil hingga menjadi ulama terkenal, telah mempunyai kecerdasan dan daya hafal yang luar biasa. Selain itu, kemauan yang keras dan tekun dalam belajar, serta cermat dalam memecahkan masalah dan bebas dalam berpikir merupakan bagian penting yang ada dalam dirinya.
Pergolakan, perdebatan dan penyiksaan batin dalam hidupnya mampu menghasilkan berbagai karya. Oleh muridnya, Ibn Qayyim al-Jauziyah bahwa karya Ibnu Taimiyah kurang lebih 350 karya, diantaranya:
a.       Studi Qur'an dan Tafsir, meliputi al-Tabya>n fi> Nuzu>l al-Qur'an, Tafsir surat al-Nu>r, Tafsi>r al-Mu'awid}atain (chapter 113 and 114), Tafsi>r Su>rat al-Ikhla>s} (chapter 112) dan Muqaddimah fi> Us}u>l al-Tafsi>r.
b.      Fiqh (Hukum Islam), diantaranya Majmu>'a>t al-Fata>wa> al-Kubra> 5 volumes, Majmu>' Fata>wa> Ibnu Taimiyah. 37 volumes dan al-Qawa>'id al-Nu>ra>niyah al-Fiqhiyah, Kita>b Mana>sik al-Hajj, Risa>lah fi> al-'Uqud al-Muh}arramah, Kita>b al-Farq al-Mubi>n baina al-T}ala>q wa al-Yami>n, Kita>b fi> Us}u>l al-Fiqh, Risa>lah fi> Raf al-H}anafi> Yadaihi fi> al-S}ala>h, Risa>lah fi> Suju>d al-Sahw dan Mas'alat al-H}alf bi al-T}ala>q.
c.       Ilmu Tasawuf, diantaranya al-Furqa>n baina Auliya>' al-Rah}ma>n wa-Auliya>' al-Syait}a>n, Amra>d al-Qulu>b wa Syifa>'uha>, al-Tuhfah al-'Ira>qiyah fi> A'ma>l al-Qulu>b, al-'Ubu>diyah, al-Risa>lah al-Tadmu>riyah, Dara>jat al-Yaqi>n, Bughyat al-Murtad (al-sab'iniyah), Ibt}a>l Wahdat al-Wuju>d, al-Tawassul wa al-Wasi>lah, Risa>lah fi> al-Sama' wa al-Raqs dan al-'Iba>dat al-Syar'iyah.
d.      Ushuluddin dan Ilmu Kalam, meliputi Risa>lah fi> Us}u>l al-Di>n, Risa>lah fi> al-Ihtija>j bi al-Qadar, Jawa>b Ahl al-'Ilm wa al-I<ma>n, al-Ikli>l fi> al-Mutasya>bih wa al-Ta'wi>l, al-Risa>lah al-Madaniyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah fi Naqd Kala>m al-Syi>'ah al-Qadariyah, al-Muntaqa> min Akhba>r al-Mus}t}afa>, Syarh} al-'Aqi>dah al-As}fah}aniyah, Ma'a>rij al-Wus}u>l ila> Ma'rifat anna Us}u>la al-Di>n wa Futu>'ahu qadd bayyanaha> al-Rasu>l, Aqwa>mu ma> qi>la fi> al-Masyi>'ati wa al-H}iki>nati wa al-Qada'i wa al-Qadari wa al-Ta'li>li wa Butla>ni al-Jabri wa al-Ta'ti>l, Risa>lah fi> al-Qada'i wa al-Qadar, Kita>b al-I<ma>n, al-Furqa>n baina al-Haqqi wa al-Ba>t}il, al-Was}iyah al-Kubra>, Naqd Ta'si>s al-Taqdi>s, dan al-Radd 'ala> al-Nusairiyah.
e.       Ilmu Mantiq dan Filsafat, diantaranya al-Radd 'ala> al-Mant}iqiyyi>n, al-Risa>lah al-S}afa>diyah, Naqd al-Mant}iq dan al-Risa>lah al-'Arsyiyyah.
f.       Akhlak, Politik dan Sosiologi, meliputi al-H}asanah wa al-Sayyi'ah, al-Wasiyyah al-Jami'ah li Khair al-Dunya> wa al-A<khirah, Syarh} H}adi>s| "Innama> al-A'ma>lu bi al-Niyya>t", al-Siya>sah al-Syar'iyyah fi> Is}la>h al-Ra>'i wa al-Ra>'iyah, al-H}isbah fi> al-Isla>m, al-Maz}a>lim al-Musytarakah dan al-Syatranj.
g.      Tanggapan terhadap Pengikut Agama Lain, diantaranya al-Jawa>b al-S}ah}i>h} li-man Baddala Di>na> al-Masi>h, al-Radd 'ala> al-Nas}a>ra>, Takhji>l Ahl al-Inji>l, al-Risa>lah al-Qubrusiyyah, dan Iqtida>' al-S}ira>t} al-Mustaqi>m Mukha>lafat Ash}a>b al-Jahi>m.
h.      Hadis, seperti Ah}a>di>s| al-Qus}s}as.

d.      Alam Pikiran Ibnu Taimiyah
Berdasarkan riwayat hidup dan perjuangan Ibnu Taimiyah, ia termasuk pemikir cemerlang, mempunyai pandangan jelas tentang ajaran, bagaimana ajaran itu harus dihayati. Ia menganggap bahwa ajaran dan nilai syari'ah harus diikuti dan mencela dengan keras bagi yang menyeleweng.
Bentuk ini mencirikan pemikiran Ibnu Taimiyah bersifat salaf (tradisionis) dan menganut sistem pemikiran ahl sunnah wal jama>'ah, terutama Ah}mad bin H}anbal dan tokoh mazhab lainnya.[64] Sebagai penganut salaf, ia percaya bahwa syari'at dan aqidah serta dalil-dalil yang ditunjukkan oleh nas} merupakan wahyu dari Allah. Ini merupakan pencerminan Islam sebagai sistem ajaran yang konsekuen, diberikan kepada manusia melalui utusan-Nya, dan dapat diimplementasikan dalam aspek kehidupan manusia.
Orientasi yang hendak diwujudkan dalam ajaran atau pemikiran salaf ini adalah upaya pembaharuan (tajdi>d) yang mencakup empat aspek.
Pertama, pembaharuan di bidang aqidah dan penolakan terhadap tradisi syirik. Kedua, kritik terhadap logika filsafat, ilmu kalam dan mengunggulkan metode pengambilan dasar al-Qur'an dan Sunnah atas segala metode pengambilan hukum dan gaya bahasa yang ada. Ketiga, sanggahan terhadap sekte-sekte non Islam, meluruskan aqidah-aqidah, tradisi-tradisi dan pengaruhnya, dan keempat, pembaharuan dalam disiplin ilmu agama dan membangkitkan kembali pemikiran agama.[65]
Pada aspek tauhid, Ibnu Taimiyah sangat gigih memberantas dari berbagai kebid'ahan dan khurafat, seperti adanya campur tangan kalam, filsafat, sufisme metafisik sampai pada amalan sehari-hari, antara lain ziarah kubur, istiga>sah dan lain-lain. Sehingga dalam karya-karyanya (tentang tauhid) memunculkan keprihatinan tentang hubungan al-Kha>liq dan al-makhlu>q, hubungan sang pencipta dan alam semesta. Sesudah zaman salaf, muncul berbagai pendapat keliru dari umat Islam yang bertentangan dengan ajaran s}a>lih}. Aliran kalam, termasuk Mu'tazilah dan Asy'ariyah serta para filosof Islam jatuh ke dalam kesalahan ta't}il, dan kaum sufi beserta Syi'ah berbuat tasybih.[66] Oleh karena al-Qur'an dan hadis merupakan sumber acuan yang di dalamnya terdapat ajaran s}a>lih}.
Kritik dan penolakannya terhadap logika dan filsafat Yunani terletak pada konsep al-Tajri>bah (eksperimentasi). Menurut ahli mantiq, pengalaman orang lain tidak dapat dijadikan argumen kecuali bagi yang mengalaminya. Bagi Ibnu Taimiyah, jika argumen logika ini diterima maka waktu yang menjadi sumber kebenaran yang diyakini benar dari Allah SWT.[67]
Secara umum alur pemikiran Ibnu Taimiyah dapat diketahui bahwa menurutnya akal pikiran amatlah terbatas. Dalam menafsirkan al-Qur'an dan hadis, akal diletakkan di belakang nas} agama dan tidak berdiri sendiri. Akal tak berhak menafsirkan, menguraikan atau mentakwilkan al-Qur'an, kecuali dalam batas-batas tertentu itupun dikuatkan dengan hadis.
Menurutnya akal pikiran hanyalah saksi penjelas dan pembenar dalil-dalil al-Qur'an. Baginya tidak ada pertentangan antara cara memakai dalil naqli yang s}ah}i>h} dengan cara aqli yang s}a>rih}. Akal tidak mengemukakan dalil sebelum didatangkan dalil naqli. Bila ada pertentangan harus dikonfirmasikan dengan dalil yang qat}'i.
e.       Pengaruh Dalam Dunia Islam
Proses kehidupan yang dilalui Ibnu Taimiyah dalam mewujudkan ajaran Islam yang s}a>lih} li kulli zama>n wa maka>n, telah membawa implikasi positif dalam kehidupan selanjutnya. Terlihat peran Ibnu al-Qayyim al-Jauzi’ dalam penyebaran ajaran Ibnu Taimiyah. Tokoh-tokoh lain yang terpengaruh pemikiran tajdi>d, antara lain al-Z|ahabi>, Ibnu Sya>kir al-Kutubi>, Ibnu Rajab dan Ibnu Kas|i>r.
Pengaruh pemikiran Ibnu Taimiyah dapat diketahui dalam gerakan-gerakan pembaharuan di dunia Islam abad ke-12. Gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh Muh}ammad bin Abdul Waha>b, Muh}ammad al-Murtad}a> dan Muh}ammad bin Ali> al-Syaukani> serta di India oleh Syaikh Waliulla>h yang mengaku dirinya sebagai pengikut aliran pikiran Ibnu Taimiyah.
Pada abad ke-19, Sayyid Ah}mad Khan dan Ahlul Hadis di India, gerakan Sanusi di Libia dan Cad, Gerakan “Padri” di Minangkabau-Sumatera Barat mencerminkan program Ibnu Taimiyah melalui gerakan Wahabilah, dengan berusaha melaksanakan tajdi>d al-Isla>m berdasarkan al-Qur’an dan Hadis. Tak ketinggalan, peran Muh}ammad Abdu>h} sebagai seorang pemikir berusaha menghidupkan kembali ajaran Ibnu Taimiyah, dan Rasyi>d Ri>d}a> – selaku muridnya -mempopulerkan ajaran Muh}ammad Abdu>h melalui gerakan Manar di Mesir, Arab Saudi dan Siria, tokoh-tokoh gerakan pembaharuan di Indonesia menerima pengetahuan tentang ajaran Ibnu Taimiyah. Sebagai contoh, Ahmad Dahlan, sikap Ibnu Taimiyah mengenai fiqih dan tasawuf maupun peran Islam dalam sistem politik mempengaruhi perkembangan pikiran Muhammadiyah,[68] yang hingga sekarang eksis dalam gerakan pembaharuan.
Kalau memandang dunia Islam sekarang, pengaruh Ibnu Taimiyah telah menyebar ke penjuru dunia. Berbagai karya dan pemikirannya telah banyak dikaji dan ditransliterasikan serta diterbitkan ke dalam bahasa lain. Hal ini menunjukkan bahwa aspek intelektual dan kultural yang telah dibangun oleh Ibnu Taimiyah memberi arti tersendiri, khususnya dalam ruang lingkup gerakan pemurnian ajaran Islam. Yang demikian sehingga memunculkan gerakan transformasi sosial yang berusaha menghalau dan menghilangkan doktrin taqlid, bid’ah, tahayul dan kurafat.



[1] Gelar H{ujjatul Islam diberikan karena ide-ide gemilangnya dalam mempertautkan kembali perbedaan pendapat di kalangan umat Islam dan meminimalisir perpecahan , gejolak ataupun goncangan jiwanya. Lihat. Syaikh Abu>l H}asan Ali an-Nadawi>, Tokoh-tokoh Pemikir dan Dakwah Islam, terj. M. Qodirun Nur (Solo: Pustaka Mantiq, 1995), hlm. 171.
[2] Kota tersebut salah satu pusat ilmu pengetahuan saat itu. Muh}ammad Ibra>hi>m al-Fayyu>mi>, al-Ima>m al-Gaza>li> wa Allaqah al-Yaqi>n bi al-Aql (Kairo: Da>r al-Fikr al’Arabi, tth), hlm. 25. Lihat. http://www.masjidits.cjb.net, akses tanggal 15 Januari 2005.
[3] Abdul Aziz Dahlan (ed.), “Imam al-Gazali” Dalam Ensiklopedi Hukum Islam  (Jakarta: Ichtiar Van Hoeve, 1996), II, hlm. 404.
[4] Imam H}aramain adalah tokoh Asy’ariyah yang memimpin perguruan tinggi Niz}a>miyah di Ni>sa>bu>r. Bersamanya ia belajar ilmu fiqih, usul, ilmu diskusi, teologi, mantiq dan filsafat. Lihat. Abu>l H}asan Ali> an-Nadawi>, Tokoh-tokoh …..., hlm. 173.
[5] Abdul Aziz Dahlan (ed.), “Imam al-Gazali”……, hlm. 404.
[6] "Imam al-Gaza>li>", http://www.masjidits.com/cetak.php?IDNews=1771, diakses tanggal 15 Januari 2005.
[7] Zurkani Jahja, Teologi al-Gazali: Pendekatan Metodologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 73.
[8] Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999),       hlm. 158. Lihat. Taha Abdul Baqi Surur, Alam Pemikiran al-Gaza>li> terj. LPMI (Solo: Pustaka Mantiq, 1993), hlm.
[9] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam al-Gaza>li> (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 47-48.
[10] Al-Gazali, Mutiara Ihya’ Ulumuddin, terj. Irwan Kurniawan (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 18.
[11] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup……, hlm. 53.
[12] Philip K. Hitti, History of Arab (London: The Macmillan Press ltd, 1970), hlm. 474-475.
[13] Yu>suf al-Qard}a>wi>, Al-Gaza>li> Antara Pro dan Kontra : Membedah Pemikiran Abu> H{ami>d al-Gaza>li> al-T{u>si> Bersama Para Penentangnya dan Pendukungnya, terj. Hasan Abrori (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 95.
[14]Zurkani Jahja, Teologi al-Gaza>li>…..., hlm. 66.
[15] Diantara  filsafat yang berpengaruh adalah filsafat Yunani, India dan atau filsafat Persia. Untuk para teolog dan filosof Islam menyerap filsafat Yunani, kaum sufi mengadopsi filsafat India dan doktrin Syi’ah tentang konsep Ima>mah dipengaruhi filsafat Persia. Lihat. Viktor Said Basil, Manhaj al-Bah}s| ‘an al-Ma’rifah ‘inda al-Gaza>li>  (Beirut: Dar al-Kutub al-Lubnani, tth.), hlm. 8. lihat juga.  Zurkani Jahja, ibid, hlm. 69.
[16] "Imam al-Gaza>li>", http://www.masjidits.com/cetak.php?IDNews=1771, akses tanggal 15 Januari 2005. al-Gazali> belajar ilmu tasawuf kepada Yu>suf al-Nassa>j, sufi terkenal di T}u>s. Lihat. Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup…..., hlm. 31.
[17] Nama lengkapnya adalah Abdul Ma>lik bin Abdilla>h bin Yu>suf, dan terkadang Dhiauddin (419 – 478 H/1028 – 1085 M). Beliau juga seorang Pimpinan di Universitas Niz}a>miyah Ni>sa>bur.
[18] Al-Gaza>li> menguasai persoalan mazhab, perbedaan pendapat, perdebatan, teologi, usul fiqih, mantiq dan filsafat serta menguasai berbagai pendapat tentang semua. Lihat. Abu> al-Wafa>’ al-Ganimi> al-Taftazani>, Sufi Dari Zaman ke Zaman, terj. Ahmad Rafi’ Usmani (Bandung: Pustaka, 1997), hlm. 148-149.
[19]  Thoha Abdul Baqir Surur, Alam Pemikiran……., hlm. 26
[20]  Al-Gaza>li>, Mutiara Ihya'……, hlm. 10. Lihat juga. Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, terj. Tim Pustaka Firdaus (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1984), hlm. 99.
[21]Abdul Aziz Dahlan (ed.), "Imam al-Gazali"……,  hlm. 405.
[22] Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 270.
[23] Lihat Pengantar Sulaiman Dunya, Maqasid al-Falasifah, cet. III (Mesir: Da>r al-Ma‘a>rif, tt), hlm. 24.
[24] Sulaima>n Dunya>, Taha>fut al-Fala>sifah li al-Gaza>li> (Mesir: Da>r al-Ma‘a>rif, 1972), hlm. 287.
[25] Nanang Maulana, "Konsep Ta'wil Menurut al-Gazali dan Ibn Taimiyah", Skripsi, Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2003, hlm. 25.
[26] Abu> H}ami>d al-Gaza>li>, "Munqi>z\ min al-D}ala>l", Dalam Majmu>‘ Rasa>'il al-Imam al-Gaza>li> (Beirut: Da>r al-Fikr, 1996), hlm. 552.
[27] Al-Gazali, Ihya' Ulum al-Din, juz IV (Surabaya: al-Hidayat, tt), hlm. 240.
[28] Ibid. hlm. 221.
[29] Zainuddin (dkk.), Seluk Beluk Pendidikan dari al-Gazali (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 22.
[30] Yusuf al-Qardawi, Al-Gaza>li> Antara……, hlm. 155.
[31] Sikap berharap mencari keridlaan Allah dengan mengenyampingkan hak-hak dirinya. Ucapan yang keluar dari hati akan langsung menembus ke relung hati dan bila dari puncak lidah tidak akan menembus gendang telinga. Lihat. Al-Gaza>li>, Teosofia al-Qur'an, terj. M. Luqman H. dan Hosen Arjaz Jawad (Surabaya: Risalah Gusti, 19960, hlm. 254-269.
[32] Yu>suf al-Qard}awi>, Al-Gazali Antara……, hlm. 101-102.
[33] Abu> al-Wafa>’ al-Ganimi> al-Taftazani>, Sufi Dari ……, hlm. 155.
[34] Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, terj. Tim Pustaka Firdaus (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1984), hlm. 100.
[35] Abul Hasan Ali an-Nadawi, Tokoh-tokoh Pemikir dan Dakwah Islam, terj. M. Qodirun Nur (Solo: Pustaka Mantiq, 1995), hlm. 230.
[36]  Ibn Kas|i>r, al-Bida>yah wa al-Niha>yah (Beirut : Da>r al-Fikr, tth), jilid 7, juz 13-14,     hlm. 241.
[37]  Ibn Taimiyah, al-Furqa>n Baina Auliya>’ al-Rah}ma>n wa Auliya>’ al-Syait}a>n (Beirut : Da>r al-Kita>b al-‘Arabi>, 1995), hlm. 11. Sebuah kota yang terletak antara Sungai Tigris dan Efrat di Jazirah Arab. Lihat. Ibn Taimiyah, Risalah Ibn Taimiyah Tentang Tafsir al-Qur’an, terj. As’ad Yatin dkk (Solo: Pustaka Mantiq, 1996), hlm 12. Sebelum Islam, H}ara>n dikenal sebagai salah satu pusat filsafat dan kediaman para filosof, dan tempat basis agama Sabi’ah dan para pemeluknya. Lihat juga. Abu> Zahrah, Ibn Taimiyah H}aya>tuhu wa ‘Asruhu wa Ara>uhu wa Fiqhuhu (Beirut: Da>r al-Fikr, tt), hlm. 17.
[38] Menurut riwayat, kakek Ibn Taimiyah pernah ditanya mengenai asal usul nama Taimiyah. Nama Taimiyah berawal ketika dirinya menunaikan ibadah haji, waktu itu isterinya sedang hamil. Dalam perjalanan pulang, ia melihat seorang gadis kecil cantik yang muncul dari pintu gerbang Taimiya. Ketika pulang, didapati isterinya telah melahirkan seorang anak perempuan, seraya memanggil : Ya Taimiyah, Ya Taimiyah. Selain itu dikatakan, nama Taimiyah dinisbahkan kepada nenek moyangnya Ibn Taimiyah. Lihat. Al-Syaukani>, Nail al-Aut}a>r : Syarh} Muntaqa> al-Akba>r (Beirut : Da>r al-Jail, 1975), jilid I, hlm. 14.
[39] Qamaruddinn Khan, Pemikiran Politik Ibn Taimiyah, terj. Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka, 1999), hlm. 11-12.
[40] Maksudnya kehilangan daya dorong psikologis dan situasi yang kritis sebagai akibat dari perang salib yang panjang dan serangan pasukan Mongol selama dua abad, yang dilakukan di luar batas kemanusiaan. Lihat. Ibn Taimiyah, Siya>sah Syari>’ah : Etika Politik Islam, terj. Rafi’ Munawar (Surabaya : Risalah Gusti, 1995), hlm. v.
[41]Pendirinya Abu> Faraj ‘Abd al-Wa>hid al-Fa>qih al-H}anbali> (w. 486 H), merupakan murid seorang qa>d}i  maz|hab H}anbali> ternama, Abu> Ya’la>, pada penghujung abad V Hijriyah. Lihat. Ibn Taimiyah, ibid. Lihat. John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern (Bandung : Mizan, 2001), jilid 2, hlm. 244.
[42] Ulama hadis yang dimaksud adalah Ibn Daqa>iq al-‘Id, Kama>l al-Di>n al-Zimlikani> dan Syams al-Di>n al-Z|ahabi>. Lihat. Qamaruddinn Khan, Pemikiran…..., hlm.16.
[43] Ibid., hlm. 16-17.
[44] Ibid, hlm. 20.
[45] Ibid., hlm. 21-25.
[47] Abul H}asan Ali> an-Nadawi>, Syaikhul Isla>m Ibn Taimiyah, terj. M. Qadirun Nur (Solo: Pustaka Mantiq, 1995), hlm. 114.
[48] Ibid, hlm. 119.
[49] A. A. Is}la>hi, Konsepsi Ekonomi Ibnu Taimiyah, terj. Anshari Thayib (Surabaya: Bina Ilmu, 1997), hlm. 70.
[50] Ibn Kas\i>r, Al-Bida>yah…..., hlm. 130.
[51] Abul Hasan Ali an-Nadawi, Syaikul Islam……, hlm. 121.
[52] Pemakaman al-S}u>fiyyah merupakan pemakaman orang-orang sufi dan terkenal untuk memakamkan para tokoh ilmu dan pembaharu, seperti Ibn Asa>kir, Ibn S}ala>h, Ibn As|i>r, Ibn H}ujjah, Imaduddi>n ibn Kas|i>r dan lain-lain. Abul Hasan Ali an-Nadawi, ibid., hlm. 122.
[53] Juhaya S. Praja, “Epistemologi Ibn Taimiyah”, Ulum al-Qur’an, No. 7 Vol. II, hlm. 75.
[54] Ibid, hlm. 23-24.
[55] Abul H}asan Ali> an-Nadawi>, op. cit., hlm. 36.
[56] AA. Is}la>hi, op. cit., hlm 29.
[57] Qamaruddi>n Khan, op. cit., hlm. 13-14.
[58]  Bernard Lewis (ed.), "Ibn Taimiyah", The Encyclopedia of Islam, vol. III (Leiden : EJ. Brill, 1979), hlm. 951.
[59]  "Ibn Taimiyah Biography", www.uponline.org/... op. cit.
[60]  Ibn Taimiyah, al-Furqa>n baina … op. cit., hlm. 14-15.
[61]  Abu>l H}asan Ali> Nadawi>, op. cit., hlm. 99.
[62]  Ka>mil MM. 'Uwaidah, Taqi' al-Di>n Ah}mad ibn Taimiyah Syaikh Isla>m (Beirut : Da>r al-Kutub al-Ilmiyah, 1992), hlm. 49-50.
[63] Abu Zahrah, op. cit., hlm. 93-110.
[64] Ibnu Taimiyah juga mengambil pikiran empat tokoh mazhab dan para ahli hadis, seperti Bukha>ri>, Sya>fi'i>, T}abari>, Ibnu Qutaibah, Ibnu H}azm, Ibnu Jauzi', al-Baihaqi> dan lain-lain. Ia menerima semua pemikiran sejauh itu sejalan dengan pandangan Ahlu Sunnah wal Jama>'ah. Lihat. Rasyad Sali>m, Al-Gaza>li> Versus Ibnu Taimiyah, terj. Ilyas Isma'il al-Sendany (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1989), hlm. 15.
[65] Abul H}asan Ali> an-Nadawi>, op. cit., hlm. 162.
[66] Maksud ta't}il dan tasybih, kalau ta't}il adalah menganggap Allah terlalu jauh dari ciptaannya dan akibatnya syari'at Allah tidak mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Sedangkan tasybih adalah mengidentikan Allah dengan ciptaan-Nya dan peranan-Nya sebagai pencipta diperkecil (dipersempit). Lihat. Tom Michel SJ, "Ibnu Taimiyah: Alam Pikirannya dan Pengaruhnya di Dunia Islam", dalam Orientasi, 1983, hlm. 176-177.
[67] Menolak fanatisme mazhab, melarang taklid dan mengikuti pemikiran ahli fiqih tertentu merupakan bagian dari pembaharuan dalam membangkitkan disiplin ilmu dan pemikiran agama. Lihat. Juhaya S. Praja, "Epistemologi Ibnu Taimiyah", op. cit., 78.
[68] Tom Michel SJ, "Ibnu Taimiyah: … op. cit., hlm. 180-182.
Advertisement

loading...
Previous
« Prev Post

0 Komentar:

Post a Comment