Artikel Pendidikan Budi Pekerti | Pentingnya Budi Pekerti bagi Sekolah |  Kasus siswa menantang guru | Siswa bully guru | Siswa menantang guru | Tulisan ini dibuat sebagai reaksi dari sikap seorang siswa SMP di Jawa Timur yang menantang gurunya gara-gara ditegur merokok di dalam kelas. Kasus ini tentunya sangat memprihatinkan, karena ini adalah bukti kegagalan pendidikan budi pekerti. Hilangnya rasa hormat peserta didik terhadap guru menunjukkan hilangnya etika siswa.

Pendidikan budi pekerti yang merupakan pendidikan karakter merupakan benteng moralitas bangsa yang harus tertanam pada jiwa peserta didik. Oleh karena itu pendidikan budi karakter harus masuk pada konten semua mata pelajaran. Semua guru wajib menanamkan karakter seperti rasa hormat, kasih sayang, tanggung jawab dan sebagainya.



Berikut adalah tulisan saya yang membahas pentingnya pendidikan budi pekerti sebagai benteng moralitas agar kasus-kasus siswa yang menghina atau melecehkan guru tidak lagi terjadi di dunia pendidikan.

PENDIDIKAN BUDI PEKERTI PENANGKAL BULLY
Oleh Ujang Kusnadi, S. Pd.I*

Sungguh miris dengan tragedi memilukan yang menampar wajah pendidikan di Indonesia, seorang murid merokok di dalam kelas, dan menantang guru yang menegurnya.  (Tribun News, 10 Feb 2019). Sebagai sesama guru, saya ikut prihatin atas kejadian yang menimpa pa Nur Khalim Guru Honorer salah satu SMP di Jawa Timur, dan mengecam keras atas tindakan siswa AA yang membuly gurunya sendiri.

Sebagai guru pasti semuanya pernah berhadapan dengan murid nakal, susah diatur, melawan, bolos, merokok, pacaran dan sebagainya. Problematika ini merupakan tantangan bagi guru dalam mengemban tugas mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.  Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmunya (transfer of knowledge)  melainkan jauh dari itu adalah membentuk karakter peserta didik dalam hal budi pekerti. Peserta didik yang nakal merupakan tugas guru untuk membimbingnya agar menjadi anak yang baik tidak lagi bolos, telat, pacaran, merokok dan sebagainya.

Namun tentu bukan hal yang mudah, karena permasalahan kenakalan siswa tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor terutama lingkungan keluarga dan Masyarakat. Keluarga justeru merupakan lembaga pendidikan utama yang bertanggungjawab penuh terhadap pendidikan karakter. Waktu Interaksi Siswa di lingkungan keluarga lebih lama jika disbanding di sekolah. Orang tua jualah yang pertama kali tahu tentang perkembangan kepribadian anak dan interaksi sosialnya di lingkungan masyarakat.

Sebagai langkah preventif terhadap kasus siswa bully guru pihak sekolah harus sering melakukan silaturahim dengan orang tua dan bekerja sama dalam pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti harus menjadi prioritas dalam proses pendidikan di sekolah  dan keluarga. Pendidikan budi pekerti di sekolah harus terrangkum dalam semua mata pelajaran. Pendidikan budi pekerti tidak cukup diserahkan kepada guru mapel budi pekerti atau Aqidah dan Akhlak, atau cukup diserahkan kepada wali kelas dan kesisiwaan, melainkan merupakan tanggungjawab bersama seluruh elemen sekolah.

Selain itu  juga keluarga di rumah harus benar-benar menanamkan budi pekerti pada anak dengan cara membimbing anak untuk bisa menghormati dan menghargai sesama anggota keluarga seperti hubungan anak dengan ayah dan ibu, anak dengan kakak atau adik, saudara dan sebagainya. Orang tua harus mengontrol dengan siapa anak bergaul, memberikan keteladanan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Penanaman budi pekerti dapat dilakukan dengan dua prinsip yaitu pembiasaan dan keteladanan. Pembiasaan adalah pengkondisian anak untuk menjadi terbiasa pada hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Dalam hal pembiasaan ini dibutuhkkan kerja sama, saling peduli semua pihak baik itu orang tua, pihak sekolah dan lingkungan masyarakat. Sedangkan keteladanan adalah pengkondisian anak dengan contoh yang baik sehingga efeknya tanpa harus diperintah anak mengikutinya. Inilah yang disebut dengan “Ing Ngarso Sung Tulodo” di depan memberikan teladan atau contoh.

Dalam keluarga anak dibiasakan untuk menghormati orang tua dengan cara diberi bimbingan etika seperti tidak boleh berbicara lebih tinggi, tidak boleh membentak orang tua,  jalan sedikit membungkuk jika melewati orang tua, dan berkata “permisi”. Orang tua selalu berkata lemah lembut dan penuh kasih sayang. Jika ada anak yang berkata kasar selalu diingatkan.

Hal yang lebih utama bagi orang tua  membimbing anaknya dalam menjalankan ibadah seperti sholat lima waktu, agar dia bisa menjadi orang yang disiplin, tawadhu dan bertanggungjjawab. Orang tua juga harus memberikan keteladanan bagi anaknya, sebelum menyuruh anaknya sholat, orang tua harus terlebih dahulu bersiap-siap untuk melaksanakan sholat dan mengajak anaknya pergi ke masjid.

Budi pekerti di sekolah ditanamkan dengan cara pembiasaan disiplin siswa dari mulai datang tepat waktu, memperhatikan guru ketika mengajar di kelas, mengerjakan tugas belajar, melaksanakan tugas piket, menghormati guru, menjaga hak milik teman, menyayangi sesame teman dan sebagainya.  Guru juga harus senantiasa memberikan keteladanan yang baik, seperti datang lebih awal sebelum peserta didik datang.

Pendidikan budi pekerti yang berkesinambungan dengan didukung berbagai stakeholder keluarga, sekolah dan masyarakat akan mampu menangkal terjadinya kedurhakaan anak kepada orang tua dan guru. Semoga tragedi anak menganiaya orang tua, siswa menantang gurunya tidak terjadi lagi. Wallohu A’lam.    
Description
: Artikel Urgensi Pendidikan Budi Pekerti di Rumah dan di Sekolah
Rating
: 4.5
Reviewer
: Ujang Kusnadi
ItemReviewed
: Artikel Urgensi Pendidikan Budi Pekerti di Rumah dan di Sekolah
loading...

Iklan Sidebar