Home » » Kota Kudus Jawa Tengah dalam Potret Sejarah : Asal-usul Sejarah Kota Kudus dan Sosio Kultur

Kota Kudus Jawa Tengah dalam Potret Sejarah : Asal-usul Sejarah Kota Kudus dan Sosio Kultur

Sejarah Kota Kudus Tempo Dulu| Sejarah Asal Usul Kota Kudus | Cerita Legenda Kota Kudus


BAB II
KOTA KUDUS JAWA TENGAH

A.    Latar Belakang Historis
Kudus adalah kota yang unik dan menarik. Unik karena ia merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang mengambil nama dari kata bahasa Arab Qudu>s yang berarti suci. Menarik karena di kota ini terdapat beberapa tempat peninggalan sejarah seperti Masjid al-Mana>>r atau al-Aqs}}}}a> yang kemudian lebih popular dengan sebutan “Masjid Menara Kudus”, dijumpai juga makam Sunan Kudus, makam Sunan Muria dan Masjid Muria yang berdiri kokoh di puncak gunung. Lebih dari itu kota ini telah melahirkan tokoh-tokoh nasional dan ulama’ besar seperti alm. H. Subhan  ZE, KH. R. Asnawi, alm. KH. M. Arwani Amin al-H}afi>z}, dan alm. KH. Turaikhan Adjuhri asy-Syarafi al-Farlaqi.[1]

Kota Kudus selalu dihubungkan dengan Sunan Kudus, Dja’far Sadiq, salah seorang wali sembilan yang pada abad 16 M dan dimakamkan di kompleks Masjid Menara, tepatnya di belakang Masjid. Beliau mendirikan masjid ini pada tahun 1543 M. bertepatan dengan tahun 950 H.[2] Beliau pula yang awal mula mendirikan Kota ini menjadi kota Kudus. Konon nama Kudus didasarkan pada nama batu peringatan yang sekarang terletak di atas mihrab Masjid tersebut. Batu yang bertuliskan dan berbahasa Arab itu dibawa oleh Sunan Kudus dan Baitul Maqdi>s sebagai oleh-oleh ketika ia pergi haji kemudian singgah ke sana untuk memperdalam ilmu Islam.[3]
Sunan Kudus dianggap orang yang paling berjasa sebagai penyebar agama Islam di kota ini, yang pada masa pra Islam merupakan tempat konsentrasi beberapa agama, terutama agama Hindu dan Budha. Kini, mereka yang menyatakan dirinya sebagai keturunan Sunan Kudus bergelar Raden. Mereka mempunyai hak istimewa, meskipun sekarang sudah tidak sehebat dulu lagi. KH. R. Asnawi adalah seorang Ulama’ besar Kudus yang merupakan salah seorang dari keturunan Sunan Kudus yang wafat pada akhir tahun 1959 M. Di samping itu beliau adalah sebagai pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU) di wilayah ini dan sebagai tokoh Serikat Islam (SI) terkemuka di Kudus.
Selain Sunan Kudus, tercatat dua nama lagi yang telah berjasa pada awal perkembangan Islam di Kudus, yaitu Kyai Telingsing dan R.Umar Sa’id (Sunan Muria). Mbah Kyai Telingsing wafat dan dimakamkan di daerah Sunggingan. Ia merupakan salah satu guru Sunan Kudus. Sementara orang  menyatakan bahwa beliau adalah seorang Tionghoa yang masuk Islam. Nama Telingsing merupakan singkatan dari nama Tionghoa yaitu The Ling Sing, Kyai Telingsing adalah seorang pemahat yang termasuk dalam aliran seni pahat  “Sun Gin” yang terkenal dan diduga dari kata “Sun Gin” yang kemudian dijadikan sebagai nama kampung. Kampung Sunggingan terdapat di Kota Kudus sampai sekarang. R. Umar Sa’id (Sunan Muria), yang termasuk salah seorang dari wali sembilan, adalah kakak ipar Sunan Kudus, karena Dewi Sujinah, istri Sunan Muria adalah kakak perempuan Sunan Kudus.[4] Sunan Muria wafat dan dikuburkan di kompleks Masjid di puncak gunung Muria, 18 km sebelah utara kota Kudus.
Kota “suci” Kudus, seperti dituturkan De Graaf dan Pegeaud, sejak dahulu sudah terkenal di Jawa dan bahkan di Nusantara sebagai Pusat Agama Islam, Masjid besarnya diberi nama Al-Mana>r atau Al-Aqs}a> seperti masjid suci di Bait al-Maqdi>s. Para pengunjung Barat sudah sejak abad 17. Antonio Hurdi, dalam ekspedisinya ke Kediri pada tahun 1678 mengagumi Menara raksasanya, suatu bangunan yang kukuh tampan yang arsitekturnya jelas diilhami oleh candi-candi zaman Pra Islam. Sunan Kudus dan masyarakatnya  tidak merasa perlu untuk memusnahkan segala sesuatu yang mengingatkan kepada kemusyrikan zaman itu atau melupakannya sama sekali.[5]
Sejak abad 18 kota Kudus sudah berada di bawah kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda dan, menurut Masyhuri, pada tahun 1918 penduduk yang tinggal di wilayah kota Kudus berjumlah sekitar 40.000 orang, terdiri atas pribumi, Eropa, Cina dan orang-orang Timur Asing lainnya. Sebagian besar dari mereka adalah pedagang.[6] Pengelompokan ini, menurut Masyhuri, dapat dilihat atas dasar perbedaan ras. Berdasarkan latar belakang sejarahnya, masing-masing kelompok sosial ini mempunyai perbedaan-perbedaan, baik misalnya dibidang agama, maupun adat istiadat. Perbedaan suku bangsa, agama, adat istiadat sering kali disebut sebagai ciri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk.
Orang-orang Belanda yang datang ke Indonesia mula-mula bertujuan untuk berdagang, namun tujuan itu berubah setelah mengetahui kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga mereka mulai merambah dalam memandang masalah masyarakat. Politik dan ekonomi yang terjadi tidak sebagai warga negara melainkan sebagai kapitalis atau majikan dari buruh-buruh mereka. Elite politik di sini mencakup pula elite politik daerah, yang terdiri dari Bupati yang menjalankan kekuasaan pribadi atas rakyat dan dibantu oleh pengikut-pengikutnya.
Selain orang-orang Belanda, ada golongan orang-orang China. Golongan ini merupakan golongan terbesar di antara orang-orang Timur Asing lainnya. Golongan ini menempati kedudukan menengah setelah orang-orang Belanda sebagai penguasa orang-orang pribumi. Orang-orang China merupakan orang-orang yang di bawah civil code orang-orang Belanda dalam sebagian besar transaksi komersial mereka dan ini memberikan kepada mereka kedudukan sosial yang lebih tinggi dari penduduk asli. Orang-orang China pada umumnya berdagang dan banyak lagi sebagai rentenir. Seperti halnya orang-orang Belanda, orang-orang China datang ke Indonesia juga semata-mata untuk kepentingan ekonomi.
Golongan pribumi merupakan golongan setelah orang-orang China. Golongan ini dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, golongan priyai yang meliputi penguasa-penguasa pemerintah dan yang lebih dekat dengan orang-orang Belanda. Kedua, golongan elite agama yang menduduki fungsi kepemimpinan informal dalam masyarakat. Ketiga, golongan pedagang namun golongan ini banyak diisi oleh golongan elite agama. Artinya banyak sekali uluma’ dan haji-haji yang berdagang, selain itu minoritas golongan ini adalah orang-orang biasa. Keempat golongan petani dan buruh, mayoritas golongan ini adalah masyarakat jelata atau dengan kata lain mayarakat desa (wong cilik).
Selain ketiga golongan di atas, masih ada lagi kelompok kecil orang-orang Arab dan India. Kelompok ini merupakan kelompok terkecil dari lainnya. Kebanyakan kelompok ini selain beraktivitas sebagai pedagang juga sebagai penyeru agama Islam. Walaupun sebagai kelompok kecil, kelompok ini adalah kelompok yang dekat dan membaur dengan masyarakat pada umumnya. Dalam misinya kelompok ini bisa di katakan berhasil, karena agama yang dibawanya pada kenyataannya berkembang pesat sampai sekarang.

B.     Letak Geografis
Kudus adalah Kota Kabupaten berada 51 kilometer arah Timur laut dari Kota Semarang, ibukota propinsi Jawa Tengah. Terletak di antara 110 36’ dan 110 50’ Bujur Timur serta 6 41’ dan 7 16’ lintang Selatan, berketinggian rata-rata 55 meter dari permukaan air laut dan bertemperatur sedang dengan curah hujan rata-rata di bawah 3000 mm/ tahun. Wilayah kabupaten yang berada di dataran rendah ini dibatasi oleh kabupaten Jepara di sebelah Utara, kabupaten Pati di sebelah Timur, kabupaten Grobogan di sebelah Selatan, dan kabupaten Demak di sebelah Barat.[7]
Kota Kudus terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kudus Kulon (Kudus Barat) berada sebelah barat sungai Kaligelis, dan Kudus Wetan (Kudus Timur). Di Kudus Kulon terdapat masjid Menara Kudus dan tempat-tempat pendidikan agama (pesantren dan madrasah) terutama pesantren al-Qur’an. Sedangkan di Kudus Wetan, terdapat lokasi perkantoran pemerintahan dan tempat perniagaan serta tempat pendidikan umum, akan tetapi juga terdapat pesantren. Namun pesantren di Kudus Wetan lebih ditekankan belajar kitab kuning. Dengan banyaknya pondok pesantren yang ada di Kudus banyak orang menyebut Kota Kudus adalah “Kota Santri.”
Kabupaten Kudus memiliki luas daerah 42.515,644 ha, terbagi 9 Kecamatan dan satu di antaranya adalah kecamatan Kota dengan luas wilayah 1.047,316 ha.[8] Kecamatan ini terdiri dari 18 desa dan 7 kelurahan. Di kota inilah pondok pesantren Tah}fi>z} Anak-anak Yanbu>’ al-Qur’a>n berdiri. Tepatnya di Dukuh Kebon Agung Desa Krandon Kecamatan Kota Kabupaten Kudus Propinsi Jawa Tengah. Desa Krandon berada di ujung utara Kecamatan Kota, 1 kilometer arah  utara Masjid Menara Kudus. Desa ini merupakan daerah strategis dan tepat sebagai tempat menghafal al-Qur’an, karena daerah ini jauh dari keramaian, kebisingan lalu lintas, dan sepi.
Batas wilayah yang membatasi desa Krandon dengan desa lain adalah:
1.      Sebelah utara desa Peganjaran Kecamatan Bae
2.      Sebelah selatan desa Kejeksan Kecamatan Kota
3.      Sebelah barat desa Bakalan Krapyak Kecamatan Kaliwungu
4.      Sebelah timur desa Singocandi Kecamatan Kota
Letak kota Kudus sangat strategis dan merupakan daerah pantura serta perlalulintasan penghubung dengan daerah sekitarnya, baik di daerah sebelah timur; daerah Pati, Tayu, Juwana, Rembang, Lasem, Blora, dan sampai ke daerah Jawa Timur. Daerah sebelah barat; daerah Jepara. Penduduk daerah tersebut biasanya menjadikan Kudus sebagai Kota lintasan yang menghubungkan dengan Kota Semarang.
Seperti halnya Kota lainnya, Kota Kudus memiliki alun-alun yang biasa disebut “Simpang Tujuh”. Letaknya di depan gedung pemerintahan kabupaten Kudus dan terletak di arah timur laut lurus dari kota Semarang, di sebelah baratnya terdapat Masjid, sebelah timur terdapat Mall. Kota Kudus pada 5 Juni tahun 1996 mendapat gelar Kota “Adipura Kencana”. Dari gelar itu sudah selayaknya Kota Kudus digolongkan sebagai Kota yang bersih dan rapi.

C.    Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Kudus          
Selain Kudus terkenal dengan “Kota Santri”, Kudus juga terkenal dengan sebutan “Kota Kretek”, karena Kudus merupakan daerah konsentrasi industri rokok. Rokok bercengkeh ini sebagai barang perdagangan pada tahun 1870.[9] Kota Kudus mencatat nama Niti Sumito seorang pengusaha rokok kretek pribumi di zaman sebelum perang. Perusahaannya bernama  “Tiga Bola”. Selain tiga bola, ada lagi rokok bermerk “Sepeda Motor” dan “Motor Sedan”,  keduanya milik H. Jufri.
Pada periode awal perkembangan industri, industri rokok bukan merupakan satu-satunya kegiatan perdagangan di Kudus. Ada juga industri lain seperti industri batik, perdagangan ternak, dan lain-lain, namun yang paling besar adalah industri rokok.
Para pekerja pabrik rokok terdiri dari laki-laki, perempuan bahkan ada anak-anak. Pada umumnya laki-laki sebagai pengawas, perempuan sebagai penggiling rokok, dan anak-anak merapikan rokok yang telah digiling (mbatil). Sejalan dengan kemajuan teknologi, pabrik rokok yang semula manual kini dilengkapi dengan peralatan modern. Perusahan rokok yang terkenal di Kudus antara lain: perusahaan rokok Djarum, rokok Sukun, rokok Jambu Bol, dan Langsep. Perusahan rokok Djarum adalah perusahan terbesar dari lainnya. Perusahan yang disebut terakhir ini milik orang China, sementara yang lain milik pribumi. Selain perusahaan-perusahan rokok besar, di Kudus terdapat juga perusahaan-perusahaan rokok kecil (home industri) yang jumlahnya tidak sedikit dan bahkan mencapai puluhan.
Di Kudus, selain industri rokok ada juga industri tekstil, pakaian jadi (konfeksi), logam, dan lain-lain yang jumlahnya mencapai (kurang lebih) 140 buah industri besar dan kecil.[10] Salah satu industri di Kudus selain rokok yang menjangkau perdagangan internasional seperti industri kertas PT. Pura Barutama, industri tv PT. Polytron, dan industri makanan ciri khas “Jenang Kudus”.
Masyarakat Kudus yang dipersepsikan sebagai sebuah komunitas yang bercirikan sosial santri muslim dengan tradisi ekonomi yang bertumpu pada perdagangan dan industri diyakini berkaitan dengan sosok Sunan Kudus. Dalam tradisi tersebut digambarkan bahwa selain sebagai seorang penyebar agama Islam yang fa>qih, Sunan Kudus juga sebagai pedagang yang ulet.[11]
Sepintas lalu masyarakat Kota Kudus terlihat makmur, karena Kota kecil dan terdapat industri-industri besar yang banyak menambah pendapatan daerah. Kebanyakan pekerjaan masyarakat Kudus adalah karyawan/karyawati di salah satu perusahaan. Ada yang berdagang dan bertani, tetapi apabila diteliti lebih jauh dan mendalam dengan menghayati fenomena kemasyarakatan, tampaknya telah terjadi kesenjangan ekonomi sosial yang lebar, khususnya antara karyawan/karyawati dengan petani. Mereka terbagi lagi antara manager, kepala bagian (kabag), dan produksi, antara buruh tandur dengan majikan tuan tanahnya, atau antara bos dan anak buahnya. Hampir seluruh manager, kabag dan tuan tanah adalah orang kaya, makanya tidak heran mereka hidup mewah.
Pengelompokan-pengelompokan sosial (social groupings) masyarakat Kudus bertolak dari pluralitas subjek, interaksi antara subjek-subjek itu, dan solidaritas  atau kohesi sosial mereka.[12] Masyarakar Kudus yang terdiri dari karyawan/ karyawati dan petani sebagai pribumi dan manager sebagai pendatang yang kemudian menjadi golongan elite memberikan nuansa heterogenitas masyarakat yang bersifat pluralistik. Pluralitas subjek menjadi salah satu faktor determinan terhadap timgkat diferensiasi atau heterogenitas masyarakat. Semakin tinggi tingkat pluralitas, semakin tinggi pula diferensiasi atau heteroginitas sosial masyarakat itu.
Akan tetapi interaksi di antara mereka saling menguntungkan, karena karyawan/karyawati masyarakat Kudus banyak tergantung pada manager. Bahkan mereka bisa menghabiskan uang 2-5 juta rupiah untuk dapat masuk menjadi karyawan/karyawati dengan sistem pembayaran kontan, yang akan dibayarkan ketika melamar pekerjaan. Manager atau disebut sebagai wong sugih sangat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat pribumi. Akan tetapi, banyak juga kasus ketika memanasnya interaksi, meskipun manager tersebut yang salah, baik aparat kepolisian maupun aparat desa tetap akan membela manager sehingga hal itu mengindikasikan bahwasanya manager merupakan kelompok primer (primary group) yang lebih dominan dibanding karyawan yang lebih dikarenakan posisi dan nilai tawar mereka.     
Dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat Kudus secara ketat mengidentifikasikan sebagai muslim yang taat sesuai ajaran agama Islam. Sebagai perbandingan, sekitar tahun 1940-an masyarakat Kudus melarang membunyikan radio transistor karena merupakan perbuatan yang tidak terpuji.[13] Hari Jum’at dipakai oleh masyarakat Kudus sebagai hari libur dan hari yang baik (utama).[14]
Sebagai “Kota Santri”, niscaya di Kota Kudus terdapat banyak ulama’ (kyai) dan pondok pesantren. Ulama’ (kyai) yang terkenal antara lain;
1.      KH. Muhammad Arwani Amin al-H}a>fiz} (alm), beliau adalah ahli dalam bidang al-Quran dan t}ari>qah, pendiri dan pengasuh pondok pesantren yang bernama Pondok H}uffa>z} Yanbu>’ul Qur’a>n. Beliau merupakan salah satu murid dari KH. Munawwir al-H}a>fiz} Krapyak Yogyakarta dan Pemilik Yayasan Arwaniyyah
2.      KH. Turaichan Adjuhri asy-Syarafi> (alm), beliau ahli dalam bidang fala>q yang biasa membuat kalender (al-manak) dan diterbitkan oleh percetakan Menara Kudus, yang meliputi: kalender syar’i>>>, kalender bulan umum, kalender bulan asapon, dan kalender bulan pranata masa (Jawa).
3.      KH. Sya’rani Ahmadi, beliau adalah murid dari KH. M. Arwani dan KH. Turaichan, ahli dalam bidang al-Qur’an dan tafsirnya. Beliau sering memberikan pengajian kitab Tafsi>r Jala>lain di Masjid Menara Kudus.
4.      K.H. Ma’mun Ahmad (alm), pimpinan Madrasah Tasywi>qut} T}ulla>b Salafiyah (TBS).
5.      K.H. Ahmad Basyir, pengasuh pondok dan sohibul ijazah puasa ‘dalail’.
6.      Dan lain-lain.
Kehidupan pesantren dan suasana religius mewarnai Kota Kudus. Selepas Mag}ri>b misalnya, hampir setiap rumah terdengar suara orang melantunkan ayat-ayat al-Qur’an. Pada malam Kamis dan Jum’at pagi masyarakat Kudus berbondong-bondong untuk menghadiri pengajian umum Tafsir Jalalain yang diasuh oleh KH. Sya’rani Ahmadi yang bertempat di rumah H. Chalis Janggalan dan di masjid Menara Kudus, yang dihadiri dari berbagai pelosok desa maupun luar kota.
Berdasarkan data dari Kantor Departemen Agama Kabupaten Kudus 2003/2004, jumlah pondok pesantren ada 63, TPQ berjumlah 279 buah, MI berjumlah 111 buah, MTS berjumlah 28 buah, dan MA berjumlah 12 buah, serta  STAIN 1 buah.[15]
Secara umum, hubungan intern dan antar umat beragama sangatlah baik, disertai hubungan yang baik dengan pemerintahan Kudus. Hal itu dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka secara bersama-sama membangun Kota Kudus demi mewujudkan stabilitas dan kesejahteraan bersama.
Dalam bidang olah raga, Kudus dikenal sebagai Kota pengorbit olahragawan bulutangkis yang potensial. Nama-nama pemain bulutangkis yang berkali-kali menyandang gelar juara di berbagai turnamen internasional, seperti Lim Swie King, Hartono Arbi, Kartono, dan Herianto berasal dari Kudus. Selain bulutangkis, olah raga yang ada di Kota Kudus antara lain bola voli, tenis meja , tenis lapangan, sepakbola, dan lain sebagainya.             
Kesenian tradisional Kota Kudus sampai saat ini adalah h}ad}rah (terbang) dan barzanji>. Terbang adalah instrumen musik yang biasa dipakai dalam seni ‘rebana’, barzanji> adalah bait dalam bahasa Arab (naz}am) yang dibacakan secara bersama-sama. Makanan ciri khas Kudus antara lain; Soto Kudus, Jenang Kudus, Tahu Kudus, Lentog Kudus. Dari empat buah makanan ciri khas Kudus itu yang menembus perdagangan nasional maupun internasional adalah Soto Kudus dan Jenang Kudus. Jenang Kudus semacam kue dodol yang bahan dasarnya terdiri dari tepung beras dan gula, dan yang terkenal adalah yang bermerk “jenang tiga-tiga” milik H. Sohib (alm.) penduduk pribumi Kudus salah seorang murid K.H. Muhammad Arwani Amin. Tradisi tersebut hingga sekarang masih tetap hidup di kalangan masyarakat, maka tidak aneh apabila masyarakat Kudus menjadi santri muslim yang taat sekaligus sebagai pedagang, pengusaha, karyawan/karyawati yang gigih terutama dalam perdagangan kain konfeksi dan bordir. 

D.    Ormas yang Berkembang di Kota Kudus
Penduduk kota Kudus pada tahun 2004 berjumlah 697.988 jiwa, masing-masing menganut agama Islam 678.972 jiwa, Protestan 9.726 orang, Katholik 7.798 orang, Hindu 193 orang, dan Buddha 1.299 orang. Sedangkan sarana peribadatan yang tersedia di Kudus, ada Masjid 29 buah, Mushalla 27 buah, Langgar/Surau 88 buah, 2 buah Gereja Katholik, 9 buah Gereja Protestan, dan klenteng 2 buah.
Mayoritas agama masyarakat Kudus adalah Islam, dan orientasi keberagamaan umat Islam Kudus pada umumnya adalah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama>>’ah. Secara umum, perkataan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama>’ah diartikan sebagai para pengikut Nabi Muhammad dan ijma’ al-ulama’ serta kelompok yang selamat.[16] Menurut KH. Bisri Mustafa bahwa faham Ahl al-Sunnah Wa al-Jama>>’ah adalah faham yang berpegang pada tradisi sebagai berikut:
1.      Dalam bidang hukum-hukum Islam, menganut ajaran-ajaran salah satu maz|hab empat. Dalam praktiknya, para pengikut faham ini adalah penganut kuat dari pada maz|hab asy-Sya>fi’i>.
2.      Dalam soal tauh}i>d, menganut ajaran-ajaran Ima>m Abu> H}asan al-Asy’ari> dan Ima>m Abu> Mans}u>r al-Ma>turidi>.
3.      Dalam bidang tasawwu>f, manganut dasar-dasar ajaran Ima>m Abu> Qa>sim al-Junaidi>.[17]

Para penganut Ahl al-Sunnah Wa al-Jama>>’ah membentuk suatu organisasi bernama Jam’iyah Nahd}atul ‘Ulama’, atau disingkat menjadi NU.
Bersamaan dengan faham keagamaan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama>>>’ah (NU) yang mendominasi masyarakat Kudus, di daerah Kudus juga berkembang beberapa T}ari>qah Qadariyah dan Naqsyabandiyah di pondok al-Wusta Desa Piji Kecamatan Dawe. Pengikutnya berjumlah sekitar 500 orang laki-laki dan perempuan. Mursyid-nya adalah seorang kepala desa yang juga seorang ulama’, yaitu K.H. Siddiq. Di Desa Jetak Kembang Kecamatan Kota, dahulu ada Tariqah Naqsyabandiyah yang diasuh oleh K. Ali dan menantunya, K. Anwar. Di Desa Pasuruhan Kidul Kecamatan Jati, dulu terdapat tariqah yang dipimpin oleh K. Sabuni, namun tariqah ini dianggap oleh banyak orang termasuk tariqah sesat. Dari pengakuannya, bahwa tariqah ini adalah tariqah Naqsyabandiyah. Ajaran-ajaran tariqah ini meninggalkan syari’ah yakni tidak mengerjakan salat al-fardu, tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban agama lainnya. Mereka lebih mementingkan ibadah sunnah, seperti wirid dan sejenisnya. Tariqah ini juga bersifat perdukunan. Mereka tidak mengerjakan ibadah wajib karena menurut anggapannya hanya ibadah-ibadah sunnahlah yang secara jelas diterangkan tentang pahalanya, sedangkan ibadah-ibadah wajib tidak diterangkan secara jelas dan mendetail mengenai pahalanya. Gerakan tariqah yang dikatakana sesat oleh banyak orang ini, diduga dari ajaran Mbah Sarido Bonang Lasem.[18]
Di Kecamatan Kota, tepatnya Desa Kwanaran juga terdapat tariqah Naqsyabandiyah yang mula-mula diasuh oleh beliau al-Mursyid KH. Arwani Amin (alm) dan sekarang dipegang oleh putranya KH. Ulin Nuha Arwani dan KH. Ulil Albab Arwani dengan dibantu ulama’-ulama’ lain seperti KH. Sya’rani Ahmadi, KH. Ma’ruf Irsyad, dan lain-lain. Tariqah ini mulai dari berdirinya sampai sekarang tidak pernah surut malahan dari tahun ke tahun tariqah ini pengikutnya bertambah sangat pesat. Jumlah pengikutnya mencapai sekitar 1.500 orang. Ada lagi tariqah yang didirikan oleh KH.Mujahid Rasyidi di Desa Margorejo dan Desa Masin Kecamatan Dawe yang pengikutnya sekitar 100 orang laki-laki/perempuan, namun tariqah ini merupakan cabang dari tariqah Naqsyabandiyah yang diasuh oleh KH. Ulin Nuha> Arwani> dan KH. Ulil Albab Arwani. Tariqah ini juga termasuk dalam yayasan Arwaniyyah, seperti halnya pondok pesantren Tahfiz Anak-anak Yanbu’ al-Qur’an yang pendirinya adalah KH. Arwani Amin.
Selain kelompok Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah (NU), di Kudus terdapat juga  kelompok Islam modern yang mengambil tempat dalam wadah organisasi Muhammadiyah. Kelompok yang sering disebut sebagai gerakan reformis ini baru muncul setelah kedatangan Syekh Muh}ammad Ra>d}i> dari Makkah, dan pada tahun 1925 secara resmi organisasi muhammadiyah didirikan.[19]
Dibandingkan dengan organisasi Nahdlatul Ulama’, organisasi Muhammadiyah jauh lebih modern, namun minoritas dalam kuantitas. Meskipun organisasi Muhammadiyah minoritas di Kota Kudus, akan tetapi organisasi ini mampu mempertahankan eksistensinya sebagai organisasi masyarakat. Lembaga-lembaga yang dikelola oleh organisasi ini seperti sekolah-sekolah dan pengajian-pengajian. Walaupun organisasi Muhammadiyah terkenal dengan gerakan reformis, namun organisasi ini, selain mempunyai sekolah-sekolah modern juga mempunyai sekolah salaf seperti halnya sekolah Ma’a>>hid yang letaknya di Desa Krapyak Kudus (utara Masjid  Menara  Kudus).  Di  sekolahan  Ma’a>hid ini,  selain  diajarkan   pelajaran-pelajaran umum juga diajarkan pelajaran khusus, yaitu pelajaran pendalaman agama Islam, seperti ‘ilmu nah}wu, ‘ilmu s}arf, ‘ilmu fiqh, ‘ilmu tauh}i>d, ‘ilmu tafsi>r, dan lain-lain, yang kesemuanya memakai buku panduan kitab kuning. Organisasi ini, dalam perjalanannya, lambat laun mengalami kemajuan yang amat pesat.
Penganut faham NU dan Muhammadiyah, masing-masing mempunyai interpretasi yang berbeda terhadap ajarannya, terutama yang menyangkut masalah-masalah furu>> (cabang). Walaupun demikian, kedua-duanya saling menjaga dan saling menghormati satu sama lain dalam menjaga keutuhan umat Islam, pada khususnya dan keutuhan bangsa, pada umumnya. Mereka berpendapat bahwa perbedaan ideologi ini merupakan barakah, dan selagi masih dalam koridor Islam. Hal itu bisa dilihat dari adanya pembangunan Rumah Sakit Islam (RSI) yang di bangun bersama-sama untuk kemaslahatan umat Islam.
Selain organisasi NU dan Muhammadiyah, masih ada lagi organisasi Islam lain yang ada di Kota Kudus, seperti halnya organisasi LDII (Lembaga Da’wah Islam Indonesia), Islam Jama’ah, Islam Tauhid, dan lain-lain. Namun organisasi-organisasi tersebut, pengikutnya sangat sedikit dan tidak banyak di respon oleh kebanyakan masyarakat Kudus. Organisasi-organisasi Islam ini masuk Kota Kudus sekitar tahun 1990-an dan dibawa oleh para pendatang dari luar Kota Kudus.
Dengan demikian, keanekaragaman ORMAS yang ada di Kota Kudus bukan berarti memecah belah umat Islam Kudus, akan tetapi sebaliknya memperkuat dan memperkokoh umat Islam Kudus, yang tentunya berimplikasi terhadap semakin syi’ar dan semaraknya dakwah Islam ke semua penjuru kota Kudus.




[1] Rasehan Anwar, dkk. Biografi KH. M. Arwani Amin di Propinsi Jawa Tengah, Proyek Penelitian  Keagamaan Departemen Agama Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama, Jakarta: 1987, hlm. 36-83.
[2] De Graff dan Pigeaud, Kerajaan Islam di Jawa: Perlawanan dari Majapahit ke Mataram, Terj. Grafiti Pers dan KITLV (Jakarta: Grafiti pers, 1985), hlm. 114.
[3]  Solikin Salam, Ja’far Shadiq Sunan Kudus (Kudus: Menara Kudus, 1986), hlm. 16
[4]  Ibid., hlm. 12.
[5] De Graff dan Pigeaud, Kerajaan…., hlm.117.
[6] Masyhuri, “Kudus di Awal Abad 20”, El Wijhah: Panitia Wulan Windu Madrasah Qudsiyyah,Terbitan Perdana t.th., hlm. 91
[7] Kontor Statistik Kabupaten Kudus, Kudus Dalam Angka 1984 (Kudus: t.p., 1984),     hlm. 3.
[8] Ibid., hlm.5
[9] Arief Mudatsir, “Subchan ZE”, Prisma, XII, Oktober 1983, hlm. 60.
[10] Kantor Statistik Kabupaten Kudus, Kudus..., hlm. 227.
[11] Abdul Wahab, “Pesantren al-Qur’an Kanak-kanak Kudus Jawa Tengah”, Tesis, Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2001, hlm. 57.
[12] Ali Humaedi, “Budaya Dombret dan Komunitas Laut: Tinjauan Antropologis Peran Antara Islam Kebelah dan Islam Petani dalam Penghayatan Keberagamaan/Religious Experiences di Desa Blanakan Kecamatan Blanaan Kabupaten Subang”, Riset Unggulan Kemasyarakatan dan Kemanusiaan, Proyek Pengembangan Riset Unggulan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi dengan Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2000, hlm. 44.
[13] Masyhuri, Kudus di Awal..., hlm. 95.
[14] Ibnu Ma>jah, Sunan Ibnu Ma>jah, juz 1 (Beiru>t: Da>r al-Fikr, t.th.), hlm. 336.
[15] DEPAG, Daftar Nama Pondok Pesantren Kabupaten Kudus, (Kudus: t.pt., 2003), tanpa nomor halaman.
[16] Ah}mad as}-S}a>wi> al-Ma>liki>, H}a>syiyatus} S}a>wi> ‘Ala> Tafsi>r al-jala>lain, juz 2 (Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1988), hlm. 55. Lihat juga Sya’rani Ahmadi, Fara>’id as-Saniyyah (Kudus: t.p., 1401 H), hlm. 3.
[17] Bisyri Musthofa, Risa>lah Ahlussunnah Wal Jama>’ah, (Kudus: Menara Kudus, 1967), hlm. 19.
[18] Sahilun A. Nasr, “Khalwat di Pondok Kwanaran Kudus”, Ikhtisar Laporan Hasil Penelitian, Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Kudus 1979/1980, hlm. 63.
[19] Masyhuri,Kudus di Awal…, hlm. 96.

Advertisement

loading...
Previous
« Prev Post

0 Komentar:

Post a Comment