Image1

Profil Pondok Pesantren Surya Buana Magelang


Pondok Pesantren Surya Buana Magelang
BAB II
GAMBARAN UMUM
PONDOK PESANTREN SURYA BUANA

A.    Letak Geografis Dan kondisi sosial masyarakat
Balak merupakan sebuah Dusun terpencil yang jauh dari kebisingan dan  hiruk pikuk kota. Dusun ini terletak di lereng Gunung Balak, sebuah Bukit kecil yang berada di desa Losari, kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, berketinggian   1500 M dari permukaan laut dengan suhu udara 33 derajat celcius, 15 KM arah timur dari kota Magelang.
Dusun ini tidak jauh berbeda dengan dusun-dusun lain disekitarnya yang berkomoditi jagung dan ketela pohon, mayoritas penduduknya petani, buruh dan pedagang kecil-kecilan di pasar lokal.
Untuk masuk dusun ini dari jalan raya Magelang- Kopeng kurang lebih satu kilo meter,  melalui jalan yang berbelok-belok naik turun di atas tatanan batu tradisional yang jauh dari sempurna. Begitu sampai dan melihat kanan kiri sekitar dusun, hutan kecil dan persawahan akan terlihat nyata.
Sungguh merupakan suatu dusun yang menurut ukuran orang-orang kota merupakan dusun yang sangat terpencil dan terbelakang dalam segala hal, namun demikian dusun ini menyimpan sebuah misteri dan sejarah yang layak diungkapkan.[1] Di sinilah lokasi berdirinya Pondok Pesantren Surya Buana.

B.  Sekilas Biografi Ahmad Sirrulloh : Sesepuh Dan Pendiri Pondok   Pesantren Surya Buana 

Ahmad Sirrulloh adalah orang yang dikehendaki Alloh SWT menjadi bukti bahwa Alloh masih mencintai dan mengasihi masyarakat Balak. Beliaulah yang diberi kekuatan oleh Alloh untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat dalam memegang teguh dan mengamalkan serta menghayati agama Islam. Beliau pula yang menjadi pelopor dan motifator munculnya Surya Buana.
Sangat panjang perjalanan sejarah untuk diungkapkan, sampai akhirnya muncul Pondok Pesantren Surya Buana. Sejarah yang tidak akan terlepas dari kehidupan Ahmad Sirrulloh.
Ahmad Sirrulloh yang sebelum dirubah namanya oleh Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin, Guru Mursyid-nya, bernama Fauzun ( Fauzan Mahzun ) lahir di Magelang tanggal 29 Desember 1968- adalah satu dari sekian masyarakat Balak yang dianugrahi kesempatan untuk mengenyam pendidikan umum sampai  jenjang yang cukup. Tingkat dasar pendidikannya, Beliau selesaikan di Balak, yaitu MI Losari I, tingkat menengah beliau tamat dari SMP Negeri I Pakis, SMA Negeri 2 Magelang Beliau tamatkan pada jenjang SLTA, dan akhirnya menyelesaikan program sarjana ( S I ) pada IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada fakultas Ushuluddin jurusan Perbandingan Agama.
Untuk pendidikan keagamaan, tak banyak pendidikan formal yang Beliau jalani. Sebagaimana anak-anak yang lain, Beliau hanya mengenyam pendidikan yang sederhana. Setiap habis sholat Maghrib, Beliau belajar baca tulis Al Qur’an dan pasolatan ( tata cara sholat ) dari bapaknya sendiri Said bin Mukhtar dan dari guru yang lain.
Tak banyak keanahan-keanehan yang tampak pada diri Ahmad Sirrulloh oleh orang lain sewaktu anak-anak. Hanya saja menurut yang benar-benar Ahmad Sirrulloh alami sendiri di kala masih balita, setiap malamnya tidak akan bisa tidur sebelum ruhnya naik ke langit satu sampai tujuh dan ‘arsy hingga suatu ruang (kondisi) yang mana Beliau tidak menyaksikan sesuatu selain Alloh. Menginjak usia sekolah tingkat dasar ( masa anak-anak ) Beliau pun hampir setiap malam ruhnya naik ke langit, dan tidak akan bisa tidur sebelum memakan awan putih besar bergulung-gulung di angkasa raya. Jika  sesekali makan yang agak kelam dan kasar Beliau langsung memuntahkannya.
      Menginjak usia tingkat lanjutan pertama tidak banyak terjadi keanehan pada dirinya baik dari sisi bathin maupun lahir. Hanya saja ditakdirkan Alloh senang mujahadah sendiri sehabis Maghrib sampai waktu isya tanpa diketahui dan diarahkan oleh siapapun. Mengenai situasi bathin, selama hampir tiga tahun ( dari kelas satu sampai kelas tiga SMP ) setiap saat jiwa Ahmad Sirrulloh seakan-akan menjadi rebutan untuk dipaksa masuk agama apapun ( selain Islam ) oleh nafsu jahat dalam jiwanya. Namun seketika itu pula dada Ahmad Sirrulloh merasa sesak dan menjerit sekuat tenaga; “ Yang paling benar Islam, yang paling benar Islam !” dan seketika itu pula Ahmad Sirrulloh menjadi tenang.
      Menginjak usia remaja Beliau sangat badung di sekolahnya  ( SMA N-2 Magelang), suka membolos dan sering terlambat masuk sekolah. Barulah setelah kelas dua, Beliau ditakdirkan Alloh mulai mengisi malam harinya untuk berdialog dengan Alloh dan mencari makna dan tujuan hidup yang sebenarnya. Di saat itu pula Beliau menyusul remaja yang lain, ikut bersama-sama mempelajari ilmu fiqih dan tata bahasa Arab ( nahwu shorf ) kepada Kyai Ahmad yang kini manjadi mertuanya. Ini dilakukan setelah sholat Maghrib sampai sholat Isya ( selain malam Jum’at dan Ahad ). Namun sudah takdir, belum lagi Ahmad Sirrulloh benar-benar paham akan ilmu tersebut, Beliah harus sudah pindah ke Yogyakarta ( mengikuti perintah orang tuanya ) melanjutkan studinya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Tidak ada yang istimewa pada diri Ahmad Sirrulloh dibanding anak-anak yang lain, hanya saja saat remaja Beliau telah memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap keadan masyarakat dalam mengamalkan dan menghayati agama Islam. Beliau sangat prihatin jika saatnya nanti Mbah Mangli dan Mbah Samudi telah dipanggil oleh Alloh, sementara di saat itu jiwa-jiwa remaja khususnya sudah dirasuki budaya-budaya barat dan sekuler. Juga sangat prihatin menyaksikan perkembangan kondisi masyarakat, yang semakin hari dirasa semakin jauh dari harapan para perintis agama di dusun Balak. Kepedulian dan keprihatinan tersebut sempat beliau tuangkan dalam suatu karya berupa tulisan tangan dalam sebuah buku kecil ( ditulis sewaktu duduk dibangku kelas tiga SMA, tahun 1987 ) dengan bahasa yang sangat sederhana tetapi memuat dasar-dasar pemikiran yang sangat luas dan wawasan jauh ke depan. Sebagai wujud dari keprihatinannya, Beliau memohon, munajat kepada Alloh SWT, bermujahadah dengan tekun. Secara intens kegiatan mujahadah dan riyadloh ini beliau lakukan di akhir-akhir studinya di bangku SMA. Hampir-hampir Beliau mengisolasi diri dan sangat kurang dalam bergaul, berinteraksi dengan masyarakat. Keadaan yang demikian ini bahkan sempat menimbulkan prasangka buruk dari mereka yang tidak mengetahui duduk persoalan, dan hanya memandang dari sisi pengamatan mereka saja. Bahkan ayahnya sendiri, Said bin Mukhtar sempat cemas melihat anaknya sering merenung dan melamun seorang diri tanpa mengetahui apa yang ada dalam pemikirannya. Lebih-lebih setelah melihat di sisa waktu sekolahnya sering dipakai untuk menyendiri di Gunung Balak setiap habis solat Ashar dan mengisolasi diri setiap malamnya di kamar atau musholla keluarganya ( yang dikemudian hari, musholla ini menjadi tempat pertama munculnya kegiatan TQN di Magelang khususnya di Balak ). Ayahnya sangat cemas jika saatnya nanti tidak bisa bergaul dengan orang lain sebagai layaknya orang-orang hidup bermasyarakat. Bahkan sampai-sampai ayahnya sempat minta pertolongan kepada saudara-saudaranya dan juga teman dekatnya supaya mengajak dan mendorong A. Sirrullah untuk bisa bergaul (bermasyarakat), walaupun pada akhirnya mereka semua gagal, memenuhi permintaan ayahnya. Begitulah keprihatinan seorang ayah kepada anaknya
Prasangka dan pandangan lain sebagian masyarakat itu dapat difahami, karena memang A Sirrullah tidak pernah mengutarakan apa yang ada dalam kandungan batinnya kepada siapapun. Di sisi lain beliau belum mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan  isi hatinya dengan argument yang bisa diterima masyarakat umum karena minimnya kadar dan kondisi mental A Sirrullah ( sering grogi dan gagu dalam berbicara ). Andaipun mengutarakannya kepada orang lain hanya menimbulkan cemoahan belaka.
Masih terngiang dalam ingatan A Sirrullah, hanya kepada dua sahabat terdekatnya lah  beliau sering mengungkapkan isi hati ( berupa ilmu-ilmu hikmah seputar hakikat hidup ) yang masih asing bagi kebanyakan orang. Entah kedua temannya ( Asmuni dan Fahrurrozi ) itu faham atau tidak, yang jelas Ahmad Sirrulloh menjadi lega. Untuk mengutarakan isi hati ( kepada keduanya) pun sering di lakukan tengah malam sambil jalan-jalan ke sawah, sungai atau tempat-tempat di sekitar lokasi yang kini menjadi area Surya Buana. Beliau sangat geli jika ingat waktu itu, yang setiap malam harinya keluar masuk kamar Ahmad Sirrulloh melalui jendela, takut kedengaran dan ketahuan orang tuanya jika keluar malam hari.
Mengisi waktu yang masih tersisa sepulang sekolah ( sehabis sholat ashar) sering Beliau gunakan naik Gunung Balak menyaksikan dan merenungi keagungan Alloh, dengan mengajak anak kecil ( kadang-kadang Nurfaudin, kadang-kadang Norrohman ) yang waktu itu belum faham akan maksud dari Ahmad Sirrulloh naik ke gunung tersebut.
Setelah Ahmad Sirrulloh melanjutkan studi di Yogyakarta, jiwanya terasa sangat gersang. Tidak ditemui lagi suasana alam seperti ketika di desa dahulu, juga tidak ada tempat yang nikmat untuk munajat kepada Alloh, tidak ada teman bicara ( hal-hal ketuhanan), melihat kanan kiri hanya bangunan semata, siang dan malam hampir sama ramainya. Kurang lebih enam tahun lamanya, Ahmad Sirrulloh menahan pahit.
Inilah sekilas kejiwaan Ahmad Sirrulloh dari kecil hingga lulus kuliah, tetap saja terpaku dengan renungannya sendiri dan lebih banyak diam dalam hal-hal yang sifatnya Ilahiyyah. Jika mau bicara Beliau justru lebih banyak sambil kelakar dalam hal-hal yang sifatnya omong kosong. Sekali lagi sampai Beliau lulus kuliah pun jika disuruh untuk bicara secara serius dihadapan masyarakat tetap saja grogi dan gagu alias tidak mampu. Apalagi hal-hal yang sangat berbobot seperti hal ketuhanan seakan mulut Ahmad Sirrulloh terkunci hingga orang lain tak mampu memahami maksud kandungan jiwanya.
Dari kecil sampai lulus kuliah, yang Beliau dapatkan  hanyalah pelajaran-pelajaran umum. Meskipun kuliahnya di IAIN yang notabene merupakan perguruan tinggi Islam, namun ilmu-ilmu tentang hakikat Islam dan hakekat hidup tidak beliau temukan di situ. Namun berkat kasih sayang dan bimbingan Alloh, Beliau mendapatkan ilmu-ilmu yang dimaksud di saat-saat mengisolasikan diri baik di kamar maupun di tempat-tempat sepi yang lain bersamaan dengan atau setelah munajat dengan kekasih Nya, yaitu Alloh SWT. Buku-buku tasawwuf di luar kurikulum sekolah maupun kuliah amat digemari semenjak Beliau di bangku kelas dua SLTA walaupun buku-buku tasawwuf tersebut sekedar kitab terjemahan ( mengingat Ahmad Sirrulloh tidak begitu mampu menguasai sumber aslinya, kitab kuning ), maklum Beliau belum pernah mondok di pesantren. Karya-karya Imam Ghozali lah yang pertama-tama dipelajari oleh Ahmad Sirrulloh sebelum kitab-kitab besar karya sufi agung yang lain. Sampai-sampai Ahmad Sirrulloh yakin bahwa ( secara batin ) Imam Ghozali itulah guru Ahmad Sirrulloh yang selalu membimbing perjalanan rohani nya sebelum mendapatkan Wali Mursyid formal ( yang masih hidup ).
Setelah Ahmad Sirrulloh lulus dari IAIN tahun 1993 dan menyandang gelar sarjana ( S1 ), Beliau ditawari oleh fakultasnya  ( Ushuluddin ) untuk mengikuti penyaringan / seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil ( CPNS ) yang nantinya akan di tempatkan pada Kantor Departemen Agama, kantor wilayah Yogyakarta, bersama-sama dengan beberapa teman seangkatan nya. Beliau diterima dan resmi menjadi pegawai negeri.
Secara umum, dari usia kecil sampai lulus SLTP, Ahmad Sirrulloh sebagaimana teman-teman yang lain, menghabiskan sebagian besar waktu nya untuk bermain-main, olah raga, jalan-jalan dsb. Barulah setelah masuk SLTA, walaupun secara lahiri tidak jauh berbeda dengan teman-teman yang lain namun secara tersembunyi Ahmad Sirrulloh sudah mulai mencermati keadaan diri seperti siapa sebenarnya  ‘aku’, mau kemana ‘aku’, apa yang harus  ‘aku’, lakukan, juga apa maksud Alloh mewujudkan  ‘aku’, dan lain-lain. Bersama dengan itu pula Ahmad Sirrulloh sudah mulai mencermati perilaku masyarakat, baik sekup dusun Balak maupun sekup yang lebih luas. Wawasan pun mulai berkembang, dicermati pula tentang perilaku dan tujuan hidup setiap masyarakat dan setiap zaman dari zaman Nabi Adam as sampai zaman sekarang dan mendatang. “ apa sih sebenarnya yang mereka cari, apa tujuan hidup mereka, mau kemana mereka setelah matinya, dll. ? ”. Ahmad Sirrulloh tak perlu pergi mengadakan penelitian melintasi ruang dan waktu, tetapi mencukupkan diri mengintai itu semua dengan cermin diri. Mereka adalah manusia. Ahmad Sirrulloh juga manusia. Jadi cukuplah Ahmad Sirrulloh bertanya kepada dirinya sendiri untuk mencari jawaban. Penelitian di kembangkan pula, mengapa di setiap zaman ada kebaikan dan ada kerusakan, mengapa ada Nabi-nabi dan pembangkang, mengapa ada kehidupan, kematian , dan kiamat,dll. ?
Waluaupun Ahmad Sirrulloh hanyalah hamba biasa (bukan Nabi) serta masih jauh dari sempurna (sebagaimana dikehendaki oleh Alloh dan Rasul), namun hatinya lebih tercurah memikirkan cara mengatasi bagaimana agar manusia benar-benar menjadi seperti apa yang dikehendaki oleh Sang Tunggal ( kaitannya dengan tujuan penciptaan ). Niatan ini dimotifasi oleh kenyataan bahwa zaman yang sekarang ini sedang terjadi , menurut pengamatan Ahmad Sirrulloh sudah sangat menyimpang, sudah rusak, sudah banyak orang lupa tujuan hidup, dll. Inilah yang lebih banyak membuat Ahmad Sirrulloh menghabiskan masa remajanya untuk prihatin dan merenung diri. Sampai kapankah zaman ini benar-benar menjadi pulih kembali, seperti paling tidak mirip dengan zaman Wali Songo ?, lebih-lebih seperti zaman para Sahabat Nabi Saw ? kapan lagi para Kyai mulai bangkit (tidak terus menerus merasa paling ‘alim hingga mau mencari kesempurnaan lebih lanjut) demi keselamatan dan kebangkitan umatnya ?. Ahmad Sirrulloh hanya bisa pasrah, tak berdaya. Akhirnya, Ahmad Sirrulloh akhir-akhir ini ( setelah bertemu dengan guru mursyidnya ) lebih banyak bertanya pada dirinya sendiri ; “ apa yang anda bisa lakukan untuk keselamatan umum dan keselamatan serta kebangkitan umat Muhammad SAW ? “ Apa yang anda bisa lakukan demi menjadi “ apa yang dikehendaki Alloh dan Rosul-Nya ? “.[2] 
C.  Masa-Masa Awal Kegiatan Tatrekat Qodiriyyah Naqsabandiyyah Di Magelang
Jauh sebelum Pondok Pesantren Suryalaya Perwakilan Kabupaten Magelang dibuka secara resmi, kegiatan mujahadah dzikir telah dirintis oleh Ahmad Sirrulloh, baik secara pribadi maupun bersama-sama dengan teman dekatnya.  Setelah Ahmad Sirrulloh mengambil talqin dzikir dan mengenalkannya kepada beberapa remaja, kegiatan mujahadah --yang konsentrasinya adalah mengamalkan dzikir-- tersebut dipusatkan di salah satu ruangan yang dijadikan tempat sholat untuk keluarga. Satu ruangan dengan ukuran kurang lebih 3X3 M2 di pojok rumah orang tuanya, mula-mula yang mengikuti hanya satu dua ( dari remaja ) saja.
Seiring perjalanan waktu dan perkembangan keadaan, masyarakat yang mengikuti kegiatan pendekatan diri kepada Alloh tersebut semakin hari semakin bertambah banyak. Maka untuk kelancaran kegiatan tersebut, dibangunlah sebuah Musholla  di sebelah ruangan tempat sholat keluarga.  Musholla ini dinamakan Musholla Al Akbar. Dan  selanjutnya menjadi tempat kegiatan mereka yang telah mengambil talqin dzikir dari Pangersa Abah Anom.
Beragam mujahadah pernah dilakukan di musholla Al Akbar, di antaranya adalah sholat lima waktu diteruskan dzikir sebagai sebagai wirid, khataman 40 hari berturut-turut sebelum subuh, dan pengajian umum untuk orang dewasa, dan kegiatan yang lain untuk beberapa waktu.
Terdorong untuk menyebar luaskan thoriqot di dusun Balak dan upaya membangkitkan kembali amaliyah thoriqot yang telah dirintis oleh Kyai Samudi, dan mengajak masyarakat yang kurang peduli dengan kondisi keagamaan untuk bersama-sama bergabung mengharumkan agama Islam, Ahmad Sirrulloh mencoba mengadakan sosialisasi thoriqot dengan sarana pengajian umum di masjid Al Falah, yang merupakan masjid kampung tempat Mbah Mangli menyelenggarakan pengajian tiap Kamis Kliwon dan Kyai Samudi pernah membina masyarakat dengan amaliyah Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah dari Berjan Purworejo. Tercatat beberapa kali pengajian umum pernah dilakukan di masjid tersebut. Namun sepertinya prakarsa dan ajakan Beliau hanya didengar oleh mereka yang memang ditakdirkan oleh Alloh untuk menjadi tentara-tentara Nya. Sementara mereka yang telah terlalu hanyut dalam kepentingan pribadi hanya memberikan tanggapan yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang berani menyalahkan methode yang dikembangkan oleh Ahmad Sirrulloh.
Melihat kurangnya antusias mereka yang belum bisa menerima kehadiran thoriqot dari Suryalaya ini, maka kegiatan pengajian umum dialihkan kembali ke musholla Al Akbar. Di tempat itu pula acara manaqib yang pertama kali dari Ikhwan Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah dapat dilaksanakan dengan sangat sederhana, namun penuh makna.
Di sela-sela kegiatan yang dilakukan di musholla Al Akbar, Ahmad Sirrulloh juga mengajak para jamaah untuk bermujahadah di Baitul Akhfa, satu ruangan yang dibangun di bagian belakang dari rumah yang akhirnya menjadi tempat mukimnya sampai saat ini. Tercatat beberapa macam kegiatan dilakukan di tempat ini, dan yang paling menonjol adalah dzikir jahar 4000 kali setiap malam dan mujahadah ini berlangsung beberapa hari.
Alloh menghendaki ikhwan yang ikut kegiatan amaliyah thoriqot ini semakin hari semakin banyak, bahkan dari dusun-dusun sekitar mulai banyak yang ikut bergabung dan pada akhirnya ikut pula mengambil talqin dzikir. Terlebih setelah diresmikannya Pondok Pesantren Suryalaya Perwakilan Kabupaten Magelang, semakin banyak ikhwan yang memerlukan pembinaan. Dan untuk bisa menampung jamaah yang banyak dalam acara bulanan yaitu manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani, acara yang semula dilaksanakan di musholla Al Akbar tersebut dipindahkan tempatnya ke musholla Al Husain, musholla mana tempat Kyai Ahmad membina masyarakat dengan amaliyah keagamaan sehari-hari. Tercatat beberapa kali acara manaqib dilaksanakan di musholla Al Husain ini.
Sementara kegiatan para ikhwan ini semakin berkembang, muncul tantangan yang memerlukan pemecahan. Ada beberapa orang yang mempertanyakan dan mempersoalkan kegiatan para ikhwan ini. Bahkan ada yang menyatakan bahwa Ahmad Sirrulloh telah terlalu jauh membawa masyarakat dusun Balak ke jalan yang tidak karuan . Tanggapan semacam ini datang dari mereka yang memang sama sekali belum pernah menerima pengetahuan  akan ilmu yang berhubungan dengan bathin, atau datang dari mereka yang belum mengerti akan seluk-beluk thoriqot, atau muncul dari orang-orang yang iri dan dengki ( walaupun sebenarnya mereka juga berthoriqot dan anak orang yang berthoriqot juga ).     
Yang sangat disayangkan adalah adanya usaha sebagian orang untuk membendung laju perkembangan kegiatan para ikhwan ini dengan alasan yang tidak masuk akal, misalnya adanya sentimen pribadi terhadap Ahmad Sirrulloh sebagai pengasuh. Bahkan ada yang tidak setuju dengan kegiatan ini karena takut kehilangan pamor, kehilangan wibawa, pengaruh, bahkan takut kehilangan pengikut.
Namun apapun yang terjadi dan direncanakan oleh orang yang tidak menyukai kegiatan thoriqot ini, Alloh dengan sifat kuasa Nya menentukan hal lain. Thoriqot ini terus berkembang karena memang dapat dirasakan manfaatnya dan diperlukan untuk kemajuan pendekatan diri kepada Alloh, menggapai ridlo Nya
Perkembangan ini menjadikan musholla al Husain tidak lagi mampu menampung jamaah acara manaqib dan memberikan inspirasi kepada Ahmad Sirrulloh untuk membuka satu tempat baru di ujung barat laut dusun Balak untuk dijadikan pusat pembinaan dan pengembangan Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah. Maka dengan memohon kekuatan kepada Alloh SWT, yakin akan pertolongan dan kuasa Nya dibukalah areal baru tersebut dengan nama “ SURYA BUANA“.[3] 
D.  Makna, Status Lokasi, Sumber Dana, Sarana Dan Prasarana
Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa “penamaan“ Surya Buana oleh Ahmad Sirrulloh adalah tanpa berkonsultasi lebih dulu pada Guru Mursyidnya (Pangersa Abah Anom). Bukan berarti mengabaikan peran guru, akan tetapi situasi ketika itu betul-betul mendadak dan spontanitas. Namun Alhamdu lillah bahwa semua ini memang telah ada dalam skenario Sang Kuasa.
Setelah kurang lebih 3 tahun berjalan, kata “SURYA BUANA“ ini ternyata diperhatikan oleh Pangersa Abah Anom, bahkan penamaan tersebut sebetulnya telah diketahui juga oleh Beliau bahwa akan muncul SURYA BUANA di Magelang.
Setelah kurang lebih tiga tahun Ahmad Sirrulloh mendeklarasikan SURYA BUANA, ketika rombongan ikhwan Magelang bersilaturrahmi kepada Pangersa Abah, Pangersa Abah bertanya pada sebagian ikhwan Magelang yang kemudian dijawabnya sendiri oleh Beliau mengenai SURYA BUANA ini.
“ Tahukah Anda, siapa yang menuntun Ahmad Sirrulloh menamakan Surya Buana ?”.
Kemudian Pangersa Abah menjawabnya sendiri, “Sebagaimana dahulu ketika Abah Sepuh dituntun oleh Syekh Tolchah Cirebon saat menamakan ‘SURYALAYA’, demikian pula Abah lah yang menuntun Ahmad Sirrulloh menamakan SURYA BUANA “.
Dari penjelasan Pangersa Abah ini sadarlah Ahmad Sirrulloh bahwa Guru Sejati memang selalu membimbing muridnya dengan cara yang di luar dugaan dan selalu mengenai sasaran. Dari keterangan Pangersa Abah ini pula Ahmad Sirrulloh merasa lega dan tidak merasa khawatir jika sewaktu-waktu ada sebagian murid Pangersa Abah sendiri yang hendak menghujat Surya Buana dan menganggap aliran sempalan ( menyimpang dari ajaran TQN Suryalaya dan ingin memisahkan diri ).
Secara harfiyah Surya Buana terdiri dari dua kata dari bahasa Jawa, yaitu Surya yang berarti sinar atau matahari dan buana yang berarti bumi atau dunia. Surya Buana, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti sinar yang menerangi dunia. Memang ada pepatah yang mengatakan “ apalah arti sebuah nama “, namun dengan nama Surya Buana tersebut Ahmad Sirrulloh menaruh harapan yang sangat tinggi dari keseluruhan kegiatan pembangunan dan pembinaan yang dilakukan di lokasi tersebut. Di antara harapan yang senantiasa dimohonkan kepada Alloh SWT adalah terangnya keadaan rohani semua orang yang pernah mengunjungi Surya Buana, bersinar, dengan pancaran nur ma’rifat ilahy sehingga mampu memberikan penerangan kepada jalan hidupnya sendiri, untuk senantiasa dalam jalan yang diridloi Alloh. Juga mampu memberikan penerangan kepada jalan hidup keluarganya dan masyarakat luas, untuk senantiasa hidup penuh keharmonisan, penuh ridlo Alloh. Bahkan mampu memberikan penerangan kepada mereka yang hidup dalam kegelapan untuk bisa kembali pada jalan hidayah Ilahi.
Tentunya maksud yang terkandung dalam pemberian nama Surya Buana sangat banyak dan hanya Ahmad Sirrulloh dan Pangersa Abah yang lebih mengetahui hakekatnya secara rinci.
Secara umum kami sampaikan bahwa Surya Buana merupakan satu paket rencana pembangunan sarana dan prasarana yang akan dijadikan basis atau pusat pembinaan dan pengembangan agama Islam yang lebih sempurna melalui pengamalan Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah di Kabupaten Magelang, tepatnya di Dusun Balak. Adapun prioritas utama dan pertama dari pembangunan adalah pembangunan masjid serta menara.
Lokasi yang di situ dibangun masjid, semula merupakan beberapa petak sawah peninggalan ayah kandung Ahmad Sirrulloh yaitu Said bin Mukhtar  alm. Yang meninggal dunia pada tahun 1997 M, dua tahun setelah Beliau mengambil talqin dzikir dari Pangersa Abah Anom. Kemudian atas kesepakatan ahli waris, dengan pengarahan Ahmad Sirrulloh sebagai anak tertua dari empat bersaudara, semua peninggalan Said bin Mukhtar alm, yang berupa persawahan dan perkebunan di ’hadiah’ kan kepada Rosululloh dan keturunannya untuk kepentingan dan keperluan menegakkan dan membangkitkan kembali nilai-nilai laa ilaaha illalloh, mengharumkan dan meluhurkan agama Islam yang dibawa Rosuluuloh Muhammad SAW.
Pernyataan dihadiahkannya beberapa petak sawah dan perkebunan warisan Said bin Mukhtar kepada Rosululloh dan keturunannya tersebut dilakukan Ahmad Sirrulloh, bersamaan dengan diumumkannya pemberian nama Masjid Surya Mustika Rahmat. Dengan pernyataan itu, para ikhwan TQN Kabupaten Magelang menjadi sadar dan tahu betapa tanah yang kemudian didirikan masjid serta sarana penunjang lainnya tersebut, benar-benar merupakan tanah suci milik Rosululloh. Mereka begitu bersyukur bahwa di desa mereka ada tanah yang mendapatkan keberkahan yang luar biasa ( tanah  Rosululloh ) yang diatasnya terbangun Masjid Agung.
Kemudian untuk pengembangan dan pembangunan sarana dan pra sarana penunjang yang lain, para ikhwan yang memiliki tanah sawah di sekitar lokasi masjid di area Surya Buana menyatakan kerelaan terhadap sebagian petak sawahnya, atau bahkan ada yang keseluruhan petak sawahnya untuk dipergunakan dalam rangka pembangunan dengan status tanah wakaf.
Secara keseluruhan area yang telah tersedia dan siap untuk pengembangan proyek Surya Buana lebih dari 5000 M2, dan kemungkinan akan bertambah luas di waktu yang akan datang, seiring pertambahan jamaah, Insya Alloh.
Sebagaimana kami sampaikan terdahulu bahwa pembukaan Surya Buana dan pembangunan Masjid Surya Mustika Rahmat dimulai tanpa modal finansial yang memadai. Namun berkat doa restu Pangersa Abah Anom, kebutuhan finansial dapat tercukupi sesuai dengan beban pembangunan yang sedang berlangsung. Memang suatu saat semua ikhwan merasa perih hati terutama Ahmad Sirrulloh. Bagaimana tidak?. Masyarakat dusun Balak khususnya, dan para ikhwan pada umumnya, dengan tingkat pendapatan yang relatif kecil, harus mampu meneruskan pembangunan proyek Surya Buana yang begitu besar dan berkelanjutan.
Pada permulaan pembangunan dan pengembangan proyek Surya Buana, Pangersa Abah Anom pernah menyampaikan satu pesan kepada ikhwan TQN Kabupaten Magelang, bahwa untuk mendukung kelancaran pembangunan tidak boleh menggunakan uang ataupun modal dari hasil berhutang. Pernah juga dilakukan satu usaha mencari dana dengan membuat proposal pembangunan, namun dari 100 eksemplar proposal yang pernah dikirim kepada orang-orang yang dianggap akan bersedia memberikan bantuan, ternyata tak satupun yang berhasil dan tak serupiah pun yang didapatkan.
Pesan Pangersa Abah Anom dan kenyataan yang terjadi dalam masalah proposal tersebut tidak membuat surut keinginan untuk meneruskan perjuangan, bahkan satu hikmah besar dapat dirasakan bersama yaitu, ternyata semua itu merupakan kasih sayang Alloh agar semua ikhwan punya rasa ketergantungan dan semakin tebal ketergantungannya hanya kepada Alloh SWT.
Sejak awal pembangunan, anggaran untuk keperluan material dan bahan bangunan dipikul oleh ikhwan TQN Kabupaten Magelang dan mereka yang bergabung dengan ikhwan TQN dalam kegiatan di Surya Buana. Bersama-sama saling menyumbangkan daya dan kemampuan untuk kelancaran dan terlaksananya proyek Surya Buana ini.
Ada sekelompok jamaah yang dengan tangan mereka sendiri membuat batu bata, mengolah, membakar, dan setelah siap, mereka antarkan ke Surya Buana untuk keperluan pembangunan. Ada pula sebagian yang lain, mengumpulkan batu dari sungai kemudian diangkut ke Surya Buana.
Pengorbanan para ikhwan dalam menyokong finansial proyek Surya Buana ini sangat luar biasa. Ada yang secara periodik tiap Kamis malam menyisihkan sebagian rizki, ada yang tiap bulan bersamaan dengan acara manaqib, bahkan belakangan, Drs. Soewartono yang seorang mantan Bupati Kabupaten Pemalang dengan gigih memperjuangkan pengajuan proposal pembangunan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah  Tk.l Jawa Tengah.
Ada pula yang membantu mencukupi kebutuhan makanan di dapur umum. Ada yang mendarmakan kemampuan pemikirannya dan ada pula yang mendarmakan tenaganya. Semua dilakukan untuk terlaksananya proyek agung Surya Buana.
Sejak awal pembukaan dan pembangunan, Surya Buana digarap oleh ikhwan TQN sendiri khususnya masyarakat dusun Balak dan anak-anak pondok. Mereka bekerja tanpa upah. Bahkan karena minimnya dana, para tukang hanya mendapatkan sedikit hadiah ( bukan upah ) dari panitia pembangunan sekedar keperluan hidup keluarganya. Namun sudah hampir lima tahun berjalan justru semakin getol saja mereka bekerja. Hal ini tidak lepas dari bimbingan Ahmad Sirrulloh tentang makna hidup sejati. Pemahaman dan keyakinan inilah tiang utama kegigihan mereka.
Kegigihan para pekerja yang tiada lain adalah para ikhwan ini terlihat dalam bagaimana mereka secara suka rela membagi waktu, sehari bekerja untuk keperluannya sendiri dan sehari bekerja untuk pembangunan Surya Buana. Bahkan terkadang mereka rela bekerja sampai larut malam sementara esok harinya mereka terus bekerja.
Wujud dari kegigihan mereka yang lain, para tukang yang semestinya sudah pensiun dari pekerjaan berat karena dimakan usia ( 60 an tahun ), masih saja ikut ikut serta berpartisipasi. Mereka bersyukur masih bisa menikmati awal zaman kemunculan Surya Buana. Seakan mereka ingin dipanjangkan umurnya untuk terus berkarya untuk Alloh dan Rosul Nya melalui Surya Buana ini.
Para wanita pun tak mau kalah, mereka yang lazimnya hanya mengurusi kebutuhan konsumsi di dapur, tetapi sering juga ikut memeras keringat mengusung  dan mempersiapkan material, bahkan terkadang ikut serta dalam pekerjaan yang dilakukan pada malam hari yang seharusnya hanya pantas dilakukan oleh orang laki-laki, seperti misalnya mengumpulkan dan mengusung batu-batu sungai untuk dibawa ke masjid. Bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun sudah mulai terlibat dalam kerja bakti tersebut di saat-saat mereka libur atau sepulang sekolah.
Pernah berlangsung beberapa malam, sehabis sholat Isya’, seluruh jamaah sholat di masjid Surya Mustika Rahmat bersama-sama mengusung material ke lokasi calon pondok pesantren, pernah juga sehabis acara pengajian umum pada acara manaqib, seluruh ikhwan peserta acara manaqib bersama-sama mengusung material ke lokasi tersebut sampai larut malam dengan penuh semangat.
Ahmad Sirrulloh sering memberikan pembinaan yang sangat fundamental terhadap para ikhwan sehingga mereka all out dalam bekerja, dan pekerjaan mereka bernilai tinggi di hadapan Alloh SWT. Nilai yang tinggi tersebut tak lepas dari niat dalam dada mereka.
Dalam hal ini Ahmad Sirrulloh sangat menaruh perhatian. Di momen-momen kegiatan yang penting Beliau sering menuntun cara berniat sebelum memulai pekerjaan sebagai berikut ;
“ Ya Alloh, niyat ingsun makaryo kangge Surya Buana puniko atas nami Rosul kekasih Paduko, tangan kulo, samparan kulo, sedanten kerjo atas nami Rosululloh, kulo aturaken sedanten dateng Rosululloh “, atau dalam bahasa Indonesia “ Ya Alloh, saya niat bekerja untuk Surya Buana ini atas nama Rosul kekasih Mu, tangan saya, kaki saya, semua atas nama Rosululloh, saya berikan semua untuk Rosululloh “.

 Dengan tuntunan niat seperti ini diharapkan ikhwan yang bekerja untuk proyek Surya Buana mengerti akan maksud Ahmad Sirrulloh bahwa pada hakekatnya kita ini merupakan “ kepanjangan tangan “ Rosululloh. Dengan maksud supaya nilai dari yang dikerjakan berkwalitas puncak yaitu bahwa sebenarnya Rosululloh sendirilah yang bekerja di Surya Buana, melalui tangan-tangan kita.
Di kesempatan yang lain Beliau menuntun niat para ikhwan sebagai berikut ;
“Niat ingsun makaryo kangge Surya Buana minongko wayangan Asmane Gusti, minongko wayangan Sifate Gusti,lan minongko wayangan Af’ale Gusti”.
Dengan tuntunan niat yang demikian para ikhwan menjadi semakin dekat dengan keikhlasan yang sangat tinggi nilainya di hadapan Alloh dan memberikan kefahaman yang sangat mendalam bahwa sebenarnya Alloh lah Maha segalanya sangat jelas Sifat Batin dan Dzahirnya, Awal dan Akhirya. Dari sini Ahmad Sirulloh perlahan lahan memberikan kefahaman dan penghayatan akan konsep Insan Kamil  ataupun “Khalifatulloh” bagi para ikhwan.
Pangersa Abah Anom pernah sekali waktu menyampaikan wasiat kepada ikhwan TQN Kabupaten Magelang ;
“ Lihatlah bangunan kanan kiri Suryalaya ini, sekarang seperti apa, Anda lihat sendiri kan ?, padahal dulunya adalah jurang . Jika ikhwan Magelang tetap istiqomah dalam mengamalkan thoriqot, situasi Magelang akan lebih bagus dari Suryalaya”.
Wasiat ini merupakan doa sekaligus amanat bagi seluruh ikhwan TQN Magelang. Satu sisi merupakan rangsangan dan tantangan untuk dapat mengamalkan Thoriqot Qodiriyyah Naqsabandiyyah dengan sebaik- baiknya, di sisi lain merupakan wawasan pengarahan bahwa manfaat dari thoriqot itu tidak hanya dipetik di akhirat saja, tetapi harus dapat dirasakan secara bersama-sama di kehidupan ini, dalam kondisi Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur.[4]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Profil Pondok Pesantren Surya Buana Magelang"

Post a Comment