Mengenal Tradisi Islam Suku Sasak

Islam Sasak | Penduduk asli pulau Lombok adalah suku Sasak. Mereka berperawakan seperti layaknya orang Indonesia, berkulit sawo matang (kalaupun sedikit gelap itu karena pengaruh sinar matahari). Penduduk Sasak Asli masih banyak ditemukan di pelosok-pelosok pulau Lombok, khususnya di kaki-kaki Gunung Rinjani sebelah utara yang rimbun.
Selain suku Sasak, penduduk Bali yang tinggal di Lombok juga sering mengunjungi Gunung rinjani. Memakai segala atribut upacara adat, mereka berduyung-duyung naik ke Danau Segara Anak dan melepaskan sesajen bagi putri Anjani, penunggu Gunung Rinjani. Sesajen itu biasanya berupa emas, kerbau, dan makanan yang dibuang di Danau Segara Anak.
Sejarah Lombok mencatat, bahwa dahulu, ada sebuah kerajaan yang besar di Lombok hingga ke Sumbawa, yaitu Kerajaan Lombok - dikenal pula dengan nama Kerajaan Selaparang - yang sejak lama telah menjalin perdagangan dengan Palembang, Banten, Gresik dan Sulawesi.Selain Selaparang, ada juga kerajaan lain, yaitu: Langko, Pejanggik, Cilinaya, dan Sandubaya, Sokong dan beberapa kerajaan kecil seperti: Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan, Pujut dan Ketawang yang pada masa awalnya merupakan wilayah penaklukan kerajaan Majapahit.
Pendidik di perkampungan Sasak ini masih tergolong sangat minim. Sebagian besar anak menolak untuk sekolah di lembaga pendidikan formil. Hal ini mungkin disebabkan oleh jauhnya letak Sekolah dari perkampungan mereka. Dalam hal penerangan, beberapa dari mereka sudah menggunakan listrik, walau sebagian besar masih memilih minyak tanah sebagai sumber energi penerangan. Penggunaan listrik ini telah memberikan bencana bagi mereka beberapa kali. Akibat korslet yang terjadi beberapa waktu yang lalu, telah terjadi kebakaran yang melahap hampir seluruh rumah penduduk yang hanya terbuat dari bambu, kayu dan jerami. Tak sedikit penduduk yang terluka akibatnya. Selain itu, akibat cuaca yang terik pada musim kemarau, sering terjadi kebakaran hutan. Pada saat terjadi hal tersebut, sang pemangku agama di haruskan untuk naik. Dalan hal berpakaian, mereka masih berpegang pada pakaian tradisional walaupun pemuda-pemudi dan anak-anak sebagian besar sudah memakai baju moderen
Agama yang dianaut oleh suku Sasak adalah agama Islam. Walaupun berdasar pada agama Islam, Agama Islam di Lombok , setelah berakulturasi dengan kebudayaan setempat, terpecah menjadi 2, yaitu Agama lima dan Agama Waktu Telu. Dalam agama lima, orang bersembahyang menurut kemauannya sendiri. Dalam agama Waktu Telu, sesuai dengan sebutannya yang berarti 'tiga waktu', hanya beribadah 3 kali sehari, beda dengan Islam asli yang menunaikan shalat 5 kali sehari. Agama Waktu Telu ini hanya melakukan shalat pada waktu shubuh, dhuzur dan maghrib. Setiap perkampungan mempunyai seorang Hamaloka, pemangku yang memimpin segala kegiatan keagamaan kampung. Jabatan Hamaloka ini diperoleh secara turun-temurun. Hamaloka ini jugalah yang memimpin musyawarah-musyawarah penduduk seperti musyawarah acara penebangan kayu..Suku sasak juga mempunyai beberapa pantangan, seperti misalnya sorang pemuda dilarang unutk menaiki gunung Rinjani sebelum mereka mendapat 'Sembe' dari sang pemuka agama. Sembe ini sendiri berupa pewarna sirih yang ditotokan di dahi pemuda diiringi dengan doa-doaan. Tidak ada kriteria tertentu atas pemberian sembe ini. Selain itu, penduduk Sasak secara rutin tipa tahunnya mengunjungi Danau Segara Anak untuk upacara berobat. Dipercaya air Danau dapat menyembuhkan penyakit.
Hubungan masyarakat Lombok dengan leluhurnya, apalagi yang memiliki karomah, dan berjasa terhadap pengembangan Islam, begitu kuat. Implementasi tersebut tampak dari kunjungan mereka ke makam keramat, atau tempat berdiri terakhir tokoh panutan yang diberi karomah. Tidak kurang ribuan warga masih memiliki keterikatan emosional dan spiritual seperti itu, sehingga kadangkala berbagai upaya dilakukan untuk menjalankan niat dan keinginannya pada makam keramat. Bagaimana sejarah Islam di Lombok sehingga makam keramat menjadi sesuatu yang begitu mengikat masyarakat Sasak.
Lombok memiliki banyak makam yang dikeramatkan, baik di Lombok Barat, Lombok Tengah maupun di Lombok Timur, termasuk kota Mataram. Makam ini masih sering dikunjungi masyarakat dengan berbagai tujuan, terutama pada hari-hari tertentu.. Kalau kita meyakini bahwa masyarakat Sasak Islam, maka keislaman mereka didahului adanya kepercayaan yang lain sebagaimana yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Pertama, mereka ada kepercayaan Siwa-Budha, kemudian menjadi agama peralihan antara Siwa-Budha dan Islam, namanya olat sari. Di situ berkumpul sinkretisme. Nah, setelah itu datang ajaran Islam pertama yang dibawa perintis Islam dari Majapahit, masuk ke Lotim baru mengajarkan sebagian kecil dari lima rukun Islam -- baru dengan pengucapan dua kalimat syahadat. Kemudian cara bergaul secara Islam dan mengajarkan mana makanan yang dilarang dalam Islam. Salat belum diajarkan, apalagi rukun Islam keempat dan kelima. Kelompok ini tersendiri. Ada lagi kedatangan kelompok wali. Setelah Islam cukup kuat kira-kira tahun 1541 oleh Raden Fatah, wali ditugaskan untuk datang ke tanah seberang menyebarkan Islam.
Kelompok wali ini hanya menyebarkan tiga saja, yakni mengucpkan kalimat syahadat, salat dan puasa. Kemudian yang terakhir abad ke-16 datang pemantapan Islam yakni ulama besar dari Goa, Minangkabau, bernama Datok Ring Padang. Ia mengajarkan semua rukun Islam. Rukun yang lima itu setelah Belanda datang dinamakan dengan waktu lima sehingga lahirlah Islam waktu tiga dan waktu lima.
Hampir semua dari kelompok itu punya ikatan kuat dengan leluhur. Di dalam kepercayaan roh leluhur itu tidak mati. Jasad mati, tetapi roh itu masih ada. Dengan kepercayaan kuat seperti itu, orang Sasak percaya suatu saat roh leluhur itu bisa datang. Sehingga ada istilah rowah. Rowah itu berasal dari kata roh. Kenduri untuk menghubungkan silaturahmi bernama rowah. Dalam rowah ada sajian khusus yang disebut dulang rowah. Ini sekadar mengikat bahwa ada sesuatu yang mengikat pada yang diundang. Rowah itu bisa dilakukan di rumah, bisa di masjid, di mushala, kemudian di langgar. Tempat lain digunakan rowah adalah di makam leluhur atau tempat keramat lainnya. Di makam itu bukan hanya di kubur. Bisa saja di suatu tempat yang tidak ada jenazah, misal tempat orang yang dianggap alim dibuat tanda sebagai maqomnya. Contoh di Loang Baloq. Secara fisik tak ada jasadnya
Selain makanan ada piranti khusus yang dinamakan air kumkuman, yakni air bunga menggunakan sarana khusus berupa piring dari kuningan atau tembaga. Air kumkuman setelah selesai diupacara diambil untuk cuci muka dengan diambil niatnya supaya yang diupacarai diberi keselamatan. Biasanya dikaitkan dengan upacara ngurisang, khitanan dan cuci perut. Nah, rowah dikaitkan dengan segala macam.
Kalau kita melihat makam di pinggir pantai terutama adalah maqom satu orang, mulai dari Jeranjang di Pantai Induk, terus Bintaro dan Batulayar. Itu ada yang berkeyakinan hanya maqom satu orang, yakni Gaos Abdurrazak. Itu yang punya tempat bernilai sejarah. Tetapi ada kepercayaan lain di Batulayar itu makam Sayid Duhri Al Haddad Al Habrami, seorang penyebar Islam. Mereka dibuatkan makam karena dianggap berjasa dalam penyebaran Islam.
Kalau ziarah kubur dikaitkan dengan upacara selain membayar kaul, juga serakalan untuk nguris. Kalau dalam kaitan ziarah makam sudah biasa. Namun tempat yang digunakan rowah ziarah kubur seperti makam Bintaro, sebab ada dari keturunan Melayu dan Banjar yang dimakamkan di sana. Jadi makam Bintaro khusus untuk penyebar Islam keturunan Banjar dan Melayu. Kemudian Batulayar, Syech Hadrami. Kemudian makam Loang Baloq Gaos Abdurrazak, makam Baturiti Mambalan, Loteng makam Datok Lopang, kemudian ada satu makam tokoh Hindu yang masuk Islam di sebelah Ponpes Bodak, dan ada makam Wali Nyatok. Kalau makam Pejanggik Srewa dianggap sebagai makam raja-raja Pejanggik. Untuk Lotim ada makam TGH Ali Batu Sakra, Selaparang.
Semua hal tersebut memang ada hubungan dengan silaturahmi keluarga. Tetapi yang sering terjadi ada yang tidak memahami seolah roh dianggap bisa berkomunikasi secara fisik. Jadi kekuatan roh leluhur masih dipercaya. Makanya seorang peneliti dari Swedia mengatakan kepercayaan itu sebagai bentuk kekuatan leluhur. Apalagi pada kelompok waktu telu. Karena itu ada istilah mujur atau nyampang atau sewaktu-waktu leluhur bisa pulang. Kalau orang baru meninggal dibuatkan sajian dalam talam lengkap dengan lauk-pauk dan jajannya karena diyakini pulang. Itu dilakukan karena dianggap roh bisa kumpul bersama keluarga. Makanya keyakinan bahwa roh leluhur masih dapat diajak komunikasi kuat sekali. Misalnya saja hampir wajib bagi orang yang mau naik haji pergi dulu ke makam tokoh agama yang kharomah. Dan, itu dilakukan tidak hanya oleh mereka yang baru belajar agama sekadarnya. Cuma sekarang telah dialihkan sedikit demi sedikit, bahwa mereka hanya memohon kepada Tuhan supaya menyambung silaturahmi untuk mendapatkan spirit agar bisa sampai hajat dan niatnya.
Pertama, yang bayar kaul -- mengharapkan sesuatu berkah dari Tuhan. Kemudian yang memohon kemudahan-kemudahan seperti jodoh dan lain-lain. Kelompok tarekat cuma menguatkan spirit. Bagaimana hubungan batiniah yang kuat antara dia dan tokoh spiritual seperti Syech Abdul Kadir Jaelani. Yang sampai hari ini sulit dihilangkan ketika orang-orang ngurisang jarang mau di rumah kecuali di makam. Itu jelas supaya berkah dari acara lebih kuat. Bahkan ada yang bejarik, yakni menginap di sana supaya apa yang diinginkan terkabul. Itu bisa sampai mingguan. Umpama ada obat yang dibuat, sering ditanam di sana dan diberi amal-amalan tertentu. Jika dipersentasekan, jumlah yang melakukan masih ada dalam jumlah besar.
Perbedaan dengan di Jawa tidak terlalu tajam. Karena kenyataan yang ada di Lombok itu berasal dari orang Jawa. Karena wali kita dari Jawa. Justru di Jawa ketika saya di makam Demak, mereka wiridnya lebih panjang dan dilakukan laki-laki dan perempuan. Kalau di sini cuma dilakukan laki-laki. Dzikir di sana (Jawa-red) bisa berjam-jam. Pun di makam Sunan Ampel, itu bisa berminggu-minggu. Namun intinya dalam hubungan dengan makam pasti ada rowah. Di sini ikatan batiniah kuat, karena itu makam terutama di Indonesia ada gundukan dan diberi tanam. Keyakinannya terhadap leluhur masih punya makna. Ini akan berubah dengan sendirinya kalau orang lebih banyak memahami agama dengan akal yang rasional. Hal tersebut adalah sebuah fenomena yang terdapat di seluruh dunia. Seperti apa yang si sebutkan dalam buku injil dan penyembahan nenek moyang, di katakana bahwa fenomena tersebut merupakan gejala umum yang ditemukan di berbagai belahan dunia. Penyembahan tersebut bukan saja ditemukan pada kalangan primitif, melainkan juga terdapat pada berbagai kelas dan tingkat pendididkan.

Selain penghormatan terhadap leluhur, keberadaan wayang Sasak di Pulau Lombok pada masa lalu mempunyai misi islamisasi, karena dijadikan sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam oleh para pembawa dan penyebar agama Islam seperti Sunan Prapen, Pangeran Sangupati, dan Wali Nyoto. Wayang Sasak mencapai puncak perkembangannya pada jaman sebelum Perang Dunia kedua (1930an) sampai tahun 1965-an, yaitu pada masa kejayaan Islam Waktu Telu, sebab Islam Waktu Telu merupakan pendukung utamanya, sehingga wayang Sasak identik dengan kebudayaan Islam Waktu Telu. Namun setelah meletus G 30 S/PKI, wayang Sasak tidak berkembang lagi, karena sebagian besar orang Islam Waktu Telu dianggap terlibat G 30 S/PKI. Orang yang menanggap wayang Sasak pada waktu itu dianggap PKI atau dianggap kafir, sehingga banyak orang yang tidak berani menanggap wayang Sasak.

Keberadaan wayang Sasak pada saat ini dan pada saat yang akan datang tidak bisa berkembang dengan baik, karena masyarakat jarang yang menanggap pertunjukan wayang Sasak, masih ada sebagian masyarakat di Lombok yang mengharamkan wayang Sasak, semakin berkembangnya kebudayaan populer, kurang perhatian dan pembinaan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, kondisi seniman dalang dan pendukungnya, seperti pengabih, sekaha, dan pengrajin wayang Sasak sangat memprihatinkan, kaderisasi dalang tidak ada, karena generasi mudah banyak yang tidak berminat menjadi profesi dalang sebab tidak bisa menjanjikan masa depan yang baik, sarana dan prasarana pendukung wayang sudah banyak yang rusak dan usang, organisasi atau group wayang Sasak yang ada saat ini banyak yang tidak aktif lagi, dan pihak pemerintah serta tokoh-tokoh elit desa di Lombok saat ini kurang berperan aktif sebagai pembina, pendukung, dan pengayom wayang Sasak.
Strategi pembinaan wayang Sasak yang dilakukan pemerintah sifatnya hanya insidental, sehingga dirasakan oleh para dalang sangat kurang. Dana yang diberikan pada group-group kesenian sifatnya insidental sesuai dengan dana proyek yang ada, sehingga bila tidak ada proyek, juga tidak ada dana bantuan. Oleh sebab itu, para pembina group kesenian, khususnya group wayang Sasak tidak mampu mengadakan perbaikan peralatan yang sudah rusak dan usang, apalagi membeli peralatan yang baru.
Fungsi wayang Sasak dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat di Lombok, sehingga seorang dalang harus mampu membaca situasi dan kondisi yang berkembang di dalam masyarakat, agar tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat di Lombok pada khususnya dan masyarakat di Indonesia pada umumnya. Fungsi wayang Sasak sebagai media dakwah, media hiburan, media penyampaian informasi program-program pembangunan dan keberhasilan pembangunan, media untuk meningkatkan aktifitas dan apresiasi masyarakat, media promosi perusahaan, media mencari dana, media mempromosikan industri pariwisata di Lombok pada khususnya dan di Nusa Tenggara Barat pada umumnya, media menyembuhkan penyakit pepedam, dan media kampanye Golkar.
Petunjukan wayang Sasak dapat mempengaruhi masyarakat di Lombok melalui isi cerita, nama tokoh, watak tokoh, dan kelakuan tokoh, karena masyarakat di Lombok Bering menjadikan kelakuan dan watak tokoh wayang Sasak sebagai pola anutan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Masyarakat pun dapat mempengaruhi pertunjukan wayang Sasak, karena berbagai fenomena sosial yang ada dalam masyarakat di Lombok pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya sering diangkat ke dalam pertunjukan wayang Sasak.
Golongan Islam Waktu Telu tidak mengharamkan pertunjukan wayang Sasak, sebab wayang Sasak identik dengan kebudayaan Islam Waktu Teku yang mengandung unsur-unsur Islam dan sejarah Islam, serta dapat dijadikan media dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Golongan Islam Waktu Lima yang ekstrem yang terdiri atas tuan guru dan pengikutnya yang pada umumnya pengikut aliran suni dan tarekat Nagsyabandiyah mengharamkan pertunjukan wayang Sasak, karena dapat melemahkan iman, terjadinya percampuran antara lakilaki dengan wanita yang bukan muhrimnya, dalang dan sekaha biasanya minum-minuman keras, menggunakan gamelan perunggu warisan kebudayaan Hindu, dan bertentangan dengan dasardasar atau asas-asas tarekat Nagsyabandiyah. Golongan Islam Waktu Lima sudah banyak mengalami perubahan tentang pandangannya terhadap wayang Sasak, yaitu dari golongan moderat. Mereka tidak mengharamkan pertunjukan wayang Sasak, karena tidak ada satu dasar hukum pun yang mengharamkan pertunjukan wayang Sasak, baik dalam Alquran maupun Hadist. Di samping itu pertunjukan wayang Sasak mengandung unsurunsur Islam, sejarah Islam, dan dapat dijadikan sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam.
Struktur pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis dalang H. Lalu Nasib A.R., setiap pertunjukan selalu berubah baik urutan adegan, jumlah adegan, dialog, maupun fenomena sosial yang diangkat kedalam pertunjukan wayang Sasak, karena dalangnya selalu berusaha untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi sosial masyarakat penontonnya di tempat pertunjukan berlangsung. Dialogdialognya keluar secara sepontanitas, tidak dihafal. Akan tetapi bagian pangaksama-nya selalu sama karena sudah dihafal dan sudah baku.
Pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis banyak mengandung nilai budaya yang dapat dijadikan pedoman hidup dan tuntunan hidup yang baik bagi masyarakat di Lombok pada khususnya dan masyarakat di Indonesia pada umumnya, serta dapat berfungsi sebagai pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan suatu perbuatan. Berbagai nilai budaya tersebut mencakup (1) nilai pendidikan, (2) nilai religius, (3) nilai kepemimpinan, (4) nilai kepahlawanan, (S) nilai keberanian, (6) nilai kesederhanaan, (7) nilai gotong-royong atau tolong-menolong, (8) nilai moral, dan (9) nilai mau berkorban untuk orang lain.
Pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis mengandung berbagai unsur simbolik yang mengandung makna tertentu dan erat sekali hubungannya dengan konteks sosial budaya masyarakat di Lombok. Pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis bukan semata-mata peristiwa budaya, tetapi dapat merupakan daya penggerak untuk mengundang masyarakat luas saling berinteraksi dan memenuhi kebutuhannya. Pertunjukan tersebut mampu menarik penonton yang banyak dari berbagai lapisan sosial, baik lapisan sosial prawangsa maupun lapisan jajar karang, laki-laki maupun wanita, anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Para penonton datang ke tempat pertunjukan, di samping untuk menonton juga mempunyai niat lain. Bagi anak-anak hanya untuk bersenang-senang. Bagi remaja untuk mencari pacar atau berpacaran. Bagi golongan dewasa dan tua untuk menikmati nilai-nilai yang ada dalam pertunjukan wayang Sasak. Minat masyarakat Lombok terhadap pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis sangat tinggi karena para penonton tertarik pada humor-humor segar dalang H. Lalu Nasib A.R. yang kadang-kadang mengacu ke hal-hal yang porno dan kritik sosial melalui para tokoh panakawan.
Pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis pada masa lalu mengandung makna sakral, sehingga minyak labakan bekas pertunjukan menjadi rebutan para penonton, sebab mereka mempunyai kepercayaan minyak tersebut bila disimpan di rumah dapat mendatangkan rezeki yang banyak dan penghuni rumahnya akan selamat. Bila minyak tersebut disimpan di lumbung padi, dapat mengakibatkan berkah. Bila minyak ditanam di kebun atau di sawah, dapat mengakibatkan tanamannya subur. Makna sakral tersebut saat ini sudah mengalami perubahan, sudah tidak dianggap sakral lagi oleh masyarakat di Lombok, karena masyarakat di Lombok sudah semakin luas pengetahuannya, pemahaman terhadap agama Islam juga semakin baik, dan kepercayaan terhadap adat istiadat serta benda-benda kuno yang mempunyai nilai sakral semakin berkurang.
Dalang H. Lalu Nasib A.R. lebih banyak berperan sebagai agen pemerintah atau sebagai alat kekuasaan yang banyak menyuarakan atau menginformasikan program-program pembangunan dan keberhasilan pembangunan yang telah dilaksanakan pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat sehingga menjadi terkenal. Ia juga sering mendapat cemohan dan hujatan dari masyarakat yang mengetahui seni pewayangan khususnya para budayawan, karena is dianggap kurang memperhatikan nilai estetis dan jalan cerita setiap pertunjukan, sehingga ceritanya tidak utuh lagi. Pertunjukan wayang Sasak telah dikemas sedemikian rupa dalam rangka memenuhi selera masyarakat penontonnya yang disajikan secara populer, sehingga semakin menjurus kepada pendangkalan nilai. Sebagai dalang is mampu membaca situasi dan kondisi masyarakat penontonnya sehingga setiap penampilannya lebih banyak mengikuti dan menuruti masyarakat penontonnya dengan menonjolkan segi akrobatik dan humor-humor segar yang banyak mengacu ke hal-hal yang porno, melalui adegan-adegan tokoh panakawan, sehingga adegan tokoh panakawan lebih mendominasi setiap pertunjukan wayang Sasak daripada adegan tokoh utamanya.
Lakon Dewi Rengganis berhubungan dengan kebiasaan kawin-cerai masyarakat suku bangsa Sasak di Lombok karena kebiasaan kawin tokoh bangsawan dalam wayang Sasak semakin memperkuat dan mengesahkan kebiasaan kawin-cerai masyarakat suku bangsa Sasak, khususnya golongan bangsawan. Semakin tinggi status sosial dan kedudukan sosial masyarakat suku bangsa Sasak, semakin tinggi frekuensi melakukan kawincerai, karena is mampu menghidupi istri-istrinya. Semakin tinggi masyarakat suku bangsa Sasak melakukan kawin-cerai, semakin banyak janda di Lombok dan semakin mengakibatkan penderitaan serta tingginya angka putus sekolah bagi anakanak di Lombok, karena kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan.
Fenomena sosial yang ada dalam masyarakat di Lombok pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya terefleksikan ke dalam pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis, karena dalangnya selalu berusaha mengangkat berbagai fenomena sosial yang aktual yang sedang terjadi dalam masyarakat, sehingga wayang Sasak sebagai keseriian tradisional mampu beradaptasi dengan kebudayaan modern.
Perubahan sosial yang ada dalam masyarakat mempengaruhi perubahan pertunjukan wayang Sasak baik dari segi struktur pertunjukan, fungsi, maupun nilai. Perubahan yang ada dalam masyarakat merupakan refleksi dari globalisasi dan modernisasi. Perubahan sosial yang ada dalam masyarakat di Lombok pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya terefleksikan ke dalam pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis, karena dalangnya selalu berusaha untuk mnyesuaikan dan mengangkat perubahan sosial yang ada dalam masyarakat ke dalam pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis. Ada hubungan antara fenomena sosial yang ada dalam pertunjukan wayang Sasak lakon Dewi Rengganis dengan fenomena sosial yang ada dalam masyarakat. 
Description
: Mengenal Tradisi Islam Suku Sasak
Rating
: 4.5
Reviewer
: Ujang Kusnadi
ItemReviewed
: Mengenal Tradisi Islam Suku Sasak
loading...

Iklan Sidebar