MASA PEMERINTAHAN DINASTI ABBASIYAH
(Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam)
A.    Pendahuluan
Islam adalah agamayang sempurna, ia tidak hanya berkutat tentang masalah keimanan, ibadah dan muamalah. Lebih jauh dari itu Islam segabai landasan pijak ber-muamalah telah berkembang jauh sesuai dengan perkembangan zaman dan tentu saja akal dan kenutuhan manusia. Dari sinilah Islam kemudian menyumbangkan peradaban tinggi di bidang keilmuan.
            Berbicara tentang perkembangan Islam kita tidak akan bisa melepaskan diri dari perkembangan dinasti Abbasiyah, dalam bukunya Sir Hamilton Gibb Muhammadanism bab I sebagaimana dikutib oleh Mongomeri Watt yang mengatakan bahwa sumbangan Arab yang mendasar dan menentukan bagi budaya kemaharajaan mereka adalah sumbangan intelektual.[1] Karena pada masa inilah perkembangan Islam mencapai zaman keemasan dalam bidang intelektual dengan berkembangnya ilmu-ilmu yang sebelumnya terdapat dalam buku-buku yang menggunakan bahasa non Arab kemudian diterjemahkann ke dalam bahasa Arab dan dapat diakses oleh umat Islam.
            Ilmu-ilmu pengetahuan yang sejak zaman Nabi telah berkembang, terus mengalami perkembangan pada masa berikutnya dan mengalami kematangan pada zaman Abbasiyah ini. Dalam makalah ini penulis akan memaparkan bagaimana sejarah Islam terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam. 
B.     Pembentukan Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah didirikan secara revolusioner dengan menggulingkan kekuasaan dinasti Umayyah. Dinamakan khilafah dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Terdapat beberapa faktor yang mendukung keberhasilan pembentukan dinasti ini antara lain :
  1. Penindasan yang terus menerus terhadap pengikut Ali dan Bani Hasyim pada umumnya.
  2. Merendahkan kaum muslimin yang bukan bangsa Arab atau Meningkatnya kekecewaan kelompok Mawalli[2] terhadap dinasti Bani Umayyah.
  3. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara terang-terangan.
  4.  Pecahnya persatuan antara suku-suku bangsa Arab dari keinginan mereka memiliki pemimpin yang kharismatik karena menurut mereka negara seharusnya dipimpin oleh pengguasa yang memiliki integritas keagamaan dan politik.
            Faktor-faktor tersebut di atas pada satu sisi mendukung jatuhnya kekuasaan Bani Umayyah dan pada sisi lainnya sekaligus mendukung keberhasilan gerakan pembentukan dinasti Abbasiyah. Faktor lainnya yang adalah perlawanan dari kelompok Syi'ah, kelompok ini tidak pernah melupakan tragedi Karbala dan juga perlakuan kejam penguasa pemerintahan Bani Umayyah terhadap keturunan Ali.[3] Gerakan ini menghimpun :
a.       Keturunan Ali (Alawiyah) pemimpinnya Abu Salamah;
b.      Keturunan Abbas (Abbasiyah) pemimpinyya Ibrahim al-Imam;
c.       Keturunan bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasani.
Mereka memusatkan usahanya di Khurasan, perlawanan ini kemudian menimbulkan beberapa pemberontakan di sejumlah daerah yang pada puncaknya adalah peperangan yang terjadi pada tahun 132 H/750 M. melawan pasukan Marwan II, walaupun pimpinan pasukan Marwan berhasil melarikan diri namun pada akhirnya dapat ditangkap di Mesir kemudian dihukum mati. Dengan jatuhnya Marwan II ini maka berakhirlah riwayat dinasti Umayyah dan bangkitlah kekuasaan Bani Abbasiyah dengan diangkatnya Abdullah Ibn Muhammad dengan gelar Abu al-Abbas al-Saffah pada tahun 132-136 H/750-754 M.[4]

C.    Corak Baru Dinasti Abbasiyah
Alih kekuasaan dari Umayyah ke Abbasiyah pada tahun 750 tidaklah sekedar perubahan dinasti, tetapi juga perubahan etnis, geografis dan teologis. Perbedaan yang terjadi antara dua pemerintahan dinasti ini diantaranya adalah :
1.      Dinasti Umayyah masih mempertahankan dan mengangungkan ke-Arab-an murni, baik baik khalifah, pegawai, maupun raakyatnya. Akibatnya, terjadilah semacam kasta dalam negara. Sedangkan Abbasiyah tidak seketat itu, hanya khalifahnya saja yang berasal dari keturunan Arab, sedangkan menteri, gubernur, dan pegawai diangkat dari golongan mawalli terutama keturunan Persia.
2.      Pada mulanya ibu kota Umayyah adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah di Damaskus yang masih bercorak adat jahiliyyah yang ditaburi oleh kemegahan Byzantium dan Persia. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru di bangunnya yaitu Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon pada tahun 762 M. dengan demikian, pusat pemerintahan bani Abbasiyah berada ditengah-tengah bangsa Persia.[5]
3.      Dinasti Umayyaah bukan keluarga Nabi, sedangkan Abbasiyah berdasarkan kekhalifahan pada keluarga Nabi, sebagaimana awal pergerakan mereka merebut kekuasaannya dengan dukungan  keturunan dari Ali.
4.      Khalifah Umayyah gemar kepada syair dan kasidah seperti pada zaman  kemegahan kesusastraan Arab Jahiliyyah. Sedangkan khalifah Abbasiyah, terutama pada masa Abbasiyah I, gemar kepada ilmu pengetahuan akibatnya ilmu pengetahuan menjadi pesat dan bahkan mencapai masa keemasannya.[6]
Masa dinasti Abbasiyah berkali-kali terjadi perubahan corak kebudayaan Islam sesuai dengan terjadinya perubahan dibidang politik, ekonomi dan sosial, khalifah-khalifah Abbasiyah tersebut adalah:
1.      Masa Abbasy I; semenjak lahirnya daulah Abbasiyah tahun 132H/750 M sampai meninggalnya khalifah al-Wasiq tahun 232H/847 M.
2.      Masa Abbasy II; tahun 232-334 H/847-946 M mulai khalifah al-Mutawakkil sampai berdirinya daulah Buwaihi di Baghdad.
3.      Masa Abbasy III; tahun 334-447 H/946-1055 M, dari berdirinya daulah Buwaihi sampai masuknya kaum Saljuk ke Baghdad.
4.      Masa Abbasy IV tahun 447-656 H/1055-1258 M daan masuknya orang-orang Saljuk ke Baghdad sampai jatuhnya Baghdad ketangan bangsa Tartar di bawah pimpinan Hulagu.

D.    Perkembangan Ilmu pengetahuan
Abad X Masehi disebut abad pembangunan daulah Islamiyah dimana Dunia Islam, mulai dari Cordon di Spanyol sampai ke Multan di Pakistan, mengalami kebangunan disegala bidang, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Prestasi luar biasa umat Islam pada masa dinasti Umayyah yang dapat menaklukkan wilayah-wilayah kerajaan Rumawi dan Persia, segera disusul dengan prestasi yang lebih hebat lagi dalam penaklukan di bidang ilmu pengetahuan pada abad berikutnya. Penelaahan ilmu yang dimulai sejak bani Umayyah menjadi usaha besar-besaran pada masa dinasti Abbasiyah.[7]
Kondisi pada masa bani Abbasiyah telah memungkinkan,, mengingat bahasa Arab telah mencapai taraf kesempurnaan. Huruf Arab, tanda baca, harakat, perbendahraan kata telah lengkap. Tata bahasanya telah mantap. Industri kertas, sebagaimana yang dibuat oleh Cina, telah dapat diusahakan pada masa Harun al-Rasyid. Dengan demikian kertas yang berlimph telah ikut memacu perkembangan.[8]
Harun al-Rasyid sebagai penguasa terbesar dunia pada saat itu dengan peribadinya yang luhur merupakan suatu bentuk penghormatan rakyat yang sejati kepadanya karena pada masa pemerintahannya rakyat hidup dalam kemakmuran yang merata sekalipun dalam ilmu pengetahuan ia terungguli oleh putranya yaang bernama al-Ma'mun.[9]     
Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan. Pada masa ini sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini.[10]
Al-Ma'mun, penganti Rasyid dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta ilmu. Pada masa al-Ma'mun inilah zaman keemasan intelektual mencapai puncaknya dengan dibangunnya lembaga Bait al-Hikmah untuk mentransfer dan menterjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab ketika itu. Memang ada juga terjemahan-terjemahan lain terutama buku-buku India yang sebelumnya telah diterjemahkaan ke dalam bahasa Pahlevi tetapi rangsangan utama berasal dari bahasa Yunani.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            
Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang terlebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Pengaruh persia, sebagai mana telah disebutkan sangat kuat di bidang pemerintahan. Di samping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.[11]
Perkembangan keilmuan yang terjadi pada masa Abbasiyah ini juga berpengaruh pada perkembangan ijtihad yang telah mencapai puncaknya pada masa ini. Hal tersebut ditandai dengan kurang lebih tiga belas orang mujtahid yang pendapat-pendapatnya dibukukan dan dipatuhi banyak orang. Diantara mereka adalah imam madzhab empat:  Abu Hanifah an Nu'man, Malik Ibn Abbas, Muhammad Idris Asy-Syafi'I dan Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hanbal.
Di samping empat pendiri madzhab tersebut, pada masa pemerintahan bani Abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhabnya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan madzhab itu hilang bersama berlalunya zaman.[12]
Sedangkan aliran-aliran teologi sudah ada sejak zaman bani Umayyah, seperti Khawarij, Murjiah, dan Mu'tazilah. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan bani Umayyah. Namun, pemikiran-pemikirannya yang lebih komplek dan sempurna baru dirumuskan pada masa pemerintahan bani Abbasiyah periode pertama, setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran rasional dalam Islam.[13]
Dari pemaparan penulis di atas dapat diklasifikasikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan pada masa dinasti Abbasiyah ini dapat dikategoriokan sebagai berikut :
1.      Perkembangan Ilmu Naqli[14]
Ilmu tentang al-Qur'an dan Hadis terus mengalami perkembangan sejak zaman Nabi, Khulafa ar-Rashidin, dan dinasti Umayyah. Ilmu tafsir, ilmu hadis, dan ilmu kalam juga mengalami perkembangan sebelum dinasti Abbasiyah. Di samping itu diantara ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa dinasti Abbasiyah adalah:
a.       Ilmu Tasawuf
Ilmu Tasawuf adalah salah satu ilmu yang tumbuh dan matang pada zaman Abbasiyah. Inti ajarannya adalah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan kesenangan dan perhiasan dunia, serta bersunyi diri beribadah. Ilmu tasawuf  adalah salah satu ilmu yang tumbuh dan matang pada zaman abasiyah.
Aliran zuhud  ini timbul  pada akhir abad I dan permulaan abad II H sebagai reaksi terhadap hidup mewah dari khalifah dan keluarga serta pembesar-pembesar negara sebagai akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah Islam meluas ke Syiria, Mesir, Mesopotamia dan Persia. Aliran zuhud itu mulai nyata kelhatan di Kufah. Para zahid Kufahlah yang pertama kali memakai wol kasar sebagai reaksi terhadap pakaian sutra yang dipakai golongan bani Umayyah.
            Sedangkan di Basrah aliran zuhud mengambil corak ekstrim sehingga meningkat menjadi aliran mistik. Zahid-zahid yang terkenal di sini adalah Hasan al-Bashri (w. 110 H) dan Rabi'ah al-adawiyah (w. 185 H). Dari kedua kota ini aliran zuhud pindah ke daerah lain yaitu di Persia (Khurasan) muncul Ibrahim Ibn Adhaya dan muridnya Syafiq al-Baikhi. Dan di Madinah muncul Ja'far as-Shidiq. Bersamaan dengan lahirnya ilmu tasawuf muncul pula ahli-ahli dan ulama-ulamanya, antara lain:
  1. al-Qusyairi beliau adalah ulama yang alim dalam ilmu fiqih, tafsir, hadis, ushul, adab dan teruitama tasawuf. Sedang kitab beliau yang terkenal adalah al-Risalah al-Qusyairiyyah.
  2. Syahabuddari, kitab karangannya dalam ilmu tasawuf adalah awariffu ma'arif.
  3. Imam al-Ghazali, yaitu Muhammad Ibn Ahmad al-Ghazali, beliau membawa aliran baru dalam dunia tasawuf dengan kitabnya ahya' ulumuddin dimana beliau mempertemukan ajaran tasawuf dengan ajaran hidup bermasyarakat sehingga tasawuf menjadi ilmu yang dibukukan setelah sebelumnya hanya merupakan sistem ibadah saja. Diantara kitab-kitabnya adalah al-Basith, Maqasidul falsafah, al-Munqid minad Dalal, Bidayatul Hidayah, Jawahirul Qur'an, dan lain-lain.
b. Ilmu Bahasa
            Dalam masa Abbasiyah, ilmu bahasa tumbuh dan berkembang dengan suburnya karena bahasa Arab yang semakin dewasa dan menjadi bahasa internasional. Kota Kufah dan Bashrah merupakan pusat kota pertumbuhan dan kegiatan ilmu bahasa. Keduanya berlmba-lomba dalam bidang tersebut sehingga terkenal dengan sebutan aliran Basrah dan aliran Kufah. Di antara ulama-ulama yang termasyhur dalam masa ini adalah :
  1. Sibawaihi.
  2. Muaz al-Harro yang mula-mula membuat tashrif.
  3. al-Kasa'i, yang mengarang kitab tata bahasa.
  4. Abu Usman al-Maziniy, banyak karangannya tentang ilmu nahwu.



d.      Ilmu Fiqih
Ilmu fiqih juga merupakan salah satu ilmu yang mengalami kematangan di zaman Abbasiyah ini, para fuqaha yang lahir pada zaman ini terbagi dalam dua golongan, yaitu ahli hadis dan ahli ra'yi. Ahli hadis adalah aliran yang mengarang fiqih berdasarkan hadis. Pemuka dari aliran ini adalah imam malikdengan pengikut-pengikutnya, pengikut imam syafi'i, pengikut imam sufyan dan pengikut imam hambali.
Sedangkan aliran ra'yi adalah aliran yang mempergunakan akal dan fikiran dalam menggali hukum. pemuka aliran ini adalah Abu Hanifah dan teman-temannya fuqaha dari Irak. Karena adanya pertentanganitu para ulama sibuk membuat apa yang mereka namakan ushul fiqih yaitu kaidah-kaidah yang harus diikuti oleh para mujtahid dalam mengambil hukum. maka lahirlah istilah-istilah seperti wajib, sunnah, mandub, dan mustahil. Selanjutnya lahirlah para fuqaha' ternama yang sampai sekarang aliran mereka masih dianut oleh masyarakat Islam.
Imam-imam fuqaha' itu ialah :
  1. Imam Abu Hanfah, yaitu Nu'man Ibn Tsabit Ibn Zauthi, dilahirkan di Kufah Tahun 80 H. kitab-kitabnya diantaranya adalah :
    1. Fiqhul Akbar karangan Imam Abu Hanifah
    2. Musnad Abu Hanifah
    3. Wasiyyatuhu li Ashabihi
    4. Wasiyyatuhu li Ibnihi
  2. Imam Malik yaitu Malik Ibn Anas Ibn Malik Ibn Abi Amir, dilahirkan di Madinah Tahun 93 H. ia seorang ahli hukum yang mempunyai pengetahuan sangat luas dalam hadis. Segala fatwanya berdasarkan al-Qur'an dan Hadis. Muris-muridnya datang dari Mesir, Afrika Utara, Andalusia, yang kemudian mengembangkan madzhab Maliki di negerinya. Madzhabnya kemudian berkembang di Baqdad. Dan kitab-kitabnya adalah :
    1. al-Muwatta' Imam Malik
    2. Risalah fil Wa'dhi Imam Malik
    3. Kitabul Masa Imam Malik
  3. Imam Syafi'i yaitu Abu Abdulis Muhammad Ibn Idris Ibn Abbas Ibn Usman Ibn Syafi'i. dilahirkan Khaza profinsi Askalan, merupakan seorang yang sangat cerdas, pernah berguru pada imam Malik. Kitab-kitabnya adalah:
    1. Kitab al-Umm karangan Imam Syafi'i
    2. As-Sunnah al-Ma'tsur Imam Syafi'i
    3. Ushul Fiqih Imam Syafi'i
    4. Musnad al-Syafi'i tentang Hadis
  4. Imam Ahmad yaitu Ahmad Ibn Hanbal Ibn Hilal az-Zahliy asy-Syaibaniy, lahir 164 H. pahamya mirip dengan as-Syafi'i, beliau ahli Hadis yang banyak merawi hadis. Al-Bukhari banyak meriwayatkan hadis dari beliau, ia sangat berpegang teguh kepada kitab dan sunnah. Dan kitab-kitabnya adalah :
    1. al-Musnad fil Hadis karangan imam Ahmad
    2. Kitab As-Sunnah
    3. Kitab Zuhud

2. Perkembangan ilmu Aqli
            Ilmu aqli adalah ilmu yang didasarkan pada pemikiran (rasio) ilmu yang tergolong ilmu ini kebanyakan dikenal umat Islam berasal dari terjemahan asing: dari Yunani, Persia, atau India memang dalam al-Qur'an ada dasar-dasar lmu ini tetapi umat Islam mengenai ilmu ini setelah mempelajarinya dari luar. Yang termasuk ilmu ini antara lain, kedokteran, kimia, filsafat, fisika, tata negara, musik, astronomi dan ilmu hitung. Pada perkembangan ilmu aqli ini mengalami beberapa fase perkembangan yaitu :
a.       Abad penerjemahan (750-900 M)
Usaha penerjemahan dari bahasa Yunani ke bahasa Arab sebenarnya sudah dimulaisejak zaman Muawiyyah, tetapi usaha besar-besaran dimulai sejak khalifah al-Mansur dari Abbasiyah. Pusat penting  tempat terjemahan adalah Yunde Sahpur. Meskipun nanti Bagdad menjadi kota besar dan menjadi ibu kota daulah Abbasiyah, namun Yunde Sahpur tetap sebagai kota ilmu pengetahuan pertama dalam Islam.
Pada zaman al-Ma'mun kemauan usaha penerjemahan mencapai puncaknya dengan didirikannya "sekolah tinggi terjemah" di Bagdad, dilengkapi dengan lembaga ilmu yang disebut Bait al-Hikmah, suatu lembaga yang dilengkapi dengan obsefatorin, perpustakaan, dan badan penerjemah.[15] Di sinilah orang dapat mengenal Hunain Ibn Ishaq (809-877 M), penerjemah buku kedokteran Yunani, termasuk buku ilmu kedokteran yang sekarang terdapat di berbagai toko buku dengan nama "Materia Medika". Hunain juga menerjemahkan buku Galen dalam lapangan ilmu pengobatan dan filsafat sebanyak 100 buah ke dalam bahasa Syiria, 39 buah ke dalam bahasa Arab.
Pada tahun 856 M. khalifah al-Mutawakkil mendirikan sekolah tinggi terjemah di Bagdad yang dilengkapi dengan musium buku-buku. Sekolah ini didirikan menurut model Hunain. Pada sekolah ini semangat Hunain tetap dihidupkan. Khalifah mengumpulan sebanyak-banyaknya orang Kristen yang sedia berjalan keliling benua atas biaya pemerintah. Tugas mereka hanya mengum,pulkan buku Yunani sebanyak-banyaknya kemudian dibawa ke Bagdad untuk disalin.

b.      Abad Pembentukan ilmu
Dengan kegiatan penerjemahan sebagian besar karangan Ariostoteles, bagian tertentu dari karangan Plato, karangan mengenai neo-platoisme, sebagian besar karangan Galen serta karangan dalam ilmu kedokteran lainnya dan juga karangan mengenai ilmu pengetahuan Yunani lainnya dapat dibaca oleh alim ulama Islam.[16]
Bertolak dari buku yang diterjemahkan itu para ahli dikalangan kaum muslimin mengembangkan penelitian dan pemikiran mereka, penguasai semua ilmu dan pemikiran filsafat yang pernah berkembang masa itu serta melakukan penelitian secara empiris dengan mengadakan eksperimen dan pengamatan serta mengembangkan pemikiran spekulatif dalam batas-batas yang tidak bertentangan  dengan kebenaran wahyu. Semenjak itu, ulailah masa pembentukan ilmu-ilmu Islam dalam bidang aqli, yang sering dinamakan abad keemasan yang berlangsung antara 900-1100 M.
Dinamakan zaman keemasan, oleh karena masa itu adalah masa begitu memuncaknya kebudayaan Islam di segala biang ilmu aqli. Memuncaknya kebudayaan Islam terlihat pada lahirnya ilmuwan-ilmuwan yang mampu menciptakan ilmu dengan kemampuan diri sendiri, bahkan sering membantah dan membatalkan teori ilmu Yunani. Sebelumnya hal ini tidak pernah terjadi. Msa uamt Islam menerjemahkan, mempelajari dan meneliti secara teliti kemudian berusaha untuk mempraktekkannya. Diantara lmu-ilmu tersebut adalah :
  1. Ilmu kedokteran
Ilmu ini mulai mendapat perhatian ketika khalifah al-Mansur dari bani Abbas menderita sakit pada tahun 765 M. atas nasehat menterinya Khalid Ibn Barmak (seorang Persi), kepala rumasakit Yunde Sahpur yang bernama Girgis Ibn Buchtyishu dipanggil keistana untuk mengobati.[17] Semenjak itu, keturunan Girgis tetap menjadi dokter istana dan pemerintah dan ilmu kedokteran mendapat perhatian. Khalifah ini memerintahkan untuk menerjemahkannya dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Ilmu kedokteran masa ini masih merupakan bagian dari ilmu filsafat dan berkembang di sana bersama-sama ilmu filsafat. Orang yang kenudian terkenal dengan dokter Islam antara lain, ar-Razi dan Ibn Sina.




  1. Ilmu filsafat
Tokoh-tokoh yang berkembang pada masa ini adalah pertama, al-Kindi yang mendapat kedudukan yang tinggi dari al-Makmun, al-Mu'tasim, dan anak-anaknya yaitu Ahmad, bahkan menjadi gurunya. Dalam risalahnya yang ditujukan kepada al-Mu'tasim, ia menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang terkemuka serta terbaik. Kedua, al-Farabi, menurut Massignon ahli ketimuran Perancis, al-Farabi  adalah seorang filosof Islam yang pertama dengan sepenuh arti kata. Sebelumnya memang ada al-Kindi yang membuka pintu filsafat Yunani bagi dunia Islam tetapi al-Kindi tidak menciptakan sistem (madzhab) filsafat tertentu dan persoalan-persolan yang dibicarakanya masih belum dipecahkan secara memuaskan.sebaliknya al-Farabi telah dapat memecahkan satu sistem filsafat yang lengkap dan telah memainkan peran penting dalam dunia Islam seperti peranan yang dimiliki platinus bagi dunia barat. Dan tokoh-tokoh lain yang lahir dan matang dalam masa ini adalah Ibn Sina dan Ibn Rusyd.
Demikianlah kemajuan politik, kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik,  kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. Pada masa ini, kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan, sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan bani Abbasiyah periode pertama. Namun sayang, setelah periode ini berakhir Islam mengalami masa  kemunduran.

E.     Sebab-Sebab Kemunduran Abbasiyah
Sebagaimana dijelaskan di atas, hanya pada periode pertama pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya. Pada periode-periode sesudahnya, pemerintahan dinaasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik.
Dalam periode pertama, sebenarnya banyak tantangan dan gangguan yang dihadapi dinasti Abbasiyah. Beberapa gerakan politik yang merongrong dan mengganggu stabilitas muncul di mana-mana, baik gerakan dari kalangan intern bani Abbasiyah sendiri maupun dari luar. Namun, semuanya dapat diatasi dengan baik. Keberhasilan penguasa Abbasiyah mengatasi gejolak dalam negeri ini makin memantapkan posisi dan kedudukan mereka sebagai pemimpin yang tangguh. Kekuasaan betul-betul berada di tangan khalifah. Keadaan ini sangat berbeda dengan periode sesudahnya. Setelah periode pertama berlalu para khalifah sangat lemah. Mereka berada di bawah pengaruh kekuasaan yang lain.[18]
Salah satu faktor yang jelas adalah luasnya wilayah yang harus dikendalikan, terutama jika dilihat dari lambatnya komunikasi, salah satu persyaratan untuk mempersatukan wilayah yang sangat luas adalah harus ada tingkat saling percaya yang tinggi dikalangan penguasa-penguasa, sedangkan pada akhir pemerintahan Abbasiyah kepercayaan tersebut berkurang karena adanya pajak yang besar sekali, pemenjaraan daan penyitaan harta rakyat adalah praktek yang normal pada saat itu.
Faktor kedua adalah meningkatnya ketergantungan pada tentara-tentara bayaran, dan pada gilirannya berhubungan dengan perkembangan-perkembangan dalam teknologi militer. Pemakaian tentara bayaran juga berarti bahwa makin banyak uang dikeluarkan. Kekuatan militer Abbasiyyah waktu itu mengalami kemunduran, sebagai gantinya para penguasa bani Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang militer.
Faktor ketiga dan yang terpenting adalah masalah keuangan, dengan tingginya anggaran belanja yang dikirim kepemerintahan pusat di Baghdad yang dilakukaan dengan sistim pajak.[19]
Faktor lain  yang menyebabkan peran politik bani Abbasiyah menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Tetapi, apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.
Pada masa pemerintahan bani Abbasiyah, meskipun khalifah tidak berdaya, tidak ada usaha untuk merebut jabatan khalifah dari tangan bani Abbas. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaannya dengan membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang bani Abbas. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka.
Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki paada periode ke dua, pada periode ketiga daulat Abbasiyah berada di bawah kekuasaan bani Buwaih. Pada masa pemerintahan bani Buwaih ini, para khalifah Abbasiyah benar-benar hanya tinggal namanya saja. Kekuasaan sepenuhnya berada ditangaan amir-amir bani Buwaih. Keadaan khalih lebih buruk dari masa-masa sebelumnya, terutama karena bani Buwaih adalah penganut aliran Syi'ah, sementara bani Abbas adalah Sunni. Selama masa kekuasaan bani Buwaih sering terjadi kerusuhan antara kelompok  Sunni dan Syi'ah.
F.     Kesimpulan
Zaman keemasan intelektual Islam adalah pada pemerintahan bani Abbasiyah, karena pada dinasti ini kajian-kajian keilmuan, filsafat dan teologi berkembanga mencapai puncaknya. Hal tersebut tidak lain karena adanya konsentrasi khalifah dalam pembangunan tempat-tempat pendidikian, kajian-kajian ilmu pengetahuan dan perpustakaan.
Hal lain yang juga mempengaruhi adalah adanya asimilasi dengan orang-orang non Arab yang telah lebih dahulu mendalami ilmu pengetahuan, diantaranya Persi, India. Asimilasi ini tidak hanya membawa kemajuan dalam bidang ekonomi dengan majunya perdagangan juga masuknya buku-buku yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab agar bisa diakses oleh masyarakat Arab. 

DAFTAR PUSTAKA

ali as-Saayis, Muhammad. Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Fiqh, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995
A.Hasymi, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
K.Ali, Sejarah Islam:Tarikh Pra Modern, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000
Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Bandung: Kencana, 2002
Tafsir, Peranan Helenisme bagi Lahirnya Peradaban Islam, dalam Theologia vol.12 nomor 1 Februari 2001
Watt, Mongomery. Kejayaan Islam; Kajian Kritis Dari Orientalis, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990
_________, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam, Jakarta: P3M, 1987, cet.I
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. RajaGraafindo Persada, 2000








[1]Mongomery Watt, Kejayaan Islam; Kajian Kritis Dari Orientalis (Jogjakarta,Tiara Wacana, 1990), hlm.79

[2]Kelompok Mawalli adalah orang-orang non Arab yang telah memeluk agama Islam yang diberlakukan sebagai masyarakat nomor dua, sementara bangsa Arab menduduki kelas bangsawan. Mereka tersingkir dalam urusan pemerintahan dan kehidupan sosial, bahkan para pengguasa Arab selalu memperlihatkan sikap permusuhan terhadap mereka. Lihat dalam K.Ali, Sejarah Islam:Tarikh Pra Modern (Jakarta: RaajaGrafindo Persada, 2000), hlm. 231

[3]Ibid.[4]Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik (Bogor: Kencana, 2003), hlm. 47-49.
[5]Ibid.

[6]Musyrifah Sunanto, Ibid.
[7]Musyarifah Sunanto, Ibid.,hlm. 56-57.

[8]A. Hasyimi, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 57.
[9]Tafsir, Peranan Helenisme bagi Lahirnya Peradaban Islam, dalam Theologia vol.12 nomor 1 Februari 2001, hlm, 105 .

[10]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. RajaGraafindo Persada, 2000),shlm. 53.
[11]Badri Yatim, Ibid.

[12]Muhammad ali as-Saayis, Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Fiqh (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995), hlm. 100

[13]Gelombang Hellenisme pertama bersentuhan dengan pemikiran Islam memang lebih banyak terlihat dalam pemikiran teologi. Tentang hal ini baca  Mongomeri Watt, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam (Jakarta: P3M, 1987, cet.I), hlm. 54-113.

[14]Ilmu Naqli adalah ilmu yang bersumber dari Naqli (al-Qur'an dan Hadis), yaitu ilmu yang berhubungan dengan agama Islam. Ilmu ini mulai disusun dasar perumusannya pada sekitar 200 tahun setelah hijrah Nabi  sehingga menjadi ilmu yang kita kenal sekarang.
[16]Harun Nasution, Op. Cit., hlm. 11.
[17]Ibid
[18]Badri Yatim, Ibid…,hlm.67.
[19] Mongomeri Watt, Ibid.
Description
: Makalah Dinasti Abbasiyah Masa Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam
Rating
: 4.5
Reviewer
: Ujang Kusnadi
ItemReviewed
: Makalah Dinasti Abbasiyah Masa Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam
loading...

Iklan Sidebar